Showing posts with label Asia. Show all posts
Showing posts with label Asia. Show all posts

Thursday, June 16, 2011

Il Mare (2000)


Genre
: Fantasy, Romance, Sci-Fi | Pemain : Jun Ji-hyun, Lee Jung-jae | Sutradara : Lee Hyun-seung | Penulis : Kim Eun-jeong, Yoeh Ji-na | DIstributor : Sidus Pictures | Durasi : 105 menit


"The reason we are suffering is not because the love has ended, but because it still continues. Even after the love is over."
-Eun-joo-

Pernahkah anda merasakan suatu kedekatan tertentu dengan seseorang yang belum pernah anda temui secara langsung? Seseorang yang bisa diajak berbagi, bahkan tentang masalah pribadi anda sekalipun, padahal wajahnya saja belum pernah anda lihat. Interaksi yang kalian lakukan hanya sebatas berbagi tulisan, bukannya saling bertatap muka dan beradu lisan. Saya sendiri pernah mengalami perasaan seperti itu, saat mencurahkan isi hati melalui tulisan kepada seseorang yang belum pernah saya lihat wujudnya secara nyata terasa lebih mudah dan nyaman dibanding berbicara langsung kepada seseorang yang sudah lama saya kenal. Ironis, tapi memang itulah yang terjadi.

Baru-baru ini saya menonton sebuah film Korea berjudul Siworae atau Il Mare (bahasa Italia untuk laut) yang kurang lebih menceritakan tentang dua orang yang sebelumnya tidak saling mengenal, namun kemudian menjalin hubungan yang semakin erat hanya dengan saling berbagi isi hati melalui surat. Selain faktor "klik" diantara mereka berdua, menurut saya kekuatan dari tulisan juga ikut andil disini. Ya, terkadang rangkaian kata dalam sebuah tulisan mampu berbicara lebih lantang dibanding kata-kata yang langsung keluar dari mulut kita. Just my two cents.

Film ini sendiri adalah sebuah drama romantis dengan unsur fantasi di dalamnya. Diceritakan seorang gadis bernama Eun-joo (si cantik Jun Ji-hyun) baru pindah dari sebuah rumah di pinggir pantai yang dijuluki Il Mare. Sebelum pergi, ia meninggalkan surat untuk calon penghuni baru Il Mare nantinya. Sung-hyun (Lee Jung-jae), si penghuni baru, menemukan surat tersebut dan terheran-heran saat membacanya. Si penulis surat menulis tahun 1999 di akhir surat, padahal jelas-jelas ini masih tahun 1997. Ternyata, Sung-hyun sebenarnya adalah penghuni pertama rumah tersebut sebelum ditempati Eun-joo. Setelah beberapa kali bertukar surat, akhirnya diketahui bahwa mereka saling berinteraksi di masa yang berbeda, tepatnya terpaut dua tahun. Kotak surat di Il Mare yang menjadi penghubung mereka.

Dari sini, arah cerita sudah mulai bisa ditebak. Melalui surat-menyurat itulah akhirnya hubungan batin mereka terjalin semakin kuat. Interaksi tak langsung ini bagaikan sebuah eskapisme dari rusaknya hubungan masing-masing dengan orang-orang dalam kehidupan mereka, Eun-joo dengan mantan kekasihnya dan Sung-hyun dengan ayah kandungnya. Dua orang yang merasa terasing ini pada akhirnya seolah saling menopang satu sama lain. Apakah hubungan diantara mereka pada akhirnya akan berlanjut ke tahap yang lebih nyata dibanding hanya saling bertukar surat? Untuk yang merasa familiar dengan premis ceritanya, mungkin anda pernah menonton versi remake-nya yang dibintangi duo Sandra Bullock dan Keanu Reeves dengan judul The Lake House. Jika mau dibandingkan, versi aslinya ini jelas jauh lebih baik. IMHO

