"I don't wanna be just theoretically gay. I wanna do something about it."
-Hal-
Sunday, December 4, 2011
[Review] Beginners (2011)
Sunday, April 17, 2011
Barking Dogs Never Bite (2000)

Banyak yang mengatakan bahwa anjing adalah sahabat terbaik manusia. Meskipun saya tidak pernah bersahabat dengan anjing, namun tampaknya pernyataan tersebut sudah begitu melekat sehingga tidak penting lagi untuk didebat. Di dunia perfilman pun, sudah banyak sineas yang mengangkat tema tentang persahabatan antara manusia dan anjing peliharaannya. Satu bukti loyalitas hewan satu ini tergambar melalui sosok Hachiko, sang anjing legendaris yang kisahnya begitu menginspirasi orang banyak. Dengan loyalitasnya yang tinggi, bukan berarti anjing dicintai semua orang. Gonggongan anjing yang keras dan tidak kenal waktu bisa sangat mengganggu siapa pun, termasuk tokoh utama dalam film Barking Dogs Never Bite—sebuah debut penyutradaraan dari Bong Joon-ho yang memuat sindiran terhadap kehidupan masyarakat urban di Korea Selatan dalam balutan komedi gelap.
Tokoh utama kita adalah Yun-ju (Lee Sung-jae), si calon professor yang tampak cocok masuk dalam klub suami-suami takut istri. Dengan kehidupan pribadinya yang sudah ruwet, kehadiran suara-suara mengganggu berupa salakan anjing di sekitar apartemennya membuat Yun-ju semakin tertekan. Suatu hari ia memutuskan untuk melakukan sesuatu terhadap gangguan ini. Tak disangka, perbuatannya justru menjadi awal dari rentetan kejadian-kejadian lain yang mempertemukannya dengan karakter-karakter unik seperti si penjaga gedung (Byeon Hee-bong) yang memiliki hasrat lebih terhadap anjing, sampai Hyeon-nam (Bae Doona), si pegawai kantor yang terobsesi masuk tv dan lebih banyak menghabiskan waktunya di luar untuk membantu orang lain.
Awalnya, saya mengira film ini akan memancarkan aura depresif yang kental serta memuat adegan-adegan yang cukup mengganggu. Nyatanya, film ini sangatlah menghibur dengan selera humornya yang sukses memancing tawa lepas walaupun ini dikategorikan sebagai black comedy. Memang ada beberapa adegan yang cukup membuat miris dan kemungkinan terasa ofensif, terutama bagi para pecinta hewan (khususnya anjing). Namun jangan terlalu diambil hati karena itu memang bagian penting dari cerita. Percaya saja pada kalimat di awal film yang menyatakan bahwa semua anjing yang muncul di film ini diawasi oleh ahlinya. Meniru metode Wes Craven, ucapkan saja mantra ini berkali-kali : "It's only a movie...only a movie..."
Selain unsur komedinya yang efektif, film ini juga terasa mengena saat menyentuh berbagai isu sosial dalam kehidupan masyarakat modern. Tokoh Yun-ju, si suami yang tampak begitu inferior di hadapan istrinya cukup menyiratkan bahwa faktor ekonomi bisa mempengaruhi keharmonisan sebuah rumah tangga. Yun-ju juga sempat gagal meraih gelar professor hanya karena saingannya lebih unggul dalam melobi alias suap-menyuap. Hal ini menggambarkan isu yang sudah tidak asing lagi bahkan di Indonesia sendiri, bahwa gelar ataupun posisi penting bisa diraih asal kita punya duit. Lalu ada juga lelucon tentang kriteria suami ideal berdasarkan profesi. Sebuah obrolan yang menggelitik, namun sekaligus pahit.Untuk menghidupkan adegan per adegan dalam sebuah film, salah satu komponen yang menunjang adalah performa dari aktor dan aktrisnya. Dalam film ini, semua pemain yang terlibat menunjukkan permainan akting yang memukau. Lee Sung-jae sebagai professor-wannabe yang batinnya tertekan tampil meyakinkan dan berhasil menarik simpati, walaupun beberapa aksinya di awal-awal film tidak bisa dibilang terpuji. Byeon Hee-boong sebagai janitor yang auranya mencurigakan juga cukup menarik perhatian, terutama saat ia menceritakan kisah mistis di basement apartemen yang gelap. Namun yang paling mencuri perhatian adalah Bae Doona, salah satu aktris paling ekspresif yang pernah saya lihat dalam sinema Korea. Peran-peran dengan nuansa komedi jelas sangat cocok untuknya. Interaksi dirinya dengan temannya yang bertubuh tambun adalah salah satu highlight yang membuat film ini terasa hangat dan menghibur.
Keunggulan lain yang dimiliki film ini adalah sinematografinya yang apik. Jelas terlihat bahwa Bong Joon-ho telah merencanakan semuanya dengan seksama. Mulai dari adegan pembuka saat Yun-ju berbicara di telepon sambil menghadap hijaunya pepohonan, sampai adegan kejar-kejaran di apartemen yang begitu memorable, semuanya ditampilkan dengan menawan dan tentunya enak disantap. Melalui karya debutnya ini, beliau memperlihatkan bahwa ia adalah sineas berbakat yang patut diperhitungkan. Cukup menyenangkan juga melihat ia bisa menjadikan hal-hal kecil seperti tissue toilet dan kaca spion sebagai komponen penting yang mendukung jalinan cerita. Nice touch!
Overall, sebagai sajian drama dengan sedikit elemen horor dalam balutan black comedy yang kental, Barking Dogs Never Bite secara mengejutkan tampil menghibur dan sangat layak untuk disaksikan. Sebuah awal yang menjanjikan bagi karir seorang sineas bernama Bong Joon-ho.
Rating : 8/10
Tuesday, December 21, 2010
Compiled Reviews : From Magical Journey To Cyberpunk Realm
The Chronicles Of Narnia : The Voyage Of The Dawn Treader (2010)

Genre : Adventure/Family/Fantasy | Pemain : Georgie Henley, Skandar Keynes, Ben Barnes, Will Poulter, Gary Sweet, Anna Popplewell, William Moseley, Tilda Swinton, Liam Neeson, Simon Pegg | Sutradara : Michael Apted | Penulis : Christopher Markus, Stephen McFeely, Michael Petroni, C.S. Lewis (novel) | Distributor : Twentieth Century Fox Film Corp. | Durasi : 113 menit | MPAA : Rated PG for some frightening images and sequences of fantasy action
"You have returned
for a reason. Your adventure begins now."-Aslan-
The Chronicles of Narnia karya C.S. Lewis adalah salah satu seri literatur klasik yang paling dikenal dan cukup memberi pengaruh bagi karya-karya lain. Adaptasinya pun sudah beberapa kali dibuat ke dalam berbagai media, mulai dari drama radio, drama panggung, film televisi, sampai film layar lebar. Invasi seri ini ke layar lebar dimulai pada tahun 2005, saat The Lion, The Witch, And The Wardrobe yang disutradarai Andrew Adamson (dwilogi Shrek) dirilis di bioskop-bioskop seluruh dunia. Adaptasi ini tergolong sukses baik dari sisi kualitas maupun kuantitas dolar yang didulang. Sebuah awal yang menjanjikan bagi kelangsungan franchise ini.
