Showing posts with label Crime. Show all posts
Showing posts with label Crime. Show all posts

Monday, December 12, 2011

[Review] Martha Marcy May Marlene (2011)


Genre : Drama, Thriller | Pemain : Elizabeth Olsen, John Hawkes, Sarah Paulson, Hugh Dancy, Brady Corbet, Louisa Krause | Sutradara : Sean Durkin | Penulis : Sean Durkin | Distributor : Fox Searchlight Pictures | Durasi : 102 menit | MPAA : Rated R for disturbing violent and sexual content, nudity and language
"I know who I am. I am a teacher and a leader, you just never let me be that!"
-Martha-

Dari menit-menit awalnya, Martha Marcy May Marlene (MMMM) sudah mulai memancing rasa penasaran saya dengan kesunyiannya. Sekelompok orang terlihat sedang melakukan aktivitas harian mereka di sebuah lahan pertanian yang tampak sepi dan lengang. Ketika malam tiba, para pria menyantap hidangan yang disajikan di meja makan, sedangkan para wanitanya menunggu di ruangan lain dan baru mulai makan setelah semua pria meninggalkan ruangan. Rangkaian adegan pembuka yang singkat ini entah mengapa menguarkan aroma misterius yang membuat saya bertanya-tanya, siapa sebenarnya orang-orang ini. Apakah mereka ini gambaran dari sebuah keluarga yang masih memegang erat tradisi? Atau hanya semacam komune yang mengasingkan diri dan menetap di daerah pinggiran? Rasa penasaran saya semakin menjadi, ketika di pagi harinya seorang wanita muda dalam kelompok tersebut tiba-tiba melarikan diri, diikuti dengan teriakan seorang pria yang memanggilnya dengan sebutan Marcy May. Sebuah set up yang cukup menjanjikan bagi thriller psikologis seperti ini.

Selanjutnya, cerita beralih pada kehidupan Marcy May (Elizabeth Olsen)—yang ternyata bernama asli Martha—pasca meninggalkan kelompok tersebut. Kini Martha menetap di sebuah rumah pinggir danau, kediaman sang kakak, Lucy (Sarah Paulson), dan suaminya, Ted (Hugh Dancy). Setelah dua tahun menghilang tanpa kabar, kembalinya Martha yang tiba-tiba itu tentu saja membuat Lucy dan Ted terkejut. Rasa senang dan kesal bercampur jadi satu. Apa yang sebenarnya ada di pikiran Martha dua tahun lalu, ketika ia tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa jejak? Dan apa yang membuat ia akhirnya memutuskan untuk kembali? Martha berdalih bahwa ini berkaitan dengan urusan patah hati. Bahwa kekasihnya berkhianat, sehingga Martha memutuskan untuk meninggalkannya. Sungguh klasik. Namun tentunya penonton tahu, bukan itu alasan sebenarnya. Sedikit demi sedikit, misteri pun terkuak. Seiring dengan rasa penasaran saya yang mulai terbayar.

Sean Durkin, sang sutradara sekaligus penulis naskahnya, mengajak penonton untuk ikut memasuki pikiran Martha, yang bagaikan lorong waktu yang membingungkan, mengaburkan batasan antara masa kini dengan masa lalu. Di sinilah letak kehebatan bagian editingnya. Transisi dari masa kini ke masa lalu Martha saat ia hidup bersama dengan kelompok (yang mungkin bisa dibilang sebagai semacam sekte) itu, ditampilkan dengan mulus. Di beberapa bagian tersebut, saya sempat kebingungan dan berujar, "lho kok?" Sampai akhirnya saya menyadari perpindahan tersebut. Damn, I've been tricked! Seolah-olah saya diposisikan dalam pikiran Martha yang kacau, sulit membedakan mana yang nyata, mana yang sebatas kenangan.


Lalu apa sebenarnya yang membuat Martha nyaris hilang akal? Semua terjawab sedikit demi sedikit dan semakin memuncak saat menjelang akhir. Film ini memang sepi, bukan jenis thriller yang penuh adegan kejar-kejaran antara pembunuh bertopeng dengan mangsanya. Namun jangan salah, anda akan merasakan sensasi ketegangan yang berbeda. Tingkah laku Martha yang semakin aneh dan paranoid, hingga pengungkapan masa lalunya yang gelap, membuat jantung ini berdebar-debar. Coba simak dan hayati adegan saat sang pemimpin sekte, Patrick (John Hawkes), menyanyikan Marcy's Song di depan Martha dan para pengikutnya. Adegan ini sukses membuat saya merinding dan terpaku, seperti Martha yang seolah terhipnotis dengan pesona Patrick yang kharismatik, membawanya semakin jauh ke dalam kegelapan yang membuai. John Hawkes tampil memukau di sini. Lembut, namun auranya mengerikan.

Dari beberapa dialog antara Martha dan Lucy, tersirat bahwa hubungan mereka berdua di masa lalu kurang begitu akrab. Ada masalah dalam keluarga mereka, walaupun tidak dijelaskan secara eksplisit. Ini juga sepertinya yang menjadi alasan mengapa Martha bisa terseret masuk ke dalam sekte pimpinan Patrick. Martha adalah pribadi yang rapuh, merasa terasing di lingkungan keluarganya sendiri. Kondisi inilah yang dimanfaatkan Patrick. Ia merangkul jiwa Martha dengan penuh kelembutan, membuatnya merasa diterima. Hingga akhirnya Martha tersadar, lalu melarikan diri, dengan masih membawa torehan luka hasil perbuatan Patrick. Apa yang dialami Martha selama dua tahun belakangan masih begitu membekas, mempengaruhi kondisi mentalnya. Tingkah lakunya yang tidak wajar semenjak ia kembali tinggal bersama kakaknya, memperlihatkan kegagapannya dalam bersosialisasi di lingkungan "orang normal". Melalui tokoh Martha, MMMM menawarkan sebuah studi karakter yang menarik.

