Showing posts with label Gory. Show all posts
Showing posts with label Gory. Show all posts

Tuesday, May 31, 2011

Compiled Reviews : Double French Gorefest

Inside (2007)

Genre : Horror, Thriller | Pemain : Beatrice Dalle, Alysson Paradis, Nathalie Roussel, Francois-Regis Marchasson | Sutradara : Alexandre Bustillo, Julien Maury | Penulis : Alexandre Bustillo | Distributor : La Fabrique de Films | Durasi : 83 menit | MPAA : Rated R for strong bloody violence, gruesome and disturbing content, and language

Masih ingat Rumah Dara? Film slasher lokal yang berhasil membuktikan bahwa sinema horor Indonesia belum sepenuhnya terperosok dalam jurang kehinaan. Meski orisinalitas bukanlah sesuatu yang bisa ditemukan disini, namun hasil akhirnya sudah sangat memuaskan bagi saya. Berbicara soal orisinalitas, saya jadi ingat ada yang pernah berkomentar bahwa beberapa adegan dalam Rumah Dara mencontek habis adegan yang ada dalam sebuah film slasher produksi negara Perancis berjudul A l'interieur atau Inside untuk judul internasionalnya. Suara sumbang itulah yang membuat saya semakin penasaran dengan film garapan duo Alexandre Bustillo dan Julien Maury ini.

Mari pertemukan seorang wanita hamil dengan seorang wanita psikopat dalam sebuah rumah sepi di malam Natal, maka kita akan disuguhkan sebuah tontonan yang seram, menegangkan, serta tentunya banyak ceceran darah dimana-mana (love it!). Sarah (Allyson Paradis), seorang wanita yang tengah hamil tua, harus menerima kenyataan pahit saat ditinggal mati suaminya dalam sebuah kecelakaan mobil. Tak lama setelah kejadian tersebut, tepat saat malam Natal, seorang wanita misterius berpakaian serba hitam tiba-tiba muncul di depan rumahnya. Saat Sarah yakin bahwa wanita tersebut sudah pergi, ternyata si wanita kurang ajar itu diam-diam berhasil menyelinap ke dalam rumahnya. Lalu dimulailah parade bacok-membacok, tembak-menembak, atau apapun itu, yang pasti banyak darah yang tertumpah di setiap adegannya.

Setelah menonton film ini, ternyata memang ada beberapa adegan yang bisa saya temukan juga di film Rumah Dara. Namun, saya rasa The Mo Brothers (sutradara Rumah Dara) bukannya dengan sengaja mencomot adegan-adegan itu, tapi lebih sebagai tribute bagi film-film slasher dari berbagai belahan dunia. I'm just saying. Di luar itu, Inside berhasil membuat saya terpaku untuk terus menyaksikan menit demi menitnya yang penuh dengan lumuran darah. Saya juga sempat beberapa kali dibuat merinding dan bergidik. Salahkan Beatrice Dalle yang sukses memerankan si wanita brengsek dengan aksi-aksi sadisnya yang terkadang sulit diterima akal sehat. Tapi untuk menikmati film ini memang tidak perlu terlalu banyak berpikir, cukup segarkan mata itu dengan adegan-adegan berdarah yang disajikan. Dan adegan menuju ending berhasil membuat mata saya terbelalak. Saya tidak akan pernah lagi memandang gunting dengan cara yang sama.

Rating : 7/10


High Tension (2003)

Genre : Drama, Horror, Thriller | Pemain : Cecile De France, Maiwen Le Besco, Philippe Nahon | Sutradara : Alexandre Aja | Penulis : Alexandre Aja, Gregory Levasseur, Dean R. Koontz | Distributor : EuropaCorp. Distribution | Durasi : 89 menit (edited version) | MPAA : Rated R for graphic bloody killings, terror, sexual content and language (edited version)

Satu lagi film slasher produksi Perancis yang membuat saya penasaran berkenaan dengan muatan kekerasan yang (katanya) sangat berlebihan dan mengganggu. Oke, sepertinya inilah sajian yang saya butuhkan demi menyegarkan kembali otak yang sudah terlalu panas untuk menerima hal-hal yang memusingkan. Dengan berbekal ekspektasi rendah dan sinopsis samar-samar, akhirnya saya memutuskan untuk menyantap film ini. Tengah malam. Dan apa yang terjadi? Saya puas! Tapi hanya setengah. Ada sesuatu dalam film ini yang sangat mengganggu sehingga gagal membuat saya benar-benar terpuaskan. Ini sama saja dengan gagal orgasme. Duh!


Bercerita tentang dua mahasiswi yang berencana untuk berakhir pekan di tempat tinggal salah satu dari mereka. Lokasi kediaman keluarga Alex (Maiwen Le Besco) memang sangat kondusif untuk melepas lelah karena lingkungannya yang sepi, jauh dari keramaian. Temannya, Marie (Cecile De France), cukup merasa nyaman dengan kondisi yang ada, sampai-sampai ia menyempatkan untuk "memuaskan" diri sendiri sebelum tidur. Kenyamanan ini tidak berlangsung lama, karena saat tengah malam tiba, muncul gangguan dalam wujud seorang pria gemuk bersenjata yang tanpa tedeng aling-aling langsung membantai seisi rumah. Kini hanya tersisa Alex yang entah kenapa tidak segera dibunuh, serta Marie yang keberadaannya belum diketahui sang pembunuh. Dengan modal nekat, Marie kemudian berusaha membebaskan Alex yang kini disekap si pria gemuk berwajah angker itu.