Penonton yang kritis mungkin akan menemukan beberapa hal yang tidak masuk akal di sepanjang film ini. Namun seperti kata Agnes Monica, cinta kadang-kadang tak ada logika. *asal nyambung* Saya sendiri tidak terlalu mempedulikan masalah ketidaklogisan tersebut, karena yang ingin ditonjolkan disini adalah feel romantisnya. Dan untuk itu, saya akui film ini berhasil. Dengan setting utama di sebuah rumah pinggir pantai yang tampak terisolasi namun menawan hati, ditambah sinematografi serta musik pengiringnya yang serasi, sudah cukup membangun mood penonton untuk ikut terbawa hawa romantis yang dihembuskan film ini. Untuk anda yang memang menggemari film-film beraroma romantis, film ini sangat saya rekomendasikan.

PS : Jun Ji-hyun imut banget ya... *labil*

Rating : 7.5/10

Saturday, June 11, 2011

5 Centimeters Per Second (2007)


Genre : Animation, Drama, Romance | Pengisi Suara : Kenji Mizuhashi, Yoshimi Kondou, Satomi Hanamura, Ayaka Onoue | Sutradara : Makoto Shinkai | Penulis : Makoto Shinkai | Produksi : CoMix Wave, ADV Films | Durasi : 63 menit

"The speed at which the sakura blossom petals fall... Five centimeters per second."
-Akari-

Salah satu alasan mengapa saya begitu menikmati film animasi produksi Studio Ghibli adalah berkat tampilan animasi tradisionalnya yang memukau. Selain faktor ceritanya yang selalu berhasil menyentuh hati, film-film Studio Ghibli memang kerap pandai memanjakan mata tiap penontonnya. Namun disini, saya tidak akan membahas salah satu film animasi rilisan studio tersebut. Ada satu film animasi Jepang (anime) yang baru-baru ini saya tonton dan sukses membuat sepasang mata ini terbelalak dan mulut ini berdecak kagum dengan kemegahan visualnya. Sebutan banyak orang untuk Makoto Shinkai sebagai "the next Hayao Miyazaki" memang bukan tanpa alasan. Apa yang dicapainya melalui 5 Centimeters Per Second ini memang luar biasa.

Film yang memiliki durasi sekitar satu jam ini menawarkan cerita yang sepertinya sudah umum dipakai dalam film-film drama romantis—tentang dua insan manusia yang saling mencintai namun terpisahkan oleh jarak. Maksud dari judul film ini sendiri bisa dibilang merupakan metafora dari kondisi tersebut. Lima senti per detik, konon itulah kecepatan kelopak bunga sakura saat jatuh dari pohonnya. Layaknya bunga sakura, beberapa orang bisa saja memulai awal kehidupan mereka bersama, namun suatu saat mereka bukan tidak mungkin akan terpisahkan, bagai kelopak bunga yang berguguran, lima senti per detik. In our lives, people come and go. Mungkin itulah yang ingin disampaikan Shinkai melalui film besutannya ini.

Dua insan yang saling mencintai itu adalah Takaki Tono (Kenji Mizuhashi) dan Akari Shinohara (Yoshimi Kondou, Ayaka Onoue). Sejak Akari pindah ke SD yang sama dengan Takaki, keduanya mulai menjalin hubungan yang semakin lama semakin erat berkat kesamaan yang mereka miliki. Hubungan mereka mulai diuji saat Akari dan keluarganya harus pindah ke luar kota yang jaraknya cukup jauh. Namun mereka masih sering berkomunikasi melalui surat menyurat (errr...di sini telepon genggam dan internet belum mewabah). Suatu ketika, Takaki juga harus pindah rumah bersama keluarganya ke kota lain yang ternyata jaraknya semakin jauh dengan tempat tinggal Akari. Sebelum kepindahannya, Takaki memutuskan untuk sekali lagi menemui Akari dan menyatakan perasaannya melalui surat yang ia bawa.

