Showing posts with label Mysterious. Show all posts
Showing posts with label Mysterious. Show all posts

Monday, December 12, 2011

[Review] Martha Marcy May Marlene (2011)


Genre : Drama, Thriller | Pemain : Elizabeth Olsen, John Hawkes, Sarah Paulson, Hugh Dancy, Brady Corbet, Louisa Krause | Sutradara : Sean Durkin | Penulis : Sean Durkin | Distributor : Fox Searchlight Pictures | Durasi : 102 menit | MPAA : Rated R for disturbing violent and sexual content, nudity and language
"I know who I am. I am a teacher and a leader, you just never let me be that!"
-Martha-

Dari menit-menit awalnya, Martha Marcy May Marlene (MMMM) sudah mulai memancing rasa penasaran saya dengan kesunyiannya. Sekelompok orang terlihat sedang melakukan aktivitas harian mereka di sebuah lahan pertanian yang tampak sepi dan lengang. Ketika malam tiba, para pria menyantap hidangan yang disajikan di meja makan, sedangkan para wanitanya menunggu di ruangan lain dan baru mulai makan setelah semua pria meninggalkan ruangan. Rangkaian adegan pembuka yang singkat ini entah mengapa menguarkan aroma misterius yang membuat saya bertanya-tanya, siapa sebenarnya orang-orang ini. Apakah mereka ini gambaran dari sebuah keluarga yang masih memegang erat tradisi? Atau hanya semacam komune yang mengasingkan diri dan menetap di daerah pinggiran? Rasa penasaran saya semakin menjadi, ketika di pagi harinya seorang wanita muda dalam kelompok tersebut tiba-tiba melarikan diri, diikuti dengan teriakan seorang pria yang memanggilnya dengan sebutan Marcy May. Sebuah set up yang cukup menjanjikan bagi thriller psikologis seperti ini.

Selanjutnya, cerita beralih pada kehidupan Marcy May (Elizabeth Olsen)—yang ternyata bernama asli Martha—pasca meninggalkan kelompok tersebut. Kini Martha menetap di sebuah rumah pinggir danau, kediaman sang kakak, Lucy (Sarah Paulson), dan suaminya, Ted (Hugh Dancy). Setelah dua tahun menghilang tanpa kabar, kembalinya Martha yang tiba-tiba itu tentu saja membuat Lucy dan Ted terkejut. Rasa senang dan kesal bercampur jadi satu. Apa yang sebenarnya ada di pikiran Martha dua tahun lalu, ketika ia tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa jejak? Dan apa yang membuat ia akhirnya memutuskan untuk kembali? Martha berdalih bahwa ini berkaitan dengan urusan patah hati. Bahwa kekasihnya berkhianat, sehingga Martha memutuskan untuk meninggalkannya. Sungguh klasik. Namun tentunya penonton tahu, bukan itu alasan sebenarnya. Sedikit demi sedikit, misteri pun terkuak. Seiring dengan rasa penasaran saya yang mulai terbayar.

Sean Durkin, sang sutradara sekaligus penulis naskahnya, mengajak penonton untuk ikut memasuki pikiran Martha, yang bagaikan lorong waktu yang membingungkan, mengaburkan batasan antara masa kini dengan masa lalu. Di sinilah letak kehebatan bagian editingnya. Transisi dari masa kini ke masa lalu Martha saat ia hidup bersama dengan kelompok (yang mungkin bisa dibilang sebagai semacam sekte) itu, ditampilkan dengan mulus. Di beberapa bagian tersebut, saya sempat kebingungan dan berujar, "lho kok?" Sampai akhirnya saya menyadari perpindahan tersebut. Damn, I've been tricked! Seolah-olah saya diposisikan dalam pikiran Martha yang kacau, sulit membedakan mana yang nyata, mana yang sebatas kenangan.


Lalu apa sebenarnya yang membuat Martha nyaris hilang akal? Semua terjawab sedikit demi sedikit dan semakin memuncak saat menjelang akhir. Film ini memang sepi, bukan jenis thriller yang penuh adegan kejar-kejaran antara pembunuh bertopeng dengan mangsanya. Namun jangan salah, anda akan merasakan sensasi ketegangan yang berbeda. Tingkah laku Martha yang semakin aneh dan paranoid, hingga pengungkapan masa lalunya yang gelap, membuat jantung ini berdebar-debar. Coba simak dan hayati adegan saat sang pemimpin sekte, Patrick (John Hawkes), menyanyikan Marcy's Song di depan Martha dan para pengikutnya. Adegan ini sukses membuat saya merinding dan terpaku, seperti Martha yang seolah terhipnotis dengan pesona Patrick yang kharismatik, membawanya semakin jauh ke dalam kegelapan yang membuai. John Hawkes tampil memukau di sini. Lembut, namun auranya mengerikan.

Dari beberapa dialog antara Martha dan Lucy, tersirat bahwa hubungan mereka berdua di masa lalu kurang begitu akrab. Ada masalah dalam keluarga mereka, walaupun tidak dijelaskan secara eksplisit. Ini juga sepertinya yang menjadi alasan mengapa Martha bisa terseret masuk ke dalam sekte pimpinan Patrick. Martha adalah pribadi yang rapuh, merasa terasing di lingkungan keluarganya sendiri. Kondisi inilah yang dimanfaatkan Patrick. Ia merangkul jiwa Martha dengan penuh kelembutan, membuatnya merasa diterima. Hingga akhirnya Martha tersadar, lalu melarikan diri, dengan masih membawa torehan luka hasil perbuatan Patrick. Apa yang dialami Martha selama dua tahun belakangan masih begitu membekas, mempengaruhi kondisi mentalnya. Tingkah lakunya yang tidak wajar semenjak ia kembali tinggal bersama kakaknya, memperlihatkan kegagapannya dalam bersosialisasi di lingkungan "orang normal". Melalui tokoh Martha, MMMM menawarkan sebuah studi karakter yang menarik.

Membicarakan MMMM, tentunya tidak akan lengkap tanpa menyinggung penampilan seorang aktris pendatang baru bernama Elizabeth Olsen. Merasa familiar dengan nama keluarganya? Ya, dia adalah adik kandung dari si kembar tenar, Mary-Kate dan Ashley. Tanpa disangka-sangka, Elizabeth memiliki kualitas seorang bintang yang sebelum ini sepertinya tidak begitu nampak. MMMM bisa dibilang merupakan kendaraannya untuk melesat lebih jauh lagi dalam menggapai status sebagai bintang papan atas Hollywood. Ini bukan pujian asal, karena penampilannya di MMMM memang patut mendapat apresiasi tinggi. Perpindahan timeline yang acak memungkinkan kita untuk melihat karakter Martha dalam emosi yang berganti-ganti pula. Dan Elizabeth Olsen memainkan tugasnya dengan gemilang. Ia sukses menghidupkan karakter Martha / Marcy May / Marlene sehingga tampak believable dan menimbulkan simpati. Mimik wajahnya, gesture-nya, oh my! I gotta say, a star is born.

Jadi, apakah MMMM tidak akan sama tanpa kehadiran Elizabeth Olsen sebagai pemeran utamanya? Bisa jadi. Namun di samping itu, debut layar lebar dari Sean Durkin ini sangat patut diapresiasi dan menjadi awal yang cukup menjanjikan bagi karya-karya selanjutnya di masa mendatang.

