Showing posts with label Coming Of Age. Show all posts
Showing posts with label Coming Of Age. Show all posts

Saturday, June 11, 2011

5 Centimeters Per Second (2007)


Genre : Animation, Drama, Romance | Pengisi Suara : Kenji Mizuhashi, Yoshimi Kondou, Satomi Hanamura, Ayaka Onoue | Sutradara : Makoto Shinkai | Penulis : Makoto Shinkai | Produksi : CoMix Wave, ADV Films | Durasi : 63 menit

"The speed at which the sakura blossom petals fall... Five centimeters per second."
-Akari-

Salah satu alasan mengapa saya begitu menikmati film animasi produksi Studio Ghibli adalah berkat tampilan animasi tradisionalnya yang memukau. Selain faktor ceritanya yang selalu berhasil menyentuh hati, film-film Studio Ghibli memang kerap pandai memanjakan mata tiap penontonnya. Namun disini, saya tidak akan membahas salah satu film animasi rilisan studio tersebut. Ada satu film animasi Jepang (anime) yang baru-baru ini saya tonton dan sukses membuat sepasang mata ini terbelalak dan mulut ini berdecak kagum dengan kemegahan visualnya. Sebutan banyak orang untuk Makoto Shinkai sebagai "the next Hayao Miyazaki" memang bukan tanpa alasan. Apa yang dicapainya melalui 5 Centimeters Per Second ini memang luar biasa.

Film yang memiliki durasi sekitar satu jam ini menawarkan cerita yang sepertinya sudah umum dipakai dalam film-film drama romantis—tentang dua insan manusia yang saling mencintai namun terpisahkan oleh jarak. Maksud dari judul film ini sendiri bisa dibilang merupakan metafora dari kondisi tersebut. Lima senti per detik, konon itulah kecepatan kelopak bunga sakura saat jatuh dari pohonnya. Layaknya bunga sakura, beberapa orang bisa saja memulai awal kehidupan mereka bersama, namun suatu saat mereka bukan tidak mungkin akan terpisahkan, bagai kelopak bunga yang berguguran, lima senti per detik. In our lives, people come and go. Mungkin itulah yang ingin disampaikan Shinkai melalui film besutannya ini.

Dua insan yang saling mencintai itu adalah Takaki Tono (Kenji Mizuhashi) dan Akari Shinohara (Yoshimi Kondou, Ayaka Onoue). Sejak Akari pindah ke SD yang sama dengan Takaki, keduanya mulai menjalin hubungan yang semakin lama semakin erat berkat kesamaan yang mereka miliki. Hubungan mereka mulai diuji saat Akari dan keluarganya harus pindah ke luar kota yang jaraknya cukup jauh. Namun mereka masih sering berkomunikasi melalui surat menyurat (errr...di sini telepon genggam dan internet belum mewabah). Suatu ketika, Takaki juga harus pindah rumah bersama keluarganya ke kota lain yang ternyata jaraknya semakin jauh dengan tempat tinggal Akari. Sebelum kepindahannya, Takaki memutuskan untuk sekali lagi menemui Akari dan menyatakan perasaannya melalui surat yang ia bawa.

Waktu berlalu, cerita pun bergulir saat Takaki sudah hampir lulus SMA. Jarak dan waktu masih memisahkannya dengan Akari. Namun ia masih terus mengingatnya, hingga tak menyadari bahwa ada gadis lain yang menaruh perhatian padanya. Dialah Kanae Sumida (Satomi Hanamura), teman sekelas Takaki yang mulai menyukainya sejak mereka masih duduk di bangku SMP. Kanae yang masih belum berani menyatakan perasaannya hanya mampu menatap Takaki saat sedang latihan memanah, kemudian menunggunya diam-diam di tempat parkir agar bisa pulang bersama. Suatu malam mereka membicarakan kekhawatiran masing-masing akan masa depan. Dari sinilah Kanae semakin menyadari bahwa Takaki selalu melihat jauh ke depan, kepada sesuatu yang tidak pernah ia ketahui selama ini.

Di babak terakhir, kita diperlihatkan dengan Takaki dan Akari yang sudah tumbuh dewasa. Apakah mereka bersama atau tidak, hanya bisa anda ketahui dengan menonton sendiri film yang bagi saya sangat menyentuh ini. Cerita yang diangkat mungkin bukan barang baru, namun Shinkai mampu merangkainya menjadi sebuah untaian kisah tiga bagian yang begitu puitis dan menyentuh hati. Setiap orang mungkin memiliki cinta pertama yang tak akan pernah mereka lupakan, dan film ini akan membuat mereka kembali mengingatnya. Kisah yang akan terasa personal bagi sebagian orang ini, dipercantik dengan komposisi musiknya yang indah dan visualnya yang menakjubkan. Ya, komponen paling kuat yang ada dalam anime ini adalah gambar-gambar cantik yang disajikan Shinkai di sepanjang film. Bahasa gambar disini sudah berbicara banyak kepada penontonnya tanpa perlu berkata-kata. Silakan tonton sendiri untuk membuktikan kedahsyatan visualnya.

Rating : 8/10

Saturday, June 4, 2011

Ocean Waves (1993)


Genre : Animation, Drama, Romance | Pengisi Suara : Nobuo Tobita, Toshihiko Seki, Yoko Sakamoto | Sutradara : Tomomi Mochizuki | Penulis : Saeko Himuro (novel) | Produksi : Studio Ghibli | Durasi : 72 menit

"The whole thing was starting to feel like a bad soap opera."
-Taku-

Orang bilang, masa SMA adalah masa-masa yang paling indah. Saya bilang, masa SMA adalah masa-masa yang paling labil. Meski sampai sekarang pun terkadang saya masih merasa bingung dengan apa yang benar-benar saya inginkan dalam hidup alias sedang dalam tahap pencarian jati diri, namun di usia SMA-lah pertanyaan-pertanyaan eksistensial (halah!) ini mulai sering hinggap di benak saya, Tapi di luar itu, saya akui masa SMA itu memang mengasyikkan. Pengalaman tiap orang di masa tersebut tentunya berbeda-beda, namun saya yakin mayoritas individu pasti pernah mengalami rasa ini : ketertarikan terhadap individu lain, atau bahasa umumnya—jatuh cinta. Tema tentang romantika masa SMA inilah yang diangkat melalui sebuah film animasi tv produksi Studio Ghibli yang berjudul Ocean Waves (Umi ga kikoeru).

Tokoh utama kita adalah Taku Morisaki (Nobuo Tobita), seorang mahasiswa yang akan menghadiri reuni SMA di kampung halamannya di prefektur Kochi. Sebelum berangkat, ia melihat sosok perempuan yang sekilas tampak tidak asing baginya. Dalam penerbangan ke kampung halamannya, Taku mengingat kembali kenangan yang ia alami semasa SMA. Dari sinilah cerita kemudian bergerak mundur ke dua tahun sebelumnya, saat Taku pertama kali bertatap muka dengan seorang perempuan yang tidak akan pernah ia lupakan. Namanya Rikako Muto (Yoko Sakamoto), seorang siswi pindahan dari Tokyo.

Yutaka Matsuno—sahabat Taku sejak SMP-lah yang mengenalkannya pada Rikako. Melalui beberapa dialog, cukup terlihat bahwa Yutaka menyukai Rikako. Taku sendiri menyimpan rasa kagum terhadap Rikako yang begitu menonjol di bidang akademis. Namun sikap Rikako yang penyendiri dan terkesan angkuh membuatnya dijauhi anak-anak lain. Kedekatan antara Taku dan Rikako mulai muncul saat sekolah mereka mengadakan liburan ke Hawaii. Suatu ketika, tiba-tiba Rikako menghampiri Taku dan mencoba meminjam uang darinya dengan alasan seluruh uang tunai yang dibawanya hilang. Urusan pinjaman inilah yang akhirnya membuat mereka menjadi lebih dekat, meski sempat diwarnai kesalahpahaman.

