Showing posts with label Adventure. Show all posts
Showing posts with label Adventure. Show all posts

Tuesday, December 21, 2010

Compiled Reviews : From Magical Journey To Cyberpunk Realm

Betapa luasnya imajinasi manusia sehingga ia bisa menciptakan sebuah dunia alternatif berisi berbagai hal yang realitasnya tidak mungkin ditemui di dunia nyata. Dari mulai dunia ajaib di balik lemari pakaian ciptaan seekor singa agung, sampai dunia dalam virtual game futuristik karya seorang programmer inovatif. Narnia dan Tron—kedua dunia tersebut adalah bukti betapa kaya buah pikiran manusia saat ia berani bermain dengan imajinasinya. Meskipun kedua dunia tersebut hanya direpresentasikan dalam pita seluloid, namun itu sudah cukup bagi saya untuk merasakan keindahan dan keunikan masing-masing. Sebagai bentuk apresiasi, berikut ini review untuk instalmen terbaru Narnia serta sekuel Tron yang sudah banyak diantisipasi para penikmat film.


The Chronicles Of Narnia : The Voyage Of The Dawn Treader (2010)

Genre : Adventure/Family/Fantasy | Pemain : Georgie Henley, Skandar Keynes, Ben Barnes, Will Poulter, Gary Sweet, Anna Popplewell, William Moseley, Tilda Swinton, Liam Neeson, Simon Pegg | Sutradara : Michael Apted | Penulis : Christopher Markus, Stephen McFeely, Michael Petroni, C.S. Lewis (novel) | Distributor : Twentieth Century Fox Film Corp. | Durasi : 113 menit | MPAA : Rated PG for some frightening images and sequences of fantasy action

"You have returned
for a reason. Your adventure begins now."

-Aslan-

The Chronicles of Narnia karya C.S. Lewis adalah salah satu seri literatur klasik yang paling dikenal dan cukup memberi pengaruh bagi karya-karya lain. Adaptasinya pun sudah beberapa kali dibuat ke dalam berbagai media, mulai dari drama radio, drama panggung, film televisi, sampai film layar lebar. Invasi seri ini ke layar lebar dimulai pada tahun 2005, saat The Lion, The Witch, And The Wardrobe yang disutradarai Andrew Adamson (dwilogi Shrek) dirilis di bioskop-bioskop seluruh dunia. Adaptasi ini tergolong sukses baik dari sisi kualitas maupun kuantitas dolar yang didulang. Sebuah awal yang menjanjikan bagi kelangsungan franchise ini.

Menurut saya pribadi, film pertamanya memang berhasil menerjemahkan esensi yang terkandung dalam novelnya dengan cukup baik. Lalu tiga tahun kemudian muncul adaptasi novel keduanya yang dengan sub-judul Prince Caspian. Sekuel ini dikemas lebih gelap namun masih terbilang aman untuk dikonsumsi anak-anak. Sialnya, entah kenapa kali ini seri Narnia seolah kehilangan daya magisnya. Spirit petualangan serta sense of wonder-nya tertutupi kadar action yang tampak lebih dikedepankan. Secara keseluruhan memang masih menghibur, namun tidak memberi impresi lebih.

Perombakan besar dilakukan di seri ketiganya yang melibatkan penggantian posisi sutradara (Andrew Adamson to Michael Apted) serta studio yang mendistribusikannya (Walt Disney to Twentieth Century Fox). Perubahan ini tentunya diharapkan mampu membawa franchise ini ke arah yang lebih baik. Berhasilkah?

Tidak seperti dua pendahulunya, kali ini hanya dua bersaudara Pevensie yang berkesempatan mengunjungi kembali tanah Narnia, yaitu Edmund (Skandar Keynes) dan Lucy (Georgie Henley). Oh ya, tambah satu lagi sepupu mereka, si manja sok pintar Eustace Scrubb (Will Poulter) yang ikut terseret ke dalam petualangan mereka untuk membantu King Caspian (Ben Barnes) guna mencari tujuh lord yang dahulu hilang saat rezim pamannya—Miraz merajalela. Bersama awak kapal Dawn Treader lainnya, mereka berlayar menyeberangi samudera luas serta menjamah pulau-pulau misterius nan magis demi menuntaskan misi tersebut.

Di luar perkiraan, ternyata film ini tidak seburuk yang saya bayangkan. Skeptisisme penilaian awal terhadap kualitas film ini muncul karena pendapat beberapa teman saya serta kritikus-kritikus luar yang mencap film ini lemah (jika tidak mau dibilang buruk). Secara keseluruhan, ternyata saya masih bisa menikmatinya. Spirit petualangan yang saya nantikan kembali muncul di seri terbaru ini. Kali ini, saya bisa merasakan kembali daya magis dari sebuah negeri ajaib bernama Narnia.