Rating : 7.5/10

Sunday, November 27, 2011

[Review] Another Earth (2011)


Genre : Drama, Sci-Fi | Pemain : Brit Marling, William Mapother, Matthew-Lee Erlbach, DJ Flava | Sutradara : Mike Cahill | Penulis : Brit Marling, Mike Cahill | Distributor : Fox Searchlight Pictures | Durasi : 92 menit | MPAA : PG-13 for disturing images, some sexuality, nudity and brief drug use
"Within our lifetimes, we've marveled as biologists have managed to look at ever smaller and smaller things. And astronomers have looked further and further into the dark night sky, back in time and out in space. But maybe the most mysterious of all is neither the small nor the large: it's us, up close. Could we even recognize ourselves, and if we did, would we know ourselves? What would we really like to see if we could stand outside ourselves and look at us?"
-Richard Berendzen-


Awalnya ia hanya berupa titik kecil yang menghiasi langit, bagaikan bintang yang bersinar, namun berwarna biru. Lama kelamaan, titik biru kecil itu semakin jelas terlihat, menampakan wujud aslinya. Bumi. Semua orang terpesona dengan keindahannya, lantas dibuat bertanya-tanya, bagaimana mungkin mereka bisa melihat bumi di hamparan langit itu sementara mereka sendiri sedang menginjakan kaki di atas bumi. Para ilmuwan pun bertindak, lantas menyimpulkan bahwa benda asing itu memang bumi. Bumi ke-2. Sebuah duplikat bumi yang sama persis. Bukan hanya planetnya, namun juga semua penghuninya. Manusia. Kita. Ya, ada kita yang lain di sana.

Penemuan sebuah planet baru dalam sistem tata surya adalah suatu hal yang cukup menarik. Namun ketika planet tersebut memiliki bentuk fisik, bahkan penghuni yang sama persis dengan bumi dimana kita hidup selama ini, tentu itu jauh lebih menarik lagi. Ide tentang penemuan "parallel earth" ini terdengar menjanjikan untuk dijadikan premis sebuah film sci-fi bukan? Dan ide inilah yang coba dituangkan oleh Mike Cahill melalui film terbarunya yang naskahnya ia tulis bersama koleganya saat kuliah dulu sekaligus aktris utama dalam film ini, Brit Marling. Namun jangan harap anda akan menemukan sebuah kisah yang kental dengan unsur sci-fi, seperti eksplorasi lebih jauh mengenai planet baru tersebut atau kisah yang mengulas konflik antara manusia bumi dengan duplikatnya di planet itu misalnya. Sebaliknya, yang akan anda dapatkan di sini adalah sebuah drama tentang dosa masa lalu, penyesalan, penebusan dosa, dan kisah cinta yang berkembang diantaranya.


Adalah Rhoda Williams (Brit Marling), seorang siswi SMA yang baru saja lulus dan diterima kuliah di MIT, sebuah universitas bergengsi di Cambridge. Setelah asyik berpesta dan pulang dalam keadaan mabuk, ia mendengar berita di radio tentang ditemukannya sebuah planet yang mirip dengan bumi. Teralihkan perhatiannya, tanpa sadar mobilnya melaju kencang dan menabrak mobil lain yang berakibat tewasnya dua dari tiga orang yang berada dalam mobil tersebut. Empat tahun berlalu, diceritakan bahwa Rhoda akhirnya bebas dari hukuman penjara dan kembali tinggal bersama keluarganya. Hasratnya untuk kembali melanjutkan sekolah menurun drastis dan ia malah melamar pekerjaan menjadi tukang bersih-bersih. Suatu hari, tanpa sengaja ia melihat sosok seorang pria, yang kembali mengingatkan ia akan dosa masa lalunya. Pria tersebut adalah John Burroughs (William Mapother), seorang profesor sekaligus komposer yang mesti kehilangan anak dan istrinya karena kecelakaan tragis empat tahun lalu. Dari sini dimulailah usaha Rhoda untuk menata kembali hidupnya dengan berusaha sekeras mungkin memulihkan kondisi mental John, walau tanpa membuka identitas dirinya sebagai penyebab kesengsaraan hidup pria tersebut.


Dari ringkasan cerita di atas, jelas terlihat bahwa film ini lebih menitikberatkan pada bobot dramanya ketimbang sci-fi. Ya, skenario kemunculan planet baru yang dijuluki Earth 2 memang sekilas tampak sebagai tempelan belaka yang berfungsi memberi warna lain pada drama bertempo lambat ini. Maka jangan kaget apalagi marah-marah jika anda penonton yang kritis ataupun pemerhati film-film bertema fiksi ilmiah menemukan beberapa lubang dalam naskahnya. Saya saja yang sama sekali awam mengenai ilmu astrofisika atau apapun itu namanya, merasakan adanya keanehan dengan kemunculan planet duplikat yang semakin lama semakin mendekati bumi itu. Tapi kembali lagi, yang ingin ditonjolkan di sini adalah unsur dramanya, dan untuk itu, film ini cukup berhasil. Malah dengan menyertakan teori "parallel earth" tersebut, film ini jadi memiliki sesuatu yang lebih untuk mengajak penontonnya—dalam hal ini saya—untuk berpikir dan berasumsi. Jika benar bahwa di bumi ke-2 itu ada diri kita yang lain, apakah nasib mereka sama dengan kita? Apakah kejadian buruk yang menimpa kita di masa lalu dialami juga oleh diri kita yang lain di sana? Apa yang akan kita lakukan jika kita memiliki kesempatan untuk bertemu dengan diri kita yang lain? Pertanyaan apa dan kenapa pun bermunculan, yang membuat film ini menjadi menarik dan thought-provoking. Endingnya pun menarik, terbuka, membuat saya kembali berasumsi. Kesimpulannya, pemunculan Earth 2 boleh dibilang cuma tempelan, tapi juga berhasil membuat banyak pemikiran tertempel di benak kita. Imho.


Dalam kapasitasnya sebagai film indie berbujet kecil, film ini masih terbilang cukup baik ketika ditinjau dari segi teknis. Dengan banyak memakai hand-held camera dan close-up shots (maafkan jika istilah yang saya pakai kurang tepat), Mike Cahill berhasil menangkap emosi karakternya dengan baik. Beberapa gambar yang ia ambil juga cukup indah dipandang, terutama ketika kamera membingkai sosok Rhoda saat berjalan menjauhi kamera, mendekati pantai sambil menatap planet yang dikelilingi awan putih berlatar langit biru. Indah dan unik. Berbicara soal unik, adegan ketika John memainkan musik dengan menggunakan gergaji cukup mencengangkan. Belum pernah saya melihat gergaji difungsikan sebagai alat penghasil suara yang bukan hanya unik, tapi juga menghipnotis. Bravo untuk Natalia Paruz—dikenal juga dengan julukan "Saw Lady"—yang berhasil mengubah alat perkakas menjadi sebuah instrumen musik yang bisa dibilang otherworldly.