Waktu berlalu, cerita pun bergulir saat Takaki sudah hampir lulus SMA. Jarak dan waktu masih memisahkannya dengan Akari. Namun ia masih terus mengingatnya, hingga tak menyadari bahwa ada gadis lain yang menaruh perhatian padanya. Dialah Kanae Sumida (Satomi Hanamura), teman sekelas Takaki yang mulai menyukainya sejak mereka masih duduk di bangku SMP. Kanae yang masih belum berani menyatakan perasaannya hanya mampu menatap Takaki saat sedang latihan memanah, kemudian menunggunya diam-diam di tempat parkir agar bisa pulang bersama. Suatu malam mereka membicarakan kekhawatiran masing-masing akan masa depan. Dari sinilah Kanae semakin menyadari bahwa Takaki selalu melihat jauh ke depan, kepada sesuatu yang tidak pernah ia ketahui selama ini.

Di babak terakhir, kita diperlihatkan dengan Takaki dan Akari yang sudah tumbuh dewasa. Apakah mereka bersama atau tidak, hanya bisa anda ketahui dengan menonton sendiri film yang bagi saya sangat menyentuh ini. Cerita yang diangkat mungkin bukan barang baru, namun Shinkai mampu merangkainya menjadi sebuah untaian kisah tiga bagian yang begitu puitis dan menyentuh hati. Setiap orang mungkin memiliki cinta pertama yang tak akan pernah mereka lupakan, dan film ini akan membuat mereka kembali mengingatnya. Kisah yang akan terasa personal bagi sebagian orang ini, dipercantik dengan komposisi musiknya yang indah dan visualnya yang menakjubkan. Ya, komponen paling kuat yang ada dalam anime ini adalah gambar-gambar cantik yang disajikan Shinkai di sepanjang film. Bahasa gambar disini sudah berbicara banyak kepada penontonnya tanpa perlu berkata-kata. Silakan tonton sendiri untuk membuktikan kedahsyatan visualnya.

Rating : 8/10

Saturday, June 4, 2011

Ocean Waves (1993)


Genre : Animation, Drama, Romance | Pengisi Suara : Nobuo Tobita, Toshihiko Seki, Yoko Sakamoto | Sutradara : Tomomi Mochizuki | Penulis : Saeko Himuro (novel) | Produksi : Studio Ghibli | Durasi : 72 menit

"The whole thing was starting to feel like a bad soap opera."
-Taku-

Orang bilang, masa SMA adalah masa-masa yang paling indah. Saya bilang, masa SMA adalah masa-masa yang paling labil. Meski sampai sekarang pun terkadang saya masih merasa bingung dengan apa yang benar-benar saya inginkan dalam hidup alias sedang dalam tahap pencarian jati diri, namun di usia SMA-lah pertanyaan-pertanyaan eksistensial (halah!) ini mulai sering hinggap di benak saya, Tapi di luar itu, saya akui masa SMA itu memang mengasyikkan. Pengalaman tiap orang di masa tersebut tentunya berbeda-beda, namun saya yakin mayoritas individu pasti pernah mengalami rasa ini : ketertarikan terhadap individu lain, atau bahasa umumnya—jatuh cinta. Tema tentang romantika masa SMA inilah yang diangkat melalui sebuah film animasi tv produksi Studio Ghibli yang berjudul Ocean Waves (Umi ga kikoeru).

Tokoh utama kita adalah Taku Morisaki (Nobuo Tobita), seorang mahasiswa yang akan menghadiri reuni SMA di kampung halamannya di prefektur Kochi. Sebelum berangkat, ia melihat sosok perempuan yang sekilas tampak tidak asing baginya. Dalam penerbangan ke kampung halamannya, Taku mengingat kembali kenangan yang ia alami semasa SMA. Dari sinilah cerita kemudian bergerak mundur ke dua tahun sebelumnya, saat Taku pertama kali bertatap muka dengan seorang perempuan yang tidak akan pernah ia lupakan. Namanya Rikako Muto (Yoko Sakamoto), seorang siswi pindahan dari Tokyo.