Dibandingkan dengan animasi Ghibli yang lain, film yang dibuat khusus untuk konsumsi tv ini terkesan kurang sorotan. Saya sendiri sebelumnya sama sekali asing dengan judul film ini. Namun setelah saya coba tonton, ternyata ini lebih dari sekedar sebuah tayangan untuk televisi. Meskipun kesan yang ditimbulkan masih di bawah Whisper Of The Heart—animasi Ghibli lain yang juga menyorot problematika masa remaja, namun film ini juga mampu bersuara lantang dengan muatan yang dikandungnya. Ceritanya memang sederhana, namun begitu membekas. Bahkan bukan tidak mungkin jika film ini berhasil menghadirkan kembali nostalgia saat anda berada di bangku sekolah dulu.

Selain ceritanya yang sederhana, kelebihan utama yang dimiliki film ini adalah karakterisasi tokoh-tokohnya. Taku dan Rikako digambarkan sebagai remaja biasa yang dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari, atau bahkan mungkin mereka adalah refleksi dari diri kita sendiri di masa lalu. Permasalahan yang mereka alami juga disampaikan dengan wajar, tidak mengada-ada. Walaupun apa yang dialami mereka tidak sama persis dengan apa yang pernah saya alami, namun saya masih bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Kedekatan inilah yang membuat Ocean Waves terasa begitu spesial. Jangan harapkan drama melodramatis ala Hollywood yang seringkali memanipulasi emosi penontonnya dengan suguhan yang terlalu dibuat-buat. Film ini tampil apa adanya. Itulah kelebihannya.

Ditutup dengan ending yang manis, film yang disutradarai oleh Tomomi Mochizuki ini berhasil menghangatkan hati saya di malam minggu yang sepi ini. Sebuah kisah coming of age yang subtil dan intim. Highly recommended!

Rating : 8/10

Tuesday, March 22, 2011

Movie Week #02 : Love Is Never Easy

Oke, sebenarnya postingan ini rencananya ingin saya publikasikan lebih dari sebulan yang lalu (bertepatan dengan hari Valentine. D'oh!). Tapi karena satu dan lain hal (yeah, mostly because of the laziness), akhirnya draft ini pun terbengkalai. Mumpung saat ini saya memiliki waktu luang dan cukup bersemangat, saya putuskan untuk menyelesaikan postingan ini. Cukup ironis mengingat semangat saya untuk menulis timbul saat kondisi tubuh ini sedang tidak fit. #curhat

Meskipun saya tidak merayakan dan bahkan tidak menemukan keistimewaan apapun dari sebuah hari bernama Saint Valentine's Day—atau lebih singkatnya Valentine's Day, namun saya masih bisa menemukan suatu kesenangan tersendiri tiap menjelang tanggal 14 Februari. Dengan semakin liarnya pertumbuhan pengguna media jejaring sosial, secara tidak langsung mempengaruhi saya untuk ikut merasakan atmosfer dari hari yang dianggap sakral oleh sebagian orang ini. Ya, menjelang Valentine, begitu banyak orang yang tampaknya terkena hype atau memang sungguh-sungguh menganggap istimewa hari tersebut dengan memajang komentar ataupun status yang penuh dengan nuansa cinta dan romantisme. Walaupun terkadang geli, namun ini adalah suatu hiburan tersendiri yang bisa membuat bibir ini tersenyum. Saya yang sebenarnya tidak berjiwa romantis (entah ini penyangkalan atau memang nyata adanya, saya sendiri masih bingung), jadi sedikit tertular demam Valentine. Belum lagi peran media lain seperti televisi misalnya, yang memanfaatkan momen ini untuk menayangkan film-film bergenre romantis. Saya pun semakin ikut-ikutan terbawa suasana hingga akhirnya berniat mengadakan movie week bertema cinta. Kelima film yang saya saksikan di minggu menjelang Valentine ini cukup menggambarkan pahit manisnya kehidupan cinta yang dijalani umat manusia (meski mayoritas bernada pahit dan cenderung depresif). Yeah, love is never easy, but it's worth fighting for. #eeaa


Never Let Me Go (2010)

Film yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Kazuo Ishiguro ini menawarkan cerita yang tragis, depresif, sekaligus menyentuh. Bersetting di sebuah alternative reality (menyerupai Inggris, meski tidak disebut secara spesifik) dimana ilmu medis sudah semakin berkembang, cerita berfokus pada kehidupan tiga tokoh utamanya—Kathy (Carrey Mulligan), Ruth (Keira Knightley), dan Tommy (Andrew Garfield) mulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Yang menarik (lebih tepatnya membuat miris), eksistensi mereka di dunia ternyata sudah dirancang sedemikian rupa untuk suatu tujuan. Tanpa membeberkan plotnya lebih jauh, saya hanya ingin mengatakan bahwa walaupun keberadaan serta nasib yang diemban ketiga tokoh utamanya (sepertinya) hanya bisa ditemukan dalam kisah fiksi, namun kisah mereka juga terasa paralel dengan apa yang dialami banyak orang di dunia nyata. Rasa takut akan kematian, rasa cinta, rasa cemburu, sampai pedihnya kehilangan seseorang yang dicintai adalah emosi yang lazim dirasakan oleh umat manusia. Oleh karena itu, apa yang dialami Kathy, Tommy, dan Ruth saya rasa mampu melibatkan emosi para penontonnya. Film ini memang memiliki tone yang muram dan cenderung depresif, namun pesan yang ingin disampaikan jelas positif. Hidup itu singkat, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya karena mungkin kesempatan kedua itu tidak akan pernah ada. That's what I got from this beautifully-made movie.

Rating : 8/10


Love Story (1970)

Kisah yang diangkat melalui film ini sangatlah klasik, tentang si pria kaya yang jatuh cinta pada si gadis miskin. Namun, seklise apapun kisahnya, saya akui ini adalah salah satu film paling romantis yang pernah dibuat. Melihat tahun rilisnya (1970), bisa dibilang film ini adalah pelopor film-film romantis yang melibatkan tragedi dalam alur kisahnya. Tearjerker? Absolutely. Walaupun kemasannya terkesan sederhana dilihat dari berbagai segi, namun hebatnya film ini berhasil memberikan kesan yang cukup mendalam. Ali MacGraw dan Ryan O'Neal memerankan pasangan yang tampak sangat serasi di layar. Interaksi antara mereka berdua seringkali diisi dengan dialog yang pintar, lucu, dan tentunya romantis. "Love means never having to say you're sorry" —salah satu kalimat yang diucapkan oleh keduanya, menjadi salah satu movie quote paling terkenal sampai saat ini. Selain chemistry dua bintang utamanya, yang juga membuat film ini begitu berkesan adalah score yang mengiringinya, simpel namun sangat membangun atmosfer film secara keseluruhan. Pertama mendengar dentingan pianonya, saya mulai merasa familiar dan pada akhirnya terngiang-ngiang terus di kepala. It's a heartbreaking yet romantic piece by Francis Lai. Tidak mengherankan ketika ia berhasil meraih piala Oscar atas komposisi musiknya tersebut. Diluar musik pengiringnya yang memang menghipnotis, sebagai sebuah sajian yang mengedepankan tema cinta antara sepasang insan manusia, Love Story patut dikenang sebagai salah satu film paling romantis sepanjang masa.

