Showing posts with label Tearjerker. Show all posts
Showing posts with label Tearjerker. Show all posts

Sunday, December 4, 2011

[Review] Beginners (2011)


Genre : Comedy, Drama, Romance | Pemain : Ewan McGregor, Christopher Plummer, Melanie Laurent, Goran Visnjic, Kai Lennox, Mary Page Keller | Sutradara : Mike Mills | Penulis : Mike Mills | Distributor : Focus Features | Durasi : 105 menit | MPAA : Rated R for language and some sexual content

"I don't wanna be just theoretically gay. I wanna do something about it."
-Hal-

Beginners adalah feature film kedua dari sutradara Mike Mills yang sebelumnya pernah menggarap sebuah film berjudul Thumbsucker yang diangkat dari novel karangan Walter Kim. Untuk karya sophomore-nya ini, cerita yang ia angkat berasal dari naskah buatannya sendiri. Bukan cerita biasa, karena menurut berbagai sumber yang saya baca, ini terinspirasi dari kisah hidup Mills sendiri. Bagaikan sebuah semi-autobiografi, mungkin bisa dibilang bahwa ini adalah karya yang personal bagi sang sutradara. Sebelum mengetahui cerita di balik penulisan naskahnya pun, saya bisa merasakan keintiman kisah dalam film ini setelah selesai menyaksikannya.

Di awal film, kita diperkenalkan pada sosok Oliver (Ewan McGregor), seorang pria berusia 38 tahun yang baru saja kehilangan ayahnya. Dengan menggunakan narasi orang pertama, yaitu Oliver, kita dibawa kepada kilas balik kehidupan Oliver sebelum kematian ayahnya. Diceritakan bahwa tidak lama setelah kematian ibunya, Georgia (Mary Page Keller), Oliver dihadapkan pada sebuah fakta yang disembunyikan ayahnya selama ini. Hal (Christopher Plummer), sang ayah, mengaku pada Oliver bahwa beliau adalah seorang gay. Setelah came out of the closet, sang ayah mulai mengeksplor sosok dirinya yang selama ini ia sembunyikan. Beliau mulai aktif mengikuti segala kegiatan yang melibatkan komunitas gay, bahkan mulai mendapatkan seorang kekasih baru dalam sosok pemuda yang usianya jauh lebih muda, Andy (Goran Visnjic). Oliver menerima fakta baru ini dengan bijak dan ikut bergembira bersama sang ayah yang jiwanya bagai terbebaskan pasca kematian sang istri. Sampai suatu hari datang sebuah berita mengejutkan. Sang ayah divonis mengidap kanker paru-paru. Hidupnya tidak lama lagi.

Selain menceritakan kisah Oliver sebelum kematian sang ayah, kilas balik ini juga memperlihatkan hubungan antara Oliver kecil (Keegan Boos) dengan ibunya. Melalui adegan-adegan yang diselipi humor gelap namun menyentuh, kita diajak menyelami hubungan Oliver dengan sang ibu dan menyimpulkan bagaimana hal tersebut membentuk sosok Oliver dewasa. Tanpa menyuapi penontonnya dengan berbagai penjelasan, Mills sanggup memberi gambaran bahwa ada sebuah kekosongan dalam kehidupan rumah tangga Hal dan Georgia hanya melalui interaksi antara Georgia dan Oliver kecil. Lalu ada juga adegan ketika Hal yang kondisi fisiknya semakin lemah berdialog dengan Oliver mengenai alasan kenapa beliau bisa menikahi Georgia, terlepas dari fakta bahwa ia seorang gay. Adegan ini sangatlah menyentuh, mempertanyakan apa itu cinta, sampai hal yang benar-benar kita inginkan dalam hidup ini.


Dua kisah flashback di atas berbaur dengan kisah masa kini mengenai kehidupan Oliver pasca meninggalnya sang ayah. Kisah inilah yang menjadi fokus utama dan ditunjang dengan kuat oleh kilas balik masa lalu Oliver. Diceritakan Oliver bertemu dengan seorang gadis keturunan Perancis, Anna (Melanie Laurent) dalam sebuah pesta kostum. Dengan dandanan a la Freud, Oliver menarik perhatian Anna yang menangkap isyarat kesedihan dalam tatapan matanya. Dimulai dari pertemuan insidental inilah, hubungan Oliver dan Anna semakin berkembang. Hubungan manis ini turut diwarnai konflik yang berkenaan dengan karakter masing-masing mereka, mulai dari rasa takut untuk berkomitmen, sampai sikap skeptis mengenai kelanjutan hubungan yang harmonis. Ya, setiap individu memiliki personal issue-nya masing-masing, tak terkecuali Oliver dan Anna. Tak lupa kehadiran seekor anjing berjenis Jack Russell peninggalan sang ayah yang bernama Arthur, semakin memberi warna dalam hubungan mereka. Berbicara tentang Arthur, sosok anjing kecil ini adalah scene stealer yang sangat ampuh. Dengan gesture serta ekspresi wajahnya yang membuat saya ingin mencubitinya, ditingkahi dengan subtitle sebagai interpretasi Oliver akan tatapan mata si anjing kecil ini yang benar-benar berbicara. So cute!

Dengan lihai, Mike Mills sukses menghadirkan tiga hubungan dalam kehidupan tokoh utamanya—Oliver dengan sang ayah, Oliver kecil dengan sang ibu, serta Oliver dengan kekasih barunya—dalam rangkaian adegan yang saling bercampur, namun tidak terkesan tumpang tindih ataupun membingungkan. Justru semuanya mengalir dengan lancar dan berhasil memberikan emotional impact yang tepat sasaran bagi penontonnya. Seperti yang sudah saya kemukakan di atas, cerita film ini terinspirasi dari kehidupan sang sutradara sendiri. Berkaitan ataupun tidak dengan hal tersebut, yang pasti film ini terasa jujur dan intim dalam bercerita, dengan kepedulian yang mendalam pada tiap karakternya. Ewan McGregor, Melanie Laurent, dan terutama Christopher Plummer yang begitu lepas dan graceful, memberikan performa kelas satu di sini. Chemistry antar tokohnya tercipta secara natural, membuat kita peduli terhadap jalannya hubungan mereka. Ketika mereka bahagia, kita ikut merasakan aura kesenangan yang dipancarkan. Dan ketika mereka diliputi kesedihan, hati inipun ikut hancur. Dengan kata lain, Mike Mills berhasil membuat sebuah karya yang personal bagi dirinya tanpa mengucilkan penonton sebagai pihak yang ikut merasakan. Salut untuk sutradara satu ini.