Saya akui, 3/4 bagian dari film ini sangat efektif menjaga intensitas ketegangan yang sanggup membuat penonton terpaku. Permainan kucing-kucingan antara Marie dan si pembunuh dipresentasikan dengan brilian sampai membuat saya beberapa kali menahan napas saking tegangnya. Cukup jarang saya dibuat setegang ini hanya karena sebuah film horor. Untuk itu, saya acungi dua jempol untuk Alexandre Aja atas penyutradaraannya yang brilian. Selain itu, Aja juga terlibat dalam penulisan naskahnya. Untuk itu saya tarik lagi kedua jempol saya dan saya ganti dengan dua jari tengah. Mengapa? Karena naskahnya memiliki klimaks dan ending yang mega idiot. Maaf, itu mungkin berlebihan. Tapi tidak dapat disangkal bahwa penyelesaian yang dipilih Aja terasa begitu pretensius jika tidak mau disebut bodoh dan beresiko merusak film secara keseluruhan. Maksudnya ingin membuat twist, jadinya malah jijay abis. Untung ketegangan di 3/4 filmnya sangat berkesan, jadi saya masih bisa sedikit melupakan endingnya yang sok pintar. Andai saja saya orang penting yang berkuasa atas keseluruhan proses produksi film ini, saya bakal pangkas itu klimaks beserta endingnya yang totally useless. *khayalan super aneh yang terlalu tinggi, bahkan lebih tinggi dari Tom Cruise saat memakai high heels 30 senti sekalipun*

Rating : 6/10

Tuesday, April 12, 2011

Black Christmas (1974)


Genre : Horror/Mystery/Thriller | Pemain : Olivia Hussey, Margot Kidder, Keir Dullea, Andrea Martin, Art Hindle, John Saxon, James Edmond, Marian Waldman | Sutradara : Bob Clark | Penulis : Roy Moore | Distributor : Warner Bros. Pictures | Durasi : 98 menit

"A Christmas of another colour brings a killer on the loose"

Pada tahun 1978, sebuah film berjudul Halloween lahir dari tangan seorang John Carpenter—sang maestro horor yang reputasinya di kalangan fans genre tersebut sudah tidak perlu diragukan lagi. Film yang melejitkan nama Michael Myers sebagai salah satu tokoh villain paling ikonik ini banyak disebut sebagai pelopor film slasher yang kemudian menjadi inspirator bagi film-film sejenis. Halloween boleh saja disebut sebagai pelopor, namun jangan lupakan satu judul film yang juga menjadi bagian penting dari sejarah kebangkitan film slasher. Film itu adalah Black Christmas.


Dirilis pada tahun 1974, Black Christmas-lah yang sebenarnya banyak memberi pengaruh terhadap kemunculan film-film berjenis slasher, termasuk Halloween. Namun tidak seperti Halloween yang banyak diperbincangkan, film besutan Bob Clark ini seperti kurang terdengar gaungnya dan terkesan underrated. Well, kurang sorotan bukan berarti jelek kan? Karena menurut saya, Black Christmas adalah salah satu entry terbaik di genre-nya. Dan sialnya, cult classic satu ini ikut terkena imbas dari kemiskinan ide yang sedang melanda Hollywood belakangan ini. Ya, film ini mendapat "kehormatan" dengan dibuatkan remake-nya yang dirilis tahun 2006 lalu. Dan jujur saja, remake ini bagaikan sebuah sajian basi dengan hiasan yang sengaja dibuat menarik (berupa kumpulan cewek cantik di deretan cast-nya). Menggiurkan, namun setelah dicoba sukses menimbulkan sensasi mual-mual.

Lain dengan remake-nya yang menorehkan kesan buruk, versi orisinilnya tampil memikat dan jauh lebih berkesan. Plotnya sederhana saja, mengenai seorang psikopat yang menyelinap masuk ke dalam sebuah sorority house saat malam Natal, melancarkan teror melalui telepon, dan membantai satu-persatu penghuninya. Alurnya berjalan perlahan, sehingga memberi cukup ruang bagi penonton untuk lebih mengenal berbagai karakter yang ada. Olivia Hussey, Kier Dullea, Marian Waldman, dan terutama Margot Kidder sebagai Barb, si cewek bitchy bermulut kotor, membawakan peran masing-masing dengan cukup baik. Secara keseluruhan, semua cast disini tampil solid.

Film slasher yang merupakan sub-genre dari horor, umumnya identik dengan adegan-adegan yang mengumbar darah. Uniknya, Black Christmas justru tergolong minim dalam menampilkan adegan gore. Film ini lebih mengandalkan atmosfer yang efektif menimbulkan suasana mencekam. Di sepanjang film, sosok penjahatnya sendiri tidak ditampilkan secara frontal. Teknik first person point of view digunakan tiap sang penjahat beraksi, memposisikan penonton seolah berada dalam pikirannya. Identitas villain yang ditutup rapat adalah salah satu kelebihan film ini. Ketidakjelasan motif yang melatarbelakangi aksinya justru membuat kesan horor pada karakternya jadi lebih terasa. Aksi terornya melalui telepon dengan menggunakan suara-suara aneh yang berubah-ubah sangatlah disturbing dan cukup membuatnya masuk dalam jajaran salah satu psikopat fiksional paling memorable.

Sebagai salah satu film slasher yang memberi pengaruh terhadap kemunculan film-film serupa di kemudian hari, bagi saya Black Christmas memang tampil mengesankan. Meski dibuat lebih dari 30 tahun yang lalu, film ini masih enak untuk dinikmati bahkan jauh lebih superior dibanding slasher modern yang mayoritas berpola klise serta terlalu mengeksploitasi darah dan seks. Highly recommended for the genre's fans!