Rating : 7/10


Romeo Juliet (2009)

Siapa yang tidak familiar dengan kisah klasik karya pujangga ternama William Shakespeare yang berjudul Romeo And Juliet? Begitu terkenalnya kisah cinta tragis antar dua anak manusia ini hingga menarik perhatian sejumlah sineas untuk mengadaptasinya ke dalam format film layar lebar. Tak terkecuali Andibachtiar Yusuf, seorang sineas dalam negeri yang pernah menelurkan dua film dokumenter yang kental dengan unsur sepakbola. Kali ini, ia mencampurkan subjek favoritnya tersebut dengan kisah cinta terlarang ala Romeo And Juliet. Alih-alih keluarga Montague dan Capulet, yang kita dapat disini adalah perseteruan antara Viking versus The Jak—dua kubu suporter klub sepakbola yang terkenal sebagai musuh abadi. Romeo dan Juliet dalam film ini digambarkan melalui sosok Rangga (Edo Borne) dan Desi (Sissy Priscillia), dua anak muda yang tengah dimabuk cinta namun juga dilanda dilema. Dalam darah mereka mengalir kecintaan yang begitu besar terhadap komunitas masing-masing, namun apa daya hati mereka pun tidak bisa dibohongi. Hubungan mereka tentunya akan semakin memanaskan perseteruan antar kedua kubu. Tragedi pun tak dapat dihindarkan. Ya, serupa dengan kisah aslinya, film ini pun diwarnai dengan perseteruan dan tragedi. Adegan tawuran plus kata-kata makian menghiasi sepanjang film. Namun sayangnya, unsur romantisnya menurut saya kurang terbangun. Hubungan percintaan antara Rangga dan Desi entah kenapa terasa kurang believable. Sebagian dialognya pun masih terasa kaku dan tidak jarang terdengar menggelikan. Tapi pesan mengenai dampak dari fanatisme buta serta rasa dendam yang hanya akan membawa manusia pada kehancuran cukup tersampaikan dengan baik.

Rating : 5/10


Away From Her (2006)

Ini adalah sebuah debut penyutradaraan dari seorang aktris Kanada berbakat, Sarah Polley. Diadaptasi dari cerpen karangan Alice Munro berjudul The Bear Came Over The Mountain, film ini menyoroti kehidupan pasangan berusia senja yang harus menghadapi saat-saat tersulit dalam kehidupan rumah tangga mereka. Grant (Gordon Pinsent)—sang suami, menyadari bahwa istrinya, Fiona (Julie Christie) semakin hari semakin pelupa, yang menunjukkan gejala penyakit Alzheimer's. Setelah memikirkannya matang-matang, akhirnya Fiona setuju untuk dirawat di sebuah fasilitas khusus penderita Alzheimer's. Kesabaran Grant mulai diuji, karena selama 30 hari pertama ia tidak boleh mengunjungi istrinya yang menurut peraturan disana perlu penyesuaian diri dengan lingkungan barunya. Setelah masa penyesuaian itu berakhir, Grant pun harus menerima kenyataan pahit bahwa Fiona sudah tidak mengenali dirinya sebagai sang suami. Dan yang lebih buruk, Fiona tampak mencurahkan perhatiannya pada pasien lain bernama Aubrey (Michael Murphy) yang menderita kelumpuhan. Di titik ini, Grant menghadapi ujian terberatnya. Apakah ia harus terus berusaha membuat Fiona mengingat kembali kenangan-kenangan indah bersamanya dulu sebagai pasangan suami istri bahagia, atau ia harus merelakan istrinya memulai kehidupan baru tanpa dirinya di sisinya. Sebuah kisah yang begitu menyentuh serta memberi makna bahwa mencintai seseorang itu berarti merelakan—rela menyingkirkan ego pribadi dan rela melepaskan orang yang kita cintai, meskipun itu sakit.

Rating : 8/10


Blue Valentine (2010)

Dalam setiap hubungan percintaan, tentunya bukan hanya momen penuh suka cita yang akan ditemui setiap pasangan, namun juga saat-saat sulit yang siap menghadang kelanjutan hubungan mereka. Drama yang mengangkat pasang surut hubungan dua insan manusia dalam ikatan rumah tangga sudah banyak diangkat ke dalam medium film. Dalam film terbarunya, Derek Cianfrance—sineas yang sebelumnya berpengalaman menangani beberapa judul dokumenter ini, kembali mengangkat kisah yang sudah sangat familiar tersebut. Dengan materi yang bisa dibilang sudah bukan barang baru lagi, tantangan bagi Cianfrance adalah menyajikan sebuah tontonan yang memiliki suatu komponen menarik sehingga masih bisa memikat perhatian para penontonnya. Beruntung, Cianfrance bekerjasama dengan dua aktor muda bertalenta yang tampil begitu memukau disini, Ryan Gosling dan Michelle Williams. Memerankan sepasang suami istri yang sedang mencapai titik jenuh dalam hubungan mereka, keduanya sukses menjadikan film ini lebih dari sekedar drama konflik rumah tangga biasa. Mereka sanggup merebut simpati saya dengan pembawaannya masing-masing, sehingga saat momen menyakitkan itu tiba, hati saya pun ikut tercabik. Sungguh pengalaman sinematik yang sangat emosional. Walaupun ada beberapa kejanggalan, seperti transisi dari masa bahagia ke masa suram yang seolah terjadi begitu saja tanpa ada penjelasan mendalam mengenai perubahan masing-masing karakternya, namun penampilan Gosling dan Williams sudah membayar lunas semuanya. Salah satu duet akting terbaik yang pernah saya lihat dalam sebuah film. Sebagai sebuah film, Blue Valentine bukanlah suatu pencapaian yang luar biasa, namun performa dua pemain utamanya jelas luar biasa. Definitely worth watching.

Rating : 7.5/10

That's a wrap!

Monday, November 22, 2010

Harry Potter And The Deathly Hallows : Part 1 (2010)

Genre : Action/Adventure/Fantasy/Mystery

Pemain : Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson, Ralph Fiennes, Helena Bonham Carter, Bill Nighy, Rhys Ifans, Alan Rickman, Jason Isaacs, Imelda Staunton

Sutradara : David Yates

Penulis : Steve Kloves (screenplay), J.K. Rowling (novel)

Distributor : Warner Bros. Pictures

Durasi : 146 menit

MPAA : Rated PG-13 for some sequences of intense action violence, frightening images and brief sensuality



MAY CONTAIN SPOILER

Harry Potter. Sepintas tampak tidak ada yang istimewa dengan nama tersebut, bahkan akan terasa lucu jika kita iseng menerjemahkan nama belakangnya ke dalam Bahasa Indonesia. Namun kenyataannya, nama itulah yang membuat banyak orang di berbagai belahan dunia tersihir selama lebih dari satu dekade. Melalui kisah petualangannya yang ditulis oleh seorang wanita berkebangsaan Inggris bernama J.K. Rowling, nama Harry Potter berubah menjadi sebuah fenomena yang mengguncang dunia literatur dan sinema. Kisah klasik bertema good vs evil dalam balutan unsur magis yang ada dalam Potter universe ini memang pantas dicintai banyak orang. Selain kisahnya yang kaya dan menghibur, Rowling juga berhasil membentuk ikatan kuat antara pembaca dengan karakter-karakter yang ada dalam novel seri rekaannya ini. Tidak terhitung berapa banyak fans yang dengan setia mengikuti sepak terjang Harry dan kawan-kawan dari awal sampai konfrontasi final melawan Lord Voldemort beserta pasukan Death Eaters-nya. Para pembaca (dan penonton) tidak akan sampai sejauh ini jika tidak ada ikatan emosi antara mereka dengan karakter-karakternya. Inilah kehebatan franchise Harry Potter. Fakta bahwa kisah ini hampir berakhir (untuk versi filmnya) tentu akan menjadi sebuah momen penting bagi para fans setianya. Dan saya adalah salah satunya.