Menurut saya pribadi, film pertamanya memang berhasil menerjemahkan esensi yang terkandung dalam novelnya dengan cukup baik. Lalu tiga tahun kemudian muncul adaptasi novel keduanya yang dengan sub-judul Prince Caspian. Sekuel ini dikemas lebih gelap namun masih terbilang aman untuk dikonsumsi anak-anak. Sialnya, entah kenapa kali ini seri Narnia seolah kehilangan daya magisnya. Spirit petualangan serta sense of wonder-nya tertutupi kadar action yang tampak lebih dikedepankan. Secara keseluruhan memang masih menghibur, namun tidak memberi impresi lebih.
Perombakan besar dilakukan di seri ketiganya yang melibatkan penggantian posisi sutradara (Andrew Adamson to Michael Apted) serta studio yang mendistribusikannya (Walt Disney to Twentieth Century Fox). Perubahan ini tentunya diharapkan mampu membawa franchise ini ke arah yang lebih baik. Berhasilkah?
Tidak seperti dua pendahulunya, kali ini hanya dua bersaudara Pevensie yang berkesempatan mengunjungi kembali tanah Narnia, yaitu Edmund (Skandar Keynes) dan Lucy (Georgie Henley). Oh ya, tambah satu lagi sepupu mereka, si manja sok pintar Eustace Scrubb (Will Poulter) yang ikut terseret ke dalam petualangan mereka untuk membantu King Caspian (Ben Barnes) guna mencari tujuh lord yang dahulu hilang saat rezim pamannya—Miraz merajalela. Bersama awak kapal Dawn Treader lainnya, mereka berlayar menyeberangi samudera luas serta menjamah pulau-pulau misterius nan magis demi menuntaskan misi tersebut.
Di luar perkiraan, ternyata film ini tidak seburuk yang saya bayangkan. Skeptisisme penilaian awal terhadap kualitas film ini muncul karena pendapat beberapa teman saya serta kritikus-kritikus luar yang mencap film ini lemah (jika tidak mau dibilang buruk). Secara keseluruhan, ternyata saya masih bisa menikmatinya. Spirit petualangan yang saya nantikan kembali muncul di seri terbaru ini. Kali ini, saya bisa merasakan kembali daya magis dari sebuah negeri ajaib bernama Narnia.
Daya magis yang dihembuskan sayangnya tidak sanggup mengangkat kualitas film ini secara keseluruhan. Pencarian tujuh raja yang hilang beserta pedang magisnya di berbagai pelosok Narnia memang cukup menarik. Berbagai lokasi yang ada digambarkan dengan cukup menarik, terutama pulau tempat tinggal para Dufflepud yang indah dan memanjakan mata. Namun misi pencarian ini lama-kelamaan terkesan episodik. Polanya klise dan mudah ditebak sehingga terasa sedikit membosankan.
Dari segi teknis, efek CGI yang digunakan cenderung medioker. Menarik, namun tidak spesial. Sinematografinya juga belum mampu membuat saya berdecak kagum layaknya yang dilakukan Eduardo Serra melalui seri terbaru Harry Potter baru-baru ini (ups! bukan bermaksud membanding-bandingkan ya). Set design-nya digarap dengan apik, namun entah mengapa tampilan Dawn Treader agak terkesan kekanakan (menurut pandangan pribadi saya). Komposisi musik dari David Arnold setidaknya cukup mendukung tiap-tiap adegannya.
Georgie Henley dan Skandar Keynes—dua pemain utama yang konsisten bermain dari mulai seri awalnya cukup mengalami peningkatan akting, terutama Henley yang tampil memikat sebagai si bungsu Lucy. Namun yang paling menarik perhatian justru karakter baru—Eustace Scrubb yang diperankan oleh Will Poulter. Sifat serta tingkahnya yang menyebalkan tidak jarang mengundang tawa. Layar pun semakin hidup saat ia berinteraksi dengan Reepicheep (disuarakan oleh Simon Pegg), tikus ksatria yang begitu loveable dengan gesture dan celotehannya. Tokoh Reepicheep jugalah yang sanggup memainkan emosi penonton (saya lebih tepatnya) menjelang akhir film.
Menurut saya, adegan menjelang akhir film memang bagian yang paling menarik. Semua kekurangan di sepanjang durasi dibayar dengan ending yang memikat. Mengikuti pola dua film sebelumnya, bagian akhir film kembali mempertemukan para tokoh utamanya dengan Aslan sang singa agung. Dengan mengambil setting yang begitu memanjakan mata, adegan ini semakin terasa bermakna. Saat itu pula saya kembali tersadar bahwa Narnia adalah karya yang sarat dengan simbol-simbol religius sekaligus pesan moral. Adegan perpisahan terasa begitu menyentuh. Sebuah alegori yang indah dalam menggambarkan proses perpindahan dari alam fana menuju kekekalan.
Kesimpulannya, Narnia terbaru ini menawarkan kisah petualangan memikat namun masih terasa memiliki banyak kelemahan sebagai satu film utuh. Setidaknya ending-nya dieksekusi dengan menawan dan penuh makna.