Membicarakan MMMM, tentunya tidak akan lengkap tanpa menyinggung penampilan seorang aktris pendatang baru bernama Elizabeth Olsen. Merasa familiar dengan nama keluarganya? Ya, dia adalah adik kandung dari si kembar tenar, Mary-Kate dan Ashley. Tanpa disangka-sangka, Elizabeth memiliki kualitas seorang bintang yang sebelum ini sepertinya tidak begitu nampak. MMMM bisa dibilang merupakan kendaraannya untuk melesat lebih jauh lagi dalam menggapai status sebagai bintang papan atas Hollywood. Ini bukan pujian asal, karena penampilannya di MMMM memang patut mendapat apresiasi tinggi. Perpindahan timeline yang acak memungkinkan kita untuk melihat karakter Martha dalam emosi yang berganti-ganti pula. Dan Elizabeth Olsen memainkan tugasnya dengan gemilang. Ia sukses menghidupkan karakter Martha / Marcy May / Marlene sehingga tampak believable dan menimbulkan simpati. Mimik wajahnya, gesture-nya, oh my! I gotta say, a star is born.

Jadi, apakah MMMM tidak akan sama tanpa kehadiran Elizabeth Olsen sebagai pemeran utamanya? Bisa jadi. Namun di samping itu, debut layar lebar dari Sean Durkin ini sangat patut diapresiasi dan menjadi awal yang cukup menjanjikan bagi karya-karya selanjutnya di masa mendatang.

Rating : 7.5/10

Tuesday, April 12, 2011

Black Christmas (1974)


Genre : Horror/Mystery/Thriller | Pemain : Olivia Hussey, Margot Kidder, Keir Dullea, Andrea Martin, Art Hindle, John Saxon, James Edmond, Marian Waldman | Sutradara : Bob Clark | Penulis : Roy Moore | Distributor : Warner Bros. Pictures | Durasi : 98 menit

"A Christmas of another colour brings a killer on the loose"

Pada tahun 1978, sebuah film berjudul Halloween lahir dari tangan seorang John Carpenter—sang maestro horor yang reputasinya di kalangan fans genre tersebut sudah tidak perlu diragukan lagi. Film yang melejitkan nama Michael Myers sebagai salah satu tokoh villain paling ikonik ini banyak disebut sebagai pelopor film slasher yang kemudian menjadi inspirator bagi film-film sejenis. Halloween boleh saja disebut sebagai pelopor, namun jangan lupakan satu judul film yang juga menjadi bagian penting dari sejarah kebangkitan film slasher. Film itu adalah Black Christmas.


Dirilis pada tahun 1974, Black Christmas-lah yang sebenarnya banyak memberi pengaruh terhadap kemunculan film-film berjenis slasher, termasuk Halloween. Namun tidak seperti Halloween yang banyak diperbincangkan, film besutan Bob Clark ini seperti kurang terdengar gaungnya dan terkesan underrated. Well, kurang sorotan bukan berarti jelek kan? Karena menurut saya, Black Christmas adalah salah satu entry terbaik di genre-nya. Dan sialnya, cult classic satu ini ikut terkena imbas dari kemiskinan ide yang sedang melanda Hollywood belakangan ini. Ya, film ini mendapat "kehormatan" dengan dibuatkan remake-nya yang dirilis tahun 2006 lalu. Dan jujur saja, remake ini bagaikan sebuah sajian basi dengan hiasan yang sengaja dibuat menarik (berupa kumpulan cewek cantik di deretan cast-nya). Menggiurkan, namun setelah dicoba sukses menimbulkan sensasi mual-mual.

Lain dengan remake-nya yang menorehkan kesan buruk, versi orisinilnya tampil memikat dan jauh lebih berkesan. Plotnya sederhana saja, mengenai seorang psikopat yang menyelinap masuk ke dalam sebuah sorority house saat malam Natal, melancarkan teror melalui telepon, dan membantai satu-persatu penghuninya. Alurnya berjalan perlahan, sehingga memberi cukup ruang bagi penonton untuk lebih mengenal berbagai karakter yang ada. Olivia Hussey, Kier Dullea, Marian Waldman, dan terutama Margot Kidder sebagai Barb, si cewek bitchy bermulut kotor, membawakan peran masing-masing dengan cukup baik. Secara keseluruhan, semua cast disini tampil solid.

Film slasher yang merupakan sub-genre dari horor, umumnya identik dengan adegan-adegan yang mengumbar darah. Uniknya, Black Christmas justru tergolong minim dalam menampilkan adegan gore. Film ini lebih mengandalkan atmosfer yang efektif menimbulkan suasana mencekam. Di sepanjang film, sosok penjahatnya sendiri tidak ditampilkan secara frontal. Teknik first person point of view digunakan tiap sang penjahat beraksi, memposisikan penonton seolah berada dalam pikirannya. Identitas villain yang ditutup rapat adalah salah satu kelebihan film ini. Ketidakjelasan motif yang melatarbelakangi aksinya justru membuat kesan horor pada karakternya jadi lebih terasa. Aksi terornya melalui telepon dengan menggunakan suara-suara aneh yang berubah-ubah sangatlah disturbing dan cukup membuatnya masuk dalam jajaran salah satu psikopat fiksional paling memorable.