Yutaka Matsuno—sahabat Taku sejak SMP-lah yang mengenalkannya pada Rikako. Melalui beberapa dialog, cukup terlihat bahwa Yutaka menyukai Rikako. Taku sendiri menyimpan rasa kagum terhadap Rikako yang begitu menonjol di bidang akademis. Namun sikap Rikako yang penyendiri dan terkesan angkuh membuatnya dijauhi anak-anak lain. Kedekatan antara Taku dan Rikako mulai muncul saat sekolah mereka mengadakan liburan ke Hawaii. Suatu ketika, tiba-tiba Rikako menghampiri Taku dan mencoba meminjam uang darinya dengan alasan seluruh uang tunai yang dibawanya hilang. Urusan pinjaman inilah yang akhirnya membuat mereka menjadi lebih dekat, meski sempat diwarnai kesalahpahaman.

Dibandingkan dengan animasi Ghibli yang lain, film yang dibuat khusus untuk konsumsi tv ini terkesan kurang sorotan. Saya sendiri sebelumnya sama sekali asing dengan judul film ini. Namun setelah saya coba tonton, ternyata ini lebih dari sekedar sebuah tayangan untuk televisi. Meskipun kesan yang ditimbulkan masih di bawah Whisper Of The Heart—animasi Ghibli lain yang juga menyorot problematika masa remaja, namun film ini juga mampu bersuara lantang dengan muatan yang dikandungnya. Ceritanya memang sederhana, namun begitu membekas. Bahkan bukan tidak mungkin jika film ini berhasil menghadirkan kembali nostalgia saat anda berada di bangku sekolah dulu.

Selain ceritanya yang sederhana, kelebihan utama yang dimiliki film ini adalah karakterisasi tokoh-tokohnya. Taku dan Rikako digambarkan sebagai remaja biasa yang dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari, atau bahkan mungkin mereka adalah refleksi dari diri kita sendiri di masa lalu. Permasalahan yang mereka alami juga disampaikan dengan wajar, tidak mengada-ada. Walaupun apa yang dialami mereka tidak sama persis dengan apa yang pernah saya alami, namun saya masih bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Kedekatan inilah yang membuat Ocean Waves terasa begitu spesial. Jangan harapkan drama melodramatis ala Hollywood yang seringkali memanipulasi emosi penontonnya dengan suguhan yang terlalu dibuat-buat. Film ini tampil apa adanya. Itulah kelebihannya.

Ditutup dengan ending yang manis, film yang disutradarai oleh Tomomi Mochizuki ini berhasil menghangatkan hati saya di malam minggu yang sepi ini. Sebuah kisah coming of age yang subtil dan intim. Highly recommended!

Rating : 8/10

Sunday, April 17, 2011

Barking Dogs Never Bite (2000)


Genre : Comedy, Horror | Pemain : Lee Sung-jae, Bae Doona, Byeon Hee-bong | Sutradara : Bong Joon-ho | Penulis : Bong Joon-ho, Song Ji-ho, Derek Son Tae-woong | Distributor : Cinema Service | Durasi : 106 menit

Banyak yang mengatakan bahwa anjing adalah sahabat terbaik manusia. Meskipun saya tidak pernah bersahabat dengan anjing, namun tampaknya pernyataan tersebut sudah begitu melekat sehingga tidak penting lagi untuk didebat. Di dunia perfilman pun, sudah banyak sineas yang mengangkat tema tentang persahabatan antara manusia dan anjing peliharaannya. Satu bukti loyalitas hewan satu ini tergambar melalui sosok Hachiko, sang anjing legendaris yang kisahnya begitu menginspirasi orang banyak. Dengan loyalitasnya yang tinggi, bukan berarti anjing dicintai semua orang. Gonggongan anjing yang keras dan tidak kenal waktu bisa sangat mengganggu siapa pun, termasuk tokoh utama dalam film Barking Dogs Never Bite—sebuah debut penyutradaraan dari Bong Joon-ho yang memuat sindiran terhadap kehidupan masyarakat urban di Korea Selatan dalam balutan komedi gelap.