Mengabaikan fakta bahwa banyak orang yang sudah mengetahui akhir kisahnya (cerita berakhir di novel ke-7 yang terbit di tahun 2007 lalu), instalmen terbaru dari versi layar lebarnya saya yakini masih sanggup memancing rasa penasaran. Bukan kepenasaran akan ceritanya tentu saja, melainkan visualisasi yang ditampilkan. Dengan jumlah fans yang tak terhitung banyaknya, tekanan untuk menghasilkan visualisasi yang sesuai dengan ekspektasi mereka tentunya semakin besar. Beban ini kembali ditanggung oleh David Yates, sutradara yang sebelumnya sudah berpengalaman menggarap seri Harry Potter ke-5 dan ke-6. Di tangannya, saya akui bahwa franchise ini semakin matang, di luar konten ceritanya yang memang semakin gelap dan dewasa. Kembalinya Yates untuk menangani seri pamungkasnya semakin membuat saya optimis bahwa instalmen ini sudah berada di tangan yang tepat. Keputusan Warner Bros. untuk membagi film terakhir ini menjadi dua bagian juga semakin membuat saya gembira. Motivasi ekonomi mungkin menjadi salah satu penyebabnya, namun saya tidak terlalu ambil pusing. Dan setelah menyaksikan hasil akhir dari bagian pertama ini, saya menyadari bahwa pembagian tersebut adalah keputusan yang sangat tepat. Sebuah tribute bagi para fans setianya.

Franchise Harry Potter dikenal memiliki cerita yang kompleks dan semakin kelam dari seri ke seri. Setelah nuansa hangat dan ceria disajikan Chris Columbus dalam dua instalmen awalnya, cerita berubah menjadi lebih kelam dan dewasa di seri ke-3. Selain materi awalnya yang memang seperti itu, penggantian posisi sutradara juga cukup berpengaruh. Sejak film ke-3 itulah, franchise ini semakin konsisten menjaga kekelaman alur cerita serta atmosfer yang dihadirkan. Harry Potter And The Deathly Hallows : Part 1 menurut saya adalah yang paling gelap dan mencekam dibanding film-film sebelumnya. Dari awal film saja, atmosfer kelam sudah mulai terasa (logo Warner Bros. yang pelan-pelan hancur berkarat sangat simbolik).

Dunia sihir sedang memasuki masa-masa kegelapan. Teror yang disebarkan Lord Voldemort (Ralph Fiennes) bersama pasukan Death Eaters-nya semakin meluas. Kementrian Sihir sudah diambil alih, fasisme merajalela. Bagai Hitler dengan Nazi-nya, Voldemort beserta pasukan Death Eaters-nya memegang kendali penuh atas komunitas sihir. Rasa aman dan nyaman sudah menjadi barang langka, terutama bagi para Muggle-born (keturunan manusia non-penyihir). Monumen "Magic Is Might" yang berdiri kokoh di atrium Kementrian Sihir semakin menegaskan betapa mengerikannya rezim baru ini.

Kehadiran sosok Harry Potter (Daniel Radcliffe) bagaikan sebuah cahaya terang di tengah kegelapan yang sedang melanda dunia sihir. Dia adalah anak yang berhasil bertahan hidup dari kutukan maut Voldemort. Dialah Sang Terpilih. Kali ini, rintangan yang harus dihadapi Harry dalam usahanya mengalahkan Voldemort semakin berbahaya. Sepeninggal Albus Dumbledore, Hogwarts bukan lagi tempat paling aman untuk berlindung dari serangan Voldemort dan Death Eaters. Kini, Harry harus menghadapi tantangan nyata di dunia luar, jauh dari kenyamanan Hogwarts dan perlindungan guru-gurunya. Bersama dua sahabat setianya—Ron Weasley (Rupert Grint) dan Hermione Granger (Emma Watson), Harry melanjutkan misi yang diwariskan Dumbledore, yaitu menemukan dan menghancurkan sisa Horcrux (kepingan jiwa) Voldemort yang masih tersebar di berbagai tempat. Dalam menjalankan misi ini, mereka juga menemukan fakta tentang keberadaan tiga benda keramat yang dijuluki The Deathly Hallows. Ketiga benda tersebut jika disatukan konon akan membuat pemiliknya memiliki kekuatan tak terbatas.

Tidak seperti enam instalmen sebelumnya dimana kastil Hogwarts selalu dijadikan setting utama, kali ini sekolah sihir tersebut tidak diperlihatkan sama sekali. Perjalanan trio Harry-Ron-Hermione yang selalu berpindah-pindah lokasi membuat film ini lebih terkesan seperti road movie. Absennya Hogwarts sebagai setting juga membuat film ini memiliki feel yang berbeda dibandingkan film-film sebelumnya. Lebih liar, berbahaya, sekaligus emosional.

Salah satu keuntungan dari dibaginya film terakhir ini menjadi dua bagian yaitu semakin leluasanya cerita untuk bergerak. Perlahan namun pasti, menurut saya pace-nya sudah sangat pas. Steve Kloves berhasil menyusun skrip yang tetap setia dengan sumber aslinya namun juga tidak ragu untuk sedikit berimprovisasi. Adegan Harry menghibur Hermione dengan mengajaknya berdansa diiringi lagu O Children yang dibawakan Nick Cave sungguh suatu kejutan yang sangat manis. Nice job, Kloves!

Ruang gerak yang luas dalam ceritanya juga memberi kesempatan lebih untuk pendalaman karakter, terutama karena disini fokus utamanya memang terletak pada perkembangan hubungan antara tiga tokoh utamanya. Pendalaman karakter yang baik tentu bergantung juga pada penjiwaan tiap aktor-aktrisnya dalam memainkan peran masing-masing. Tanpa ragu saya katakan bahwa Radcliffe, Grint, dan Watson telah mempersembahkan performa terbaik mereka disini. Setelah hampir satu dekade, sangat terlihat bahwa mereka bertiga semakin melebur dengan karakter masing-masing. Yang paling menonjol menurut saya adalah Emma Watson. Ia bersinar di setiap kemunculannya. Opening scene dimana ia diperlihatkan harus menghapus ingatan orangtuanya terasa begitu emosional. It's one of the most heartbreaking scenes I've ever scene. Singkat tapi memorable. Untuk pemeran pendukung lainnya yang banyak diisi oleh aktor veteran Inggris, saya rasa tidak perlu ditanya lagi. Walaupun kebanyakan dari mereka hanya tampil singkat, namun performanya tetap prima. Sungguh ensemble cast yang mengagumkan.

Dari sisi teknis, sinematografi garapan Eduardo Serra sangatlah indah dan memanjakan mata. Keberaniannya dalam menggunakan teknik hand-held camera di beberapa adegan patut diapresiasi. Adegan kejar-kejaran antara trio tokoh utama kita dengan para Snatchers sukses memompa adrenalin. I love that scene! Warna-warna yang ditampilkan cenderung gelap, sesuai dengan mood film. Score karya Alexander Desplat juga semakin memperkaya adegan demi adegannya. Suatu keputusan tepat untuk melibatkan komposer ini dalam proyek sekelas Harry Potter. Film sebusuk New Moon saja jadi terkesan lebih elegan berkat komposisi musik gubahannya.

David Yates memang memberi bobot lebih pada unsur drama dalam instalmen terbaru ini, namun bukan berarti ia melupakan unsur hiburannya. Selipan humor segar di beberapa adegan berhasil mengundang tawa. Lalu action sequences yang ada juga digarap dengan dengan baik—seru sekaligus mencekam di beberapa bagian. Oh ya, jangan lupakan adegan yang menjelaskan tentang legenda The Deathly Hallows. Sequence ini dipresentasikan dalam animasi berupa siluet dengan latar belakang kecoklatan. Indah sekaligus memancarkan daya magis yang begitu kuat.