Sebagai salah satu film slasher yang memberi pengaruh terhadap kemunculan film-film serupa di kemudian hari, bagi saya Black Christmas memang tampil mengesankan. Meski dibuat lebih dari 30 tahun yang lalu, film ini masih enak untuk dinikmati bahkan jauh lebih superior dibanding slasher modern yang mayoritas berpola klise serta terlalu mengeksploitasi darah dan seks. Highly recommended for the genre's fans!

Rating : 8/10

Friday, April 1, 2011

The Last House On The Left (1972)


Genre : Horror/Thriller | Pemain : Sandra Cassel, Lucy Grantham, David A. Hess, Fred Lincoln, Jeramie Rain, Marc Sheffler, Gaylord St. James, Cynthia Carr | Sutradara : Wes Craven | Penulis : Wes Craven | Distributor : Hallmark Releasing Corp | Durasi : 84 menit

"Listen to daddy. I want you to take the gun, and I want you to put it in your mouth, and I want you to turn around and blow your brains out."
-Krug-


Saat mendengar nama Wes Craven, yang langsung terlintas di benak saya adalah sebuah film slasher berjudul Scream. Ya, film tersebut adalah perkenalan pertama saya dengan Wes Craven, salah satu maestro film horor Amerika. Dengan naskah yang cerdas serta penuh referensi film-film horor lawas, Scream hadir untuk bersenang-senang sekaligus memberi warna baru pada genre slasher di medio 90-an. Sebuah gebrakan luar biasa dari sang maestro. Namun sebelum kemunculan Scream, beliau juga sudah pernah membuat gebrakan yang mengejutkan dunia perfilman di Amerika melalui debut filmnya yang berjudul The Last House On The Left pada tahun 1972 silam.

Salah satu komponen menarik dari karya pertama Wes Craven ini adalah materi promosinya. Coba saja lihat satu versi posternya yang saya pajang di atas. Dengan ilustrasi yang cukup disturbing, plus tagline atau lebih tepatnya peringatan yang dicantumkan di kanan bawah dengan bunyi, "To avoid fainting keep repeating, it's only a movie...only a movie...", rasa penasaran calon penonton sudah pasti terpancing. Saya sendiri yang memang menyukai film-film bergenre horor, ingin membuktikan seberapa menakutkannya film yang sempat menuai kontroversi berkepanjangan di beberapa negara ini.

Seorang gadis bernama Mari Collingwood (Sandra Cassel) berencana merayakan malam ulang tahunnya yang ke-17 dengan menonton konser sebuah band underground bersama teman barunya Phyllis Stone (Lucy Grantham) di New York. Malam yang semula menyenangkan berubah menjadi petaka ketika mereka bertemu dengan kelompok buronan pimpinan Krug Stillo (David A. Hess). Bersama partnernya, Weasel (Fred Lincoln) dan Sadie (Jeramie Rain), serta anaknya yang drug addict, Junior (Marc Sheffler), Krug menjadikan Mari dan Phyllis sebagai objek kebiadaban mereka. Orangtua Mari yang khawatir karena anak mereka tidak pulang-pulang belum menyadari bahwa sebenarnya keberadaan Mari dan para penculiknya sangatlah dekat dengan kediaman mereka. Kisah ini pun akhirnya berujung pada klimaks berdarah yang menggambarkan bahwa kekerasan hanya akan memancing tindak kekerasan lainnya.

Selesai menonton, saya mengerti mengapa film ini banyak menuai kontroversi hingga beberapa adegannya harus kena pangkas gunting sensor. Muatannya cukup mengganggu untuk disaksikan pada zamannya, bahkan untuk saat ini pun saya rasa film ini masih bisa membuat beberapa orang tidak nyaman ketika menontonnya. Adegan yang menampilkan kebejatan Krug beserta gengnya terhadap Mari dan Phyllis saya jamin akan membuat miris siapapun yang menyaksikannya. Penataan kamera serta gambar yang cenderung grainy membuat film ini tampak menyerupai dokumenter sehingga mempertegas kesan realisme. Inilah yang membuatnya semakin tidak nyaman untuk ditonton karena kita bagaikan disuguhi sebuah dokumentasi nyata kejadian mengerikan ini. Oke, saat ini mungkin banyak film lain yang muatan kekerasannya jauh lebih brutal dibandingkan dengan yang ditampilkan Wes Craven disini. Namun saya rasa kebanyakan masih terasa kepalsuannya, tidak seperti film ini yang memberikan kesan nyata hingga membekas di ingatan.