Di sepanjang tahun ini, Beginners tanpa disangka-sangka sukses menjadi sebuah sajian dramedy paling berkesan bagi saya. Kandungan cerita yang heartfelt, humor yang quirky, serta karakter-karakter yang mengundang simpati adalah beberapa elemen yang membentuk kekuatan film ini. Namun di atas itu semua, kemampuan film ini untuk menyentuh saya hingga level yang sulit dideskripsikan dengan rangkaian kata adalah elemen terkuat yang membuat saya begitu kagum dengan film ini. Di setiap tahunnya, kemungkinan akan ada setidaknya satu buah film yang benar-benar terasa klop dan mengena di hati hingga tak akan pernah bosan untuk ditonton berulang kali. Dan tahun ini, Beginners adalah salah satunya.

Just my personal opinion.

Rating : 10/10

Saturday, June 11, 2011

5 Centimeters Per Second (2007)


Genre : Animation, Drama, Romance | Pengisi Suara : Kenji Mizuhashi, Yoshimi Kondou, Satomi Hanamura, Ayaka Onoue | Sutradara : Makoto Shinkai | Penulis : Makoto Shinkai | Produksi : CoMix Wave, ADV Films | Durasi : 63 menit

"The speed at which the sakura blossom petals fall... Five centimeters per second."
-Akari-

Salah satu alasan mengapa saya begitu menikmati film animasi produksi Studio Ghibli adalah berkat tampilan animasi tradisionalnya yang memukau. Selain faktor ceritanya yang selalu berhasil menyentuh hati, film-film Studio Ghibli memang kerap pandai memanjakan mata tiap penontonnya. Namun disini, saya tidak akan membahas salah satu film animasi rilisan studio tersebut. Ada satu film animasi Jepang (anime) yang baru-baru ini saya tonton dan sukses membuat sepasang mata ini terbelalak dan mulut ini berdecak kagum dengan kemegahan visualnya. Sebutan banyak orang untuk Makoto Shinkai sebagai "the next Hayao Miyazaki" memang bukan tanpa alasan. Apa yang dicapainya melalui 5 Centimeters Per Second ini memang luar biasa.

Film yang memiliki durasi sekitar satu jam ini menawarkan cerita yang sepertinya sudah umum dipakai dalam film-film drama romantis—tentang dua insan manusia yang saling mencintai namun terpisahkan oleh jarak. Maksud dari judul film ini sendiri bisa dibilang merupakan metafora dari kondisi tersebut. Lima senti per detik, konon itulah kecepatan kelopak bunga sakura saat jatuh dari pohonnya. Layaknya bunga sakura, beberapa orang bisa saja memulai awal kehidupan mereka bersama, namun suatu saat mereka bukan tidak mungkin akan terpisahkan, bagai kelopak bunga yang berguguran, lima senti per detik. In our lives, people come and go. Mungkin itulah yang ingin disampaikan Shinkai melalui film besutannya ini.

Dua insan yang saling mencintai itu adalah Takaki Tono (Kenji Mizuhashi) dan Akari Shinohara (Yoshimi Kondou, Ayaka Onoue). Sejak Akari pindah ke SD yang sama dengan Takaki, keduanya mulai menjalin hubungan yang semakin lama semakin erat berkat kesamaan yang mereka miliki. Hubungan mereka mulai diuji saat Akari dan keluarganya harus pindah ke luar kota yang jaraknya cukup jauh. Namun mereka masih sering berkomunikasi melalui surat menyurat (errr...di sini telepon genggam dan internet belum mewabah). Suatu ketika, Takaki juga harus pindah rumah bersama keluarganya ke kota lain yang ternyata jaraknya semakin jauh dengan tempat tinggal Akari. Sebelum kepindahannya, Takaki memutuskan untuk sekali lagi menemui Akari dan menyatakan perasaannya melalui surat yang ia bawa.

Waktu berlalu, cerita pun bergulir saat Takaki sudah hampir lulus SMA. Jarak dan waktu masih memisahkannya dengan Akari. Namun ia masih terus mengingatnya, hingga tak menyadari bahwa ada gadis lain yang menaruh perhatian padanya. Dialah Kanae Sumida (Satomi Hanamura), teman sekelas Takaki yang mulai menyukainya sejak mereka masih duduk di bangku SMP. Kanae yang masih belum berani menyatakan perasaannya hanya mampu menatap Takaki saat sedang latihan memanah, kemudian menunggunya diam-diam di tempat parkir agar bisa pulang bersama. Suatu malam mereka membicarakan kekhawatiran masing-masing akan masa depan. Dari sinilah Kanae semakin menyadari bahwa Takaki selalu melihat jauh ke depan, kepada sesuatu yang tidak pernah ia ketahui selama ini.

Di babak terakhir, kita diperlihatkan dengan Takaki dan Akari yang sudah tumbuh dewasa. Apakah mereka bersama atau tidak, hanya bisa anda ketahui dengan menonton sendiri film yang bagi saya sangat menyentuh ini. Cerita yang diangkat mungkin bukan barang baru, namun Shinkai mampu merangkainya menjadi sebuah untaian kisah tiga bagian yang begitu puitis dan menyentuh hati. Setiap orang mungkin memiliki cinta pertama yang tak akan pernah mereka lupakan, dan film ini akan membuat mereka kembali mengingatnya. Kisah yang akan terasa personal bagi sebagian orang ini, dipercantik dengan komposisi musiknya yang indah dan visualnya yang menakjubkan. Ya, komponen paling kuat yang ada dalam anime ini adalah gambar-gambar cantik yang disajikan Shinkai di sepanjang film. Bahasa gambar disini sudah berbicara banyak kepada penontonnya tanpa perlu berkata-kata. Silakan tonton sendiri untuk membuktikan kedahsyatan visualnya.