Rating : 8/10

Friday, April 1, 2011

The Last House On The Left (1972)


Genre : Horror/Thriller | Pemain : Sandra Cassel, Lucy Grantham, David A. Hess, Fred Lincoln, Jeramie Rain, Marc Sheffler, Gaylord St. James, Cynthia Carr | Sutradara : Wes Craven | Penulis : Wes Craven | Distributor : Hallmark Releasing Corp | Durasi : 84 menit

"Listen to daddy. I want you to take the gun, and I want you to put it in your mouth, and I want you to turn around and blow your brains out."
-Krug-


Saat mendengar nama Wes Craven, yang langsung terlintas di benak saya adalah sebuah film slasher berjudul Scream. Ya, film tersebut adalah perkenalan pertama saya dengan Wes Craven, salah satu maestro film horor Amerika. Dengan naskah yang cerdas serta penuh referensi film-film horor lawas, Scream hadir untuk bersenang-senang sekaligus memberi warna baru pada genre slasher di medio 90-an. Sebuah gebrakan luar biasa dari sang maestro. Namun sebelum kemunculan Scream, beliau juga sudah pernah membuat gebrakan yang mengejutkan dunia perfilman di Amerika melalui debut filmnya yang berjudul The Last House On The Left pada tahun 1972 silam.

Salah satu komponen menarik dari karya pertama Wes Craven ini adalah materi promosinya. Coba saja lihat satu versi posternya yang saya pajang di atas. Dengan ilustrasi yang cukup disturbing, plus tagline atau lebih tepatnya peringatan yang dicantumkan di kanan bawah dengan bunyi, "To avoid fainting keep repeating, it's only a movie...only a movie...", rasa penasaran calon penonton sudah pasti terpancing. Saya sendiri yang memang menyukai film-film bergenre horor, ingin membuktikan seberapa menakutkannya film yang sempat menuai kontroversi berkepanjangan di beberapa negara ini.

Seorang gadis bernama Mari Collingwood (Sandra Cassel) berencana merayakan malam ulang tahunnya yang ke-17 dengan menonton konser sebuah band underground bersama teman barunya Phyllis Stone (Lucy Grantham) di New York. Malam yang semula menyenangkan berubah menjadi petaka ketika mereka bertemu dengan kelompok buronan pimpinan Krug Stillo (David A. Hess). Bersama partnernya, Weasel (Fred Lincoln) dan Sadie (Jeramie Rain), serta anaknya yang drug addict, Junior (Marc Sheffler), Krug menjadikan Mari dan Phyllis sebagai objek kebiadaban mereka. Orangtua Mari yang khawatir karena anak mereka tidak pulang-pulang belum menyadari bahwa sebenarnya keberadaan Mari dan para penculiknya sangatlah dekat dengan kediaman mereka. Kisah ini pun akhirnya berujung pada klimaks berdarah yang menggambarkan bahwa kekerasan hanya akan memancing tindak kekerasan lainnya.

Selesai menonton, saya mengerti mengapa film ini banyak menuai kontroversi hingga beberapa adegannya harus kena pangkas gunting sensor. Muatannya cukup mengganggu untuk disaksikan pada zamannya, bahkan untuk saat ini pun saya rasa film ini masih bisa membuat beberapa orang tidak nyaman ketika menontonnya. Adegan yang menampilkan kebejatan Krug beserta gengnya terhadap Mari dan Phyllis saya jamin akan membuat miris siapapun yang menyaksikannya. Penataan kamera serta gambar yang cenderung grainy membuat film ini tampak menyerupai dokumenter sehingga mempertegas kesan realisme. Inilah yang membuatnya semakin tidak nyaman untuk ditonton karena kita bagaikan disuguhi sebuah dokumentasi nyata kejadian mengerikan ini. Oke, saat ini mungkin banyak film lain yang muatan kekerasannya jauh lebih brutal dibandingkan dengan yang ditampilkan Wes Craven disini. Namun saya rasa kebanyakan masih terasa kepalsuannya, tidak seperti film ini yang memberikan kesan nyata hingga membekas di ingatan.

Ada beberapa poin yang bisa disebut sebagai kekurangan dalam film ini. Pertama, akting para pemainnya yang terlihat amatir serta penempatan karakter yang kurang pas. Kehadiran dua tokoh polisi yang sepertinya diposisikan sebagai karakter comic relief, tampil konyol dan cukup mengganggu. Sandra Cassel dan Lucy Grantham yang berperan sebagai korban, serta David A, Hess yang memerankan tokoh Krug mungkin yang paling lumayan. Poin kedua adalah dimasukkannya musik latar yang bernada ceria dan cenderung komikal, sangat kontradiktif dengan mood filmnya yang gelap. Musik latar tersebut beberapa kali sukses mengalihkan perhatian saya, dan ini bukan dalam artian baik. Poin terakhir adalah komponen yang sejatinya merupakan bagian vital dalam sebuah film, yaitu plotnya sendiri. Plot hole memang hal yang lazim ditemui dalam sebuah film, tak terkecuali film ini yang memuat beberapa adegan tak masuk diakal sampai insiden-insiden yang kesannya terlalu kebetulan. Masih bisa dimaklumi, tapi tetap terasa mengganjal.

Dengan segala kekurangan yang ada, saya tetap menganggap bahwa debut Wes Craven ini adalah sebuah karya penting yang patut ditonton. Konon, film ini juga dimaksudkan sebagai kritik sosial terhadap perang Vietnam yang saat itu sedang memanas. Tiap hari media mengangkat berita mengenai kekejaman perang yang merenggut nyawa banyak orang. Melalui film ini, Wes Craven mengeksplor sejauh mana kemampuan manusia untuk melakukan tindak kekerasan terhadap sesamanya. Dan melalui klimaks sampai ending film, beliau juga ingin memperlihatkan sejauh mana seseorang mampu bertindak saat apa yang paling dicintainya direnggut paksa. Sebuah debut yang mencengangkan dari seorang Wes Craven.