Berkenaan dengan performa aktor-aktrisnya, saya telah menyaksikan sebuah bakat baru di perfilman Amerika dalam diri seorang Brit Marling. Aktris sekaligus kolega Mike Cahill yang juga pernah bekerjasama dalam memproduksi dokumenter Boxers and Ballerinas (2004) ini sanggup menampilkan karakter yang menarik simpati penonton. Salah satu adegan yang memorable yaitu saat ia menceritakan kisah tentang seorang kosmonot Rusia yang mengalami delusi di angkasa luar. Marling menampilkannya dengan luwes, sedikit jenaka, dan menentramkan. She's the next big thing in Hollywood for sure. William Mapother yang dikenal melalui serial Lost, juga menunjukan performa yang pas sebagai karakter pria yang kehilangan arah pasca kematian keluarganya. Berdua, mereka mengisi durasi film dengan olah peran yang menawan.

Sebagai pemenang penghargaan Alfred P. Sloan Prize dalam Sundance Film Festival awal tahun ini, Another Earth sudah cukup mempunyai daya tarik untuk memikat penonton, khususnya penikmat film indie. Namun tanpa melihat berbagai pujian yang didapat pun, film ini memang masih layak tonton. Dengan mengesampingkan beberapa kekurangan yang ada, ini adalah sebuah sajian drama dengan sedikit bumbu fiksi ilmiah yang cukup sayang untuk dilewatkan.

Rating : 7/10

Tuesday, May 31, 2011

Compiled Reviews : Double French Gorefest

Inside (2007)

Genre : Horror, Thriller | Pemain : Beatrice Dalle, Alysson Paradis, Nathalie Roussel, Francois-Regis Marchasson | Sutradara : Alexandre Bustillo, Julien Maury | Penulis : Alexandre Bustillo | Distributor : La Fabrique de Films | Durasi : 83 menit | MPAA : Rated R for strong bloody violence, gruesome and disturbing content, and language

Masih ingat Rumah Dara? Film slasher lokal yang berhasil membuktikan bahwa sinema horor Indonesia belum sepenuhnya terperosok dalam jurang kehinaan. Meski orisinalitas bukanlah sesuatu yang bisa ditemukan disini, namun hasil akhirnya sudah sangat memuaskan bagi saya. Berbicara soal orisinalitas, saya jadi ingat ada yang pernah berkomentar bahwa beberapa adegan dalam Rumah Dara mencontek habis adegan yang ada dalam sebuah film slasher produksi negara Perancis berjudul A l'interieur atau Inside untuk judul internasionalnya. Suara sumbang itulah yang membuat saya semakin penasaran dengan film garapan duo Alexandre Bustillo dan Julien Maury ini.

Mari pertemukan seorang wanita hamil dengan seorang wanita psikopat dalam sebuah rumah sepi di malam Natal, maka kita akan disuguhkan sebuah tontonan yang seram, menegangkan, serta tentunya banyak ceceran darah dimana-mana (love it!). Sarah (Allyson Paradis), seorang wanita yang tengah hamil tua, harus menerima kenyataan pahit saat ditinggal mati suaminya dalam sebuah kecelakaan mobil. Tak lama setelah kejadian tersebut, tepat saat malam Natal, seorang wanita misterius berpakaian serba hitam tiba-tiba muncul di depan rumahnya. Saat Sarah yakin bahwa wanita tersebut sudah pergi, ternyata si wanita kurang ajar itu diam-diam berhasil menyelinap ke dalam rumahnya. Lalu dimulailah parade bacok-membacok, tembak-menembak, atau apapun itu, yang pasti banyak darah yang tertumpah di setiap adegannya.

Setelah menonton film ini, ternyata memang ada beberapa adegan yang bisa saya temukan juga di film Rumah Dara. Namun, saya rasa The Mo Brothers (sutradara Rumah Dara) bukannya dengan sengaja mencomot adegan-adegan itu, tapi lebih sebagai tribute bagi film-film slasher dari berbagai belahan dunia. I'm just saying. Di luar itu, Inside berhasil membuat saya terpaku untuk terus menyaksikan menit demi menitnya yang penuh dengan lumuran darah. Saya juga sempat beberapa kali dibuat merinding dan bergidik. Salahkan Beatrice Dalle yang sukses memerankan si wanita brengsek dengan aksi-aksi sadisnya yang terkadang sulit diterima akal sehat. Tapi untuk menikmati film ini memang tidak perlu terlalu banyak berpikir, cukup segarkan mata itu dengan adegan-adegan berdarah yang disajikan. Dan adegan menuju ending berhasil membuat mata saya terbelalak. Saya tidak akan pernah lagi memandang gunting dengan cara yang sama.

Rating : 7/10


High Tension (2003)

Genre : Drama, Horror, Thriller | Pemain : Cecile De France, Maiwen Le Besco, Philippe Nahon | Sutradara : Alexandre Aja | Penulis : Alexandre Aja, Gregory Levasseur, Dean R. Koontz | Distributor : EuropaCorp. Distribution | Durasi : 89 menit (edited version) | MPAA : Rated R for graphic bloody killings, terror, sexual content and language (edited version)

Satu lagi film slasher produksi Perancis yang membuat saya penasaran berkenaan dengan muatan kekerasan yang (katanya) sangat berlebihan dan mengganggu. Oke, sepertinya inilah sajian yang saya butuhkan demi menyegarkan kembali otak yang sudah terlalu panas untuk menerima hal-hal yang memusingkan. Dengan berbekal ekspektasi rendah dan sinopsis samar-samar, akhirnya saya memutuskan untuk menyantap film ini. Tengah malam. Dan apa yang terjadi? Saya puas! Tapi hanya setengah. Ada sesuatu dalam film ini yang sangat mengganggu sehingga gagal membuat saya benar-benar terpuaskan. Ini sama saja dengan gagal orgasme. Duh!


Bercerita tentang dua mahasiswi yang berencana untuk berakhir pekan di tempat tinggal salah satu dari mereka. Lokasi kediaman keluarga Alex (Maiwen Le Besco) memang sangat kondusif untuk melepas lelah karena lingkungannya yang sepi, jauh dari keramaian. Temannya, Marie (Cecile De France), cukup merasa nyaman dengan kondisi yang ada, sampai-sampai ia menyempatkan untuk "memuaskan" diri sendiri sebelum tidur. Kenyamanan ini tidak berlangsung lama, karena saat tengah malam tiba, muncul gangguan dalam wujud seorang pria gemuk bersenjata yang tanpa tedeng aling-aling langsung membantai seisi rumah. Kini hanya tersisa Alex yang entah kenapa tidak segera dibunuh, serta Marie yang keberadaannya belum diketahui sang pembunuh. Dengan modal nekat, Marie kemudian berusaha membebaskan Alex yang kini disekap si pria gemuk berwajah angker itu.