Tokoh utama kita adalah Yun-ju (Lee Sung-jae), si calon professor yang tampak cocok masuk dalam klub suami-suami takut istri. Dengan kehidupan pribadinya yang sudah ruwet, kehadiran suara-suara mengganggu berupa salakan anjing di sekitar apartemennya membuat Yun-ju semakin tertekan. Suatu hari ia memutuskan untuk melakukan sesuatu terhadap gangguan ini. Tak disangka, perbuatannya justru menjadi awal dari rentetan kejadian-kejadian lain yang mempertemukannya dengan karakter-karakter unik seperti si penjaga gedung (Byeon Hee-bong) yang memiliki hasrat lebih terhadap anjing, sampai Hyeon-nam (Bae Doona), si pegawai kantor yang terobsesi masuk tv dan lebih banyak menghabiskan waktunya di luar untuk membantu orang lain.

Awalnya, saya mengira film ini akan memancarkan aura depresif yang kental serta memuat adegan-adegan yang cukup mengganggu. Nyatanya, film ini sangatlah menghibur dengan selera humornya yang sukses memancing tawa lepas walaupun ini dikategorikan sebagai black comedy. Memang ada beberapa adegan yang cukup membuat miris dan kemungkinan terasa ofensif, terutama bagi para pecinta hewan (khususnya anjing). Namun jangan terlalu diambil hati karena itu memang bagian penting dari cerita. Percaya saja pada kalimat di awal film yang menyatakan bahwa semua anjing yang muncul di film ini diawasi oleh ahlinya. Meniru metode Wes Craven, ucapkan saja mantra ini berkali-kali : "It's only a movie...only a movie..."

Selain unsur komedinya yang efektif, film ini juga terasa mengena saat menyentuh berbagai isu sosial dalam kehidupan masyarakat modern. Tokoh Yun-ju, si suami yang tampak begitu inferior di hadapan istrinya cukup menyiratkan bahwa faktor ekonomi bisa mempengaruhi keharmonisan sebuah rumah tangga. Yun-ju juga sempat gagal meraih gelar professor hanya karena saingannya lebih unggul dalam melobi alias suap-menyuap. Hal ini menggambarkan isu yang sudah tidak asing lagi bahkan di Indonesia sendiri, bahwa gelar ataupun posisi penting bisa diraih asal kita punya duit. Lalu ada juga lelucon tentang kriteria suami ideal berdasarkan profesi. Sebuah obrolan yang menggelitik, namun sekaligus pahit.

Untuk menghidupkan adegan per adegan dalam sebuah film, salah satu komponen yang menunjang adalah performa dari aktor dan aktrisnya. Dalam film ini, semua pemain yang terlibat menunjukkan permainan akting yang memukau. Lee Sung-jae sebagai professor-wannabe yang batinnya tertekan tampil meyakinkan dan berhasil menarik simpati, walaupun beberapa aksinya di awal-awal film tidak bisa dibilang terpuji. Byeon Hee-boong sebagai janitor yang auranya mencurigakan juga cukup menarik perhatian, terutama saat ia menceritakan kisah mistis di basement apartemen yang gelap. Namun yang paling mencuri perhatian adalah Bae Doona, salah satu aktris paling ekspresif yang pernah saya lihat dalam sinema Korea. Peran-peran dengan nuansa komedi jelas sangat cocok untuknya. Interaksi dirinya dengan temannya yang bertubuh tambun adalah salah satu highlight yang membuat film ini terasa hangat dan menghibur.

Keunggulan lain yang dimiliki film ini adalah sinematografinya yang apik. Jelas terlihat bahwa Bong Joon-ho telah merencanakan semuanya dengan seksama. Mulai dari adegan pembuka saat Yun-ju berbicara di telepon sambil menghadap hijaunya pepohonan, sampai adegan kejar-kejaran di apartemen yang begitu memorable, semuanya ditampilkan dengan menawan dan tentunya enak disantap. Melalui karya debutnya ini, beliau memperlihatkan bahwa ia adalah sineas berbakat yang patut diperhitungkan. Cukup menyenangkan juga melihat ia bisa menjadikan hal-hal kecil seperti tissue toilet dan kaca spion sebagai komponen penting yang mendukung jalinan cerita. Nice touch!