Rating : 6/10
Tron : Legacy (2010)
Genre : Action/Adventure/Sci-Fi | Pemain : Jeff Bridges, Garrett Hedlund, Olivia Wilde, Bruce Boxleitner, Beau Garrett, Michael Sheen | Sutradara : Joseph Kosinski | Penulis : Edward Kitsis, Adam Horowitz | Distributor : Walt Disney Studios Motion Pictures | Durasi : 127 menit | MPAA : Rated PG for sequences of sci-fi action violence and brief mild language
"The
Grid. A digital Frontier. I tried to picture clusters of information as they
traveled through the computer. Ships, motorcycles. With the circuits like
freeways. I kept dreaming of a world I thought I'd never see. And then, one
day... I got in."-Kevin Flynn-
Saat ini, perfilman Hollywood tampaknya sudah semakin menyadari potensi dari sebuah teknologi bernama 3D. Sebuah film dengan presentasi 3D tentunya menawarkan sensasi menonton yang berbeda dibanding dengan film berformat biasa. Jika dimanfaatkan secara maksimal, hasilnya akan terlihat mengagumkan secara visual, layaknya yang dilakukan James Cameron melalui Avatar tempo hari. Namun, pencapaian Avatar urung diikuti oleh film-film lain yang diberi embel-embel 3D. Mayoritas film 3D akhir-akhir ini hanya mengandalkan hasil konversi yang hasilnya jelas-jelas mengecewakan. Hal ini tidak lain karena sepertinya para produser Hollywood memanfaatkan potensi teknologi ini bukan sebagai penghasil visual yang memukau, melainkan sebagai mesin pengeruk uang semata. Just my thought.
Akhir Desember ini, penonton kembali disuguhkan sajian 3D terbaru yang merupakan sebuah sekuel dari cult classic produksi Disney tahun 1982 berjudul Tron. Dengan tambahan kata Legacy, sekuel ini tampaknya dimaksudkan untuk mengenalkan dunia futuristik Tron kepada generasi masa kini sekaligus melahirkan sebuah franchise raksasa potensial. Dengan buzz yang semakin kencang menjelang perilisannya di bioskop, film ini memang sangat berpotensi meraih pasar mainstream sekaligus fans film orisinilnya. Dari materi promosinya, saya cukup optimis bahwa kreatornya memanfaatkan teknologi 3D sebagai komponen yang integral dengan isi filmnya, bukan hanya gimmick semata.
Dari segi cerita, Legacy sebenarnya tidak menawarkan sesuatu yang istimewa. Pengejaran kesempurnaan yang berujung pada kehancuran, itulah garis besar cerita yang bisa saya tangkap disini. Kevin Flynn (Jeff Bridges), seorang progammer sekaligus pemilik perusahaan Encom yang terkenal dengan game kreasinya—Tron, dinyatakan menghilang. Dua puluh tahun kemudian, Sam (Garrett Hedlund), anak satu-satunya, mendapat sebuah pesan yang menggiringnya masuk ke dalam dunia di balik virtual game ciptaan Kevin, The Grid. Di sana, Sam menemukan kebenaran di balik menghilangnya sang ayah selain harus terjebak dalam pertempuran layaknya gladiator rancangan Clu, kloning ayahnya yang memberontak dan memiliki agenda tersendiri. Bersama ayahnya dan dibantu Quorra (Olivia Wilde)—murid sang ayah, Sam berusaha menghindar dari kejaran Clu dan keluar dari Grid.
Film ini memiliki komponen yang lazim muncul dalam film bergenre cyberpunk, seperti setting near future dalam keadaan distopia (tergambar pada Grid), pembauran antara manusia sungguhan dengan "manusia" artifisial (dianalogikan melalui user dan program), sampai gaya visual yang cenderung gelap dibalut kekontrasan warna neon. Visual inilah yang menjadi kekuatan Legacy. Dari mulai kostum hingga adegan aksi yang melibatkan balapan light cycle serta disc battle, semuanya begitu memukau mata. Tidak salah jika film ini ditampilkan dalam format 3D, walaupun masih belum bisa menandingi kehebatan visual Avatar (menurut saya). Selain itu, jiwa film ini juga terletak pada musik yang melatarinya. Duo Daft Punk benar-benar patut diberi kredit tersendiri atas komposisi musik yang berhasil menghembuskan jiwa pada film yang sebetulnya dingin dalam hal emosi ini. Mata dan telinga saya begitu dimanjakan selama dua jam.
Sebagai sebuah hiburan mendekati akhir tahun, persembahan terbaru Disney ini lumayan menghibur dengan jualan utamanya yang outstanding (yeah, I'm talking about the audio and visual—including the beautiful Olivia Wilde). Meski naskahnya lemah dengan dialog datar yang bahkan aktor sekaliber Jeff Bridges pun tidak sanggup membuatnya menjadi lebih baik, namun secara keseluruhan saya nilai Tron : Legacy sebagai sebuah sajian yang nikmat. Saya rekomendasikan bagi calon penonton yang menginginkan sajian menghibur dengan bobot cerita yang ringan. And I think it's better to watch it in 3D.
Rating : 6/10
Monday, November 22, 2010
Harry Potter And The Deathly Hallows : Part 1 (2010)
Genre : Action/Adventure/Fantasy/MysteryPemain : Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson, Ralph Fiennes, Helena Bonham Carter, Bill Nighy, Rhys Ifans, Alan Rickman, Jason Isaacs, Imelda Staunton
Sutradara : David Yates
Penulis : Steve Kloves (screenplay), J.K. Rowling (novel)
Distributor : Warner Bros. Pictures
Durasi : 146 menit
MPAA : Rated PG-13 for some sequences of intense action violence, frightening images and brief sensuality
MAY CONTAIN SPOILER
Harry Potter. Sepintas tampak tidak ada yang istimewa dengan nama tersebut, bahkan akan terasa lucu jika kita iseng menerjemahkan nama belakangnya ke dalam Bahasa Indonesia. Namun kenyataannya, nama itulah yang membuat banyak orang di berbagai belahan dunia tersihir selama lebih dari satu dekade. Melalui kisah petualangannya yang ditulis oleh seorang wanita berkebangsaan Inggris bernama J.K. Rowling, nama Harry Potter berubah menjadi sebuah fenomena yang mengguncang dunia literatur dan sinema. Kisah klasik bertema good vs evil dalam balutan unsur magis yang ada dalam Potter universe ini memang pantas dicintai banyak orang. Selain kisahnya yang kaya dan menghibur, Rowling juga berhasil membentuk ikatan kuat antara pembaca dengan karakter-karakter yang ada dalam novel seri rekaannya ini. Tidak terhitung berapa banyak fans yang dengan setia mengikuti sepak terjang Harry dan kawan-kawan dari awal sampai konfrontasi final melawan Lord Voldemort beserta pasukan Death Eaters-nya. Para pembaca (dan penonton) tidak akan sampai sejauh ini jika tidak ada ikatan emosi antara mereka dengan karakter-karakternya. Inilah kehebatan franchise Harry Potter. Fakta bahwa kisah ini hampir berakhir (untuk versi filmnya) tentu akan menjadi sebuah momen penting bagi para fans setianya. Dan saya adalah salah satunya.