Daya magis yang dihembuskan sayangnya tidak sanggup mengangkat kualitas film ini secara keseluruhan. Pencarian tujuh raja yang hilang beserta pedang magisnya di berbagai pelosok Narnia memang cukup menarik. Berbagai lokasi yang ada digambarkan dengan cukup menarik, terutama pulau tempat tinggal para Dufflepud yang indah dan memanjakan mata. Namun misi pencarian ini lama-kelamaan terkesan episodik. Polanya klise dan mudah ditebak sehingga terasa sedikit membosankan.

Dari segi teknis, efek CGI yang digunakan cenderung medioker. Menarik, namun tidak spesial. Sinematografinya juga belum mampu membuat saya berdecak kagum layaknya yang dilakukan Eduardo Serra melalui seri terbaru Harry Potter baru-baru ini (ups! bukan bermaksud membanding-bandingkan ya). Set design-nya digarap dengan apik, namun entah mengapa tampilan Dawn Treader agak terkesan kekanakan (menurut pandangan pribadi saya). Komposisi musik dari David Arnold setidaknya cukup mendukung tiap-tiap adegannya.

Georgie Henley dan Skandar Keynes—dua pemain utama yang konsisten bermain dari mulai seri awalnya cukup mengalami peningkatan akting, terutama Henley yang tampil memikat sebagai si bungsu Lucy. Namun yang paling menarik perhatian justru karakter baru—Eustace Scrubb yang diperankan oleh Will Poulter. Sifat serta tingkahnya yang menyebalkan tidak jarang mengundang tawa. Layar pun semakin hidup saat ia berinteraksi dengan Reepicheep (disuarakan oleh Simon Pegg), tikus ksatria yang begitu loveable dengan gesture dan celotehannya. Tokoh Reepicheep jugalah yang sanggup memainkan emosi penonton (saya lebih tepatnya) menjelang akhir film.

Menurut saya, adegan menjelang akhir film memang bagian yang paling menarik. Semua kekurangan di sepanjang durasi dibayar dengan ending yang memikat. Mengikuti pola dua film sebelumnya, bagian akhir film kembali mempertemukan para tokoh utamanya dengan Aslan sang singa agung. Dengan mengambil setting yang begitu memanjakan mata, adegan ini semakin terasa bermakna. Saat itu pula saya kembali tersadar bahwa Narnia adalah karya yang sarat dengan simbol-simbol religius sekaligus pesan moral. Adegan perpisahan terasa begitu menyentuh. Sebuah alegori yang indah dalam menggambarkan proses perpindahan dari alam fana menuju kekekalan.

Kesimpulannya, Narnia terbaru ini menawarkan kisah petualangan memikat namun masih terasa memiliki banyak kelemahan sebagai satu film utuh. Setidaknya ending-nya dieksekusi dengan menawan dan penuh makna.

Rating : 6/10



Tron : Legacy (2010)


Genre : Action/Adventure/Sci-Fi | Pemain : Jeff Bridges, Garrett Hedlund, Olivia Wilde, Bruce Boxleitner, Beau Garrett, Michael Sheen | Sutradara : Joseph Kosinski | Penulis : Edward Kitsis, Adam Horowitz | Distributor : Walt Disney Studios Motion Pictures | Durasi : 127 menit | MPAA : Rated PG for sequences of sci-fi action violence and brief mild language

"The
Grid. A digital Frontier. I tried to picture clusters of information as they
traveled through the computer. Ships, motorcycles. With the circuits like
freeways. I kept dreaming of a world I thought I'd never see. And then, one
day... I got in."

-Kevin Flynn-


Saat ini, perfilman Hollywood tampaknya sudah semakin menyadari potensi dari sebuah teknologi bernama 3D. Sebuah film dengan presentasi 3D tentunya menawarkan sensasi menonton yang berbeda dibanding dengan film berformat biasa. Jika dimanfaatkan secara maksimal, hasilnya akan terlihat mengagumkan secara visual, layaknya yang dilakukan James Cameron melalui Avatar tempo hari. Namun, pencapaian Avatar urung diikuti oleh film-film lain yang diberi embel-embel 3D. Mayoritas film 3D akhir-akhir ini hanya mengandalkan hasil konversi yang hasilnya jelas-jelas mengecewakan. Hal ini tidak lain karena sepertinya para produser Hollywood memanfaatkan potensi teknologi ini bukan sebagai penghasil visual yang memukau, melainkan sebagai mesin pengeruk uang semata. Just my thought.