Menurut saya, inilah adaptasi terbaik dari keseluruhan film Harry Potter yang pernah dirilis. Sangat terlihat kerja keras Yates beserta krunya dalam upaya menghadirkan yang terbaik bagi para fans setia franchise ini. J.K. Rowling patut berbangga karena karyanya ditangani dengan penuh respek oleh Yates dan krunya. Sebuah awal yang baik untuk mengakhiri kisah yang begitu dicintai orang banyak. Saya sendiri sebagai fanboy (yeah, I'm proud of it!) tentu sangat tidak sabar untuk menunggu kisah pamungkasnya musim panas nanti. Please, don't let me down, Yates!

Long live Harry Potter.

R.I.P. Dobby the Free House Elf

Rating : 9/10

Monday, November 15, 2010

Winter's Bone (2010)

Genre : Drama/Mystery/Thriller

Pemain : Jennifer Lawrence, John Hawkes, Garret Dillahunt, Lauren Sweetser, Dale Dickey, Shelley Waggener

Sutradara : Debra Granik

Penulis : Debra Granik & Anne Rosellini (screenplay), Daniel Woodrell (novel)

Distributor : Roadside Attractions

Durasi : 100 menit

MPAA : Rated R for some drug material, language and violent content


"I got two kids that can't feed themselves yet. My mom's sick, and she's always gonna be sick. Pretty soon the laws are coming and taking our house... and throwing us out to live in the field like dogs."
-Ree-

Ketika seseorang dihadapkan pada kondisi serba tertekan, terkadang secara tak terduga ia akan mengeluarkan potensi dalam dirinya yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Saya sendiri juga pernah mengalami kejadian seperti itu. Misalnya tahun lalu, saat saya berada di penghujung semester akhir perkuliahan dimana tekanan untuk menyelesaikan tugas akhir semakin bertubi-tubi. Dengan waktu yang semakin sempit (berbanding terbalik dengan bertumpuknya materi yang masih perlu diselesaikan), tentunya saya terpacu untuk secepat mungkin menyelesaikan tugas tersebut. Dan ajaibnya, hanya dalam waktu beberapa hari semua dapat terselesaikan. Meskipun tidak aneh jika hasilnya mungkin kurang maksimal. Yang penting kan beres, soal banyaknya revisi mah urusan nanti (pola pikir mahasiswa pemalas). Maaf jika ini jadi terkesan seperti ajang curhat dengan sampel yang tidak patut ditiru. Poinnya, setiap orang memiliki potensi terpendam dan besar kemungkinan semua itu akan benar-benar tampak saat ia berada dalam situasi sulit, imo.

Korelasi antara ocehan saya di atas dengan film berjudul Winter's Bone ini yaitu situasi serba sulit yang juga dialami oleh tokoh utamanya, Ree Dolly (Jennifer Lawrence). Ree adalah seorang gadis remaja 17 tahun yang hidup di lingkungan terpencil di pegunungan Ozark, Missouri. Dengan usianya yang masih belia, ia harus menjadi tulang punggung bagi kedua adiknya yang masih kecil dan juga ibunya yang tidak bisa berbuat apa-apa dengan kondisi mentalnya. Tunggu, kemana perginya sang ayah yang seharusnya bertindak sebagai kepala keluarga? Itulah pemicu rentetan masalah yang akan dihadapi Ree nanti. Ayahnya—Jessup Dolly, dikenal sebagai "peracik" methamphetamine (sejenis drugs) yang saat ini sedang menjadi buronan pihak kepolisian. Parahnya, ia menjadikan rumah dan semua aset miliknya sebagai jaminan. Jika ia tidak muncul dalam persidangan di minggu berikutnya, keluarganya terpaksa harus kehilangan tempat tinggal. Demi kelangsungan hidup keluarganya, Ree bertekad menemukan sang ayah walau seberat apapun resiko yang mesti ditanggungnya kelak.

Pencarian yang dilakukan Ree tentu tidaklah mudah. Dengan lingkungan yang masih menganut paham patriarki serta ikatan kelompok yang kuat, keingintahuan Ree justru memposisikan dirinya serta keluarganya dalam bahaya. Ree mendatangi setiap orang yang ia yakini pernah berhubungan dengan ayahnya, dan ini tentu saja membuat dirinya seolah hadir sebagai pengganggu. Ekstrimnya, pencarian yang ia lakukan bagaikan sebuah misi bunuh diri yang sudah jelas hasil akhirnya. Namun dengan modal keberanian dan kegigihannya, apakah masih ada harapan bagi Ree untuk dapat menemukan ayahnya? Dalam melalui kesulitan ini, untungnya dia tidak sendiri. Masih ada Gail (Lauren Sweetser), sahabat karibnya yang selalu mendukungnya. Selain itu masih ada pamannya, Teardrop (John Hawkes)—drug-addict yang awalnya menentang Ree untuk ikut campur dalam urusan yang seharusnya ditangani sendiri oleh ayahnya. Namun, pada akhirnya ia pun bersedia membantu mencari informasi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa aura yang dibawa film ini begitu kelam dan cenderung depresif. Dengan setting di daerah terpencil yang tampak seperti area post-catastrophe, mood film ini memang dijaga agar tetap terasa kekelamannya. Michael McDonough—sang cinematographer, juga ikut andil dalam membangun mood film dengan gambar-gambar yang cenderung ber-tone gelap. Terkesan dingin, namun indah untuk dipandang. Sepanjang film, adegan-adegannya sepi dari musik latar. Namun bukan berarti film ini total mengabaikan musik pengiring. Meskipun kemunculannya minim, namun score garapan Dickon Hinchliffe mampu mengisi tiap adegannya dengan baik. Jangan lupakan sisipan lagu-lagu beraliran bluegrass dengan vokal menawan dari Marideth Sisco yang ikut muncul dalam salah satu adegan. Kehadiran lagu-lagu yang menyejukkan hati ini mengimbangi kelamnya tone film.

Debra Granik—sang sutradara sekaligus penulis naskahnya (bersama Anne Rosellini), berhasil mengadaptasi novel karya Daniel Woodrell menjadi sebuah film yang memikat—mencekam namun sekaligus memancarkan optimisme. Granik patut diberi kredit tersendiri berkaitan dengan keseriusannya dalam mengerjakan proyek ini. Konon ia menghabiskan waktu sekitar dua tahun untuk mengobservasi kehidupan masyarakat di Ozark demi keotentikan film ini nantinya. Dan kerja kerasnya terbukti membuahkan hasil yang maksimal. Meskipun saya tidak pernah tinggal di Ozark (bahkan nama daerah ini pun baru saya dengar melalui film ini), namun saya cukup yakin bahwa apa yang ditampilkan Granik disini adalah gambaran dari realita yang ada. Potret kehidupan masyarakat miskin di pinggiran Amerika ini mampu melibatkan emosi saya sebagai penonton tanpa terkesan manipulatif. Semuanya tampak natural.