Rating : 8/10

Tuesday, March 22, 2011

Movie Week #02 : Love Is Never Easy

Oke, sebenarnya postingan ini rencananya ingin saya publikasikan lebih dari sebulan yang lalu (bertepatan dengan hari Valentine. D'oh!). Tapi karena satu dan lain hal (yeah, mostly because of the laziness), akhirnya draft ini pun terbengkalai. Mumpung saat ini saya memiliki waktu luang dan cukup bersemangat, saya putuskan untuk menyelesaikan postingan ini. Cukup ironis mengingat semangat saya untuk menulis timbul saat kondisi tubuh ini sedang tidak fit. #curhat

Meskipun saya tidak merayakan dan bahkan tidak menemukan keistimewaan apapun dari sebuah hari bernama Saint Valentine's Day—atau lebih singkatnya Valentine's Day, namun saya masih bisa menemukan suatu kesenangan tersendiri tiap menjelang tanggal 14 Februari. Dengan semakin liarnya pertumbuhan pengguna media jejaring sosial, secara tidak langsung mempengaruhi saya untuk ikut merasakan atmosfer dari hari yang dianggap sakral oleh sebagian orang ini. Ya, menjelang Valentine, begitu banyak orang yang tampaknya terkena hype atau memang sungguh-sungguh menganggap istimewa hari tersebut dengan memajang komentar ataupun status yang penuh dengan nuansa cinta dan romantisme. Walaupun terkadang geli, namun ini adalah suatu hiburan tersendiri yang bisa membuat bibir ini tersenyum. Saya yang sebenarnya tidak berjiwa romantis (entah ini penyangkalan atau memang nyata adanya, saya sendiri masih bingung), jadi sedikit tertular demam Valentine. Belum lagi peran media lain seperti televisi misalnya, yang memanfaatkan momen ini untuk menayangkan film-film bergenre romantis. Saya pun semakin ikut-ikutan terbawa suasana hingga akhirnya berniat mengadakan movie week bertema cinta. Kelima film yang saya saksikan di minggu menjelang Valentine ini cukup menggambarkan pahit manisnya kehidupan cinta yang dijalani umat manusia (meski mayoritas bernada pahit dan cenderung depresif). Yeah, love is never easy, but it's worth fighting for. #eeaa


Never Let Me Go (2010)

Film yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Kazuo Ishiguro ini menawarkan cerita yang tragis, depresif, sekaligus menyentuh. Bersetting di sebuah alternative reality (menyerupai Inggris, meski tidak disebut secara spesifik) dimana ilmu medis sudah semakin berkembang, cerita berfokus pada kehidupan tiga tokoh utamanya—Kathy (Carrey Mulligan), Ruth (Keira Knightley), dan Tommy (Andrew Garfield) mulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Yang menarik (lebih tepatnya membuat miris), eksistensi mereka di dunia ternyata sudah dirancang sedemikian rupa untuk suatu tujuan. Tanpa membeberkan plotnya lebih jauh, saya hanya ingin mengatakan bahwa walaupun keberadaan serta nasib yang diemban ketiga tokoh utamanya (sepertinya) hanya bisa ditemukan dalam kisah fiksi, namun kisah mereka juga terasa paralel dengan apa yang dialami banyak orang di dunia nyata. Rasa takut akan kematian, rasa cinta, rasa cemburu, sampai pedihnya kehilangan seseorang yang dicintai adalah emosi yang lazim dirasakan oleh umat manusia. Oleh karena itu, apa yang dialami Kathy, Tommy, dan Ruth saya rasa mampu melibatkan emosi para penontonnya. Film ini memang memiliki tone yang muram dan cenderung depresif, namun pesan yang ingin disampaikan jelas positif. Hidup itu singkat, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya karena mungkin kesempatan kedua itu tidak akan pernah ada. That's what I got from this beautifully-made movie.

Rating : 8/10


Love Story (1970)

Kisah yang diangkat melalui film ini sangatlah klasik, tentang si pria kaya yang jatuh cinta pada si gadis miskin. Namun, seklise apapun kisahnya, saya akui ini adalah salah satu film paling romantis yang pernah dibuat. Melihat tahun rilisnya (1970), bisa dibilang film ini adalah pelopor film-film romantis yang melibatkan tragedi dalam alur kisahnya. Tearjerker? Absolutely. Walaupun kemasannya terkesan sederhana dilihat dari berbagai segi, namun hebatnya film ini berhasil memberikan kesan yang cukup mendalam. Ali MacGraw dan Ryan O'Neal memerankan pasangan yang tampak sangat serasi di layar. Interaksi antara mereka berdua seringkali diisi dengan dialog yang pintar, lucu, dan tentunya romantis. "Love means never having to say you're sorry" —salah satu kalimat yang diucapkan oleh keduanya, menjadi salah satu movie quote paling terkenal sampai saat ini. Selain chemistry dua bintang utamanya, yang juga membuat film ini begitu berkesan adalah score yang mengiringinya, simpel namun sangat membangun atmosfer film secara keseluruhan. Pertama mendengar dentingan pianonya, saya mulai merasa familiar dan pada akhirnya terngiang-ngiang terus di kepala. It's a heartbreaking yet romantic piece by Francis Lai. Tidak mengherankan ketika ia berhasil meraih piala Oscar atas komposisi musiknya tersebut. Diluar musik pengiringnya yang memang menghipnotis, sebagai sebuah sajian yang mengedepankan tema cinta antara sepasang insan manusia, Love Story patut dikenang sebagai salah satu film paling romantis sepanjang masa.