Mengabaikan fakta bahwa banyak orang yang sudah mengetahui akhir kisahnya (cerita berakhir di novel ke-7 yang terbit di tahun 2007 lalu), instalmen terbaru dari versi layar lebarnya saya yakini masih sanggup memancing rasa penasaran. Bukan kepenasaran akan ceritanya tentu saja, melainkan visualisasi yang ditampilkan. Dengan jumlah fans yang tak terhitung banyaknya, tekanan untuk menghasilkan visualisasi yang sesuai dengan ekspektasi mereka tentunya semakin besar. Beban ini kembali ditanggung oleh David Yates, sutradara yang sebelumnya sudah berpengalaman menggarap seri Harry Potter ke-5 dan ke-6. Di tangannya, saya akui bahwa franchise ini semakin matang, di luar konten ceritanya yang memang semakin gelap dan dewasa. Kembalinya Yates untuk menangani seri pamungkasnya semakin membuat saya optimis bahwa instalmen ini sudah berada di tangan yang tepat. Keputusan Warner Bros. untuk membagi film terakhir ini menjadi dua bagian juga semakin membuat saya gembira. Motivasi ekonomi mungkin menjadi salah satu penyebabnya, namun saya tidak terlalu ambil pusing. Dan setelah menyaksikan hasil akhir dari bagian pertama ini, saya menyadari bahwa pembagian tersebut adalah keputusan yang sangat tepat. Sebuah tribute bagi para fans setianya.
Franchise Harry Potter dikenal memiliki cerita yang kompleks dan semakin kelam dari seri ke seri. Setelah nuansa hangat dan ceria disajikan Chris Columbus dalam dua instalmen awalnya, cerita berubah menjadi lebih kelam dan dewasa di seri ke-3. Selain materi awalnya yang memang seperti itu, penggantian posisi sutradara juga cukup berpengaruh. Sejak film ke-3 itulah, franchise ini semakin konsisten menjaga kekelaman alur cerita serta atmosfer yang dihadirkan. Harry Potter And The Deathly Hallows : Part 1 menurut saya adalah yang paling gelap dan mencekam dibanding film-film sebelumnya. Dari awal film saja, atmosfer kelam sudah mulai terasa (logo Warner Bros. yang pelan-pelan hancur berkarat sangat simbolik).Dunia sihir sedang memasuki masa-masa kegelapan. Teror yang disebarkan Lord Voldemort (Ralph Fiennes) bersama pasukan Death Eaters-nya semakin meluas. Kementrian Sihir sudah diambil alih, fasisme merajalela. Bagai Hitler dengan Nazi-nya, Voldemort beserta pasukan Death Eaters-nya memegang kendali penuh atas komunitas sihir. Rasa aman dan nyaman sudah menjadi barang langka, terutama bagi para Muggle-born (keturunan manusia non-penyihir). Monumen "Magic Is Might" yang berdiri kokoh di atrium Kementrian Sihir semakin menegaskan betapa mengerikannya rezim baru ini.
Kehadiran sosok Harry Potter (Daniel Radcliffe) bagaikan sebuah cahaya terang di tengah kegelapan yang sedang melanda dunia sihir. Dia adalah anak yang berhasil bertahan hidup dari kutukan maut Voldemort. Dialah Sang Terpilih. Kali ini, rintangan yang harus dihadapi Harry dalam usahanya mengalahkan Voldemort semakin berbahaya. Sepeninggal Albus Dumbledore, Hogwarts bukan lagi tempat paling aman untuk berlindung dari serangan Voldemort dan Death Eaters. Kini, Harry harus menghadapi tantangan nyata di dunia luar, jauh dari kenyamanan Hogwarts dan perlindungan guru-gurunya. Bersama dua sahabat setianya—Ron Weasley (Rupert Grint) dan Hermione Granger (Emma Watson), Harry melanjutkan misi yang diwariskan Dumbledore, yaitu menemukan dan menghancurkan sisa Horcrux (kepingan jiwa) Voldemort yang masih tersebar di berbagai tempat. Dalam menjalankan misi ini, mereka juga menemukan fakta tentang keberadaan tiga benda keramat yang dijuluki The Deathly Hallows. Ketiga benda tersebut jika disatukan konon akan membuat pemiliknya memiliki kekuatan tak terbatas.
Tidak seperti enam instalmen sebelumnya dimana kastil Hogwarts selalu dijadikan setting utama, kali ini sekolah sihir tersebut tidak diperlihatkan sama sekali. Perjalanan trio Harry-Ron-Hermione yang selalu berpindah-pindah lokasi membuat film ini lebih terkesan seperti road movie. Absennya Hogwarts sebagai setting juga membuat film ini memiliki feel yang berbeda dibandingkan film-film sebelumnya. Lebih liar, berbahaya, sekaligus emosional.Salah satu keuntungan dari dibaginya film terakhir ini menjadi dua bagian yaitu semakin leluasanya cerita untuk bergerak. Perlahan namun pasti, menurut saya pace-nya sudah sangat pas. Steve Kloves berhasil menyusun skrip yang tetap setia dengan sumber aslinya namun juga tidak ragu untuk sedikit berimprovisasi. Adegan Harry menghibur Hermione dengan mengajaknya berdansa diiringi lagu O Children yang dibawakan Nick Cave sungguh suatu kejutan yang sangat manis. Nice job, Kloves!
Ruang gerak yang luas dalam ceritanya juga memberi kesempatan lebih untuk pendalaman karakter, terutama karena disini fokus utamanya memang terletak pada perkembangan hubungan antara tiga tokoh utamanya. Pendalaman karakter yang baik tentu bergantung juga pada penjiwaan tiap aktor-aktrisnya dalam memainkan peran masing-masing. Tanpa ragu saya katakan bahwa Radcliffe, Grint, dan Watson telah mempersembahkan performa terbaik mereka disini. Setelah hampir satu dekade, sangat terlihat bahwa mereka bertiga semakin melebur dengan karakter masing-masing. Yang paling menonjol menurut saya adalah Emma Watson. Ia bersinar di setiap kemunculannya. Opening scene dimana ia diperlihatkan harus menghapus ingatan orangtuanya terasa begitu emosional. It's one of the most heartbreaking scenes I've ever scene. Singkat tapi memorable. Untuk pemeran pendukung lainnya yang banyak diisi oleh aktor veteran Inggris, saya rasa tidak perlu ditanya lagi. Walaupun kebanyakan dari mereka hanya tampil singkat, namun performanya tetap prima. Sungguh ensemble cast yang mengagumkan.