Ada beberapa poin yang bisa disebut sebagai kekurangan dalam film ini. Pertama, akting para pemainnya yang terlihat amatir serta penempatan karakter yang kurang pas. Kehadiran dua tokoh polisi yang sepertinya diposisikan sebagai karakter comic relief, tampil konyol dan cukup mengganggu. Sandra Cassel dan Lucy Grantham yang berperan sebagai korban, serta David A, Hess yang memerankan tokoh Krug mungkin yang paling lumayan. Poin kedua adalah dimasukkannya musik latar yang bernada ceria dan cenderung komikal, sangat kontradiktif dengan mood filmnya yang gelap. Musik latar tersebut beberapa kali sukses mengalihkan perhatian saya, dan ini bukan dalam artian baik. Poin terakhir adalah komponen yang sejatinya merupakan bagian vital dalam sebuah film, yaitu plotnya sendiri. Plot hole memang hal yang lazim ditemui dalam sebuah film, tak terkecuali film ini yang memuat beberapa adegan tak masuk diakal sampai insiden-insiden yang kesannya terlalu kebetulan. Masih bisa dimaklumi, tapi tetap terasa mengganjal.

Dengan segala kekurangan yang ada, saya tetap menganggap bahwa debut Wes Craven ini adalah sebuah karya penting yang patut ditonton. Konon, film ini juga dimaksudkan sebagai kritik sosial terhadap perang Vietnam yang saat itu sedang memanas. Tiap hari media mengangkat berita mengenai kekejaman perang yang merenggut nyawa banyak orang. Melalui film ini, Wes Craven mengeksplor sejauh mana kemampuan manusia untuk melakukan tindak kekerasan terhadap sesamanya. Dan melalui klimaks sampai ending film, beliau juga ingin memperlihatkan sejauh mana seseorang mampu bertindak saat apa yang paling dicintainya direnggut paksa. Sebuah debut yang mencengangkan dari seorang Wes Craven.

Rating : 7.5/10

Monday, November 15, 2010

Winter's Bone (2010)

Genre : Drama/Mystery/Thriller

Pemain : Jennifer Lawrence, John Hawkes, Garret Dillahunt, Lauren Sweetser, Dale Dickey, Shelley Waggener

Sutradara : Debra Granik

Penulis : Debra Granik & Anne Rosellini (screenplay), Daniel Woodrell (novel)

Distributor : Roadside Attractions

Durasi : 100 menit

MPAA : Rated R for some drug material, language and violent content


"I got two kids that can't feed themselves yet. My mom's sick, and she's always gonna be sick. Pretty soon the laws are coming and taking our house... and throwing us out to live in the field like dogs."
-Ree-

Ketika seseorang dihadapkan pada kondisi serba tertekan, terkadang secara tak terduga ia akan mengeluarkan potensi dalam dirinya yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Saya sendiri juga pernah mengalami kejadian seperti itu. Misalnya tahun lalu, saat saya berada di penghujung semester akhir perkuliahan dimana tekanan untuk menyelesaikan tugas akhir semakin bertubi-tubi. Dengan waktu yang semakin sempit (berbanding terbalik dengan bertumpuknya materi yang masih perlu diselesaikan), tentunya saya terpacu untuk secepat mungkin menyelesaikan tugas tersebut. Dan ajaibnya, hanya dalam waktu beberapa hari semua dapat terselesaikan. Meskipun tidak aneh jika hasilnya mungkin kurang maksimal. Yang penting kan beres, soal banyaknya revisi mah urusan nanti (pola pikir mahasiswa pemalas). Maaf jika ini jadi terkesan seperti ajang curhat dengan sampel yang tidak patut ditiru. Poinnya, setiap orang memiliki potensi terpendam dan besar kemungkinan semua itu akan benar-benar tampak saat ia berada dalam situasi sulit, imo.

Korelasi antara ocehan saya di atas dengan film berjudul Winter's Bone ini yaitu situasi serba sulit yang juga dialami oleh tokoh utamanya, Ree Dolly (Jennifer Lawrence). Ree adalah seorang gadis remaja 17 tahun yang hidup di lingkungan terpencil di pegunungan Ozark, Missouri. Dengan usianya yang masih belia, ia harus menjadi tulang punggung bagi kedua adiknya yang masih kecil dan juga ibunya yang tidak bisa berbuat apa-apa dengan kondisi mentalnya. Tunggu, kemana perginya sang ayah yang seharusnya bertindak sebagai kepala keluarga? Itulah pemicu rentetan masalah yang akan dihadapi Ree nanti. Ayahnya—Jessup Dolly, dikenal sebagai "peracik" methamphetamine (sejenis drugs) yang saat ini sedang menjadi buronan pihak kepolisian. Parahnya, ia menjadikan rumah dan semua aset miliknya sebagai jaminan. Jika ia tidak muncul dalam persidangan di minggu berikutnya, keluarganya terpaksa harus kehilangan tempat tinggal. Demi kelangsungan hidup keluarganya, Ree bertekad menemukan sang ayah walau seberat apapun resiko yang mesti ditanggungnya kelak.