Rating : 7/10


Romeo Juliet (2009)

Siapa yang tidak familiar dengan kisah klasik karya pujangga ternama William Shakespeare yang berjudul Romeo And Juliet? Begitu terkenalnya kisah cinta tragis antar dua anak manusia ini hingga menarik perhatian sejumlah sineas untuk mengadaptasinya ke dalam format film layar lebar. Tak terkecuali Andibachtiar Yusuf, seorang sineas dalam negeri yang pernah menelurkan dua film dokumenter yang kental dengan unsur sepakbola. Kali ini, ia mencampurkan subjek favoritnya tersebut dengan kisah cinta terlarang ala Romeo And Juliet. Alih-alih keluarga Montague dan Capulet, yang kita dapat disini adalah perseteruan antara Viking versus The Jak—dua kubu suporter klub sepakbola yang terkenal sebagai musuh abadi. Romeo dan Juliet dalam film ini digambarkan melalui sosok Rangga (Edo Borne) dan Desi (Sissy Priscillia), dua anak muda yang tengah dimabuk cinta namun juga dilanda dilema. Dalam darah mereka mengalir kecintaan yang begitu besar terhadap komunitas masing-masing, namun apa daya hati mereka pun tidak bisa dibohongi. Hubungan mereka tentunya akan semakin memanaskan perseteruan antar kedua kubu. Tragedi pun tak dapat dihindarkan. Ya, serupa dengan kisah aslinya, film ini pun diwarnai dengan perseteruan dan tragedi. Adegan tawuran plus kata-kata makian menghiasi sepanjang film. Namun sayangnya, unsur romantisnya menurut saya kurang terbangun. Hubungan percintaan antara Rangga dan Desi entah kenapa terasa kurang believable. Sebagian dialognya pun masih terasa kaku dan tidak jarang terdengar menggelikan. Tapi pesan mengenai dampak dari fanatisme buta serta rasa dendam yang hanya akan membawa manusia pada kehancuran cukup tersampaikan dengan baik.

Rating : 5/10


Away From Her (2006)

Ini adalah sebuah debut penyutradaraan dari seorang aktris Kanada berbakat, Sarah Polley. Diadaptasi dari cerpen karangan Alice Munro berjudul The Bear Came Over The Mountain, film ini menyoroti kehidupan pasangan berusia senja yang harus menghadapi saat-saat tersulit dalam kehidupan rumah tangga mereka. Grant (Gordon Pinsent)—sang suami, menyadari bahwa istrinya, Fiona (Julie Christie) semakin hari semakin pelupa, yang menunjukkan gejala penyakit Alzheimer's. Setelah memikirkannya matang-matang, akhirnya Fiona setuju untuk dirawat di sebuah fasilitas khusus penderita Alzheimer's. Kesabaran Grant mulai diuji, karena selama 30 hari pertama ia tidak boleh mengunjungi istrinya yang menurut peraturan disana perlu penyesuaian diri dengan lingkungan barunya. Setelah masa penyesuaian itu berakhir, Grant pun harus menerima kenyataan pahit bahwa Fiona sudah tidak mengenali dirinya sebagai sang suami. Dan yang lebih buruk, Fiona tampak mencurahkan perhatiannya pada pasien lain bernama Aubrey (Michael Murphy) yang menderita kelumpuhan. Di titik ini, Grant menghadapi ujian terberatnya. Apakah ia harus terus berusaha membuat Fiona mengingat kembali kenangan-kenangan indah bersamanya dulu sebagai pasangan suami istri bahagia, atau ia harus merelakan istrinya memulai kehidupan baru tanpa dirinya di sisinya. Sebuah kisah yang begitu menyentuh serta memberi makna bahwa mencintai seseorang itu berarti merelakan—rela menyingkirkan ego pribadi dan rela melepaskan orang yang kita cintai, meskipun itu sakit.

Rating : 8/10


Blue Valentine (2010)

Dalam setiap hubungan percintaan, tentunya bukan hanya momen penuh suka cita yang akan ditemui setiap pasangan, namun juga saat-saat sulit yang siap menghadang kelanjutan hubungan mereka. Drama yang mengangkat pasang surut hubungan dua insan manusia dalam ikatan rumah tangga sudah banyak diangkat ke dalam medium film. Dalam film terbarunya, Derek Cianfrance—sineas yang sebelumnya berpengalaman menangani beberapa judul dokumenter ini, kembali mengangkat kisah yang sudah sangat familiar tersebut. Dengan materi yang bisa dibilang sudah bukan barang baru lagi, tantangan bagi Cianfrance adalah menyajikan sebuah tontonan yang memiliki suatu komponen menarik sehingga masih bisa memikat perhatian para penontonnya. Beruntung, Cianfrance bekerjasama dengan dua aktor muda bertalenta yang tampil begitu memukau disini, Ryan Gosling dan Michelle Williams. Memerankan sepasang suami istri yang sedang mencapai titik jenuh dalam hubungan mereka, keduanya sukses menjadikan film ini lebih dari sekedar drama konflik rumah tangga biasa. Mereka sanggup merebut simpati saya dengan pembawaannya masing-masing, sehingga saat momen menyakitkan itu tiba, hati saya pun ikut tercabik. Sungguh pengalaman sinematik yang sangat emosional. Walaupun ada beberapa kejanggalan, seperti transisi dari masa bahagia ke masa suram yang seolah terjadi begitu saja tanpa ada penjelasan mendalam mengenai perubahan masing-masing karakternya, namun penampilan Gosling dan Williams sudah membayar lunas semuanya. Salah satu duet akting terbaik yang pernah saya lihat dalam sebuah film. Sebagai sebuah film, Blue Valentine bukanlah suatu pencapaian yang luar biasa, namun performa dua pemain utamanya jelas luar biasa. Definitely worth watching.

Rating : 7.5/10

That's a wrap!