Akhir Desember ini, penonton kembali disuguhkan sajian 3D terbaru yang merupakan sebuah sekuel dari cult classic produksi Disney tahun 1982 berjudul Tron. Dengan tambahan kata Legacy, sekuel ini tampaknya dimaksudkan untuk mengenalkan dunia futuristik Tron kepada generasi masa kini sekaligus melahirkan sebuah franchise raksasa potensial. Dengan buzz yang semakin kencang menjelang perilisannya di bioskop, film ini memang sangat berpotensi meraih pasar mainstream sekaligus fans film orisinilnya. Dari materi promosinya, saya cukup optimis bahwa kreatornya memanfaatkan teknologi 3D sebagai komponen yang integral dengan isi filmnya, bukan hanya gimmick semata.

Dari segi cerita, Legacy sebenarnya tidak menawarkan sesuatu yang istimewa. Pengejaran kesempurnaan yang berujung pada kehancuran, itulah garis besar cerita yang bisa saya tangkap disini. Kevin Flynn (Jeff Bridges), seorang progammer sekaligus pemilik perusahaan Encom yang terkenal dengan game kreasinya—Tron, dinyatakan menghilang. Dua puluh tahun kemudian, Sam (Garrett Hedlund), anak satu-satunya, mendapat sebuah pesan yang menggiringnya masuk ke dalam dunia di balik virtual game ciptaan Kevin, The Grid. Di sana, Sam menemukan kebenaran di balik menghilangnya sang ayah selain harus terjebak dalam pertempuran layaknya gladiator rancangan Clu, kloning ayahnya yang memberontak dan memiliki agenda tersendiri. Bersama ayahnya dan dibantu Quorra (Olivia Wilde)—murid sang ayah, Sam berusaha menghindar dari kejaran Clu dan keluar dari Grid.

Film ini memiliki komponen yang lazim muncul dalam film bergenre cyberpunk, seperti setting near future dalam keadaan distopia (tergambar pada Grid), pembauran antara manusia sungguhan dengan "manusia" artifisial (dianalogikan melalui user dan program), sampai gaya visual yang cenderung gelap dibalut kekontrasan warna neon. Visual inilah yang menjadi kekuatan Legacy. Dari mulai kostum hingga adegan aksi yang melibatkan balapan light cycle serta disc battle, semuanya begitu memukau mata. Tidak salah jika film ini ditampilkan dalam format 3D, walaupun masih belum bisa menandingi kehebatan visual Avatar (menurut saya). Selain itu, jiwa film ini juga terletak pada musik yang melatarinya. Duo Daft Punk benar-benar patut diberi kredit tersendiri atas komposisi musik yang berhasil menghembuskan jiwa pada film yang sebetulnya dingin dalam hal emosi ini. Mata dan telinga saya begitu dimanjakan selama dua jam.

Sebagai sebuah hiburan mendekati akhir tahun, persembahan terbaru Disney ini lumayan menghibur dengan jualan utamanya yang outstanding (yeah, I'm talking about the audio and visual—including the beautiful Olivia Wilde). Meski naskahnya lemah dengan dialog datar yang bahkan aktor sekaliber Jeff Bridges pun tidak sanggup membuatnya menjadi lebih baik, namun secara keseluruhan saya nilai Tron : Legacy sebagai sebuah sajian yang nikmat. Saya rekomendasikan bagi calon penonton yang menginginkan sajian menghibur dengan bobot cerita yang ringan. And I think it's better to watch it in 3D.

Rating : 6/10

Monday, November 22, 2010

Harry Potter And The Deathly Hallows : Part 1 (2010)

Genre : Action/Adventure/Fantasy/Mystery

Pemain : Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson, Ralph Fiennes, Helena Bonham Carter, Bill Nighy, Rhys Ifans, Alan Rickman, Jason Isaacs, Imelda Staunton

Sutradara : David Yates

Penulis : Steve Kloves (screenplay), J.K. Rowling (novel)

Distributor : Warner Bros. Pictures

Durasi : 146 menit

MPAA : Rated PG-13 for some sequences of intense action violence, frightening images and brief sensuality