Pencarian yang dilakukan Ree tentu tidaklah mudah. Dengan lingkungan yang masih menganut paham patriarki serta ikatan kelompok yang kuat, keingintahuan Ree justru memposisikan dirinya serta keluarganya dalam bahaya. Ree mendatangi setiap orang yang ia yakini pernah berhubungan dengan ayahnya, dan ini tentu saja membuat dirinya seolah hadir sebagai pengganggu. Ekstrimnya, pencarian yang ia lakukan bagaikan sebuah misi bunuh diri yang sudah jelas hasil akhirnya. Namun dengan modal keberanian dan kegigihannya, apakah masih ada harapan bagi Ree untuk dapat menemukan ayahnya? Dalam melalui kesulitan ini, untungnya dia tidak sendiri. Masih ada Gail (Lauren Sweetser), sahabat karibnya yang selalu mendukungnya. Selain itu masih ada pamannya, Teardrop (John Hawkes)—drug-addict yang awalnya menentang Ree untuk ikut campur dalam urusan yang seharusnya ditangani sendiri oleh ayahnya. Namun, pada akhirnya ia pun bersedia membantu mencari informasi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa aura yang dibawa film ini begitu kelam dan cenderung depresif. Dengan setting di daerah terpencil yang tampak seperti area post-catastrophe, mood film ini memang dijaga agar tetap terasa kekelamannya. Michael McDonough—sang cinematographer, juga ikut andil dalam membangun mood film dengan gambar-gambar yang cenderung ber-tone gelap. Terkesan dingin, namun indah untuk dipandang. Sepanjang film, adegan-adegannya sepi dari musik latar. Namun bukan berarti film ini total mengabaikan musik pengiring. Meskipun kemunculannya minim, namun score garapan Dickon Hinchliffe mampu mengisi tiap adegannya dengan baik. Jangan lupakan sisipan lagu-lagu beraliran bluegrass dengan vokal menawan dari Marideth Sisco yang ikut muncul dalam salah satu adegan. Kehadiran lagu-lagu yang menyejukkan hati ini mengimbangi kelamnya tone film.

Debra Granik—sang sutradara sekaligus penulis naskahnya (bersama Anne Rosellini), berhasil mengadaptasi novel karya Daniel Woodrell menjadi sebuah film yang memikat—mencekam namun sekaligus memancarkan optimisme. Granik patut diberi kredit tersendiri berkaitan dengan keseriusannya dalam mengerjakan proyek ini. Konon ia menghabiskan waktu sekitar dua tahun untuk mengobservasi kehidupan masyarakat di Ozark demi keotentikan film ini nantinya. Dan kerja kerasnya terbukti membuahkan hasil yang maksimal. Meskipun saya tidak pernah tinggal di Ozark (bahkan nama daerah ini pun baru saya dengar melalui film ini), namun saya cukup yakin bahwa apa yang ditampilkan Granik disini adalah gambaran dari realita yang ada. Potret kehidupan masyarakat miskin di pinggiran Amerika ini mampu melibatkan emosi saya sebagai penonton tanpa terkesan manipulatif. Semuanya tampak natural.

Kesan realisme yang timbul juga tidak lepas dari peran para aktor dan aktrisnya yang berhasil menghidupkan masing-masing karakternya dengan meyakinkan. Sebagai Teardrop—paman Ree yang pecandu obat dan temperamental, John Hawkes sukses menampilkan permainan memukau. Ia mampu mengesankan sifat antagonis di awal kemunculannya yang pada akhirnya berubah simpatik. Selain Hawkes, pemeran pendukung lainnya juga menampilkan performa yang meyakinkan, mulai dari Dale Dickey, Lauren Sweetser, sampai pemeran kedua adik Ree yang membawa keceriaan tersendiri melalui kepolosan mereka. Namun tentu saja bintang dalam keseluruhan film ini adalah Jennifer Lawrence sebagai Ree Dolly, sang tokoh utama penggerak cerita. Lawrence memancarkan pesona natural yang membuat kehadirannya di layar begitu mencuri perhatian. Kekuatan dan keberanian seorang gadis remaja dalam menghadapi berbagai kesulitan nampak jelas melalui karakternya, namun di sisi lain ia juga rapuh. Salah satu scene di tengah hutan saat Ree meminta nasehat pada ibunya sangatlah emosional. Di titik ini penonton dibuat tersadar bahwa dibalik sosok tegar itu, Ree tetaplah seorang remaja yang membutuhkan topangan. Lebih jelasnya, ia membutuhkan figur orangtua yang layak. Tidak diragukan lagi, ini adalah peran yang akan meroketkan nama Jennifer Lawrence dan membuatnya menjadi salah satu komoditi panas di kancah perfilman Hollywood.

Kesuksesan feature film kedua arahan Debra Granik ini di event Sundance Film Festival beberapa waktu lalu tidaklah mengherankan mengingat kualitasnya yang sangat prima. Tidak mengherankan juga jika film ini nantinya menjadi primadona di ajang penghargaan paling bergengsi di Hollywood—Academy Awards. Jennifer Lawrence jelas harus mendapatkan setidaknya nominasi sebagai Aktris Terbaik. Di luar potensinya dalam menarik perhatian berbagai ajang penghargaan, film ini memang sangat patut diapresiasi oleh para penikmat film. Salah satu drama terbaik yang menggambarkan realita kehidupan dengan jujur dan apa adanya. Definitely worth watching!