Overall, sebagai sajian drama dengan sedikit elemen horor dalam balutan black comedy yang kental, Barking Dogs Never Bite secara mengejutkan tampil menghibur dan sangat layak untuk disaksikan. Sebuah awal yang menjanjikan bagi karir seorang sineas bernama Bong Joon-ho.

Rating : 8/10

Saturday, October 9, 2010

The Girl Who Leapt Through Time (2006)

Genre : Animation/Comedy/Drama/Romance

Pengisi Suara : Riisa Naka, Takuya Ishida, Mitsutaka Itakura

Sutradara : Mamoru Hosoda

Penulis : Yasutaka Tsutsui (novel), Satoko Okudera (screenplay)

Distributor : Kadokawa Herald Pictures

Durasi : 98 menit




Yuri Hayakawa : "Makoto! Time waits for no one."

Apa yang akan anda lakukan jika anda memiliki kemampuan untuk memutar waktu? Berusaha mengubah kejadian buruk di masa lalu agar menjadi lebih baik segera terlintas di benak saya—dan mungkin juga sebagian orang. Lantas, apakah dengan mengubah masa lalu maka otomatis keadaan saat ini akan menjadi lebih baik? Tidak ada jawaban yang pasti, karena saya yakin segala sesuatu akan ada konsekuensinya. Mengubah hal sekecil apapun bisa membawa dampak pada hal lain. Hukum sebab-akibat tentunya tidak bisa diabaikan. Konsep tersebut ditampilkan melalui film yang dalam bahasa aslinya berjudul Toki o Kakeru Shojo ini. Terinspirasi dari novel berjudul sama karangan Yasutaka Tsutsui, film ini mencoba menggabungkan romantika kehidupan remaja dengan elemen fiksi ilmiah.


Tokoh utama dalam film ini bernama Makoto Konno (Riisa Naka), gadis tomboy yang cenderung urakan dan ceroboh. Kegiatan rutinnya sepulang sekolah diisi dengan bermain baseball bersama dua orang t
emannya, Chiaki Mamiya (Takuya Ishida) dan Kosuke Tsuda (Mitsutaka Itakura). Suatu hari saat berada dalam lab di sekolah, ia mengalami kejadian aneh. Seolah-olah ia terbang melintasi waktu sebelum akhirnya ia terjerembab di lantai dalam keadaan setengah sadar. Awalnya ia tidak terlalu menganggap serius keanehan tersebut sampai akhirnya terjadi insiden yang mulai membuatnya yakin bahwa ia bisa "melompati" waktu. Setelah insiden tersebut, ia berkonsultasi dengan bibinya, Kazuko Yoshiyama (sang tokoh protagonis dalam novel aslinya—diisisuarakan oleh Sachie Hara). Tanpa benar-benar menceritakan pengalamannya sendiri dalam melompati waktu, bibi Kazuko kemudian menjadi figur seorang penasihat bagi Makoto.

Proses melompati waktu yang awalnya terjadi karena ketidaksengajaan pada akhirnya bisa dikontrol oleh Makoto. Bagaimana caranya? Dengan melakukan lompatan (literally) jauh a la kijang, dan ia pun bisa mundur kembali ke waktu yang diinginkannya. Kemampuan barunya ini ia manfaatkan untuk kepentingan dirinya sendiri yang cenderung sepele, seperti mengulang ujian di sekolah sampai karaoke berjam-jam tanpa membayar lebih. Makoto menganggap kemampuan barunya ini bagaikan sebuah hiburan, tanpa menyadari bahwa ada konsekuensi dibalik itu semua. Keadaan menjadi lebih serius saat Chiaki menyatakan perasaannya pada Makoto. Makoto yang tidak mau persahabatannya rusak karena masalah percintaan lalu melakukan lompatan waktu berkali-kali hanya untuk membatalkan pernyataan Chiaki. Dan Makoto juga menggunakan lompatan waktu untuk menjodohkan Kosuke dengan seorang gadis yang menyukainya. Apakah semua perbuatannya ini dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik? Ataukah justru ia akan menyesal seumur hidup atas perbuatannya tersebut?