Rating : 7.5/10

Wednesday, November 10, 2010

The Brood (1979)

Genre : Horror/Sci-Fi

Pemain : Art Hindle, Samantha Eggar, Oliver Reed, Cindy Hinds, Nuala Fitzgerald, Harry Beckman

Sutradara : David Cronenberg

Penulis : David Cronenberg

Distributor : New World Pictures

Durasi : 92 menit




"Thirty seconds after you're born you have a past and sixty seconds after that you begin to lie to yourself about it."

-Juliana-

David Cronenberg. Mendengar nama itu, tiba-tiba langsung terlintas di benak saya poster film Eastern Promises. Kenapa harus film itu? Karena itulah satu-satunya film beliau yang familiar bagi saya, padahal saya sendiri pun belum sempat menontonnya (I'm not kidding). Anyway, posternya keren, maka dari itu image-nya masih melekat di benak saya. Oke, saya tidak akan membahas film tersebut lebih lanjut, melainkan karya Cronenberg di paruh awal karirnya. Cronenberg dikenal sebagai salah satu sutradara penghasil film-film yang memiliki istilah body horror ataupun biological horror. Sesuai namanya, film jenis ini menempatkan tubuh (manusia) sebagai pemicu nuansa horornya. Virus, mutasi, sampai peletakan anggota tubuh yang abnormal adalah beberapa contoh isu yang diangkat dalam sebuah body horror.

Sekilas dari premisnya, The Brood tampak seperti sebuah film horor yang memasang sosok anak kecil sebagai penebar terornya. Cukup dengan premis seperti itu, saya langsung tertarik untuk menyantap film ini. Entah mengapa, film horor dengan tema evil child atau disturbed child seperti ini memiliki daya tarik tersendiri bagi saya. The Omen dan Orphan adalah 2 contoh film yang menawarkan tema tersebut dan berhasil memikat atensi saya. Bahkan film busuk berjudul Case 39 pun terasa cukup menghibur berkat performa apik Jodelle Ferland—satu-satunya aktris dengan akting paling meyakinkan disitu (sorry Zellweger, this time you suck).

The Brood menandai perkenalan saya dengan film-film besutan Cronenberg dan ternyata film ini bukan hanya sebuah pertunjukan penuh teror yang datang dari sesosok anak kecil. Ini adalah sebuah karya yang sangat personal bagi Cronenberg karena bisa dibilang cerita dalam film ini merupakan refleksi dari tragedi di kehidupan pribadinya. Saat itu beliau sedang menghadapi perceraian sekaligus perebutan hak asuh putrinya. Dalam filmnya ini, isu perceraian dan hak asuh anak juga dikemukakan, dengan tambahan isu lain mengenai child abuse, trauma masa lalu, sampai sebuah terapi non-konvensial yang disebut psychoplasmic. Semua itu dibungkus dalam sajian horor penuh misteri dengan sebuah twist di akhir.

Psychoplasmic—sebuah metode terapi yang begitu asing di telinga saya. Entah memang nyata atau hanya fiksi belaka, dalam film ini digambarkan bahwa metode tersebut adalah sebuah jalan bagi seseorang (pasien) untuk mengeluarkan semua emosi negatif yang ia pendam dengan efek samping berupa timbulnya suatu bekas pada tubuhnya (semacam luka, bisul, ataupun "jejak-jejak" lainnya). Dr. Hal Raglan (Oliver Reed)—seorang psikiater sekaligus penulis buku The Shape Of Rage yang menerapkan metode tersebut pada pasiennya. Salah seorang pasiennya bernama Nola Carveth (Samantha Eggar) yang sedang melalui masa-masa sulit pasca perpisahan dengan suaminya, Frank (Art Hindle) dan juga putri semata wayangnya, Candice (Cindy Hinds). Bermula dari kecurigaan Frank terhadap Nola yang diyakini pernah menyakiti Candice secara fisik, berbagai pembunuhan sadis mulai terjadi di sekitarnya. Diketahui kemudian bahwa pelakunya adalah sesosok makhluk kecil bertudung. Sementara itu, Frank tetap bersikeras mempertahankan putrinya dan menjauhkannya dari Nola sekaligus mengungkap misteri yang ada di tubuh Somafree—institusi psychoplasmic milik Dr. Raglan.

Kramer vs Kramer versi horor, itulah pendeskripsian Cronenberg untuk film garapannya ini. Pernyataan tersebut memang cukup tepat mengingat kedua film tersebut sama-sama menggambarkan kasih sayang seorang ayah serta perjuangannya untuk mempertahankan hak asuh atas anaknya. Namun, tidak ada courtroom scene penguras emosi di sini. Yang bisa anda saksikan adalah sesi terapi yang mengeksplor berbagai emosi negatif dalam diri manusia, seperti rasa dendam, amarah, sampai keinginan untuk membunuh. Dan layaknya Kramer vs Kramer, film ini juga didukung jajaran pemain yang berperan dengan sangat baik. Performa paling menonjol dihadirkan oleh Oliver Reed dan Samantha Eggar. Sebagai Dr. Raglan, Reed berhasil menampilkan karakter misterius yang penuh ambiguitas. Sulit menerka apakah ia memang benar tokoh villain atau bukan. Samantha Eggar juga bermain dengan gemilang sebagai Nola—seorang istri dan ibu yang depresif. Ia berhasil mengeluarkan aura mengerikan dengan kelabilannya, namun sekaligus menimbulkan rasa simpati pada penonton. Secara keseluruhan, ensemble cast-nya tampil meyakinkan.

Sebagai sebuah film horor, saya akui film ini berhasil memberikan aura mencekam secara efektif. Beberapa adegannya sempat membuat bulu kuduk saya berdiri, terutama adegan menjelang akhir film yang cukup mencengangkan. It's one of the best "what the fuck moments" I've ever seen. Adegan apa? Saya tidak akan mengobral spoiler, thanks. Feel horor yang ada semakin dipertegas dengan music score garapan Howard Shore—komposer peraih Oscar melalui karya fenomenalnya dalam trilogi The Lord Of The Rings. The Brood menjadi awal dari kerjasama berkelanjutan antara Howard Shore dengan David Cronenberg. Setelah film ini, semua film Cronenberg diisi dengan music score gubahan Shore, kecuali satu film berjudul The Dead Zone.