Monday, November 22, 2010

Harry Potter And The Deathly Hallows : Part 1 (2010)

Genre : Action/Adventure/Fantasy/Mystery

Pemain : Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson, Ralph Fiennes, Helena Bonham Carter, Bill Nighy, Rhys Ifans, Alan Rickman, Jason Isaacs, Imelda Staunton

Sutradara : David Yates

Penulis : Steve Kloves (screenplay), J.K. Rowling (novel)

Distributor : Warner Bros. Pictures

Durasi : 146 menit

MPAA : Rated PG-13 for some sequences of intense action violence, frightening images and brief sensuality



MAY CONTAIN SPOILER

Harry Potter. Sepintas tampak tidak ada yang istimewa dengan nama tersebut, bahkan akan terasa lucu jika kita iseng menerjemahkan nama belakangnya ke dalam Bahasa Indonesia. Namun kenyataannya, nama itulah yang membuat banyak orang di berbagai belahan dunia tersihir selama lebih dari satu dekade. Melalui kisah petualangannya yang ditulis oleh seorang wanita berkebangsaan Inggris bernama J.K. Rowling, nama Harry Potter berubah menjadi sebuah fenomena yang mengguncang dunia literatur dan sinema. Kisah klasik bertema good vs evil dalam balutan unsur magis yang ada dalam Potter universe ini memang pantas dicintai banyak orang. Selain kisahnya yang kaya dan menghibur, Rowling juga berhasil membentuk ikatan kuat antara pembaca dengan karakter-karakter yang ada dalam novel seri rekaannya ini. Tidak terhitung berapa banyak fans yang dengan setia mengikuti sepak terjang Harry dan kawan-kawan dari awal sampai konfrontasi final melawan Lord Voldemort beserta pasukan Death Eaters-nya. Para pembaca (dan penonton) tidak akan sampai sejauh ini jika tidak ada ikatan emosi antara mereka dengan karakter-karakternya. Inilah kehebatan franchise Harry Potter. Fakta bahwa kisah ini hampir berakhir (untuk versi filmnya) tentu akan menjadi sebuah momen penting bagi para fans setianya. Dan saya adalah salah satunya.

Mengabaikan fakta bahwa banyak orang yang sudah mengetahui akhir kisahnya (cerita berakhir di novel ke-7 yang terbit di tahun 2007 lalu), instalmen terbaru dari versi layar lebarnya saya yakini masih sanggup memancing rasa penasaran. Bukan kepenasaran akan ceritanya tentu saja, melainkan visualisasi yang ditampilkan. Dengan jumlah fans yang tak terhitung banyaknya, tekanan untuk menghasilkan visualisasi yang sesuai dengan ekspektasi mereka tentunya semakin besar. Beban ini kembali ditanggung oleh David Yates, sutradara yang sebelumnya sudah berpengalaman menggarap seri Harry Potter ke-5 dan ke-6. Di tangannya, saya akui bahwa franchise ini semakin matang, di luar konten ceritanya yang memang semakin gelap dan dewasa. Kembalinya Yates untuk menangani seri pamungkasnya semakin membuat saya optimis bahwa instalmen ini sudah berada di tangan yang tepat. Keputusan Warner Bros. untuk membagi film terakhir ini menjadi dua bagian juga semakin membuat saya gembira. Motivasi ekonomi mungkin menjadi salah satu penyebabnya, namun saya tidak terlalu ambil pusing. Dan setelah menyaksikan hasil akhir dari bagian pertama ini, saya menyadari bahwa pembagian tersebut adalah keputusan yang sangat tepat. Sebuah tribute bagi para fans setianya.

Franchise Harry Potter dikenal memiliki cerita yang kompleks dan semakin kelam dari seri ke seri. Setelah nuansa hangat dan ceria disajikan Chris Columbus dalam dua instalmen awalnya, cerita berubah menjadi lebih kelam dan dewasa di seri ke-3. Selain materi awalnya yang memang seperti itu, penggantian posisi sutradara juga cukup berpengaruh. Sejak film ke-3 itulah, franchise ini semakin konsisten menjaga kekelaman alur cerita serta atmosfer yang dihadirkan. Harry Potter And The Deathly Hallows : Part 1 menurut saya adalah yang paling gelap dan mencekam dibanding film-film sebelumnya. Dari awal film saja, atmosfer kelam sudah mulai terasa (logo Warner Bros. yang pelan-pelan hancur berkarat sangat simbolik).

Dunia sihir sedang memasuki masa-masa kegelapan. Teror yang disebarkan Lord Voldemort (Ralph Fiennes) bersama pasukan Death Eaters-nya semakin meluas. Kementrian Sihir sudah diambil alih, fasisme merajalela. Bagai Hitler dengan Nazi-nya, Voldemort beserta pasukan Death Eaters-nya memegang kendali penuh atas komunitas sihir. Rasa aman dan nyaman sudah menjadi barang langka, terutama bagi para Muggle-born (keturunan manusia non-penyihir). Monumen "Magic Is Might" yang berdiri kokoh di atrium Kementrian Sihir semakin menegaskan betapa mengerikannya rezim baru ini.

Kehadiran sosok Harry Potter (Daniel Radcliffe) bagaikan sebuah cahaya terang di tengah kegelapan yang sedang melanda dunia sihir. Dia adalah anak yang berhasil bertahan hidup dari kutukan maut Voldemort. Dialah Sang Terpilih. Kali ini, rintangan yang harus dihadapi Harry dalam usahanya mengalahkan Voldemort semakin berbahaya. Sepeninggal Albus Dumbledore, Hogwarts bukan lagi tempat paling aman untuk berlindung dari serangan Voldemort dan Death Eaters. Kini, Harry harus menghadapi tantangan nyata di dunia luar, jauh dari kenyamanan Hogwarts dan perlindungan guru-gurunya. Bersama dua sahabat setianya—Ron Weasley (Rupert Grint) dan Hermione Granger (Emma Watson), Harry melanjutkan misi yang diwariskan Dumbledore, yaitu menemukan dan menghancurkan sisa Horcrux (kepingan jiwa) Voldemort yang masih tersebar di berbagai tempat. Dalam menjalankan misi ini, mereka juga menemukan fakta tentang keberadaan tiga benda keramat yang dijuluki The Deathly Hallows. Ketiga benda tersebut jika disatukan konon akan membuat pemiliknya memiliki kekuatan tak terbatas.