Rating : 9/10

Wednesday, October 20, 2010

Heathers (1989)

Genre : Comedy/Crime

Pemain : Winona Ryder, Christian Slater, Shannen Doherty, Lisanne Falk, Kim Walker

Sutradara : Michael Lehmann

Penulis : Daniel Waters

Distributor : New World Pictures

Durasi : 103 menit

MPAA : Rated R for violence, sexual references, and language


"Betty Finn was a true friend and I sold her out for a bunch of Swatch dogs and Diet Coke heads. Killing Heather would be like offing the wicked witch of the west... wait, east. West! God! I sound like a fucking psycho."
-Veronica-

Kalimat di atas adalah satu dari sekian banyak quote menggelitik yang bertebaran di sepanjang durasi film ini. Heathers, sebuah potret kehidupan para remaja dalam balutan dark comedy yang tajam, penuh sindiran, sekaligus cerdas. Judul film ini sendiri diambil dari nama sebuah kelompok (mungkin lebih dikenal dengan sebutan geng) yang terdiri dari tiga siswi populer bernama depan sama—Heather Chandler (Kim Walker), Heather Duke (Shannen Doherty), dan Heather McNamara (Lisanne Falk). Layaknya film-film remaja kebanyakan, clique yang terdiri dari gadis-gadis paling populer di sekolah otomatis memiliki otoritas penuh dalam hal pergaulan. Mereka seolah berada di tempat tertinggi dalam stratifikasi sosial di lingkungan sekolahnya. Dari scene awalnya saja, sudah tergambar seberapa berpengaruhnya eksistensi para Heather ini. Ah, saya jadi teringat lagu Que Sera Sera.

Veronica Sawyer (Winona Ryder)—gadis cerdas dengan selera humor sarkastik, adalah anggota keempat di geng Heathers. Wait, a non-Heather in Heathers? How could that be? Ya, meski tidak dijelaskan bagaimana awal mula Veronica bisa diterima di geng tersebut (yang tampak sudah sempurna sebagai trio), namun jelas bahwa ia memiliki sesuatu yang menarik perhatian para Heather. Tidak seperti Duke dan McNamara yang tampak agak segan terhadap pemimpin mereka—Heather Chandler, Veronica justru cenderung lebih santai saat berada di dekatnya. Sosok Veronica adalah cerminan seorang remaja yang ingin diterima dalam pergaulan dengan bergabung bersama geng populer, tidak peduli bahwa justru sebenarnya ia membenci geng tersebut. Seperti kalimat yang diucapkannya, "Well, it's just like - they're people I work with, and our job is being popular and shit." Jelas tergambar bahwa ia terpaksa bergaul dengan para Heather demi status sosial. Sebagai Veronica, Winona Ryder tampak begitu mempesona di setiap kemunculannya.

Kehadiran sosok Jason "J.D." Dean (Christian Slater)—murid pindahan bergaya cool dan misterius, semakin membuat Veronica tersadar. Kebencian terhadap Heather yang selama ini hanya ia tuangkan dalam diary, mulai diwujudkan dalam tindakan nyata. Namun, keisengan yang ia lakukan bersama J.D. pada akhirnya malah berbuah malapetaka. Sosok J.D. seolah memicu munculnya sisi gelap dalam diri Veronica. Saat bersama J.D., ia seperti kehilangan kendali atas dirinya. Mampukah Veronica terbebas dari pesona gelap J.D. yang bagai magnet bagi dirinya? Tokoh J.D. diperankan dengan sempurna oleh Christian Slater—charming sekaligus psychotic. Cukup mengherankan melihat karirnya sekarang yang tidak berkembang, padahal jelas-jelas ia bisa berakting. Dan chemistry-nya dengan Winona Ryder sungguh mengagumkan. Pasangan mematikan yang mempesona. Love them both!

Heathers mengeksplor sisi gelap kehidupan para remaja di sekolah menengah. Stereotype anak sekolahan, obsesi terhadap popularitas, sampai fenomena bunuh diri di kalangan remaja dijadikan bahan komedi satir dalam film ini. Untuk yang memiliki selera humor sarkastik, dipastikan akan sangat terhibur dengan lontaran kalimat pedas dari tiap karakternya di sepanjang film. Skrip buatan Daniel Waters ini memang cerdas dan luar biasa menghibur dengan segala kesinisannya. Tiap tokohnya diberi kedalaman yang pas, dengan pembubuhan simbolisasi untuk mempertegas sifat karakter masing-masing (misalnya warna bola kriket Heathers). Beberapa adegan terkesan agak berlebihan—terutama pada paruh akhir menjelang ending, namun secara keseluruhan apa yang ingin disampaikan film ini cukup tepat sasaran. Tingkah laku remaja yang semakin brutal dan destruktif serta blow-up media yang membuat hal-hal negatif jadi terlihat keren disampaikan dengan jelas.

Jujur, saya sangat menikmati film ini dari awal sampai akhir. Gaya humornya sangat mengena dan benar-benar menghibur. Ini adalah salah satu film remaja terbaik yang pernah saya tonton. Sedikit mengingatkan pada Mean Girls yang sudah lebih dahulu saya tonton, namun Heathers jelas lebih baik sekaligus memorable. Film ini tidak cukup hanya ditonton sekali karena setelah menonton untuk kedua kalinya, saya menemukan beberapa detail yang sempat terlewat saat pertama kali menonton. Dan yang terpenting, saya semakin jatuh cinta dengan film ini. Ini bukan berlebihan, hanya sekedar ungkapan perasaan saya saja sebagai penonton. Tidak lebih.

Now, can someone bring me a chainsaw?

Rating : 9/10

Wednesday, October 13, 2010

Lilja 4-ever (2002)

Genre : Crime/Drama

Pemain : Oksana Akinshina, Artyom Bogucharsky, Pavel Ponomaryov

Sutradara : Lukas Moodysson

Penulis : Lukas Moodysson

Distributor : Sonet Film

Durasi : 109 menit

MPAA : Rated R for strong sexual content, a rape scene, drug use and language



"I'm not your property. Think you can buy me? You can't buy me. You can't buy my heart and soul."