Saya akui, 3/4 bagian dari film ini sangat efektif menjaga intensitas ketegangan yang sanggup membuat penonton terpaku. Permainan kucing-kucingan antara Marie dan si pembunuh dipresentasikan dengan brilian sampai membuat saya beberapa kali menahan napas saking tegangnya. Cukup jarang saya dibuat setegang ini hanya karena sebuah film horor. Untuk itu, saya acungi dua jempol untuk Alexandre Aja atas penyutradaraannya yang brilian. Selain itu, Aja juga terlibat dalam penulisan naskahnya. Untuk itu saya tarik lagi kedua jempol saya dan saya ganti dengan dua jari tengah. Mengapa? Karena naskahnya memiliki klimaks dan ending yang mega idiot. Maaf, itu mungkin berlebihan. Tapi tidak dapat disangkal bahwa penyelesaian yang dipilih Aja terasa begitu pretensius jika tidak mau disebut bodoh dan beresiko merusak film secara keseluruhan. Maksudnya ingin membuat twist, jadinya malah jijay abis. Untung ketegangan di 3/4 filmnya sangat berkesan, jadi saya masih bisa sedikit melupakan endingnya yang sok pintar. Andai saja saya orang penting yang berkuasa atas keseluruhan proses produksi film ini, saya bakal pangkas itu klimaks beserta endingnya yang totally useless. *khayalan super aneh yang terlalu tinggi, bahkan lebih tinggi dari Tom Cruise saat memakai high heels 30 senti sekalipun*

Rating : 6/10

Tuesday, April 12, 2011

Black Christmas (1974)


Genre : Horror/Mystery/Thriller | Pemain : Olivia Hussey, Margot Kidder, Keir Dullea, Andrea Martin, Art Hindle, John Saxon, James Edmond, Marian Waldman | Sutradara : Bob Clark | Penulis : Roy Moore | Distributor : Warner Bros. Pictures | Durasi : 98 menit

"A Christmas of another colour brings a killer on the loose"

Pada tahun 1978, sebuah film berjudul Halloween lahir dari tangan seorang John Carpenter—sang maestro horor yang reputasinya di kalangan fans genre tersebut sudah tidak perlu diragukan lagi. Film yang melejitkan nama Michael Myers sebagai salah satu tokoh villain paling ikonik ini banyak disebut sebagai pelopor film slasher yang kemudian menjadi inspirator bagi film-film sejenis. Halloween boleh saja disebut sebagai pelopor, namun jangan lupakan satu judul film yang juga menjadi bagian penting dari sejarah kebangkitan film slasher. Film itu adalah Black Christmas.


Dirilis pada tahun 1974, Black Christmas-lah yang sebenarnya banyak memberi pengaruh terhadap kemunculan film-film berjenis slasher, termasuk Halloween. Namun tidak seperti Halloween yang banyak diperbincangkan, film besutan Bob Clark ini seperti kurang terdengar gaungnya dan terkesan underrated. Well, kurang sorotan bukan berarti jelek kan? Karena menurut saya, Black Christmas adalah salah satu entry terbaik di genre-nya. Dan sialnya, cult classic satu ini ikut terkena imbas dari kemiskinan ide yang sedang melanda Hollywood belakangan ini. Ya, film ini mendapat "kehormatan" dengan dibuatkan remake-nya yang dirilis tahun 2006 lalu. Dan jujur saja, remake ini bagaikan sebuah sajian basi dengan hiasan yang sengaja dibuat menarik (berupa kumpulan cewek cantik di deretan cast-nya). Menggiurkan, namun setelah dicoba sukses menimbulkan sensasi mual-mual.

Lain dengan remake-nya yang menorehkan kesan buruk, versi orisinilnya tampil memikat dan jauh lebih berkesan. Plotnya sederhana saja, mengenai seorang psikopat yang menyelinap masuk ke dalam sebuah sorority house saat malam Natal, melancarkan teror melalui telepon, dan membantai satu-persatu penghuninya. Alurnya berjalan perlahan, sehingga memberi cukup ruang bagi penonton untuk lebih mengenal berbagai karakter yang ada. Olivia Hussey, Kier Dullea, Marian Waldman, dan terutama Margot Kidder sebagai Barb, si cewek bitchy bermulut kotor, membawakan peran masing-masing dengan cukup baik. Secara keseluruhan, semua cast disini tampil solid.

Film slasher yang merupakan sub-genre dari horor, umumnya identik dengan adegan-adegan yang mengumbar darah. Uniknya, Black Christmas justru tergolong minim dalam menampilkan adegan gore. Film ini lebih mengandalkan atmosfer yang efektif menimbulkan suasana mencekam. Di sepanjang film, sosok penjahatnya sendiri tidak ditampilkan secara frontal. Teknik first person point of view digunakan tiap sang penjahat beraksi, memposisikan penonton seolah berada dalam pikirannya. Identitas villain yang ditutup rapat adalah salah satu kelebihan film ini. Ketidakjelasan motif yang melatarbelakangi aksinya justru membuat kesan horor pada karakternya jadi lebih terasa. Aksi terornya melalui telepon dengan menggunakan suara-suara aneh yang berubah-ubah sangatlah disturbing dan cukup membuatnya masuk dalam jajaran salah satu psikopat fiksional paling memorable.

Sebagai salah satu film slasher yang memberi pengaruh terhadap kemunculan film-film serupa di kemudian hari, bagi saya Black Christmas memang tampil mengesankan. Meski dibuat lebih dari 30 tahun yang lalu, film ini masih enak untuk dinikmati bahkan jauh lebih superior dibanding slasher modern yang mayoritas berpola klise serta terlalu mengeksploitasi darah dan seks. Highly recommended for the genre's fans!

Rating : 8/10

Monday, November 15, 2010

Winter's Bone (2010)

Genre : Drama/Mystery/Thriller

Pemain : Jennifer Lawrence, John Hawkes, Garret Dillahunt, Lauren Sweetser, Dale Dickey, Shelley Waggener

Sutradara : Debra Granik

Penulis : Debra Granik & Anne Rosellini (screenplay), Daniel Woodrell (novel)

Distributor : Roadside Attractions

Durasi : 100 menit

MPAA : Rated R for some drug material, language and violent content


"I got two kids that can't feed themselves yet. My mom's sick, and she's always gonna be sick. Pretty soon the laws are coming and taking our house... and throwing us out to live in the field like dogs."
-Ree-

Ketika seseorang dihadapkan pada kondisi serba tertekan, terkadang secara tak terduga ia akan mengeluarkan potensi dalam dirinya yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Saya sendiri juga pernah mengalami kejadian seperti itu. Misalnya tahun lalu, saat saya berada di penghujung semester akhir perkuliahan dimana tekanan untuk menyelesaikan tugas akhir semakin bertubi-tubi. Dengan waktu yang semakin sempit (berbanding terbalik dengan bertumpuknya materi yang masih perlu diselesaikan), tentunya saya terpacu untuk secepat mungkin menyelesaikan tugas tersebut. Dan ajaibnya, hanya dalam waktu beberapa hari semua dapat terselesaikan. Meskipun tidak aneh jika hasilnya mungkin kurang maksimal. Yang penting kan beres, soal banyaknya revisi mah urusan nanti (pola pikir mahasiswa pemalas). Maaf jika ini jadi terkesan seperti ajang curhat dengan sampel yang tidak patut ditiru. Poinnya, setiap orang memiliki potensi terpendam dan besar kemungkinan semua itu akan benar-benar tampak saat ia berada dalam situasi sulit, imo.

Korelasi antara ocehan saya di atas dengan film berjudul Winter's Bone ini yaitu situasi serba sulit yang juga dialami oleh tokoh utamanya, Ree Dolly (Jennifer Lawrence). Ree adalah seorang gadis remaja 17 tahun yang hidup di lingkungan terpencil di pegunungan Ozark, Missouri. Dengan usianya yang masih belia, ia harus menjadi tulang punggung bagi kedua adiknya yang masih kecil dan juga ibunya yang tidak bisa berbuat apa-apa dengan kondisi mentalnya. Tunggu, kemana perginya sang ayah yang seharusnya bertindak sebagai kepala keluarga? Itulah pemicu rentetan masalah yang akan dihadapi Ree nanti. Ayahnya—Jessup Dolly, dikenal sebagai "peracik" methamphetamine (sejenis drugs) yang saat ini sedang menjadi buronan pihak kepolisian. Parahnya, ia menjadikan rumah dan semua aset miliknya sebagai jaminan. Jika ia tidak muncul dalam persidangan di minggu berikutnya, keluarganya terpaksa harus kehilangan tempat tinggal. Demi kelangsungan hidup keluarganya, Ree bertekad menemukan sang ayah walau seberat apapun resiko yang mesti ditanggungnya kelak.