Tidak seperti enam instalmen sebelumnya dimana kastil Hogwarts selalu dijadikan setting utama, kali ini sekolah sihir tersebut tidak diperlihatkan sama sekali. Perjalanan trio Harry-Ron-Hermione yang selalu berpindah-pindah lokasi membuat film ini lebih terkesan seperti road movie. Absennya Hogwarts sebagai setting juga membuat film ini memiliki feel yang berbeda dibandingkan film-film sebelumnya. Lebih liar, berbahaya, sekaligus emosional.

Salah satu keuntungan dari dibaginya film terakhir ini menjadi dua bagian yaitu semakin leluasanya cerita untuk bergerak. Perlahan namun pasti, menurut saya pace-nya sudah sangat pas. Steve Kloves berhasil menyusun skrip yang tetap setia dengan sumber aslinya namun juga tidak ragu untuk sedikit berimprovisasi. Adegan Harry menghibur Hermione dengan mengajaknya berdansa diiringi lagu O Children yang dibawakan Nick Cave sungguh suatu kejutan yang sangat manis. Nice job, Kloves!

Ruang gerak yang luas dalam ceritanya juga memberi kesempatan lebih untuk pendalaman karakter, terutama karena disini fokus utamanya memang terletak pada perkembangan hubungan antara tiga tokoh utamanya. Pendalaman karakter yang baik tentu bergantung juga pada penjiwaan tiap aktor-aktrisnya dalam memainkan peran masing-masing. Tanpa ragu saya katakan bahwa Radcliffe, Grint, dan Watson telah mempersembahkan performa terbaik mereka disini. Setelah hampir satu dekade, sangat terlihat bahwa mereka bertiga semakin melebur dengan karakter masing-masing. Yang paling menonjol menurut saya adalah Emma Watson. Ia bersinar di setiap kemunculannya. Opening scene dimana ia diperlihatkan harus menghapus ingatan orangtuanya terasa begitu emosional. It's one of the most heartbreaking scenes I've ever scene. Singkat tapi memorable. Untuk pemeran pendukung lainnya yang banyak diisi oleh aktor veteran Inggris, saya rasa tidak perlu ditanya lagi. Walaupun kebanyakan dari mereka hanya tampil singkat, namun performanya tetap prima. Sungguh ensemble cast yang mengagumkan.

Dari sisi teknis, sinematografi garapan Eduardo Serra sangatlah indah dan memanjakan mata. Keberaniannya dalam menggunakan teknik hand-held camera di beberapa adegan patut diapresiasi. Adegan kejar-kejaran antara trio tokoh utama kita dengan para Snatchers sukses memompa adrenalin. I love that scene! Warna-warna yang ditampilkan cenderung gelap, sesuai dengan mood film. Score karya Alexander Desplat juga semakin memperkaya adegan demi adegannya. Suatu keputusan tepat untuk melibatkan komposer ini dalam proyek sekelas Harry Potter. Film sebusuk New Moon saja jadi terkesan lebih elegan berkat komposisi musik gubahannya.

David Yates memang memberi bobot lebih pada unsur drama dalam instalmen terbaru ini, namun bukan berarti ia melupakan unsur hiburannya. Selipan humor segar di beberapa adegan berhasil mengundang tawa. Lalu action sequences yang ada juga digarap dengan dengan baik—seru sekaligus mencekam di beberapa bagian. Oh ya, jangan lupakan adegan yang menjelaskan tentang legenda The Deathly Hallows. Sequence ini dipresentasikan dalam animasi berupa siluet dengan latar belakang kecoklatan. Indah sekaligus memancarkan daya magis yang begitu kuat.

Menurut saya, inilah adaptasi terbaik dari keseluruhan film Harry Potter yang pernah dirilis. Sangat terlihat kerja keras Yates beserta krunya dalam upaya menghadirkan yang terbaik bagi para fans setia franchise ini. J.K. Rowling patut berbangga karena karyanya ditangani dengan penuh respek oleh Yates dan krunya. Sebuah awal yang baik untuk mengakhiri kisah yang begitu dicintai orang banyak. Saya sendiri sebagai fanboy (yeah, I'm proud of it!) tentu sangat tidak sabar untuk menunggu kisah pamungkasnya musim panas nanti. Please, don't let me down, Yates!

Long live Harry Potter.

R.I.P. Dobby the Free House Elf

Rating : 9/10

Sunday, June 20, 2010

Toy Story 3 (2010)

Genre : Animation/Adventure/Comedy/Family/Fantasy

Pengisi Suara : Tom Hanks, Tim Allen, Joan Cusack, John Morris, Ned Beatty

Sutradara : Lee Unkrich

Penulis : Michael Arndt

Distributor : Walt Disney Pictures

Durasi : 103 menit

MPAA : Rated G

"No Toy Gets Left Behind"

Pada tahun 1995, sebuah studio animasi bernama Pixar menggebrak dunia perfilman dengan sebuah film animasi CGI berjudul Toy Story. Selain menjadi pelopor film animasi CGI, film ini juga menjadi awal kesuksesan besar bagi Pixar yang pada tahun 2006 lalu diakuisisi oleh Disney. Toy Story juga menjelma menjadi sebuah franchise yang begitu populer setelah jilid keduanya yang rilis pada 1999 lalu berhasil meraih kesuksesan luar biasa. Di luar itu, kisah dalam Toy Story memang pantas digemari mulai dari anak-anak sampai kalangan dewasa. Mengangkat tema tentang keindahan masa kecil serta disisipi dengan nilai-nilai kehidupan yang tak lekang oleh waktu, membuat kisah dalam franchise ini begitu mengena di hati. Saya sendiri adalah generasi '90-an yang tumbuh bersama film ini. Toy Story adalah bagian dari masa kecil saya yang ikut berjasa membuatnya menjadi penuh imajinasi. Sekarang, setelah saya semakin dewasa, kisah film ini berlanjut kembali. Ada rasa gembira sekaligus sedih karena walaupun saya akan kembali merasakan keindahan masa kecil melalui seri terbaru ini, tetapi saya tahu bahwa ini akan menjadi sebuah pengalaman yang sangat emosional berdasarkan premis cerita yang ditawarkan.