-Lilja-

Lilja 4-ever adalah feature film ketiga dari salah seorang sineas handal asal Swedia, Lukas Moodysson. Tidak seperti dua filmnya terdahulu—Show Me Love dan Together yang bernuansa ceria, kali ini Moodysson membuat perubahan drastis dengan menghadirkan cerita yang kelam dan depresif. Konon, skrip yang ditulis Moodysson terinspirasi dari kejadian nyata mengenai seorang gadis remaja asal Lithuania bernama Danguole Rasalaite yang menjadi korban sindikat perdagangan manusia. Kisah tragis ini sempat menjadi headline di Swedia tahun 2000. Meski tidak mengangkat langsung kisah hidup Rasalaite, Moodysson mencoba untuk menggambarkan betapa kejamnya isu human trafficking melalui sudut pandang si korban dalam film ini.

Opening scene-nya memperlihatkan seorang gadis dengan wajah penuh luka memar berlari di jalanan dalam keadaan panik. Dengan diiringi lagu Mein Herz brennt dari Rammstein, ketakutan yang dialami gadis tersebut semakin terasa. Kemudian setting berpindah ke tiga bulan sebelumnya, di sebuah negara yang merupakan bagian dari former Soviet Union. Diceritakan bahwa gadis tadi bernama Lilja. Kala itu, kegembiraannya sedang memuncak karena ia akan pindah ke Amerika bersama ibunya yang telah memiliki kekasih baru. Namun impiannya seolah direnggut saat ibunya memutuskan untuk tidak mengajak Lilja. Ibunya menjanjikan bahwa Lilja bisa menyusul nanti. Dari sini, pertanda buruk sudah mulai terlihat. Adegan perpisahan Lilja dengan ibunya adalah salah satu adegan paling memilukan dalam film ini. Tangis histeris Lilja, serta sekilas ekspresi ibunya yang tampak tidak tega tapi dengan egoisnya tetap pergi meninggalkan anaknya. Damn! It's so heartbreaking.


Sepeninggal ibunya, Lilja dititipkan pada bibinya yang cenderung a
patis. Ia dipaksa pindah dari tempat tinggalnya ke sebuah flat kumuh. Tanpa pengawasan orang dewasa, ia bebas berpesta bersama teman-temannya disana. Namun kesenangan itu hanya sesaat, karena ia masih merasakan kekosongan di hatinya yang dahulu diisi oleh sosok sang ibu. Sudah dapat diduga, ibunya memang benar-benar berniat untuk selamanya pergi dari kehidupan Lilja. Nasib Lilja tidak bertambah baik saat teman dekatnya tiba-tiba menyebarkan berita bohong tentang dirinya. Hal ini membuatnya menjadi bahan cemoohan di lingkungannya. Satu-satunya orang yang tetap setia menemaninya hanyalah Volodja (Artyom Bogucharsky) , bocah lelaki yang sering ditindas ayahnya sendiri. Berdua, mereka saling menopang satu sama lain demi bisa bertahan di dunia yang sangat tidak bersahabat ini.

Kehidupan yang keras sempat membuat Lilja terjerumus dalam lembah prostitusi. Dirinya seolah terselamatkan saat bertemu dengan sosok bak malaikat dalam diri seorang pria bernama Andrei (Pavel Ponomaryov). Perkenalan yang awalnya tidak disengaja akhirnya membuat mereka semakin akrab. Kemudian Andrei pun memberikan harapan indah pada Lilja. Ia menjanjikan kehidupan yang lebih baik bagi Lilja di Swedia. Kesempatan tersebut tentu membuat Lilja senang tak terkira karena akhirnya ia bisa terbebas dari tempat yang telah menorehkan kenangan buruk padanya selama ini. Namun apakah Andrei benar-benar memiliki niatan tulus untuk menolong Lilja? Ataukah itu hanya siasat untuk menjebak Lilja? Dari sini, film semakin menyakitkan untuk ditonton. Dari awal sampai lebih dari setengah film, penonton dipaksa menjadi saksi betapa malangnya nasib Lilja. Sepertiga akhir film adalah puncak ketragisan kisahnya. Dan inilah yang membuat saya semakin muak terhadap orang-orang bejat yang terlibat dalam bisnis terkutuk berjuluk human trafficking.


Melalui sosok Lilja yang diperankan dengan gemilang oleh Oksana Akinshina, saya dibawa menyelami kepedihan seseorang yang ditinggalkan, dikhianati, dan dijerumuskan. Akinshina membuat sosok Lilja terasa begitu nyata. Sangat menyakitkan melihat senyumnya yang tulus dan ceria direnggut paksa oleh pihak yang begitu egois dan tidak bermoral. Sekali lagi, Moodysson menunjukkan kepiawaiannya dalam hal karakterisasi. Lilja adalah salah satu karakter yang paling melibatkan emosi saya saat menonton sebuah film. Karakternya mengingatkan saya bahwa di luar sana banyak orang yang nasibnya kurang beruntung, sementara terkadang saya sendiri masih sering menggerutu dengan apa yang saya miliki. Lalu melalui karakter Volodja, saya juga diingatkan bahwa dibalik semua tragedi yang menimpa seseorang, akan selalu ada cahaya menemani untuk menerangi jalan serta menegaskan bahwa harapan itu ada.