Dengan semua komponennya yang menarik, mulai dari naskah, deretan pemain, sampai berbagai hal teknisnya, film ini berhasil masuk ke dalam list film-film favorit saya. Walaupun alurnya cenderung lambat, semuanya dibayar tuntas dengan eksekusinya yang berkesan secara keseluruhan. Highly recommended.

Rating : 8/10

Wednesday, September 29, 2010

The Evil Dead (1981)

Genre : Horror

Pemain : Bruce Campbell, Ellen Sandweiss, Richard DeManincor, Betsy Baker, Theresa Tilly

Sutradara : Sam Raimi

Penulis : Sam Raimi

Distributor : New Line Cinema

Durasi : 85 menit

MPAA : Rated NC-17 for substantial graphic horror violence and gore



Linda : "We're going to get you. We're going to get you. Not another peep. Time to go to sleep."


Era 80-an diakui sebagai bagian dari golden age of horror. Masa dimana lahirnya film-film horor yang saat ini sudah mencapai status cult. The Evil Dead adalah salah satu diantaranya. Film horor berbujet rendah ini pada awal perilisannya menimbulkan banyak kontroversi berkaitan dengan muatannya yang saat itu dianggap terlalu ekstrim. Setelah pada akhirnya mendapat jadwal tayang resmi pada tahun 1981, nyatanya film ini cukup sukses dalam peredarannya. Dan lama kelamaan fanbase-nya semakin kuat hingga akhirnya diakui sebagai cult movie. Film ini juga berjasa mengangkat nama sutradaranya, Sam Raimi. Merasa familiar? Tentu saja, karena dialah orang dibalik keberhasilan salah satu trilogi paling sukses sepanjang sejarah, Spider-Man. Jauh sebelum ia meraih popularitas berkat franchise sang manusia laba-laba tersebut, Raimi lebih dahulu dikenal sebagai pencipta salah satu cult horror paling berpengaruh ini.

Formula yang digunakan di sini sangat tipikal film horor. Lima orang mahasiswa menghabiskan akhir pekan di sebuah kabin terpencil di tengah hutan. Dari tampak luarnya saja sudah jelas terlihat bahwa ada yang tidak beres dengan tempat tersebut. Keanehan tersebut tentunya tidak begitu mereka pedulikan pada awalnya. Lama kelamaan, keanehan semakin menjadi terutama setelah mereka menemukan sebuah buku dan kaset rekaman misterius. Akhir dari rekaman tersebut berisi semacam mantra yang tanpa mereka sadari ternyata membangkitkan iblis yang terkubur di hutan tersebut. Malam mereka yang tadinya menyenangkan seketika berubah menjadi malam penuh teror berdarah. Tidak ada jalan keluar. Kini, mereka harus berjuang mati-matian demi bisa bertahan hidup dan memusnahkan para iblis tersebut.

Brutal dan absurd, itulah kesan yang saya dapat setelah menonton film ini. Tidak heran jika saat perilisan awalnya film ini tidak lepas dari kontroversi dan sempat dilarang edar di beberapa negara. Muatan kekerasan yang ada memang bisa dibilang cukup eksplisit dengan menampilkan potongan tubuh manusia dan muncratan darah dimana-dimana. Mayoritas adegannya terasa absurd bagi saya bahkan ada beberapa adegan yang terasa menggelikan. Tapi semua keabsurdan tersebut justru menjadi nilai hiburan tersendiri. Dimulai dari adegan setelah mantra dalam kaset rekaman terdengar, film yang awalnya terasa sedikit membosankan ini segera mengeluarkan energinya. Dari adegan kerasukan sampai adegan pembantaian terus menerus membombardir penonton. Sangat menghibur.

Menurut saya, apa yang ditampilkan Raimi di sini bisa dibilang spektakuler pada zamannya. Efek serta makeup yang digunakan terlihat mengagumkan. Berbeda dengan film produksi sekarang yang sudah didukung dengan perkembangan teknologi, film ini tampil maksimal dalam kesederhanaannya. Justru efek dalam film ini berhasil membuat saya terkagum-kagum. Wajah orang yang kerasukan tampak begitu mengerikan, walaupun memang ada beberapa yang terasa berlebihan. Musik latar yang ditampilkan menurut saya agak heboh dan berisik, tapi masih bisa dinikmati dan cukup membantu dalam beberapa adegan. Secara keseluruhan, aspek teknisnya digarap dengan baik sehingga semakin memperkuat atmosfer film.

Berbicara mengenai para pemainnya, saya rasa mereka tampil biasa, tidak istimewa namun juga tidak begitu mengganggu. Kadang mereka tampak agak kaku, kadang berlebihan, tapi juga bisa menarik simpati. Beberapa dialog cheesy yang mereka ucapkan anehnya jadi tidak terasa begitu konyol. Menurut saya Raimi mengambil keputusan yang tepat untuk memakai aktor aktris yang kurang populer.


Bagi para penggemar film horor, saya sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton. Setelah menonton film ini, mungkin anda akan mengerti mengapa film ini bisa mendapat status cult dengan fanbase yang sangat kuat. Karena film inilah, saya jadi tertarik untuk berburu film-film horor yang diproduksi di masa kejayaannya, jauh sebelum horor-horor kacangan dengan ide daur ulang menginvasi bioskop-bioskop sekarang.