Dari sisi teknis, sinematografi garapan Eduardo Serra sangatlah indah dan memanjakan mata. Keberaniannya dalam menggunakan teknik hand-held camera di beberapa adegan patut diapresiasi. Adegan kejar-kejaran antara trio tokoh utama kita dengan para Snatchers sukses memompa adrenalin. I love that scene! Warna-warna yang ditampilkan cenderung gelap, sesuai dengan mood film. Score karya Alexander Desplat juga semakin memperkaya adegan demi adegannya. Suatu keputusan tepat untuk melibatkan komposer ini dalam proyek sekelas Harry Potter. Film sebusuk New Moon saja jadi terkesan lebih elegan berkat komposisi musik gubahannya.David Yates memang memberi bobot lebih pada unsur drama dalam instalmen terbaru ini, namun bukan berarti ia melupakan unsur hiburannya. Selipan humor segar di beberapa adegan berhasil mengundang tawa. Lalu action sequences yang ada juga digarap dengan dengan baik—seru sekaligus mencekam di beberapa bagian. Oh ya, jangan lupakan adegan yang menjelaskan tentang legenda The Deathly Hallows. Sequence ini dipresentasikan dalam animasi berupa siluet dengan latar belakang kecoklatan. Indah sekaligus memancarkan daya magis yang begitu kuat.
Menurut saya, inilah adaptasi terbaik dari keseluruhan film Harry Potter yang pernah dirilis. Sangat terlihat kerja keras Yates beserta krunya dalam upaya menghadirkan yang terbaik bagi para fans setia franchise ini. J.K. Rowling patut berbangga karena karyanya ditangani dengan penuh respek oleh Yates dan krunya. Sebuah awal yang baik untuk mengakhiri kisah yang begitu dicintai orang banyak. Saya sendiri sebagai fanboy (yeah, I'm proud of it!) tentu sangat tidak sabar untuk menunggu kisah pamungkasnya musim panas nanti. Please, don't let me down, Yates!
Long live Harry Potter.
R.I.P. Dobby the Free House Elf
Rating : 9/10
Wednesday, October 20, 2010
Heathers (1989)
Genre : Comedy/CrimePemain : Winona Ryder, Christian Slater, Shannen Doherty, Lisanne Falk, Kim Walker
Sutradara : Michael Lehmann
Penulis : Daniel Waters
Distributor : New World Pictures
Durasi : 103 menit
MPAA : Rated R for violence, sexual references, and language
"Betty Finn was a true friend and I sold her out for a bunch of Swatch dogs and Diet Coke heads. Killing Heather would be like offing the wicked witch of the west... wait, east. West! God! I sound like a fucking psycho."
Kalimat di atas adalah satu dari sekian banyak quote menggelitik yang bertebaran di sepanjang durasi film ini. Heathers, sebuah potret kehidupan para remaja dalam balutan dark comedy yang tajam, penuh sindiran, sekaligus cerdas. Judul film ini sendiri diambil dari nama sebuah kelompok (mungkin lebih dikenal dengan sebutan geng) yang terdiri dari tiga siswi populer bernama depan sama—Heather Chandler (Kim Walker), Heather Duke (Shannen Doherty), dan Heather McNamara (Lisanne Falk). Layaknya film-film remaja kebanyakan, clique yang terdiri dari gadis-gadis paling populer di sekolah otomatis memiliki otoritas penuh dalam hal pergaulan. Mereka seolah berada di tempat tertinggi dalam stratifikasi sosial di lingkungan sekolahnya. Dari scene awalnya saja, sudah tergambar seberapa berpengaruhnya eksistensi para Heather ini. Ah, saya jadi teringat lagu Que Sera Sera.
Veronica Sawyer (Winona Ryder)—gadis cerdas dengan selera humor sarkastik, adalah anggota keempat di geng Heathers. Wait, a non-Heather in Heathers? How could that be? Ya, meski tidak dijelaskan bagaimana awal mula Veronica bisa diterima di geng tersebut (yang tampak sudah sempurna sebagai trio), namun jelas bahwa ia memiliki sesuatu yang menarik perhatian para Heather. Tidak seperti Duke dan McNamara yang tampak agak segan terhadap pemimpin mereka—Heather Chandler, Veronica justru cenderung lebih santai saat berada di dekatnya. Sosok Veronica adalah cerminan seorang remaja yang ingin diterima dalam pergaulan dengan bergabung bersama geng populer, tidak peduli bahwa justru sebenarnya ia membenci geng tersebut. Seperti kalimat yang diucapkannya, "Well, it's just like - they're people I work with, and our job is being popular and shit." Jelas tergambar bahwa ia terpaksa bergaul dengan para Heather demi status sosial. Sebagai Veronica, Winona Ryder tampak begitu mempesona di setiap kemunculannya.
Kehadiran sosok Jason "J.D." Dean (Christian Slater)—murid pindahan bergaya cool dan misterius, semakin membuat Veronica tersadar. Kebencian terhadap Heather yang selama ini hanya ia tuangkan dalam diary, mulai diwujudkan dalam tindakan nyata. Namun, keisengan yang ia lakukan bersama J.D. pada akhirnya malah berbuah malapetaka. Sosok J.D. seolah memicu munculnya sisi gelap dalam diri Veronica. Saat bersama J.D., ia seperti kehilangan kendali atas dirinya. Mampukah Veronica terbebas dari pesona gelap J.D. yang bagai magnet bagi dirinya? Tokoh J.D. diperankan dengan sempurna oleh Christian Slater—charming sekaligus psychotic. Cukup mengherankan melihat karirnya sekarang yang tidak berkembang, padahal jelas-jelas ia bisa berakting. Dan chemistry-nya dengan Winona Ryder sungguh mengagumkan. Pasangan mematikan yang mempesona. Love them both!Heathers mengeksplor sisi gelap kehidupan para remaja di sekolah menengah. Stereotype anak sekolahan, obsesi terhadap popularitas, sampai fenomena bunuh diri di kalangan remaja dijadikan bahan komedi satir dalam film ini. Untuk yang memiliki selera humor sarkastik, dipastikan akan sangat terhibur dengan lontaran kalimat pedas dari tiap karakternya di sepanjang film. Skrip buatan Daniel Waters ini memang cerdas dan luar biasa menghibur dengan segala kesinisannya. Tiap tokohnya diberi kedalaman yang pas, dengan pembubuhan simbolisasi untuk mempertegas sifat karakter masing-masing (misalnya warna bola kriket Heathers). Beberapa adegan terkesan agak berlebihan—terutama pada paruh akhir menjelang ending, namun secara keseluruhan apa yang ingin disampaikan film ini cukup tepat sasaran. Tingkah laku remaja yang semakin brutal dan destruktif serta blow-up media yang membuat hal-hal negatif jadi terlihat keren disampaikan dengan jelas.