Pencarian yang dilakukan Ree tentu tidaklah mudah. Dengan lingkungan yang masih menganut paham patriarki serta ikatan kelompok yang kuat, keingintahuan Ree justru memposisikan dirinya serta keluarganya dalam bahaya. Ree mendatangi setiap orang yang ia yakini pernah berhubungan dengan ayahnya, dan ini tentu saja membuat dirinya seolah hadir sebagai pengganggu. Ekstrimnya, pencarian yang ia lakukan bagaikan sebuah misi bunuh diri yang sudah jelas hasil akhirnya. Namun dengan modal keberanian dan kegigihannya, apakah masih ada harapan bagi Ree untuk dapat menemukan ayahnya? Dalam melalui kesulitan ini, untungnya dia tidak sendiri. Masih ada Gail (Lauren Sweetser), sahabat karibnya yang selalu mendukungnya. Selain itu masih ada pamannya, Teardrop (John Hawkes)—drug-addict yang awalnya menentang Ree untuk ikut campur dalam urusan yang seharusnya ditangani sendiri oleh ayahnya. Namun, pada akhirnya ia pun bersedia membantu mencari informasi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa aura yang dibawa film ini begitu kelam dan cenderung depresif. Dengan setting di daerah terpencil yang tampak seperti area post-catastrophe, mood film ini memang dijaga agar tetap terasa kekelamannya. Michael McDonough—sang cinematographer, juga ikut andil dalam membangun mood film dengan gambar-gambar yang cenderung ber-tone gelap. Terkesan dingin, namun indah untuk dipandang. Sepanjang film, adegan-adegannya sepi dari musik latar. Namun bukan berarti film ini total mengabaikan musik pengiring. Meskipun kemunculannya minim, namun score garapan Dickon Hinchliffe mampu mengisi tiap adegannya dengan baik. Jangan lupakan sisipan lagu-lagu beraliran bluegrass dengan vokal menawan dari Marideth Sisco yang ikut muncul dalam salah satu adegan. Kehadiran lagu-lagu yang menyejukkan hati ini mengimbangi kelamnya tone film.

Debra Granik—sang sutradara sekaligus penulis naskahnya (bersama Anne Rosellini), berhasil mengadaptasi novel karya Daniel Woodrell menjadi sebuah film yang memikat—mencekam namun sekaligus memancarkan optimisme. Granik patut diberi kredit tersendiri berkaitan dengan keseriusannya dalam mengerjakan proyek ini. Konon ia menghabiskan waktu sekitar dua tahun untuk mengobservasi kehidupan masyarakat di Ozark demi keotentikan film ini nantinya. Dan kerja kerasnya terbukti membuahkan hasil yang maksimal. Meskipun saya tidak pernah tinggal di Ozark (bahkan nama daerah ini pun baru saya dengar melalui film ini), namun saya cukup yakin bahwa apa yang ditampilkan Granik disini adalah gambaran dari realita yang ada. Potret kehidupan masyarakat miskin di pinggiran Amerika ini mampu melibatkan emosi saya sebagai penonton tanpa terkesan manipulatif. Semuanya tampak natural.

Kesan realisme yang timbul juga tidak lepas dari peran para aktor dan aktrisnya yang berhasil menghidupkan masing-masing karakternya dengan meyakinkan. Sebagai Teardrop—paman Ree yang pecandu obat dan temperamental, John Hawkes sukses menampilkan permainan memukau. Ia mampu mengesankan sifat antagonis di awal kemunculannya yang pada akhirnya berubah simpatik. Selain Hawkes, pemeran pendukung lainnya juga menampilkan performa yang meyakinkan, mulai dari Dale Dickey, Lauren Sweetser, sampai pemeran kedua adik Ree yang membawa keceriaan tersendiri melalui kepolosan mereka. Namun tentu saja bintang dalam keseluruhan film ini adalah Jennifer Lawrence sebagai Ree Dolly, sang tokoh utama penggerak cerita. Lawrence memancarkan pesona natural yang membuat kehadirannya di layar begitu mencuri perhatian. Kekuatan dan keberanian seorang gadis remaja dalam menghadapi berbagai kesulitan nampak jelas melalui karakternya, namun di sisi lain ia juga rapuh. Salah satu scene di tengah hutan saat Ree meminta nasehat pada ibunya sangatlah emosional. Di titik ini penonton dibuat tersadar bahwa dibalik sosok tegar itu, Ree tetaplah seorang remaja yang membutuhkan topangan. Lebih jelasnya, ia membutuhkan figur orangtua yang layak. Tidak diragukan lagi, ini adalah peran yang akan meroketkan nama Jennifer Lawrence dan membuatnya menjadi salah satu komoditi panas di kancah perfilman Hollywood.

Kesuksesan feature film kedua arahan Debra Granik ini di event Sundance Film Festival beberapa waktu lalu tidaklah mengherankan mengingat kualitasnya yang sangat prima. Tidak mengherankan juga jika film ini nantinya menjadi primadona di ajang penghargaan paling bergengsi di Hollywood—Academy Awards. Jennifer Lawrence jelas harus mendapatkan setidaknya nominasi sebagai Aktris Terbaik. Di luar potensinya dalam menarik perhatian berbagai ajang penghargaan, film ini memang sangat patut diapresiasi oleh para penikmat film. Salah satu drama terbaik yang menggambarkan realita kehidupan dengan jujur dan apa adanya. Definitely worth watching!

Rating : 9/10

Wednesday, November 10, 2010

The Brood (1979)

Genre : Horror/Sci-Fi

Pemain : Art Hindle, Samantha Eggar, Oliver Reed, Cindy Hinds, Nuala Fitzgerald, Harry Beckman

Sutradara : David Cronenberg

Penulis : David Cronenberg

Distributor : New World Pictures

Durasi : 92 menit




"Thirty seconds after you're born you have a past and sixty seconds after that you begin to lie to yourself about it."

-Juliana-

David Cronenberg. Mendengar nama itu, tiba-tiba langsung terlintas di benak saya poster film Eastern Promises. Kenapa harus film itu? Karena itulah satu-satunya film beliau yang familiar bagi saya, padahal saya sendiri pun belum sempat menontonnya (I'm not kidding). Anyway, posternya keren, maka dari itu image-nya masih melekat di benak saya. Oke, saya tidak akan membahas film tersebut lebih lanjut, melainkan karya Cronenberg di paruh awal karirnya. Cronenberg dikenal sebagai salah satu sutradara penghasil film-film yang memiliki istilah body horror ataupun biological horror. Sesuai namanya, film jenis ini menempatkan tubuh (manusia) sebagai pemicu nuansa horornya. Virus, mutasi, sampai peletakan anggota tubuh yang abnormal adalah beberapa contoh isu yang diangkat dalam sebuah body horror.