Cerita mengenai time travel seperti ini memang sudah sering diangkat ke berbagai media, termasuk film. Namun bukan berarti tema tersebut sudah basi untuk diangkat. Hal ini tergantung pada penggarapannya juga, apakah masih sanggup menyajikan sesuatu yang menarik hingga layak ditonton. Tokikake (singkatan untuk judul aslinya) adalah salah satu contoh bagaimana tema mengenai time travel atau time leapt ini masih bisa dikemas dengan baik dan menarik. Tokikake pada dasarnya adalah coming of age story bergenre drama komedi. Di sini diperlihatkan bagaimana sikap seorang remaja biasa saat diberi kemampuan lebih. Kemampuan yang akan membawa sang pemilik pada konsekuensi mengerikan saat digunakan dengan seenaknya, tapi di sisi lain juga dapat menumbuhkan kedewasaan dalam dirinya. Hubungan persahabatan yang berkembang menjadi rasa cinta dihadirkan dengan manis, getir, sekaligus lucu. Untuk melengkapi itu semua, maka ditambahkan elemen fiksi ilmiah bertajuk time leapt. Elemen ini hadir untuk memberi impact lebih kepada para penontonnya.

Film ini diproduksi oleh Madhouse—salah satu studio animasi terkenal di Jepang yang sudah sering menelurkan anime baik untuk format televisi maupun layar lebar, diantaranya karya-karya dari almarhum Satoshi Kon (Tokyo Godfathers, Paprika). Animasi yang ditampilkan disini menurut saya cukup halus dan menawan, tidak kalah dengan animasi produksi Ghibli yang kaya warna—sungguh memanjakan mata. Desain karakternya dibuat khas anime konvensional, dengan tampilan fisik yang kadang tidak proporsional serta ekspresi wajah komikal dalam beberapa adegan—I love it! Desain lingkungannya juga digambarkan dengan baik dan mendetail. Salah satu lokasi yang paling sering disorot adalah sebuah sungai yang menghadap langsung ke flyover. Dengan sudut pengambilan gambar serta komposisi warna yang pas, adegan yang ditampilkan terasa semakin kuat dan memorable.


Komponen lain yang tidak kalah menarik adalah musik latarnya yang ikut andil dalam membangun mood film dari awal sampai akhir. Dari adegan lucu sampai momen yang menguras emosi berhasil disampaikan melalui score gubahan Kiyoshi Yoshida ini. Dengan segala keunggulan teknis serta muatan ceritanya yang menarik, tanpa ragu saya berani menyebut film ini sebagai salah satu anime terbaik yang pernah saya tonton. Apakah masih terlalu prematur untuk mengatakan bahwa Mamoru Hosoda adalah the next Hayao Miyazaki? Tanpa perlu membandingkan pun, saya yakin bahwa sineas satu ini memiliki talenta besar dalam membuat film animasi berkualitas. Patut ditunggu karya-karya beliau selanjutnya. Sebelum itu, biarkan saya kembali menyaksikan serunya aksi Makoto sang "pelompat" waktu. Yeah, it's definitely worth multiple watching.

Rating : 8/10

Monday, March 3, 2008

CJ7 (2008)

Genre : Comedy/Sci-Fi

Pemain : Stephen Chow, Jiao Xu, Kitty Zhang Yugi

Sutradara : Stephen Chow

Penulis : Stephen Chow, Chi Keung Fung

Produser : Stephen Chow

Distributor : Columbia Pictures Film Production Asia

"It's Out Of This World."



Setelah cukup sukses dengan karya terakhirnya, Kungfu Hustle, tahun ini Stephen Chow kembali dengan karya ter-gresnya, CJ7. Mengambil tema yang mirip film E.T. dengan sentuhan komedi ala Stephen
Chow, film ini memiliki premis yang cukup menjanjikan, dan ternyata hasilnya tidak seperti yang saya harapkan.