7/10

Wednesday, June 2, 2010

Kick-Ass (2010)

Genre : Action/Crime/Thriller

Pemain
: Aaron Johnson, Christopher Mintz-Plasse, Chloe Grace Moretz, Mark Strong, Nicolas Cage

Sutradara : Matthew Vaughn

Penulis : Jane Goldman & Matthew Vaughn (screenplay) , Mark Millar & John Romita Jr. (comic book)

Distributor : Universal Pictures, Lionsgate

Durasi : 117 menit


MPAA : Rated R for strong brutal violence throughout, pervasive language, sexual content, nudity and some drug use - some involving children

Dave Lizewski : "With no power, comes no responsibility. Except, *that* wasn't true."

Pernahkah anda merasa muak dengan lingkungan sekitar anda yang penuh dengan kebusukan dan kebobrokan moral? Aksi kriminal semakin merajalela, berbanding terbalik dengan kepedulian orang terhadap sesamanya yang kian hari kian menipis. Dan pernahkah terbersit di pikiran anda untuk turun langsung ke jalan guna memberantas para pelaku kejahatan bak seorang superhero? Itulah yang dialami oleh Dave Lizewski (Aaron Johnson)—seorang remaja penggila komik yang sudah mulai gerah dengan perlakuan para preman di sekitarnya dan berniat memberantas mereka. Didasari kegemarannya akan komik-komik superhero, ia lantas menciptakan alter-ego berjuluk Kick-Ass. Dengan bermodalkan kostum ketat sederhana (jika tidak mau dibilang norak) yang ia pesan dari eBay, dimulailah aksi perdananya dalam membasmi para kriminal. Aksi pertamanya tidak berjalan mulus yang malah membuatnya cedera parah dan harus terbaring di rumah sakit. Insiden ini tidak sepenuhnya berdampak buruk karena akhirnya gadis idamannya sejak lama—Katie (Lyndsy Fonseca) mulai tertarik kepadanya, meski dengan alasan yang bisa dibilang cukup memalukan.

Tidak kapok dengan kegagalan aksi perdananya, sekali lagi Dave nekat turun ke jalan. Kali ini ia berhasil. Aksi heroiknya direkam banyak orang hingga videonya muncul di YouTube dan mendapatkan sambutan meriah. Seketika nama Kick-Ass ramai diperbincangkan di berbagai media dan menjadi trending topic di Twitter (maaf, ini cuma karangan saya—newbie yang sedang terkena histeria Twitter). Segera ia membuka akun di MySpace untuk berhubungan dengan para penggemarnya. Dengan popularitasnya yang semakin tinggi, kepercayaan dirinya pun semakin meningkat. Kali ini ia berniat menghadapi gangster yang kerap mengganggu Katie. Dengan polosnya ia mendatangi markas mereka. Dan apa yang terjadi? Ia hampir saja kehilangan nyawanya jika saja tidak muncul sosok mungil berkostum yang dengan lincahnya membasmi para gangster disana. Segera tempat itu berubah menjadi kuburan massal dengan genangan darah dimana-mana. Sosok mungil itu memperkenalkan dirinya sebagai Hit Girl (Chloe Moretz). Dan ia tidak sendiri, di belakangnya ada sosok yang juga memakai kostum layaknya seorang superhero—dia adalah Big Daddy (Nicolas Cage).

Dua sosok ini membuat Dave otomatis kehilangan kepercayaan dirinya, karena ia merasa tidak memiliki kualitas apapun sebagai seorang superhero jika dibandingkan dengan mereka yang sangat ahli dalam bela diri dan mempergunakan senjata. Dave mulai merasakan bahwa menjadi seorang pahlawan di kehidupan nyata tidak semudah seperti yang biasa ia baca di buku komik. Namun ia tidak bisa begitu saja mundur dari misi awalnya karena jejaknya sudah tercium oleh ketua sindikat kejahatan—Frank D'Amico (Mark Strong), yang merasa terganggu dengan kehadiran Kick-Ass. Nyawa Dave kini terancam. Untungnya ada Big Daddy dan Hit Girl yang bersedia bekerjasama dengannya untuk menghadapi D'Amico. Nantinya akan terungkap bahwa sebenarnya dua sosok ini memiliki agenda tersembunyi yang ternyata berhubungan dengan masa lalu mereka.

Brutal, itulah kesan yang saya dapat saat menonton film ini. Banyak aksi berdarah yang ditampilkan dan berpotensi mengganggu bagi sebagian orang karena kebrutalan tersebut melibatkan seorang gadis kecil berusia 12 tahun. Ya, sosok Hit Girl/Mindy Macready yang diperankan oleh Chloe Moretz adalah faktor utama yang dapat memicu kontroversi di kalangan penonton dengan aksinya yang sadis dan kata-kata umpatan yang acap kali keluar dari mulutnya. Cukup miris memang melihat seorang gadis kecil berkelakuan seperti itu. Tapi jika dilihat dari konteks cerita, hal ini memang relevan. Karakter lain yang tidak kalah kontroversialnya adalah Big Daddy/Damon Macready, ayah dari Mindy. Anda sepertinya sudah bisa menebak dari awal siapa yang "berjasa" membentuk karakter Mindy menjadi seperti itu. Bisa dibilang, keluarga Macready adalah gambaran ekstrim dari sebuah keluarga disfungsional. Dua karakter ini sempat membuat saya sedikit terganggu, tapi anehnya justru mereka lah yang membuat film ini menjadi semakin hidup.