Sekilas dari premisnya, The Brood tampak seperti sebuah film horor yang memasang sosok anak kecil sebagai penebar terornya. Cukup dengan premis seperti itu, saya langsung tertarik untuk menyantap film ini. Entah mengapa, film horor dengan tema evil child atau disturbed child seperti ini memiliki daya tarik tersendiri bagi saya. The Omen dan Orphan adalah 2 contoh film yang menawarkan tema tersebut dan berhasil memikat atensi saya. Bahkan film busuk berjudul Case 39 pun terasa cukup menghibur berkat performa apik Jodelle Ferland—satu-satunya aktris dengan akting paling meyakinkan disitu (sorry Zellweger, this time you suck).

The Brood menandai perkenalan saya dengan film-film besutan Cronenberg dan ternyata film ini bukan hanya sebuah pertunjukan penuh teror yang datang dari sesosok anak kecil. Ini adalah sebuah karya yang sangat personal bagi Cronenberg karena bisa dibilang cerita dalam film ini merupakan refleksi dari tragedi di kehidupan pribadinya. Saat itu beliau sedang menghadapi perceraian sekaligus perebutan hak asuh putrinya. Dalam filmnya ini, isu perceraian dan hak asuh anak juga dikemukakan, dengan tambahan isu lain mengenai child abuse, trauma masa lalu, sampai sebuah terapi non-konvensial yang disebut psychoplasmic. Semua itu dibungkus dalam sajian horor penuh misteri dengan sebuah twist di akhir.

Psychoplasmic—sebuah metode terapi yang begitu asing di telinga saya. Entah memang nyata atau hanya fiksi belaka, dalam film ini digambarkan bahwa metode tersebut adalah sebuah jalan bagi seseorang (pasien) untuk mengeluarkan semua emosi negatif yang ia pendam dengan efek samping berupa timbulnya suatu bekas pada tubuhnya (semacam luka, bisul, ataupun "jejak-jejak" lainnya). Dr. Hal Raglan (Oliver Reed)—seorang psikiater sekaligus penulis buku The Shape Of Rage yang menerapkan metode tersebut pada pasiennya. Salah seorang pasiennya bernama Nola Carveth (Samantha Eggar) yang sedang melalui masa-masa sulit pasca perpisahan dengan suaminya, Frank (Art Hindle) dan juga putri semata wayangnya, Candice (Cindy Hinds). Bermula dari kecurigaan Frank terhadap Nola yang diyakini pernah menyakiti Candice secara fisik, berbagai pembunuhan sadis mulai terjadi di sekitarnya. Diketahui kemudian bahwa pelakunya adalah sesosok makhluk kecil bertudung. Sementara itu, Frank tetap bersikeras mempertahankan putrinya dan menjauhkannya dari Nola sekaligus mengungkap misteri yang ada di tubuh Somafree—institusi psychoplasmic milik Dr. Raglan.

Kramer vs Kramer versi horor, itulah pendeskripsian Cronenberg untuk film garapannya ini. Pernyataan tersebut memang cukup tepat mengingat kedua film tersebut sama-sama menggambarkan kasih sayang seorang ayah serta perjuangannya untuk mempertahankan hak asuh atas anaknya. Namun, tidak ada courtroom scene penguras emosi di sini. Yang bisa anda saksikan adalah sesi terapi yang mengeksplor berbagai emosi negatif dalam diri manusia, seperti rasa dendam, amarah, sampai keinginan untuk membunuh. Dan layaknya Kramer vs Kramer, film ini juga didukung jajaran pemain yang berperan dengan sangat baik. Performa paling menonjol dihadirkan oleh Oliver Reed dan Samantha Eggar. Sebagai Dr. Raglan, Reed berhasil menampilkan karakter misterius yang penuh ambiguitas. Sulit menerka apakah ia memang benar tokoh villain atau bukan. Samantha Eggar juga bermain dengan gemilang sebagai Nola—seorang istri dan ibu yang depresif. Ia berhasil mengeluarkan aura mengerikan dengan kelabilannya, namun sekaligus menimbulkan rasa simpati pada penonton. Secara keseluruhan, ensemble cast-nya tampil meyakinkan.

Sebagai sebuah film horor, saya akui film ini berhasil memberikan aura mencekam secara efektif. Beberapa adegannya sempat membuat bulu kuduk saya berdiri, terutama adegan menjelang akhir film yang cukup mencengangkan. It's one of the best "what the fuck moments" I've ever seen. Adegan apa? Saya tidak akan mengobral spoiler, thanks. Feel horor yang ada semakin dipertegas dengan music score garapan Howard Shore—komposer peraih Oscar melalui karya fenomenalnya dalam trilogi The Lord Of The Rings. The Brood menjadi awal dari kerjasama berkelanjutan antara Howard Shore dengan David Cronenberg. Setelah film ini, semua film Cronenberg diisi dengan music score gubahan Shore, kecuali satu film berjudul The Dead Zone.

Dengan semua komponennya yang menarik, mulai dari naskah, deretan pemain, sampai berbagai hal teknisnya, film ini berhasil masuk ke dalam list film-film favorit saya. Walaupun alurnya cenderung lambat, semuanya dibayar tuntas dengan eksekusinya yang berkesan secara keseluruhan. Highly recommended.

Rating : 8/10

Sunday, October 24, 2010

The Hole (2001)

Genre : Drama/Mystery/Thriller

Pemain : Thora Birch, Keira Knightley, Desmond Harrington, Laurence Fox, Daniel Brocklebank, Embeth Davidtz

Sutradara : Nick Hamm

Penulis : Guy Burt (novel), Ben Court & Caroline Ip (screenplay)

Distributor : Pathe Distribution

Durasi : 102 menit

MPAA : Rated R for pervasive language, some violence, sexuality/nudity and drug use


"When you're convinced of your own absolute superiority, you don't need help from mere mortals like me. You can fuck things up all by yourself."
-Martyn-

Ketertarikan saya terhadap film ini muncul tiba-tiba, karena sebelumnya saya sama sekali asing dengan judul film produksi Inggris ini. Saat itu saya sedang berada di salah satu rental home video paling keren di Jakarta (no joke), dan tanpa sengaja saya melihat cover DVD film berjudul The Hole. Yang membuat saya tertarik, ada wajah Keira Knightley disitu. Penampilan Knightley pra kesuksesan trilogi Pirates of the Caribbean? So tempting! Dan yang semakin menarik atensi saya adalah genre yang ditawarkan film ini—mystery/thriller. Tanpa pikir panjang, saya langsung membawa film ini ke kasir. Ekspektasi saya tidak terlalu besar karena film ini tampak seperti film thriller indie biasa dengan premis cerita sederhana. Yang ingin saya lihat adalah si cantik Keira Knightley yang katanya tampil cukup "berani" disini dalam usianya yang masih 16 tahun. Sounds pervert? Whatever.