Jujur, saya sangat menikmati film ini dari awal sampai akhir. Gaya humornya sangat mengena dan benar-benar menghibur. Ini adalah salah satu film remaja terbaik yang pernah saya tonton. Sedikit mengingatkan pada Mean Girls yang sudah lebih dahulu saya tonton, namun Heathers jelas lebih baik sekaligus memorable. Film ini tidak cukup hanya ditonton sekali karena setelah menonton untuk kedua kalinya, saya menemukan beberapa detail yang sempat terlewat saat pertama kali menonton. Dan yang terpenting, saya semakin jatuh cinta dengan film ini. Ini bukan berlebihan, hanya sekedar ungkapan perasaan saya saja sebagai penonton. Tidak lebih.Now, can someone bring me a chainsaw?
Rating : 9/10
Saturday, October 9, 2010
The Girl Who Leapt Through Time (2006)
Genre : Animation/Comedy/Drama/RomancePengisi Suara : Riisa Naka, Takuya Ishida, Mitsutaka Itakura
Sutradara : Mamoru Hosoda
Penulis : Yasutaka Tsutsui (novel), Satoko Okudera (screenplay)
Distributor : Kadokawa Herald Pictures
Durasi : 98 menit
Yuri Hayakawa : "Makoto! Time waits for no one."
Apa yang akan anda lakukan jika anda memiliki kemampuan untuk memutar waktu? Berusaha mengubah kejadian buruk di masa lalu agar menjadi lebih baik segera terlintas di benak saya—dan mungkin juga sebagian orang. Lantas, apakah dengan mengubah masa lalu maka otomatis keadaan saat ini akan menjadi lebih baik? Tidak ada jawaban yang pasti, karena saya yakin segala sesuatu akan ada konsekuensinya. Mengubah hal sekecil apapun bisa membawa dampak pada hal lain. Hukum sebab-akibat tentunya tidak bisa diabaikan. Konsep tersebut ditampilkan melalui film yang dalam bahasa aslinya berjudul Toki o Kakeru Shojo ini. Terinspirasi dari novel berjudul sama karangan Yasutaka Tsutsui, film ini mencoba menggabungkan romantika kehidupan remaja dengan elemen fiksi ilmiah.

Tokoh utama dalam film ini bernama Makoto Konno (Riisa Naka), gadis tomboy yang cenderung urakan dan ceroboh. Kegiatan rutinnya sepulang sekolah diisi dengan bermain baseball bersama dua orang temannya, Chiaki Mamiya (Takuya Ishida) dan Kosuke Tsuda (Mitsutaka Itakura). Suatu hari saat berada dalam lab di sekolah, ia mengalami kejadian aneh. Seolah-olah ia terbang melintasi waktu sebelum akhirnya ia terjerembab di lantai dalam keadaan setengah sadar. Awalnya ia tidak terlalu menganggap serius keanehan tersebut sampai akhirnya terjadi insiden yang mulai membuatnya yakin bahwa ia bisa "melompati" waktu. Setelah insiden tersebut, ia berkonsultasi dengan bibinya, Kazuko Yoshiyama (sang tokoh protagonis dalam novel aslinya—diisisuarakan oleh Sachie Hara). Tanpa benar-benar menceritakan pengalamannya sendiri dalam melompati waktu, bibi Kazuko kemudian menjadi figur seorang penasihat bagi Makoto.
Proses melompati waktu yang awalnya terjadi karena ketidaksengajaan pada akhirnya bisa dikontrol oleh Makoto. Bagaimana caranya? Dengan melakukan lompatan (literally) jauh a la kijang, dan ia pun bisa mundur kembali ke waktu yang diinginkannya. Kemampuan barunya ini ia manfaatkan untuk kepentingan dirinya sendiri yang cenderung sepele, seperti mengulang ujian di sekolah sampai karaoke berjam-jam tanpa membayar lebih. Makoto menganggap kemampuan barunya ini bagaikan sebuah hiburan, tanpa menyadari bahwa ada konsekuensi dibalik itu semua. Keadaan menjadi lebih serius saat Chiaki menyatakan perasaannya pada Makoto. Makoto yang tidak mau persahabatannya rusak karena masalah percintaan lalu melakukan lompatan waktu berkali-kali hanya untuk membatalkan pernyataan Chiaki. Dan Makoto juga menggunakan lompatan waktu untuk menjodohkan Kosuke dengan seorang gadis yang menyukainya. Apakah semua perbuatannya ini dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik? Ataukah justru ia akan menyesal seumur hidup atas perbuatannya tersebut?
Cerita mengenai time travel seperti ini memang sudah sering diangkat ke berbagai media, termasuk film. Namun bukan berarti tema tersebut sudah basi untuk diangkat. Hal ini tergantung pada penggarapannya juga, apakah masih sanggup menyajikan sesuatu yang menarik hingga layak ditonton. Tokikake (singkatan untuk judul aslinya) adalah salah satu contoh bagaimana tema mengenai time travel atau time leapt ini masih bisa dikemas dengan baik dan menarik. Tokikake pada dasarnya adalah coming of age story bergenre drama komedi. Di sini diperlihatkan bagaimana sikap seorang remaja biasa saat diberi kemampuan lebih. Kemampuan yang akan membawa sang pemilik pada konsekuensi mengerikan saat digunakan dengan seenaknya, tapi di sisi lain juga dapat menumbuhkan kedewasaan dalam dirinya. Hubungan persahabatan yang berkembang menjadi rasa cinta dihadirkan dengan manis, getir, sekaligus lucu. Untuk melengkapi itu semua, maka ditambahkan elemen fiksi ilmiah bertajuk time leapt. Elemen ini hadir untuk memberi impact lebih kepada para penontonnya.Film ini diproduksi oleh Madhouse—salah satu studio animasi terkenal di Jepang yang sudah sering menelurkan anime baik untuk format televisi maupun layar lebar, diantaranya karya-karya dari almarhum Satoshi Kon (Tokyo Godfathers, Paprika). Animasi yang ditampilkan disini menurut saya cukup halus dan menawan, tidak kalah dengan animasi produksi Ghibli yang kaya warna—sungguh memanjakan mata. Desain karakternya dibuat khas anime konvensional, dengan tampilan fisik yang kadang tidak proporsional serta ekspresi wajah komikal dalam beberapa adegan—I love it! Desain lingkungannya juga digambarkan dengan baik dan mendetail. Salah satu lokasi yang paling sering disorot adalah sebuah sungai yang menghadap langsung ke flyover. Dengan sudut pengambilan gambar serta komposisi warna yang pas, adegan yang ditampilkan terasa semakin kuat dan memorable.