Secara keseluruhan, film ini bukanlah tipe tontonan eskapisme yang bisa dinikmati oleh semua orang. Menurut saya film ini memang bukan untuk dinikmati, melainkan untuk dimaknai. Kandungan di dalamnya mampu membangkitkan rasa kemanusiaan serta membuka mata kita untuk lebih peduli terhadap sesama. Itulah yang membuat film ini sangat layak untuk ditonton. Highly recommended!

Rating : 9/10

Monday, July 28, 2008

The Dark Knight (2008)

Genre : Action/Crime/Thriller

Pemain : Christian Bale, Heath Ledger, Aaron Eckhart, Michael Caine, Gary Oldman, Morgan Freeman, Maggie Gyllenhaal

Sutradara : Christopher Nolan

Penulis : Christopher Nolan, Jonathan Nolan, David S. Goyer

Produser : Ch
ristopher Nolan, Charles Roven, Emma Thomas

Distributor : Warner Bros.

Durasi : 152 menit

The Joker : "Why so serious?"


Dengan kehadiran Batman Begins yang seolah memberi nyawa baru pada saga sang manusia kelelawar ini, membuat saya lupa akan ke-corny-an Batman & Robin. Di tangan Christopher Nolan, sosok Batman jadi lebih bisa diterima sebagai sosok superhero yang manusiawi. Pemilihan Christian Bale sebagai Bruce Wayne juga sangat cocok menurut saya. Jajaran supporting cast yang berkualitas seperti Michael Caine, Morgan Freeman, sampai Gary Oldman, juga patut diapresiasi. Cerita yang lebih gelap dan lebih real dibanding seri Batman sebelumnya, semakin menegaskan bahwa ini adalah franchise baru Batman yang lebih dewasa. Dengan pijakan awal yang sudah sangat mantap, masa depan franchise ini dijamin tidak bakal sesuram alur ceritanya.

Masih melanjutkan sepak terjang Bruce Wayne dengan alter-egonya— Batman dalam menumpas kejahatan di kota Gotham, film ini menjanjikan alur cerita yang lebih seru. Dibuka dengan adegan perampokan sebuah bank yang penuh tipu muslihat. Di akhir scene perampokan ini, penonton diperkenalkan pertama kali pada sosok The Joker (yang diperankan dengan gemilang oleh alm. Heath Ledger). Pertama kali melihat tampangnya, saya sudah merasakan kalau sosok Joker kali ini memang pantas disebut psycho. Hilang sudah imej komikal yang melekat dalam karakter Joker versi Jack Nicholson dulu. Ditambah dengan tingkah lakunya yang ajaib, lengkap sudah sosok villain yang ideal untuk membuat Batman kerepotan. Selain kehadiran Joker, para kriminal dan gangster yang sudah lama bersarang di Gotham juga semakin membuat sang manusia kelelawar ini gerah.

Selain beraksi dalam sosok Batman, ia juga mesti menjalani kehidupan "normal"nya sebagai Bruce Wayne. Hubungannya dengan teman masa kecilnya, Rachel Dawes (Maggie Gyllenhaal), mulai renggang. Rachel kini menjalin hubungan dengan Harvey Dent (Aaron Eckhart), seorang jaksa wilayah baru di Gotham. Melihat potensi yang dimiliki Harvey, Bruce (dalam sosok Batman) mengajaknya untuk bekerjasama dalam menumpas segala bentuk kejahatan di Gotham. Selain itu, Batman juga masih mendapat dukungan dari rekan-rekan lamanya, seperti Lt. James Gordon (Gary Oldman), Lucius Fox (Morgan Freeman), dan tak ketinggalan juga pelayan setianya Alfred (Michael Caine).

Wow! Setelah selesai menonton film ini, saya benar-benar kehilangan kata-kata. It's absolutely amazing! Jauh melebihi ekspektasi saya. Bukan hanya berhak mendapat predikat sebagai film superhero terbaik yang pernah dibuat, film ini juga secara resmi menjadi salah satu film terbaik yang pernah saya tonton. Dan kalau selama ini saya termasuk orang yang skeptis, bahwa sebuah film superhero (esp. from comic book) tidak akan pernah mungkin masuk nominasi Best Picture di ajang Academy Awards, maka anggapan tersebut sudah sirna sudah karena film ini memiliki kualifikasi untuk diperhitungkan di ajang tersebut. Dari mulai naskah yang semakin apik, penampilan ensemble cast-nya yang solid, sampai pada hal-hal teknisnya yang digarap dengan serius, menjadikan film ini sebagai m
asterpiece sekaligus pencapaian yang sangat tinggi dari seorang Christopher Nolan. Sutradara yang kerap membuat film-film bernuansa serius dan gelap ini berhasil menyajikan tontonan yang tidak hanya menghibur tapi juga berkualitas.

Dan yang patut diberi kredit tersendiri dalam film ini adalah penampilan dari Heath Ledger sebagai The Joker. Ledger yang harus meregang nyawa sebelum perilisan film ini, memberikan penampilan terakhirnya yang sangat jenius dan memorable. Dari mulai mimik wajah sampai gesture dan cara bicaranya benar-benar menghidupkan tokoh Joker. Saya cukup yakin kalau aktingnya disini akan mendapatkan banyak apresiasi dalam bentuk berbagai penghargaan, tidak terkecuali satu buah piala Oscar.

Overall, it's definitely a must see masterpiece. And it's one of my favourite movies of all time.

10/10