Kesan realisme yang timbul juga tidak lepas dari peran para aktor dan aktrisnya yang berhasil menghidupkan masing-masing karakternya dengan meyakinkan. Sebagai Teardrop—paman Ree yang pecandu obat dan temperamental, John Hawkes sukses menampilkan permainan memukau. Ia mampu mengesankan sifat antagonis di awal kemunculannya yang pada akhirnya berubah simpatik. Selain Hawkes, pemeran pendukung lainnya juga menampilkan performa yang meyakinkan, mulai dari Dale Dickey, Lauren Sweetser, sampai pemeran kedua adik Ree yang membawa keceriaan tersendiri melalui kepolosan mereka. Namun tentu saja bintang dalam keseluruhan film ini adalah Jennifer Lawrence sebagai Ree Dolly, sang tokoh utama penggerak cerita. Lawrence memancarkan pesona natural yang membuat kehadirannya di layar begitu mencuri perhatian. Kekuatan dan keberanian seorang gadis remaja dalam menghadapi berbagai kesulitan nampak jelas melalui karakternya, namun di sisi lain ia juga rapuh. Salah satu scene di tengah hutan saat Ree meminta nasehat pada ibunya sangatlah emosional. Di titik ini penonton dibuat tersadar bahwa dibalik sosok tegar itu, Ree tetaplah seorang remaja yang membutuhkan topangan. Lebih jelasnya, ia membutuhkan figur orangtua yang layak. Tidak diragukan lagi, ini adalah peran yang akan meroketkan nama Jennifer Lawrence dan membuatnya menjadi salah satu komoditi panas di kancah perfilman Hollywood.

Kesuksesan feature film kedua arahan Debra Granik ini di event Sundance Film Festival beberapa waktu lalu tidaklah mengherankan mengingat kualitasnya yang sangat prima. Tidak mengherankan juga jika film ini nantinya menjadi primadona di ajang penghargaan paling bergengsi di Hollywood—Academy Awards. Jennifer Lawrence jelas harus mendapatkan setidaknya nominasi sebagai Aktris Terbaik. Di luar potensinya dalam menarik perhatian berbagai ajang penghargaan, film ini memang sangat patut diapresiasi oleh para penikmat film. Salah satu drama terbaik yang menggambarkan realita kehidupan dengan jujur dan apa adanya. Definitely worth watching!

Rating : 9/10

Saturday, October 9, 2010

The Girl Who Leapt Through Time (2006)

Genre : Animation/Comedy/Drama/Romance

Pengisi Suara : Riisa Naka, Takuya Ishida, Mitsutaka Itakura

Sutradara : Mamoru Hosoda

Penulis : Yasutaka Tsutsui (novel), Satoko Okudera (screenplay)

Distributor : Kadokawa Herald Pictures

Durasi : 98 menit




Yuri Hayakawa : "Makoto! Time waits for no one."

Apa yang akan anda lakukan jika anda memiliki kemampuan untuk memutar waktu? Berusaha mengubah kejadian buruk di masa lalu agar menjadi lebih baik segera terlintas di benak saya—dan mungkin juga sebagian orang. Lantas, apakah dengan mengubah masa lalu maka otomatis keadaan saat ini akan menjadi lebih baik? Tidak ada jawaban yang pasti, karena saya yakin segala sesuatu akan ada konsekuensinya. Mengubah hal sekecil apapun bisa membawa dampak pada hal lain. Hukum sebab-akibat tentunya tidak bisa diabaikan. Konsep tersebut ditampilkan melalui film yang dalam bahasa aslinya berjudul Toki o Kakeru Shojo ini. Terinspirasi dari novel berjudul sama karangan Yasutaka Tsutsui, film ini mencoba menggabungkan romantika kehidupan remaja dengan elemen fiksi ilmiah.


Tokoh utama dalam film ini bernama Makoto Konno (Riisa Naka), gadis tomboy yang cenderung urakan dan ceroboh. Kegiatan rutinnya sepulang sekolah diisi dengan bermain baseball bersama dua orang t
emannya, Chiaki Mamiya (Takuya Ishida) dan Kosuke Tsuda (Mitsutaka Itakura). Suatu hari saat berada dalam lab di sekolah, ia mengalami kejadian aneh. Seolah-olah ia terbang melintasi waktu sebelum akhirnya ia terjerembab di lantai dalam keadaan setengah sadar. Awalnya ia tidak terlalu menganggap serius keanehan tersebut sampai akhirnya terjadi insiden yang mulai membuatnya yakin bahwa ia bisa "melompati" waktu. Setelah insiden tersebut, ia berkonsultasi dengan bibinya, Kazuko Yoshiyama (sang tokoh protagonis dalam novel aslinya—diisisuarakan oleh Sachie Hara). Tanpa benar-benar menceritakan pengalamannya sendiri dalam melompati waktu, bibi Kazuko kemudian menjadi figur seorang penasihat bagi Makoto.

Proses melompati waktu yang awalnya terjadi karena ketidaksengajaan pada akhirnya bisa dikontrol oleh Makoto. Bagaimana caranya? Dengan melakukan lompatan (literally) jauh a la kijang, dan ia pun bisa mundur kembali ke waktu yang diinginkannya. Kemampuan barunya ini ia manfaatkan untuk kepentingan dirinya sendiri yang cenderung sepele, seperti mengulang ujian di sekolah sampai karaoke berjam-jam tanpa membayar lebih. Makoto menganggap kemampuan barunya ini bagaikan sebuah hiburan, tanpa menyadari bahwa ada konsekuensi dibalik itu semua. Keadaan menjadi lebih serius saat Chiaki menyatakan perasaannya pada Makoto. Makoto yang tidak mau persahabatannya rusak karena masalah percintaan lalu melakukan lompatan waktu berkali-kali hanya untuk membatalkan pernyataan Chiaki. Dan Makoto juga menggunakan lompatan waktu untuk menjodohkan Kosuke dengan seorang gadis yang menyukainya. Apakah semua perbuatannya ini dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik? Ataukah justru ia akan menyesal seumur hidup atas perbuatannya tersebut?

Cerita mengenai time travel seperti ini memang sudah sering diangkat ke berbagai media, termasuk film. Namun bukan berarti tema tersebut sudah basi untuk diangkat. Hal ini tergantung pada penggarapannya juga, apakah masih sanggup menyajikan sesuatu yang menarik hingga layak ditonton. Tokikake (singkatan untuk judul aslinya) adalah salah satu contoh bagaimana tema mengenai time travel atau time leapt ini masih bisa dikemas dengan baik dan menarik. Tokikake pada dasarnya adalah coming of age story bergenre drama komedi. Di sini diperlihatkan bagaimana sikap seorang remaja biasa saat diberi kemampuan lebih. Kemampuan yang akan membawa sang pemilik pada konsekuensi mengerikan saat digunakan dengan seenaknya, tapi di sisi lain juga dapat menumbuhkan kedewasaan dalam dirinya. Hubungan persahabatan yang berkembang menjadi rasa cinta dihadirkan dengan manis, getir, sekaligus lucu. Untuk melengkapi itu semua, maka ditambahkan elemen fiksi ilmiah bertajuk time leapt. Elemen ini hadir untuk memberi impact lebih kepada para penontonnya.

Film ini diproduksi oleh Madhouse—salah satu studio animasi terkenal di Jepang yang sudah sering menelurkan anime baik untuk format televisi maupun layar lebar, diantaranya karya-karya dari almarhum Satoshi Kon (Tokyo Godfathers, Paprika). Animasi yang ditampilkan disini menurut saya cukup halus dan menawan, tidak kalah dengan animasi produksi Ghibli yang kaya warna—sungguh memanjakan mata. Desain karakternya dibuat khas anime konvensional, dengan tampilan fisik yang kadang tidak proporsional serta ekspresi wajah komikal dalam beberapa adegan—I love it! Desain lingkungannya juga digambarkan dengan baik dan mendetail. Salah satu lokasi yang paling sering disorot adalah sebuah sungai yang menghadap langsung ke flyover. Dengan sudut pengambilan gambar serta komposisi warna yang pas, adegan yang ditampilkan terasa semakin kuat dan memorable.