Setelah opening sequence penuh aksi yang ditampilkan dengan sangat seru, adegan berlanjut ke sebuah rekaman video yang memperlihatkan Andy (John Morris) sedang bermain dengan mainan-mainan kesayangannya. Rekaman ini dengan cerdas mewakili flashback yang menggambarkan momen-momen indah yang dilalui Andy bersama mainannya. Diiringi lagu You've Got a Friend In Me, mata saya mulai berkaca-kaca karena adegan ini seolah mengantarkan saya kembali ke masa kecil dulu. Setelah video ini berakhir, penonton dibawa menuju masa kini dimana Andy sudah tumbuh menjadi remaja berusia 17 tahun yang siap untuk memasuki bangku perkuliahan. Sudah bertahun-tahun lamanya Andy tidak menghabiskan waktu bersama mainan-mainannya. Mengingat kini ia harus pergi meninggalkan rumah, maka ibunya menyuruhnya untuk menentukan mana barang yang akan ia bawa serta barang yang akan disimpan di gudang atau dibuang. Disini, nasib para mainan mulai ditentukan. Mereka tahu bahwa hari ini akan tiba, tinggal menunggu waktu saja apakah mereka akan tetap disimpan atau kemungkinan yang paling buruk—dibuang.


Woody (Tom Hanks)—figur pemimpin bagi para mainan ini bernasib paling baik karena Andy memutuskan untuk membawanya. Mainan yang lain diputuskan untuk disimpan di loteng, tapi karena suatu kesalahan mereka hampir saja terbawa truk sampah. Nasib baik akhirnya datang, karena mereka kini dibawa ke Sunnyside Daycare, sebuah tempat penitipan anak yang tentunya dipenuhi dengan anak-anak yang bisa mengajak mereka bermain setiap saat. Woody, yang loyalitasnya kepada pemiliknya tidak perlu dipertanyakan berusaha membujuk teman-temannya untuk pulang ke rumah Andy. Namun, mereka sudah terlanjur sakit hati dan beranggapan bahwa tempat baru ini adalah yang terbaik yang bisa mereka harapkan. Bahkan Buzz (Tim Allen), yang selalu mendukung Woody pun memutuskan untuk tinggal. Alasan mereka untuk tinggal diperkuat dengan sambutan hangat dari para mainan yang lebih dulu menghuni Sunnyside. Mereka dipimpin oleh Lotso (Ned Beatty)—boneka beruang dengan aroma strawberry yang begitu ramah menyambut kedatangan para mainan baru. Namun, semakin lama mulai tercium bahwa Lotso memiliki agenda tersembunyi dibalik keramahannya. Pada akhirnya, para mainan kesayangan kita ini berusaha keluar dari Sunnyside dengan bantuan Woody yang berusaha untuk kembali pada Andy sebelum ia pergi meninggalkan rumah.

Menyaksikan film ini merupakan suatu pengalaman yang sangat luar biasa. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, film ini berhasil membawa saya menelusuri kembali masa kecil saya. Selain Woody dan Buzz, para mainan lain seperti Jessie (Joan Cusack), Bullseye, Rex (Wallace Shawn), Ham (John Ratzenberger), Slinky Dog (Blake Clark), Mr. & Mrs. Potato Head (Don Rickles & Estelle Harris) beserta 3 alien kecilnya juga membuat saya merasa begitu gembira. Melihat mereka beraksi di layar seperti bertemu kembali dengan teman-teman yang sudah lama tidak saya jumpai. Kehadiran tokoh-tokoh baru juga semakin memeriahkan suasana. Ken (Michael Keaton) yang digambarkan sebagai penggila fashion sanggup menghibur dengan segala kelakuannya, dan interaksinya dengan Barbie (Jodie Benson) begitu menggemaskan, seperti melihat tingkah konyol teman kita yang sedang dimabuk asmara. Kehadiran Lotso sebagai villain disini juga berhasil mencuri perhatian. Flashback yang menggambarkan masa lalunya ditampilkan dengan begitu sendu sehingga saya pun dibuat simpati dengan nasibnya.

Dengan begitu banyaknya karakter yang ditampilkan, tidak ada satu pun karakter yang terasa disia-siakan. Itulah kehebatan Pixar dengan karakterisasi tokoh-tokoh yang mereka ciptakan. Semuanya memiliki keunikan masing-masing sehingga menjadi begitu memorable. Adegan-adegan yang tersaji pun ditampilkan secara efektif dan mendetail dengan animasi yang semakin halus dibandingkan dengan dua film pendahulunya. Adegan aksi ditampilkan dengan sangat baik, membuat kita ikut merasakan ketegangan yang dialami oleh tokoh-tokohnya. Aksi meloloskan diri dari "penjara" Sunnyside sangat seru dan menegangkan, layaknya Prison Break dalam dunia animasi. Selain itu, humornya pun sangat segar dan menghibur. Buzz berbahasa Spanyol serta transformasi Mr. Potato Head berhasil membuat saya terbahak-bahak. Ini benar-benar sebuah hiburan yang kaya.

Film ini juga dengan berani menyentuh area yang lebih gelap dibanding film animasi pada umumnya. Tema besar mengenai existential crisis cukup dieksplorasi melalui film ini. Subjek tersebut tidak lantas membuat film ini menjadi begitu berat karena berkat keahlian tim Pixar semuanya dibalut dengan sedemikian rupa sehingga tampil menghibur sekaligus bisa dijadikan bahan renungan. Ikatan persahabatan antara Woody dan kawan-kawannya disini semakin diuji. Dan terlebih, ikatan mereka dengan sang pemilik—Andy pun ikut diuji. Masa kanak-kanak Andy sudah berlalu. Apakah dengan begitu ia akan melupakan semua kenangan masa kecilnya yang ia lalui bersama mainan-mainannya? Hal ini sangatlah menyentuh, karena menggambarkan fase kehidupan yang dilalui setiap manusia, termasuk saya. Semakin bertambahnya usia seseorang, ia akan mengalami masa transisi menuju kedewasaan. Itulah yang sedang dialami oleh tokoh utama kita, Andy. Dan secara otomatis, saya bagai diposisikan sebagai Andy. Saya yang tumbuh dengan menyaksikan 2 instalmen pertamanya bagai memiliki keterikatan emosi dengan para mainan disini, sama halnya dengan Andy. Inilah yang membuat Toy Story 3 terasa begitu emosional.