MAY CONTAIN SPOILER

Harry Potter. Sepintas tampak tidak ada yang istimewa dengan nama tersebut, bahkan akan terasa lucu jika kita iseng menerjemahkan nama belakangnya ke dalam Bahasa Indonesia. Namun kenyataannya, nama itulah yang membuat banyak orang di berbagai belahan dunia tersihir selama lebih dari satu dekade. Melalui kisah petualangannya yang ditulis oleh seorang wanita berkebangsaan Inggris bernama J.K. Rowling, nama Harry Potter berubah menjadi sebuah fenomena yang mengguncang dunia literatur dan sinema. Kisah klasik bertema good vs evil dalam balutan unsur magis yang ada dalam Potter universe ini memang pantas dicintai banyak orang. Selain kisahnya yang kaya dan menghibur, Rowling juga berhasil membentuk ikatan kuat antara pembaca dengan karakter-karakter yang ada dalam novel seri rekaannya ini. Tidak terhitung berapa banyak fans yang dengan setia mengikuti sepak terjang Harry dan kawan-kawan dari awal sampai konfrontasi final melawan Lord Voldemort beserta pasukan Death Eaters-nya. Para pembaca (dan penonton) tidak akan sampai sejauh ini jika tidak ada ikatan emosi antara mereka dengan karakter-karakternya. Inilah kehebatan franchise Harry Potter. Fakta bahwa kisah ini hampir berakhir (untuk versi filmnya) tentu akan menjadi sebuah momen penting bagi para fans setianya. Dan saya adalah salah satunya.

Mengabaikan fakta bahwa banyak orang yang sudah mengetahui akhir kisahnya (cerita berakhir di novel ke-7 yang terbit di tahun 2007 lalu), instalmen terbaru dari versi layar lebarnya saya yakini masih sanggup memancing rasa penasaran. Bukan kepenasaran akan ceritanya tentu saja, melainkan visualisasi yang ditampilkan. Dengan jumlah fans yang tak terhitung banyaknya, tekanan untuk menghasilkan visualisasi yang sesuai dengan ekspektasi mereka tentunya semakin besar. Beban ini kembali ditanggung oleh David Yates, sutradara yang sebelumnya sudah berpengalaman menggarap seri Harry Potter ke-5 dan ke-6. Di tangannya, saya akui bahwa franchise ini semakin matang, di luar konten ceritanya yang memang semakin gelap dan dewasa. Kembalinya Yates untuk menangani seri pamungkasnya semakin membuat saya optimis bahwa instalmen ini sudah berada di tangan yang tepat. Keputusan Warner Bros. untuk membagi film terakhir ini menjadi dua bagian juga semakin membuat saya gembira. Motivasi ekonomi mungkin menjadi salah satu penyebabnya, namun saya tidak terlalu ambil pusing. Dan setelah menyaksikan hasil akhir dari bagian pertama ini, saya menyadari bahwa pembagian tersebut adalah keputusan yang sangat tepat. Sebuah tribute bagi para fans setianya.

Franchise Harry Potter dikenal memiliki cerita yang kompleks dan semakin kelam dari seri ke seri. Setelah nuansa hangat dan ceria disajikan Chris Columbus dalam dua instalmen awalnya, cerita berubah menjadi lebih kelam dan dewasa di seri ke-3. Selain materi awalnya yang memang seperti itu, penggantian posisi sutradara juga cukup berpengaruh. Sejak film ke-3 itulah, franchise ini semakin konsisten menjaga kekelaman alur cerita serta atmosfer yang dihadirkan. Harry Potter And The Deathly Hallows : Part 1 menurut saya adalah yang paling gelap dan mencekam dibanding film-film sebelumnya. Dari awal film saja, atmosfer kelam sudah mulai terasa (logo Warner Bros. yang pelan-pelan hancur berkarat sangat simbolik).

Dunia sihir sedang memasuki masa-masa kegelapan. Teror yang disebarkan Lord Voldemort (Ralph Fiennes) bersama pasukan Death Eaters-nya semakin meluas. Kementrian Sihir sudah diambil alih, fasisme merajalela. Bagai Hitler dengan Nazi-nya, Voldemort beserta pasukan Death Eaters-nya memegang kendali penuh atas komunitas sihir. Rasa aman dan nyaman sudah menjadi barang langka, terutama bagi para Muggle-born (keturunan manusia non-penyihir). Monumen "Magic Is Might" yang berdiri kokoh di atrium Kementrian Sihir semakin menegaskan betapa mengerikannya rezim baru ini.