Komponen lain yang tidak kalah menarik adalah musik latarnya yang ikut andil dalam membangun mood film dari awal sampai akhir. Dari adegan lucu sampai momen yang menguras emosi berhasil disampaikan melalui score gubahan Kiyoshi Yoshida ini. Dengan segala keunggulan teknis serta muatan ceritanya yang menarik, tanpa ragu saya berani menyebut film ini sebagai salah satu anime terbaik yang pernah saya tonton. Apakah masih terlalu prematur untuk mengatakan bahwa Mamoru Hosoda adalah the next Hayao Miyazaki? Tanpa perlu membandingkan pun, saya yakin bahwa sineas satu ini memiliki talenta besar dalam membuat film animasi berkualitas. Patut ditunggu karya-karya beliau selanjutnya. Sebelum itu, biarkan saya kembali menyaksikan serunya aksi Makoto sang "pelompat" waktu. Yeah, it's definitely worth multiple watching.

Rating : 8/10

Saturday, September 25, 2010

Show Me Love (1998)

Genre : Drama/Comedy/Romance

Pemain : Alexandra Dahlstrom, Rebecka Liljeberg, Erica Carlson, Mathias Rust

Sutradara : Lukas Moodysson

Penulis : Lukas Moodysson

Distributor : Sonet Film

Durasi : 89 menit

Elin : "It makes a lot of chocolate milk. But that doesn't matter."



Show Me Love, sebuah gambaran mengenai kompleksitas masa-masa remaja dengan latar kota kecil di Swedia bernama Amal. Film yang memiliki judul asli Fucking Amal ini adalah debut dari seorang sutradara asal Swedia, Lukas Moodysson. Melalui film pertamanya ini, Moodysson mencoba untuk mengeksplorasi lika-liku kehidupan para remaja yang dikemas dengan begitu jujur dan mengena. Film yang sempat menuai kontroversi berkenaan dengan judulnya ini nyatanya merupakan sebuah sajian yang manis dan berbeda dibanding film remaja tipikal serta akhirnya diakui sebagai karya yang berkualitas terbukti dengan prestasi yang diraih di berbagai ajang penghargaan internasional.

Kisahnya berpusat pada kehidupan dua orang gadis remaja, Elin dan Agnes. Elin (Alexandra Dahlstrom), gadis cantik-populer yang bermimpi untuk menjadi model demi bisa keluar dari Amal, tempat yang ia anggap mengungkungnya selama ini. Kalimat fucking Amal adalah representasi dari rasa frustasinya terhadap kehidupannya yang membosankan dan seolah terisolasi dari perkembangan zaman. Di lain pihak ada Agnes (Rebecka Liljeberg), gadis pindahan yang sulit bersosialisasi dan diam-diam menyimpan perasaan suka terhadap Elin. Dua gadis yang sebelumnya tidak pernah berinteraksi sama sekali ini pada akhirnya mulai mengenal satu sama lain.


Labilnya emosi para remaja digambarkan dengan akurat oleh Moodysson melalui debut feature-nya ini. Dua karakter utamanya merefleksikan sifat remaja kebanyakan—merasa frustasi dan depresi pada satu kesempatan, lalu bisa tiba-tiba berubah menjadi ceria dan kekanak-kanakan. Penggambaran karakter yang bukan tanpa cela ini membuat kisahnya menjadi lebih masuk akal dan enak diikuti serta mungkin akan terasa personal bagi sebagian orang. Karakterisasi yang baik seperti ini tampaknya semakin jarang ditemui di film-film remaja Hollywood belakangan yang terlalu menonjolkan stereotype sehingga terasa semakin membosankan. Keunggulan ini tidak bisa lepas dari performa gemilang dua aktris utamanya—Alexandra Dahlstrom dan Erika Liljeberg, yang membawakan karakter m
asing-masing dengan sangat baik. Mereka berdua dengan mudahnya mencuri perhatian saya. I love them both!

Masa-masa remaja memang merupakan masa yang penuh gejolak. Melalui film ini, kita diajak untuk menelusuri fase tersebut melalui perspektif Elin dan Agnes. Rasa benci dan frustasi yang muncul akibat kekurangan dalam diri serta kebutuhan untuk balas dicintai diwakili oleh sosok Agnes. Sedangkan Elin merupakan sosok yang juga merasa frustasi, tapi lebih diakibatkan karena kebosanan luar biasa—bosan terhadap kota tempat tinggalnya, bosan terhadap dirinya yang ketinggalan trend, bosan terhadap anak lelaki seusianya yang selalu bertindak bodoh. Dan ketika dua individu ini bertemu, timbul percikan yang pada akhirnya akan membawa perubahan dalam kehidupan mereka.

Dari sini, Moodysson mulai mengeksplorasi apa makna cinta bagi para remaja. Kebimbangan dan kecemasan Elin akan perasaannya terhadap Agnes kemudian menggiringnya pada penyangkalan diri yang ia lampiaskan pada sosok Johan (Mathias Rust). Meski isu hubungan sesama jenis dengan jelas diapungkan, tapi hal tersebut tidak lantas diekspos habis-habisan hingga berpotensi mengganggu kenyamanan sebagian penonton. Justru hal tersebut semakin menegaskan bahwa cinta bukanlah masalah orientasinya, tetapi lebih kepada perasaan yang murni muncul dari dalam diri kita terhadap seseorang. Saya memang orang dengan pengalaman cinta yang hampir nol, tapi bukan berarti saya sepenuhnya buta akan hal tersebut. Dan itulah pendapat dari diri saya pribadi, entah anda setuju atau tidak.

Dengan kisah yang berpusat pada kehidupan anak muda, Moodysson juga menggarapnya dengan semangat anak muda. Kumpulan lagu pop-rock khas anak muda yang penuh energi diinjeksikan di setiap adegannya—poin plus untuk Moodysson. Saya rasa ia memiliki insting yang baik mengenai hal ini karena musik yang dihadirkan begitu pas dengan adegan yang ditampilkan. Salah satunya, adegan paling memorable dalam film ini dilatari tembang I Want To Know What Love Is milik Foreigner—sungguh brilian! Tidak lupa tembang manis dari Robyn yang judulnya menginspirasi judul (versi halus) dari film ini—Show Me Love, sebagai penutup kisah ini.

Pujian lain saya berikan untuk adegan klimaks yang juga brilian. Detik-detik mencapai klimaks, saya dibuat harap-harap cemas terhadap apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan ketika saat itu akhirnya datang, saya mulai bernafas lega, tersenyum puas, dan merasa begitu gembira. Klimaks ini mendefinisikan coming out of the closet secara kiasan sekaligus harafiah. Sungguh klimaks yang luar biasa. Lalu film ini diakhiri dengan ending yang begitu manis, semanis susu coklat yang dibagi dengan pasangan tercinta (you'll get it after you see it). :D

9/10

Wednesday, September 9, 2009

Bandslam (2009)

Genre : Drama/Comedy/Family/Music/Romance

Pemain : Gaelan Connell, Vanessa Hudgens, A
ly Michalka, Lisa Kudrow

Sutradara : Todd Graff

Penulis : Josh A. Cagan, Todd Graff


Distributor : Summit Entertainment

Durasi : 111 menit

MPAA : Rated PG for some thematic elements and mild language


Will Burton : "School today was like Guantanamo with a lunch period."


Awalnya, saya kira film ini bakal menjadi the next High School Musical dengan sedikit sentuhan School Of Rock, secara dua bintang utamanya—Aly Michalka dan Vanessa Hudgens adalah "produk" keluaran Disney. Bukan berarti saya membenci High School Musical—bahkan saya cukup enjoy saat menonton sekuel teranyarnya, tapi film model begini sepertinya hanya akan menjadi pengulangan dari film-film sejenis. Plot setipis kertas, jajaran pemain muda dengan fisik rupawan, dan berbagai hal-hal klise yang sering muncul dalam film-film remaja Hollywood sepertinya akan saya temui juga dalam film ini. Namun, seketika saya bagai dihajar oleh para kritikus luar yang mayoritas memberi tanggapan positif terhadap film ini. Hmm, akhirnya saya merasa bahwa film ini cukup worth watching. Memang review kritikus bukanlah segalanya, tapi setidaknya bisa dijadikan referensi. Jarang-jarang kan ada film remaja yang mendapat tanggapan sebagus ini. Dan akhirnya niat saya menonton pun semakin bertambah dengan kemurahan hati salah satu jaringan bioskop lokal yang bersedia mengimpor film ini, bahkan merilisnya di waktu yang hampir bersamaan dengan waktu perilisan di negara asalnya.