Film dibuka dengan adegan seorang gadis berjalan sempoyongan di sepanjang jalanan sepi yang di sekelilingnya penuh pamflet berita orang hilang. Gadis tersebut terlihat tergesa-gesa memasuki suatu kompleks sekolah-asrama. Sesampainya di dalam, ia terjatuh lemas setelah menjerit meminta bantuan. Kemudian diketahui bahwa ia adalah salah satu murid di sekolah tersebut yang diberitakan hilang 18 hari sebelumnya. Seorang psikolog dari kepolisian—Dr. Philippa Horwood (Embeth Davidtz) bertugas menggali informasi dari gadis bernama Liz (Thora Birch) tersebut. Lalu Liz mulai menceritakan kejadian yang dialaminya saat ia diberitakan hilang. Melalui cerita yang dipaparkannya, terkuak bahwa Liz bersama 3 orang lainnya—Frankie (Keira Knightley), Mike (Desmond Harrington), dan Geoff (Laurence Fox) disekap dalam sebuah bunker peninggalan zaman perang di hutan sekitar sekolahnya. Dan pelakunya adalah Martyn (Daniel Brocklebank), teman Liz sendiri.

Saat misteri hilangnya Liz beserta tiga orang lainnya mulai terkuak, misteri baru timbul saat polisi menginterogasi Martyn, sang tersangka. Versi yang diceritakan Martyn jauh berbeda dengan apa yang disampaikan Liz sebelumnya. Dari sini, cerita mulai bergerak lebih menarik. Versi pertama (dari sudut pandang Liz) tergambar bahwa Liz adalah remaja biasa yang jauh dari kata populer, sahabat karib Martyn, dan tergila-gila pada Mike. Akibat niat jahat Martyn, Liz beserta tiga orang lainnya—Frankie, Geoff, dan juga Mike terkurung dalam sebuah bunker bawah tanah di tengah hutan. Mereka disekap disana tanpa ada seorang pun yang mengetahui keberadaan mereka selain Martyn. Versi kedua (dari sudut pandang Martyn), Liz adalah gadis bitchy, sahabat karib Frankie, dan juga tergila-gila pada Mike. Dalam usahanya merebut hati Mike, Liz berencana menghabiskan akhir pekan dengan berpesta di sebuah bunker terpencil yang dulu pernah ditunjukkan Martyn padanya. Jelas terlihat bahwa Martyn bukanlah orang yang bertanggungjawab atas menghilangnya keempat remaja tersebut.

Cukup menarik untuk menebak-nebak siapa yang menceritakan fakta sebenarnya diantara mereka berdua. Paruh awal film sedikit membosankan karena minim konflik dan cenderung datar. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, film mulai beranjak lebih menarik saat adegan Martyn diinterogasi. Cerita versi Martyn ditimpali pula dengan adegan-adegan yang timbul dari kilasan memori Liz. Saya pun semakin tertarik untuk mengikuti kelanjutan ceritanya. Namun saat memasuki satu jam durasi, saya sudah bisa menebak kemana arah film ini. Saya tetap bertahan untuk terus menonton demi bisa mengetahui akhir kisahnya agar bisa dengan puas berkata : "sudah kuduga". Ya, siapa pemicu masalah sebenarnya serta motif yang melatarinya ternyata memang sesuai dugaan saya. Walaupun cukup predictable dan banyak plot hole disana-sini, namun secara keseluruhan ceritanya masih enak diikuti.

Semua pemainnya bermain dengan kadar cukup, tidak terlalu menonjol. Thora Birch lah yang cukup menarik perhatian saya dengan aksen British-nya yang meyakinkan (menurut telinga saya). Lalu bagaimana dengan Keira Knightley yang tampil berani (baca : pamer dada) disini? Lumayan oke lah, meskipun saya tidak sampai berteriak "ten out of ten!" seperti Desmond Harrington (cuma sedetik sih, jadinya kurang berkesan). Di luar itu, Knightley memang terlihat mempunyai potensi untuk menjadi aktris besar, dan saat ini ia sudah berhasil membuktikannya.

Untuk penyuka film thriller yang lebih menekankan sisi psikologis dibanding adegan gore yang tidak perlu, saya merekomendasikan The Hole sebagai alternatif tontonan. Film ini juga mengeksplor sejauh mana seseorang mampu bertindak demi mendapatkan apa yang ia inginkan. Obsesi memang bisa membutakan—membuat seseorang terjerat dalam hawa nafsunya sendiri sehingga tidak peka lagi terhadap lingkungan sekitar. Tanpa bermaksud memberikan spoiler, menurut saya ending film ini akan membuat sebagian penonton kesal setengah mati. Just my thought.

Rating : 6/10

Monday, July 28, 2008

Definitely, Maybe (2008)

Genre : Comedy/Drama/Mystery/Romance

Pemain : Ryan Reynolds, Isla Fisher, Derek Luke, Abigail Breslin, Elizabeth Banks, Rachel Weisz

Sutradara : Adam Brooks

Penulis : Adam Brooks

Produser : Tim Bevan, Eric Fellner

Distributor : Universal Pictures

Durasi : 112 menit


Maya Hayes : "What's a threesome?"

Will Hayes : "It's a game, that adults play sometimes... When they're bored."
Maya Hayes : "...Whatever."

Saya tertarik untuk menonton film ini karena melihat berbagai review dari kritikus luar yang mayoritas positif plus premis cerita yang cukup menarik dan berbeda dibanding film komedi romantis pada umumnya. Sekilas, alur cerita film ini mirip dengan apa yang pernah ditampilkan di sitcom 'How I Met Your Mother'. Walau mungkin ide cerita film ini kurang orisinil, tapi keterlibatan aktor aktris yang cukup menjanjikan dalam proyek ini tentunya patut disimak.

Bercerita tentang seorang pria beranak satu—Will Hayes (Ryan Reynolds), yang pernikahannya sedang di ambang perceraian. Suatu malam, putrinya—Maya (Abigail Breslin) meminta Will untuk menceritakan kisah yang selama ini belum pernah ia ketahui, yaitu pertemuan ayah dan ibunya di masa lalu sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Will yang semula enggan akhirnya bersedia menceritakan kisah tersebut dengan mengubah nama tiga wanita yang pernah mengisi masa lalunya agar Maya menebak siapa diantara ketiga wanita tersebut yang akhirnya menikah dengan ayahnya, yang tidak lain adalah ibunya.

Ketiga wanita tersebut diceritakan bernama Emily, Summer, dan April. Emily adalah teman sekampus Will sekaligus kekasihnya. Karir yang menjanjikan membuat Will pindah dari Wisconsin ke New York untuk mengikuti kampanye tim sukses Bill Clinton. Karirnya yang berkembang berbanding terbalik dengan kehidupan cintanya saat Emily mengaku berselingkuh dengan sahabat Will sendiri. Hubungan mereka akhirnya putus walaupun Will sudah terlanjur melamar Emily.

Kemudian ada Summer, seorang jurnalis yang merupakan sahabat Emily. Hubungan antara Will dan Summer awalnya hanya sebatas teman, tapi akhirnya mereka menjalin hubungan yang cukup serius. Bahkan, Will sempat bertunangan dengan Summer. Tapi hubungan mereka pun berakhir saat Summer melakukan sesuatu yang membuat karir Will terancam.

Terakhir ada April, seorang copy girl di tempat Will bekerja. Pembawaan April yang ceria dan cerdas membuat Will tertarik, meskipun hanya menganggapnya sebagai sahabat. Lama kelamaan April mulai menyadari bahwa orang yang selama ini dicintainya adalah Will. Tapi ia mengurungkan niat untuk menyatakan perasaannya karena saat itu Will akan bertunangan dengan Summer. Di lain waktu, saat Will juga mulai menyadari perasaannya terhadap April, ternyata gadis tersebut sudah menjalin hubungan dengan pria lain. Ditambah dengan kegundahan akan kelanjutan karirnya, Will mulai beralih menjadi peminum berat. Di saat ia memiliki kesempatan untuk menyatakan perasaannya pada April, Will malah mengacaukan segalanya dengan menyinggung perasaan gadis tersebut. Hubungan mereka pun akhirnya berantakan.