Komponen lain yang tidak kalah menarik adalah musik latarnya yang ikut andil dalam membangun mood film dari awal sampai akhir. Dari adegan lucu sampai momen yang menguras emosi berhasil disampaikan melalui score gubahan Kiyoshi Yoshida ini. Dengan segala keunggulan teknis serta muatan ceritanya yang menarik, tanpa ragu saya berani menyebut film ini sebagai salah satu anime terbaik yang pernah saya tonton. Apakah masih terlalu prematur untuk mengatakan bahwa Mamoru Hosoda adalah the next Hayao Miyazaki? Tanpa perlu membandingkan pun, saya yakin bahwa sineas satu ini memiliki talenta besar dalam membuat film animasi berkualitas. Patut ditunggu karya-karya beliau selanjutnya. Sebelum itu, biarkan saya kembali menyaksikan serunya aksi Makoto sang "pelompat" waktu. Yeah, it's definitely worth multiple watching.
Rating : 8/10
Saturday, October 2, 2010
Together (2000)
Genre : Comedy/DramaPemain : Lisa Lindgren, Michael Nyqvist, Gustaf Hammarsten, Emma Samuelsson, Sam Kessel
Sutradara : Lukas Moodysson
Penulis : Lukas Moodysson
Distributor : Sonet Film
Durasi : 106 menit
MPAA : Rated R for nudity/sexuality and language
Birger : "There's strength in being alone - that's just bullshit. Only thing worth anything is being together."
Stockholm, Swedia 1975. Pada periode 70-an ini, di Swedia mulai banyak bermunculan komune—sekelompok orang yang memutuskan untuk tinggal bersama dalam suatu tempat dengan saling berbagi properti sampai pendapatan dari usaha yang dikelola bersama. Melalui film ini, Moodysson menyorot kehidupan sekelompok hippies yang tergabung dalam satu komune dengan nama "Together" atau "Tillsammans" dalam bahasa Swedianya. Mereka adalah Goran (Gustaf Hammarsten) bersama kekasihnya, Lena (Anja Lundqvist); Lasse (Ola Norell) dengan mantan istrinya, Anna (Jessica Liedberg) beserta putra tunggal mereka Tet (Axel Zuber); Klas (Shanti Roney); Erik (Olle Sarri); dan terakhir ada pasangan suami istri beserta putranya (saya lupa nama mereka). Dengan watak masing-masing yang berbeda, mereka tidak pernah lepas dari perdebatan tiap harinya. Satu contoh saat mereka berdebat mengenai giliran siapa untuk mencuci piring, dan di satu sisi mereka juga berargumen apakah kegiatan mencuci ini terlalu "burjois" untuk dilakukan. Ya, percakapan seperti ini adalah makanan mereka sehari-hari.
Komunitas kacau ini kemudian mendapat kejutan yang berpotensi memecah-belah mereka—kehadiran tiga pendatang baru di rumah mereka. Elisabeth (Lisa Lindgren), kakak kandung Goran memutuskan untuk pindah sementara ke rumah tersebut bersama kedua anaknya, Eva (Emma Samuelsson) dan Stefan (Sam Kessel) diakibatkan perlakuan kasar dari suaminya yang alkoholik, Rolf (Michael Nyqvist). Selain mereka bertiga, penghuni lama tentunya juga harus bisa saling menyesuaikan diri. Idealisme mereka dipertaruhkan. Siapa yang tidak tahan, dia yang harus keluar. Tapi yang paling terkena dampak dari kepindahan ini adalah Eva dan Stefan. Merasa sebagai outsider di lingkungan sekolah, kini mereka semakin merasa terasing dengan berada di tempat baru tersebut. Pertengkaran orang tua serta lingkungan yang tidak kondusif semakin membuat mereka frustasi. Namun lama kelamaan keadaan pun membaik saat seorang anak lelaki tetangga tertarik kepada Eva sehingga ia pun bisa mulai menerima keadaannya. Stefan pun pada akhirnya mulai bisa beradaptasi dengan tempat tinggal barunya sembari sebisa mungkin tetap berhubungan dengan ayahnya.
Dalam proses penyatuan dua kelompok yang berbeda ini (idealist hippies dengan broken family), akhirnya harus ada beberapa orang yang keluar demi mempertahankan idealismenya. Prinsip penghuni lama untuk menghindari gaya hidup masyarakat modern, seperti menolak adanya televisi atau larangan mengonsumsi daging pada akhirnya mulai longgar. Menurut saya ini bukanlah wujud dari keegoisan satu pihak yang menyebabkan terkekangnya kebebasan berprinsip dari pihak lain, melainkan lebih kepada rasa toleransi dari kedua belah pihak demi terjalinnya kebersamaan yang lebih harmonis. Karena perbedaan itu ada justru agar kita bisa lebih memahami serta mengembangkan sikap toleransi terhadap sesama. Dengan memahami perbedaan yang ada dalam diri orang lain maka akan semakin memperkaya diri kita sebagai seorang individu. Ya, perbedaan itu memang indah. :)
Inti yang bisa saya tangkap dari film ini adalah tentang kebersamaan, yang sudah jelas tersirat melalui judulnya. Isu tersebut tentunya tidak akan lengkap jika tidak menyinggung isu lainnya yang berlawanan, yaitu tentang kesendirian. Keadaan ini digambarkan melalui tokoh Rolf. Sifatnya yang temperamen serta hobinya mabuk-mabukan membuat ia dicampakkan istri dan kedua anaknya. Sepeninggal keluarganya, ia mulai merasakan arti kesendirian. Ia membagi rasa kesepiannya dengan seorang kakek yang merasakan hal yang sama sepeninggal istrinya. Dari percakapan mereka tergambar bahwa kesendirian itu menyakitkan. Bahwa hal yang terpenting adalah kebersamaan."You could say that we are like porridge. First we're like small oat flakes - small, dry, fragile, alone. But then we're cooked with the other oat flakes and become soft. We join so that one flake can't be told apart from another. We're almost dissolved. Together we become a big porridge that's warm, tasty, and nutritious and yes, quite beautiful, too. So we are no longer small and isolated but we have become warm. soft, and joined together. Part of something bigger than ourselves. Sometimes life feels like an enormous porridge, don't you think? Sorry, I'm standing around dreaming." Wow, metafora yang brilian! Let's say, life is like a bowl of porridge. Did you ever hear that somewhere? Hahaha. Kalimat yang diucapkan Goran tersebut sudah merangkum apa yang ingin disampaikan melalui film ini.