Oke, bagaimana dengan karakter yang namanya dijadikan sebagai judul film ini? Yeah, Kick-Ass yang merupakan alter-ego dari seorang Dave Lizewski ternyata kalah bersinar dibandingkan dengan Hit Girl yang begitu memukau di setiap kemunculannya. Tetapi bukan berarti karakterisasinya lemah ataupun performa sang aktor—Aaron Johnson yang buruk. Justru Johnson berhasil merepresentasikan tokoh utama kita ini dengan meyakinkan. Karakterisasinya pun cukup menarik karena menggambarkan seorang remaja biasa yang mengalami kejadian luar biasa dengan tekadnya yang kuat dalam menjalani apa yang ia yakini. Beberapa orang, terutama para remaja mungkin sedikit banyak dapat melihat refleksi dirinya dalam karakter Dave Lizewski. Itulah yang membuat karakter ini begitu nyata sehingga berhasil meraih simpati penonton. Tapi sekali lagi, karakter Hit Girl yang di luar batas kewajaran akhirnya lebih mencuri perhatian dibanding karakter Kick-Ass yang lebih membumi.

Banyaknya konten violence yang ditampilkan untungnya dibalut dengan unsur fun. Bagi yang sudah skeptis duluan, mungkin akan menganggap ini sebagai tontonan yang kurang ajar dan merusak moral anak-anak. Tapi jika mau berpikiran terbuka akan terasa bahwa tontonan ini sangatlah menghibur, karena memang sepertinya itulah tujuan dari film ini. Dan perlu dicatat bahwa ini bukanlah film untuk anak-anak. Saya merasa sangat kesal saat berada di dalam bioskop karena ada beberapa anak kecil yang ikut menonton film ini. Mungkin poster promonya memang sangat colorful dengan nuansa komik yang kental sehingga berpotensi menarik perhatian anak-anak. Tapi, jika saja orangtua mereka mau peduli terhadap sistem rating (setahu saya film ini di Indonesia mendapat rating Dewasa), maka anak-anak tidak perlu ikut menjadi saksi betapa banyaknya muatan kekerasan dan unsur dewasa lainnya dalam film ini. Dan tentunya mereka tidak mungkin membuat pernyataan bahwa film ini merusak moral anak-anak.

Dengan banyaknya referensi pop culture serta selipan humor yang menggelitik, film ini terasa begitu segar. Musik latar yang dipenuhi lagu-lagu enerjik juga semakin membuat film ini terasa lebih bertenega. Aksi sadis Hit Girl pun menjadi begitu semarak dan lantas membuat penonton ikut bersorak. Dengan klimaks yang begitu mencengangkan serta ending yang membuat bibir ini tersenyum senang, saya berani mengatakan bahwa sekuel film ini wajib dibuat.

7.5/10

Saturday, April 3, 2010

Sorority Row (2009)

Genre : Horror/Thriller

Pemain : Briana Evigan, Leah Pipes, Rumer Willis, Jamie Chung, Audrina Patridge, Carrie Fisher

Sutradara : Stewart Hendler

Penulis : Josh Stolberg, Pete Goldfinger

Distributor : Summit Entertainment

Durasi : 101 menit

MPAA
: Rated R for strong bloody violence, language, some sexuality/nudity and partying

"Theta Pi Must Die"


Kalau boleh jujur, salah satu alasan utama saya untuk menonton film ini adalah karena kemasannya yang tampak seperti parade cewek-cewek cantik nan seksi. Well, mungkin terdengar sedikit dangkal, tapi cowok mana sih yang tidak tergoda untuk menyaksikan sekumpulan hot babes dalam balutan pakaian mini...berlari terengah-engah...ketakutan...dengan tubuh bersimbah darah. Whoa..okay, now it sounds creepy. Haha. Tapi memang, film ini tampak ingin "menjual" para pemainnya yang didominasi oleh aktris-aktris muda yang masih fresh. Tengok saja beberapa versi posternya yang memajang pose rame-rame mereka yang dua diantaranya malah mengingatkan saya pada pose dalam poster promo serial tv The L Word dan Desperate Housewives, dengan nuansa dark tentunya. Di luar itu, saya memang menyukai genre film thriller/slasher semacam ini. Sedangkal atau semurahan apapun lusinan film model begini yang pernah saya tonton, toh saya tidak pernah kapok. It's a kind of guilty pleasure? Maybe.

Film yang merupakan remake dari The House On Sorority Row ini berfokus pada suatu insiden berdarah yang kemudian berujung pada teror dan pembunuhan berantai. Bermula dari sekelompok cewek anggota persaudaraan Theta Pi yang salah satu diantaranya, Megan (Audrina Patridge), menemukan bahwa pacarnya, Garrett (Matt O'Leary) berselingkuh. Untuk membalas dendam, ia dan teman-teman persaudaraannya merencanakan suatu skenario untuk menjebak Garrett. Megan pura-pura mati keracunan, seolah itu adalah kesalahan Garrett. Sandiwara iseng ini berjalan lancar, sampai akhirnya terjadilah petaka yang tidak diperkirakan sebelumnya. Garrett yang panik berat secara tidak sengaja malah membuat Megan benar-benar terbunuh. Kontan teman-temannya shock. Dalam keadaan serba panik tersebut, Jessica (Leah Pipes) yang paling vokal dan pegang kendali menyarankan untuk membuang jasad Megan dengan dalih agar kejadian ini tidak merusak masa depan mereka. Pada akhirnya semua setuju, kecuali Cassidy (Briana Evigan) yang bersikeras untuk mencari pertolongan dan melapor polisi. Walaupun akhirnya ia harus terpaksa tutup mulut karena "ancaman" teman-teman persaudaraannya.

Dari sini, pasti kita sudah dapat menebak kemana arah film ini selanjutnya. Hal pertama yang terlintas dalam benak saya adalah film I Know What You Did Last Summer. Ya, plot film ini sangat mirip dengan plot film yang dibintangi Jennifer Love-Hewitt tersebut. Insiden yang ditimbulkan oleh ketidaksengajaan, rahasia yang lama kelamaan semakin menghantui para pelakunya, lalu pembantaian yang tampak seperti balas dendam atas perbuatan mereka yang dilakukan oleh sosok misterius berkerudung dengan senjata khas. Semua elemen tadi muncul dalam kedua film tersebut. Sebagian mungkin ada yang masih merasa terhibur, tapi saya yakin tidak sedikit juga yang sudah merasa muak. Dengan adegan-adegan pembunuhan serta twist pada klimaks cerita yang lagi-lagi tampak tidak ada bedanya dengan film slasher kebanyakan, maka jangan harap ada sesuatu yang baru yang bisa anda dapatkan dari menonton film ini.