Film ini diakhiri dengan ending yang begitu menyentuh dan berhasil membuat mata saya berkaca-kaca. Solusi yang dihadirkan disini saya yakini akan memuaskan semua pihak. Perpisahan pasti terjadi, tapi bukan berarti ini akhir dari segalanya. Ini adalah akhir dari sebuah awal yang baru. Sebuah ending yang sempurna bagi para mainan yang telah mengisi masa kecil orang banyak. Terima kasih Pixar, karena telah menciptakan sebuah mahakarya luar biasa yang akan selalu dikenang.

10/10

Tuesday, March 4, 2008

Ayat - Ayat Cinta (2008)

Genre : Drama/Romance/Religious

Pemain : Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Carissa Putri, Melanie Putria, Zaskia Adya Mecca

Sutradara : Hanung Bramantyo

Penulis : Retna Ginatri S. Noor, Salman Aristo, Habiburrahman El Shirazy (novel)

Produser : Dhamoo Punjabi, Manoj Punjabi

Distributor : MD Pictures

Durasi : 120 menit



Inilah film yang sudah saya tunggu-tunggu sejak lama. Entah kenapa, saya begitu tertarik untuk menonton film ini. Padahal novelnya pun belum pernah saya baca. Saya hanya sempat mendengar sedikit alur ceritanya yang memang cukup menarik. Dan yang pasti penantian selama berbulan-bulan ternyata tidak sia-sia.

Bercerita tentang seorang pemuda Indonesia bernama Fahri (Fedi Nuril) yang menuntut ilmu di Al-Azhar, Mesir. Fahri terkenal sebagai pemuda yang religius. Dan ternyata, tanpa disadarinya banyak perempuan yang mengaguminya. Diantaranya Maria Girgis (Carissa Putri), tetangga satu flat Fahri. Sayangnya, Maria adalah seorang penganut Kristen Koptik, walaupun sebenarnya Fahri sangat mengagumi Maria karena ketertarikannya pada agama Islam. Lalu ada Nurul (Melanie Putria), putri seorang kyai terkenal yang sejak lama ingin melamar Fahri. Terakhir Noura (Zaskia Adya Mecca), gadis yang selalu didzalimi ayahnya, yang diam-diam menaruh hati pada Fahri sejak pertama bertemu.

Sebenarnya, Fahri juga memiliki target untuk segera menikah. Namun, ia belum juga menemukan wanita yang tepat. Fahri percaya bahwa setiap orang memiliki jodohnya masing-masing. Hingga suatu hari, di dalam kereta, Fahri menolong seorang wanita muslim yang hampir diamuk seorang pria hanya karena wanita tersebut memberikan kursinya untuk orang Amerika yang dianggap kafir. Wanita tersebut bernama Aisha (Rianti Cartwright), seorang warga negara Jerman. Pertemuan singkat tersebut cukup membuat Fahri tertarik pada Aisha.

Beberapa hari kemudian, salah seorang ustadznya menawarkan pada Fahri untuk melakukan ta'aruf (perkenalan) dengan seorang gadis yang merupakan keponakan salah seorang temannya. Fahri yang mulanya cukup ragu akhirnya, walaupun ia belum pernah bertemu dengan gadis tersebut. Setelah bertemu, Fahri terkejut karena gadis tersebut ternyata Aisha. Akhirnya Fahri benar-benar yakin bahwa Aisha adalah jodohnya. Nah, konflik yang sebenarnya baru muncul setelah pernikahan Fahri dan Aisha.

Oke lah, banyak yang bilang kalau film ini tidak sesuai dengan penggambaran di novelnya. But, who cares? Yang penting penggarapannya bagus dan feel-nya dapet. Mamang, film based on novel biasanya (atau selalu?) memiliki perbedaan dengan media sumbernya tersebut. Tapi sebenarnya novel dan film tidak perlu dibanding-bandingkan karena ada beberapa aspek yang memang tidak bisa disamakan antara novel dan film, yang membuat kedua media tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing.

Film ini menurut saya sangat menyentuh. Adegan-adegannya mengalun dengan indah (halah). Dasar ceritanya memang sudah bagus. Settingnya cantik, walaupun terkadang monoton plus ada beberapa gambar yang tampak kotor. Mengenai performa para pemainnya, menurut saya lumayan bagus. Chemistry yang terbangun antara Fahri-Maria-Aisha cukup berkesan. Pemeran pendukungnya juga pas, terutama Zaskya Adya Mecca yang memerankan tokoh Noura. Penonton bisa dibuat sebel dengan kelakuannya, sekaligus merasa simpati pada akhirnya. Tapi yang paling berkesan tentunya adalah karakter teman satu sel Fahri (saya lupa namanya, atau memang tidak pernah disebut?). Sangat menghibur. Layak dapat penghargaan tuh.

Sangat jarang saat saya menonton sebuah film, saya merasa terhibur sekaligus mendapatkan pengalaman spiritual yang luar biasa. Adegan yang paling saya suka adalah saat teman satu sel Fahri bercerita tentang kisah Nabi Yusuf AS lalu menasehati Fahri agar ikhlas dan sabar menghadapi cobaan. Benar-benar menggedor hati dan berhasil membuat saya merinding selama beberapa menit. Adegan "pengorbanan" yang dilakukan Aisha demi keselamatan Maria juga cukup menyentuh. Khususnya untuk para wanita yang sudah menikah pasti kena banget emosinya. Semua karakternya sangat manusiawi, terutama Fahri. Walaupun digambarkan sebagai pemuda yang taat beragama, tapi ia tetap manusia biasa yang memiliki kekurangan.

Overall, film ini 100% wajib tonton, untuk yang sudah membaca novelnya ataupun belum. Buang jauh-jauh pikiran skeptis anda cuma gara-gara filmnya tidak sesuai dengan novelnya (katanya). Menurut saya, inilah film Indonesia terbaik tahun ini.

8/10