Dengan jumlah tokoh yang banyak, tentunya agak sulit untuk memberikan pengembangan yang baik bagi tiap karakternya. Tapi, menurut saya Moodysson cukup berhasil untuk membuat tiap karakternya terlihat menonjol walaupun dengan screentime yang terbatas. Dan semua karakter disini terasa nyata, bukan hanya karakter dua dimensi tanpa nyawa yang hanya bertindak sebagai pelengkap saja. Semua memiliki peran masing-masing, dengan karakterisasi yang unik, Kredit tentunya juga patut diberikan untuk para aktor aktrisnya yang mampu membawakan tiap karakternya dengan baik. Nice ensemble cast!
Gambar yang ditampilkan cenderung grainy, hampir sama seperti film Moodysson sebelumnya, Show Me Love. Uniknya, hal ini justru jadi lebih menambah kesan realisme yang hendak disampaikan. Itulah keunggulan karya-karya Moodysson—apa yang ditampilkan di layar terasa nyata, terutama karakterisasi tokoh-tokohnya. Dengan segala keunggulan tersebut, dua film pertamanya secara resmi ikut mengisi daftar panjang film-film favorit saya. Sekarang saya pun semakin penasaran dengan karya berikutnya dari seorang Lukas Moodysson.
8/10
Wednesday, September 29, 2010
The Evil Dead (1981)
Genre : HorrorPemain : Bruce Campbell, Ellen Sandweiss, Richard DeManincor, Betsy Baker, Theresa Tilly
Sutradara : Sam Raimi
Penulis : Sam Raimi
Distributor : New Line Cinema
Durasi : 85 menit
MPAA : Rated NC-17 for substantial graphic horror violence and gore
Linda : "We're going to get you. We're going to get you. Not another peep. Time to go to sleep."
Era 80-an diakui sebagai bagian dari golden age of horror. Masa dimana lahirnya film-film horor yang saat ini sudah mencapai status cult. The Evil Dead adalah salah satu diantaranya. Film horor berbujet rendah ini pada awal perilisannya menimbulkan banyak kontroversi berkaitan dengan muatannya yang saat itu dianggap terlalu ekstrim. Setelah pada akhirnya mendapat jadwal tayang resmi pada tahun 1981, nyatanya film ini cukup sukses dalam peredarannya. Dan lama kelamaan fanbase-nya semakin kuat hingga akhirnya diakui sebagai cult movie. Film ini juga berjasa mengangkat nama sutradaranya, Sam Raimi. Merasa familiar? Tentu saja, karena dialah orang dibalik keberhasilan salah satu trilogi paling sukses sepanjang sejarah, Spider-Man. Jauh sebelum ia meraih popularitas berkat franchise sang manusia laba-laba tersebut, Raimi lebih dahulu dikenal sebagai pencipta salah satu cult horror paling berpengaruh ini.
Formula yang digunakan di sini sangat tipikal film horor. Lima orang mahasiswa menghabiskan akhir pekan di sebuah kabin terpencil di tengah hutan. Dari tampak luarnya saja sudah jelas terlihat bahwa ada yang tidak beres dengan tempat tersebut. Keanehan tersebut tentunya tidak begitu mereka pedulikan pada awalnya. Lama kelamaan, keanehan semakin menjadi terutama setelah mereka menemukan sebuah buku dan kaset rekaman misterius. Akhir dari rekaman tersebut berisi semacam mantra yang tanpa mereka sadari ternyata membangkitkan iblis yang terkubur di hutan tersebut. Malam mereka yang tadinya menyenangkan seketika berubah menjadi malam penuh teror berdarah. Tidak ada jalan keluar. Kini, mereka harus berjuang mati-matian demi bisa bertahan hidup dan memusnahkan para iblis tersebut.Brutal dan absurd, itulah kesan yang saya dapat setelah menonton film ini. Tidak heran jika saat perilisan awalnya film ini tidak lepas dari kontroversi dan sempat dilarang edar di beberapa negara. Muatan kekerasan yang ada memang bisa dibilang cukup eksplisit dengan menampilkan potongan tubuh manusia dan muncratan darah dimana-dimana. Mayoritas adegannya terasa absurd bagi saya bahkan ada beberapa adegan yang terasa menggelikan. Tapi semua keabsurdan tersebut justru menjadi nilai hiburan tersendiri. Dimulai dari adegan setelah mantra dalam kaset rekaman terdengar, film yang awalnya terasa sedikit membosankan ini segera mengeluarkan energinya. Dari adegan kerasukan sampai adegan pembantaian terus menerus membombardir penonton. Sangat menghibur.
Menurut saya, apa yang ditampilkan Raimi di sini bisa dibilang spektakuler pada zamannya. Efek serta makeup yang digunakan terlihat mengagumkan. Berbeda dengan film produksi sekarang yang sudah didukung dengan perkembangan teknologi, film ini tampil maksimal dalam kesederhanaannya. Justru efek dalam film ini berhasil membuat saya terkagum-kagum. Wajah orang yang kerasukan tampak begitu mengerikan, walaupun memang ada beberapa yang terasa berlebihan. Musik latar yang ditampilkan menurut saya agak heboh dan berisik, tapi masih bisa dinikmati dan cukup membantu dalam beberapa adegan. Secara keseluruhan, aspek teknisnya digarap dengan baik sehingga semakin memperkuat atmosfer film.
Berbicara mengenai para pemainnya, saya rasa mereka tampil biasa, tidak istimewa namun juga tidak begitu mengganggu. Kadang mereka tampak agak kaku, kadang berlebihan, tapi juga bisa menarik simpati. Beberapa dialog cheesy yang mereka ucapkan anehnya jadi tidak terasa begitu konyol. Menurut saya Raimi mengambil keputusan yang tepat untuk memakai aktor aktris yang kurang populer.Bagi para penggemar film horor, saya sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton. Setelah menonton film ini, mungkin anda akan mengerti mengapa film ini bisa mendapat status cult dengan fanbase yang sangat kuat. Karena film inilah, saya jadi tertarik untuk berburu film-film horor yang diproduksi di masa kejayaannya, jauh sebelum horor-horor kacangan dengan ide daur ulang menginvasi bioskop-bioskop sekarang.
7/10