Dengan semua konflik dalam kehidupan percintaannya, siapakah akhirnya yang akan dipilih Will untuk menjadi istrinya? Bisakah Maya menebak siapa diantara ketiga wanita tersebut yang akhirnya menjadi ibunya? Yup, banyak pertanyaan yang membuat saya penasaran saat menonton film ini. Itulah keunikan dari film ini, sebuah komedi romantis yang menyimpan banyak misteri. Misterinya memang tidak akan membuat kita tegang layaknya menonton sebuah film horor, tapi pasti bikin geregetan. Rasa penasaran saya akan siapa wanita yang akhirnya menjadi istri Will memang terjawab, tapi ternyata bukan itu inti sebenarnya dari film ini. Menemukan orang yang tepat, itulah inti yang saya tangkap dari film ini. Pesan saya : mantapkan pilihan anda sebelum memutuskan untuk berumah tangga. LOL

Selain unsur misteri yang jarang ditemui di film romcom lain, performa para pemainnya yang apik juga cukup menarik perhatian saya. Interaksi antara Ryan Reynolds dan Abigail Breslin begitu enak disimak. Rachel Weisz, Elizabeth Banks, dan juga Isla Fisher memancarkan pesona aktingnya masing-masing, yang membuat karakter mereka tidak hanya muncul sebagai pemanis belaka. Didukung dengan naskah yang memuat dialog-dialog cerdas dan menggelitik, menjadikan film ini sebagai sebuah tontonan yang menghibur sekaligus berbobot. Sangat direkomendasikan bagi penikmat film komedi romantis, juga penikmat film pada umumnya yang mengharapkan sebuah tontonan yang segar dan berbeda.

8/10

Tuesday, June 17, 2008

Indiana Jones And The Kingdom Of The Crystal Skull (2008)

Genre : Action/Adventure

Pemain : Harrison Ford, Ray Winston, Shia LaBeouf, Cate Blanchett, Karen Allen

Sutradara : Steven Spielberg

Penulis : David Koepp

Produser : Frank Marshall


Distributor : Paramount Pictures

Durasi : 122 menit




Marion Ravenwood : "
So, you still living in a trail of human wreckage or have you retired?"
Indiana Jones : "Why, you're looking for a date?"

Marion Ravenwood : "Anyone but you!"



Tidak terasa, perang film-film summer sudah sebulan jalan. Dan menurut saya, semua film summer yang sudah rilis rata-rata oke dari segi kualitas dan nilai hiburan. Tapi tidak seperti tahun lalu, sekarang saya agak malas untuk menyaksikan film summer saat premier-nya. Don't know why. Meski begitu, saya masih menyempatkan diri untuk menonton di bioskop walaupun kadang cuma sendirian yang ternyata justru lebih asik ketimbang nonton rame-rame (but it depends on my mood too).

Untuk film Indiana Jones yang ke-4 ini, saya cukup berharap banyak terhadap hasil akhirnya. Di luar fakta bahwa saya sama sekali belum pernah menonton ketiga film sebelumnya (pity, huh?), saya cukup yakin bahwa film ini bakal mempunyai kualitas lebih secara ada nama Steven Spielberg dan George Lucas yang mendalangi proyek ini. Dengan mengambil setting sekitar 19 tahun setelah film terakhirnya, Indiana Jones—yang akrab dipanggil Indy, kembali beraksi di layar lebar dengan tetap diperankan oleh Harrison Ford yang meskipun sudah tampak sekali ketuaannya tapi masih terlihat prima dan suka tidak suka ia lah ikon dari franchise ini.

Diceritakan Indy terpaksa harus meninggalkan pekerjaannya di Marshall College karena tekanan pemerintah yang mencurigai aktifitasnya selama ini. Setelah keluar dari kampus, hasrat petualangannya semakin berkobar dan ia memutuskan untuk mengungkap kebenaran legenda The Crystal Skull of Akuator. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang pemuda yang juga berjiwa petualang bernama Mutt Williams (Shia LaBeouf). Akhirnya ia memutuskan untuk ikut mencari keberadaan Crystal Skull. Ternyata selain mereka, ada pihak lain yang menginginkan Crystal Skull tersebut yaitu agen-agen Soviet pimpinan Irina Spalko (Cate Blanchett). Secara tak terduga, Indiana bertemu kembali dengan mantan kekasihnya, Marion Ravenwood (Karen Allen) serta sahabatnya Mac (Ray Winstone) yang kesetiannya patut dipertanyakan. Dari sini, dimulailah aksi memperebutkan Crystal Skull tersebut.

Yang membuat saya heran, setelah wakru 19 tahun yang dibutuhkan untuk membangkitkan kembali franchise Indiana Jones, kenapa Spielberg dan Lucas memilih naskah se-usang ini? Padahal kabarnya mereka sempat gonta-ganti penulis naskah demi kesempurnaan cerita seri terbaru ini. Sumpah, satu jam pertama benar-benar membuat saya bosan. Walaupun dihadirkan cukup banyak adegan aksi termasuk di awal film, tapi tingkat keseruannya sama sekali tidak membuat saya excited. Dan di pertengahan film mulai diungkap apa sebenarnya Crystal Skull itu. Parahnya, itu malah membuat ketertarikan saya semakin berkurang dan semuanya jadi terkesan konyol. Bagi anda fans serial The X-Files, silakan bersorak, karena sepertinya film ini dibuat sebagai pemanasan untuk menyambut perilisan film The X-Files 2 bulan Juli nanti.

Performa yang paling menonjol tentunya datang dari Harrison Ford. Fisiknya yang semakin menua justru membuatnya semakin berkharisma. Salah satu aktris favorit saya—Cate Blanchett, meskipun tidak menampilkan akting terbaiknya tapi tetap memukau (notice her hair. Anton Chigurh should propose her!). Pemain lainnya menurut saya tidak begitu istimewa. Shia LaBeouf juga tampak lebih enjoy saat bermain di Transformers.

Terakhir, saya cuma ingin iseng mengomentari adegan menuju ending, saat kehancuran sebuah bangunan yang penting dalam cerita film ini. Adegan tersebut mengingatkan saya pada ending The Mummy Returns. Seingat saya, dulu franchise The Mummy sempat disebut sebagai Indiana Jones wannabe. Dan sekarang, wacana tersebut jadi terkesan ironis. Menonton film ini tidak ada bedanya dengan menonton film-film adventure kebanyakan seperti franchise The Mummy, Tomb Raider, ataupun National Treasure. Mungkin ini karena saya belum familiar dengan franchise Indy sehingga tidak ada keterkaitan emosi antara saya dengan kisahnya di film ini. Lain halnya dengan penonton yang sudah mengikuti sepak terjangnya dari awal yang mungkin akan merasakan nostalgia dengan kehadiran seri terbaru ini. Saya masih sedikit berharap, jika Spielberg merencanakan untuk membuat kelanjutannya semoga ia bisa menemukan naskah yang lebih segar dan bisa dinikmati oleh penonton baru sekalipun.

5/10