The story is about a misfit teenager finding his moment in a right place through his passion of music (kira-kira begitu lah). And that misfit teenager is Will Burton (Gaelan Connell), objek penderita bagi teman-teman di sekolahnya yang menganggapnya tidak lebih dari seorang nerd dengan panggilan Dewey. Selain iPod, sarana eskapisme dari realita hidupnya adalah dengan menulis e-mail yang seperti jurnal harian kepada musisi idolanya, David Bowie. Hidupnya seakan menjadi lebih cerah saat ibunya (Lisa Kudrow) memutuskan untuk pindah ke New Jersey karena mendapat pekerjaan baru yang lebih menjanjikan. Tapi seketika Will menyadari bahwa kepindahan itu tidak akan terlalu berpengaruh pada nasibnya, karena yang baru hanyalah lingkungannya, bukan dirinya. Ia akan tetap menjadi Dewey si aneh dari Cincinnati.

And then, seperti yang sudah dapat diduga, nasib Will tidaklah seburuk yang ia pikirkan sebelumnya. Hari pertama di Van Buren—SMA barunya, ia berkenalan dengan Sa5m (baca: Sam—the 5 silent, diperankan Vanessa Hudgens) cewek penyendiri yang menjadi rekannya dalam suatu proyek kelas. Tidak lama, ia juga bertemu dengan Charlotte (Aly Michalka), cewek keren extrovert yang tiba-tiba "memaksanya" untuk menjadi sukarelawan di tempat penitipan anak dan memperkenalkan Will pada band bentukannya. Pengetahuan dan insting musik Will yang sangat baik membuat Charlotte mengangkatnya menjadi manajer band. Band tersebut sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi Bandslam—kontes band lokal tahunan dimana pemenangnya akan mendapat kontrak rekaman dari label ternama. DI luar itu, Charlotte mempunyai tujuan lain, yaitu untuk mengalahkan band mantan pacarnya—Ben Wheatley (Scott Porter) yang dulu pernah tergabung dalam satu band dengannya. Lalu, dimulailah usaha Will untuk melatih band yang ia namai "I Can't Go On, I'll Go On" ini sekaligus menghadapi gejolak asmara yang mulai ia rasakan terhadap Sa5m.

Dengan mengusung tema yang sudah sangat familiar, secara mengejutan film ini mampu tampil fresh dan sangat menyenangkan untuk ditonton. Jangan tertipu dengan strategi marketing yang seolah menggambarkan bahwa ini adalah another High School Musical clone, because it's definitely not. Di sini tidak ada sekumpulan remaja yang menyanyi dan menari saat mereka jatuh cinta atau saat ada masalah menghadang layaknya di film-film Bollywood. Segera setelah menyaksikan film ini saya merasa bahwa High School Musical trilogy sangatlah lebay dan tampak terlalu menyepelekan persoalan. Ya, sebenarnya dalam film ini juga ada beberapa hal yang sepertinya too good to be true in real life, tapi secara keseluruhan tidak terasa mengganggu dan masih terkesan wajar.

Salah satu kelebihan yang dimiliki film ini adalah karakterisasi dan akting para pemainnya yang baik (not exceptional, but quite descent). Semuanya tampak wajar dengan porsi peran yang pas. Gaelan Connell—newcomer yang memerankan Will berhasil membawakan perannya sebagai seorang nerd dengan pas, tidak berlebihan sekaligus berkharisma. Dengan tampilan fisiknya yang memang cukup mendukung perannya, aktingnya yang natural cukup menarik perhatian. Aly Michalka sebagai ex-cheerleader yang berubah haluan menjadi frontrunner band juga tampil menawan (she's hot!). Vanessa Hudgens? She's very cute here. Bukan cute lebay ala Gabriella Montez, tapi memang real cute yang tidak dibuat-buat. Dengan intonasi suara datar dan style yang cenderung gelap, ia cukup berhasil melepas imej bright student with sunny smile yang melekat pada dirinya selama ini. Dengan pesonanya, adegan finale di atas panggung jadi makin bersinar. Satu lagi penampilan yang mengejutkan datang dari Lisa Kudrow. Perannya sebagai single mother yang khawatir dengan perkembangan anaknya yang terasa begitu cepat dibawakannya dengan meyakinkan, tanpa memperlihatkan histeria berlebihan.

Untuk ukuran film remaja, dialog yang ditampilkan cukup berbobot bahkan bisa dibilang cerdas, tanpa perlu mengumbar kata umpatan maupun humor vulgar. Yang pasti film ini cukup aman untuk dikonsumsi oleh anak kecil sekalipun (no wonder lah, secara nama Walden Media ada di belakang proyek ini). Humor yang ditawarkan tidak berlebihan, menggelitik sekaligus menggemaskan. Masih terbayang bagaimana Will yang benar-benar buta soal cewek diajari Charlotte trik-trik mencium cewek, dan puncak kelucuan adalah saat ia mencoba mempraktekannya pada Sa5m. Sumpah, adegan ini sangat sangat lucu—simply adorable. Film ini juga sedikit mengingatkan saya pada Nick & Norah's Infinite Playlist, terutama saat Will dan Sa5m menghabiskan waktu bersama sambil mengunjungi empat-tempat favorit mereka. Yang paling seru adalah saat mereka berhasil menyelinap masuk ke CBGB—klub musik legendaris yang bisa dikatakan sebagai tempat lahirnya komunitas punk di Amerika. Selain momen-momen menyenangkan tersebut, film ini tidak lupa menghadirkan momen-momen emosional yang cukup mengena.

Jangan lupa bahwa film ini juga tentang musik, malah lebih tepatnya musik adalah salah satu jualan utama film ini. Tipe film seperti ini tentunya harus memuat musik yang appealing bukan? Dan untungnya jualan utamanya tersebut ditampilkan dengan sangat segar dan mengasyikkan untuk disimak. Semua pemainnya tampak sangat nyaman saat menampilkan kemahiran mereka dalam bermusik yang membuat penonton merasa ikut senang saat menyaksikannya. Adegan finale-nya sangat School Of Rock, tapi tidak menjadi masalah berarti dan masih dapat dimaklumi. Setelah selesai menonton, saya merasa wajib untuk memiliki soundtrack-nya yang diisi David Bowie, Velvet Underground, sampai Wilco, dan tak lupa dari jajaran cast-nya juga seperti Aly Michalka, Vanessa Hudgens sampai band fiktif (atau asli?) I Can't Go On, I'll Go On.

Dengan semua aspek positif yang dimiliki, sebenarnya film ini berpotensi menjadi sleeper hit di akhir summer. Sayangnya, promosi yang buruk serta hype film-film lain yang lebih besar seperti G.I. Joe dan District 9 cukup menenggelamkan eksistensi film ini yang seolah dilirik pun tidak, terbukti dengan raihan dollar yang sangat minim di minggu pertama perilisannya. Walaupun tergolong underrated di kalangan penonton umum, tidak dapat dipungkiri bahwa film ini adalah sebuah kejutan manis di penghujung summer yang seharusnya bisa mendapatkan sambutan yang lebih baik.

7.5/10