Di film ini Stephen Chow berperan sebagai Ti, seorang buruh miskin yang tinggal bersama putra semata wayangnya Dicky (Jiao Xu). Walaupun miskin, ia selalu menasehati anaknya untuk selalu menjunjung tinggi nilai kejujuran dan mengutamakan pendidikan.

Di sekolah, Dicky selalu ditindas oleh teman-temannya, bahkan oleh gurunya sendiri. Hanya Miss Yuen (Kitty Zhang), guru kesayangan Dicky yang selalu perhatian padanya. Suatu hari, salah seorang temannya membawa mainan robot canggih bernama CJ1. Ia sesumbar bahwa mainan tersebut hanya ada sedikit di seluruh dunia. Beberapa hari kemudian, saat mampir ke toko mainan, Dicky melihat robot CJ1 dipajang dan memaksa ayahnya untuk membelikannya. Dia bilang kalau mainan tersebut sedang nge-trend di sekolahnya dan banyak anak lain yang sudah punya. Tentu saja permintaannya tidak dipenuhi.


Suatu malam, sepulang kerja, Ti menemukan sesuatu dengan wujud bola berwarna hijau dalam tumpukan sampah. Ia lalu membawa pulang bend
a tersebut dan memberikannya pada Dicky sebagai pengganti CJ1 yang tidak mampu ia belikan. Walaupun awalnya menolak, akhirnya Dicky menerima juga 'mainan' tersebut. Apalagi setelah mengetahui bahwa ternyata benda tersebut merupakan sesosok alien yang menurut pemikirannya memiliki kemampuan yang lebih hebat dibanding CJ1 milik temannya. Ia lalu menamainya CJ7.

Kekuatan CJ7 ia manfaatkan untuk kepentingannya sendiri, seperti membantunya dalam ujian (keren banget lho kacamata pengintainya), termasuk membalas teman-teman yang sering menjahilinya. Semuanya buyar saat ia menyadari bahwa hal tersebut hanya khayalannya semata. Pada kenyataannya, CJ7 tidak memiliki kekuatan apapun yang malah membuat Dicky sial sepanjang hari. Akhirnya ia membuang CJ7 karena kesal.

Seperti yang telah diduga, Dicky menyesali perbuatannya dan akhirnya ia bersedia menerima CJ7 sebagai sahabatnya. Berkat CJ7 pula ia bisa bergaul dengan anak-anak lain di sekolahnya. Dan melalui sebuah insiden, akhirnya terungkap kekuatan CJ7 yang sesungguhnya.


Tidak seperti film-film Stephen Chow sebelumnya, saya tidak terlalu menikmati film ini secara keseluruhan. Entah kenapa, ada beberapa hal yang mengganjal. Sampai sekarang saya belum ngeh apa maksud sebenarnya kedatangan CJ7, walaupun memang cukup berpengaruh terhadap kehidupan Dicky. But, I don't know. I just don't get it. Emosinya kurang dapet. Adegan 'kecelakaan' yang menimpa Ti juga terkesan dibuat-buat, hanya sebagai alasan untuk menentukan nasib CJ7 selanjutnya. Humor-humornya cukup menghibur walaupun banyak adegan-adegan slapstick berlebihan, yang memang merupakan trademark-nya Stephen Chow. Tampilan makhluk CJ7-nya juga cute banget, dengan mata besarnya yang mengingatkan pada Puss In Boots di Shrek 2. Penampilan yang paling menarik berhasil ditampilkan oleh Jiao Xu, pemeran Dicky yang sangat adorable. Kekaguman saya semakin bertambah saat mengetahui bahwa si pemeran Dicky ini ternyata perempuan. Whoa, she's totally tricking me.


Sebelum menonton, sebaiknya buang jauh-jauh pikiran bahwa ini adalah E.T. versi Asia, karena hanya akan menimbulkan kekecewaan jika hasil akhirnya tidak sesuai ekspektasi awal. Tapi untuk fans-nya film-film Stephen Chow, film ini tentu patut ditonton. Walaupun menurut saya masih kalah dibanding karya Stephen Chow sebelumnya. Hope he will do better next time.

5/10