Yang cukup menyedihkan, untuk menutupi semua kelemahan dan kemonotonan kisah yang diangkat (terutama dalam genre semacam film ini), para produser serta filmmaker di Hollywood kadang "mengkompensasinya" melalui divisi casting dengan memajang aktor-aktris yang walaupun kurang terkenal tapi memiliki tampilan fisik rupawan. Seperti dalam film ini, tidak jadi soal apakah para pemainnya bisa berakting atau tidak, yang penting mereka memiliki tampang menjual dengan bodi ideal dan tidak takut untuk memamerkannya. Sebuah hiburan yang sangat menyenangkan bagi para penonton pria, tetapi akan terasa begitu dangkal bagi para penikmat film yang menginginkan sebuah suguhan yang jauh lebih berbobot.

Seperti yang sudah saya singgung di atas, seburuk apapun film ini yang pasti saya tetap tidak akan kapok untuk menyaksikan film-film sejenis. Layaknya junk-food, walaupun sudah jelas-jelas "sampah", tapi masih banyak orang yang menikmatinya, termasuk saya. Cheers!

4/10

Friday, April 2, 2010

[Rec] 2 (2009)

Genre : Drama/Horror/Thriller

Pemain : Jonathan Mellor, Pablo Rosso, Ariel Casas, Alejandro Casaseca

Sutradara : Jaume Balaguero, Paco Plaza

Penulis : Jaume Balaguero, Manu Diez

Distributor : Filmax Entertainment

Durasi : 85 menit

MPAA : Rated R for strong bloody violence, disturbing images and pervasive language


Duet sutradara Jaume Balaguero dan Paco Plaza kembali menebar teror di layar lebar melalui sekuel dari film mereka terdahulu, [Rec]. Dengan mengusung format yang mirip film dokumenter lengkap dengan shaky camera style-nya, [Rec] berhasil menghadirkan teror yang sangat nyata dan efektif untuk menakut-nakuti penonton. Film ini semakin meramaikan genre horor yang mengeksploitasi sosok mayat hidup berjuluk zombie. Meskipun film sejenis ini sudah sering dibuat, gaya penuturannya yang unik membuat film ini tetap menarik untuk disimak.


Dalam sekuelnya ini, mockumentary style-nya masih dipertahankan. Mengambil setting beberapa saat setelah kejadian di film pertama, tokoh yang dilibatkan kali ini adalah seorang petugas medis beserta tim GEO (semacam SWAT). Mereka ditugaskan untuk mengendalikan situasi di dalam gedung yang telah dikarantina tersebut. Sudah dapat diduga, segera setelah masuk ke dalam gedung, mereka harus berhadapan dengan para penghuni yang telah berubah menjadi makhluk buas pemakan daging manusia. Selain fokus pada misi tim penyelamat tersebut, dihadirkan juga sub-plot tentang sekelompok remaja iseng yang dengan bodohnya ikut memasuki gedung tersebut. Meski tujuan awal mereka berbeda, pada akhirnya tujuan mereka hanyalah satu : keluar dari gedung tersebut dalam keadaan hidup.

Untuk yang mengira bahwa film ini akan menyajikan sesuatu yang serupa dengan prekuelnya, maka anda salah. Saya sendiri sangat terkejut dengan plot yang dihadirkan, karena bisa dibilang ini benar-benar sebuah twist dari apa yang tampak di film pertamanya. Ya, sekarang franchise [Rec] bukanlah hanya sebuah film zombie biasa. Saran saya, jangan lihat trailer-nya, karena kabarnya ada sedikit petunjuk yang dapat mengungkap plot film ini. Awalnya saya sempat dibuat jengkel dengan perubahan drastis dari apa yang dihadirkan di film sebelumnya. Tapi semakin film bergulir, saya semakin menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh penulis naskahnya bisa dikatakan cukup pintar. Dengan perubahan tersebut, film ini jadi terasa seperti sesuatu yang baru, fresh dan berbeda, meskipun saya masih merasa bahwa plotnya cenderung agak maksa.

Dalam [Rec] pertama, banyak pertanyaan yang timbul mengenai penyebab insiden yang terjadi. Semua pertanyaan tersebut terjawab dalam film ini, dengan pengungkapan yang saya yakin banyak yang tidak menduga sebelumnya. Seolah belum cukup dengan twist-plot yang disajikan, ending film ini juga mengandung twist yang tidak saya perkirakan sebelumnya. Dengan banyaknya twist yang disajikan, apakah lantas membuat film ini unggul dari film sebelumnya? Well, ternyata tidak. Adegan aksi dan unsur kaget-kagetannya masih cukup efektif, tapi kengeriannya masih kalah dibanding film pendahulunya. [Rec] pertama memang cenderung lambat di awal, tapi tensi ketegangannya berhasil dibangun sedemikian rupa sehingga atmosfer tegangnya sangat terasa. Sekuelnya ini langsung tancap gas dengan menghadirkan adegan aksi di menit-menit awalnya, tapi entah kenapa jadinya malah kurang berkesan. Dengan banyaknya sudut pandang kamera yang ada, seharusnya dapat menambah unsur ketegangannya. Tapi yang ada, saya malah seperti memainkan sebuah survival-horror game. Adegannya begitu cepat, secepat saya melupakannya.

Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada, film ini cukup saya rekomendasikan untuk ditonton terutama bagi yang sudah menonton film pertamanya. It's a bloody yet fun ride.

6/10