Kehadiran sosok Harry Potter (Daniel Radcliffe) bagaikan sebuah cahaya terang di tengah kegelapan yang sedang melanda dunia sihir. Dia adalah anak yang berhasil bertahan hidup dari kutukan maut Voldemort. Dialah Sang Terpilih. Kali ini, rintangan yang harus dihadapi Harry dalam usahanya mengalahkan Voldemort semakin berbahaya. Sepeninggal Albus Dumbledore, Hogwarts bukan lagi tempat paling aman untuk berlindung dari serangan Voldemort dan Death Eaters. Kini, Harry harus menghadapi tantangan nyata di dunia luar, jauh dari kenyamanan Hogwarts dan perlindungan guru-gurunya. Bersama dua sahabat setianya—Ron Weasley (Rupert Grint) dan Hermione Granger (Emma Watson), Harry melanjutkan misi yang diwariskan Dumbledore, yaitu menemukan dan menghancurkan sisa Horcrux (kepingan jiwa) Voldemort yang masih tersebar di berbagai tempat. Dalam menjalankan misi ini, mereka juga menemukan fakta tentang keberadaan tiga benda keramat yang dijuluki The Deathly Hallows. Ketiga benda tersebut jika disatukan konon akan membuat pemiliknya memiliki kekuatan tak terbatas.

Tidak seperti enam instalmen sebelumnya dimana kastil Hogwarts selalu dijadikan setting utama, kali ini sekolah sihir tersebut tidak diperlihatkan sama sekali. Perjalanan trio Harry-Ron-Hermione yang selalu berpindah-pindah lokasi membuat film ini lebih terkesan seperti road movie. Absennya Hogwarts sebagai setting juga membuat film ini memiliki feel yang berbeda dibandingkan film-film sebelumnya. Lebih liar, berbahaya, sekaligus emosional.

Salah satu keuntungan dari dibaginya film terakhir ini menjadi dua bagian yaitu semakin leluasanya cerita untuk bergerak. Perlahan namun pasti, menurut saya pace-nya sudah sangat pas. Steve Kloves berhasil menyusun skrip yang tetap setia dengan sumber aslinya namun juga tidak ragu untuk sedikit berimprovisasi. Adegan Harry menghibur Hermione dengan mengajaknya berdansa diiringi lagu O Children yang dibawakan Nick Cave sungguh suatu kejutan yang sangat manis. Nice job, Kloves!

Ruang gerak yang luas dalam ceritanya juga memberi kesempatan lebih untuk pendalaman karakter, terutama karena disini fokus utamanya memang terletak pada perkembangan hubungan antara tiga tokoh utamanya. Pendalaman karakter yang baik tentu bergantung juga pada penjiwaan tiap aktor-aktrisnya dalam memainkan peran masing-masing. Tanpa ragu saya katakan bahwa Radcliffe, Grint, dan Watson telah mempersembahkan performa terbaik mereka disini. Setelah hampir satu dekade, sangat terlihat bahwa mereka bertiga semakin melebur dengan karakter masing-masing. Yang paling menonjol menurut saya adalah Emma Watson. Ia bersinar di setiap kemunculannya. Opening scene dimana ia diperlihatkan harus menghapus ingatan orangtuanya terasa begitu emosional. It's one of the most heartbreaking scenes I've ever scene. Singkat tapi memorable. Untuk pemeran pendukung lainnya yang banyak diisi oleh aktor veteran Inggris, saya rasa tidak perlu ditanya lagi. Walaupun kebanyakan dari mereka hanya tampil singkat, namun performanya tetap prima. Sungguh ensemble cast yang mengagumkan.

Dari sisi teknis, sinematografi garapan Eduardo Serra sangatlah indah dan memanjakan mata. Keberaniannya dalam menggunakan teknik hand-held camera di beberapa adegan patut diapresiasi. Adegan kejar-kejaran antara trio tokoh utama kita dengan para Snatchers sukses memompa adrenalin. I love that scene! Warna-warna yang ditampilkan cenderung gelap, sesuai dengan mood film. Score karya Alexander Desplat juga semakin memperkaya adegan demi adegannya. Suatu keputusan tepat untuk melibatkan komposer ini dalam proyek sekelas Harry Potter. Film sebusuk New Moon saja jadi terkesan lebih elegan berkat komposisi musik gubahannya.

David Yates memang memberi bobot lebih pada unsur drama dalam instalmen terbaru ini, namun bukan berarti ia melupakan unsur hiburannya. Selipan humor segar di beberapa adegan berhasil mengundang tawa. Lalu action sequences yang ada juga digarap dengan dengan baik—seru sekaligus mencekam di beberapa bagian. Oh ya, jangan lupakan adegan yang menjelaskan tentang legenda The Deathly Hallows. Sequence ini dipresentasikan dalam animasi berupa siluet dengan latar belakang kecoklatan. Indah sekaligus memancarkan daya magis yang begitu kuat.

Menurut saya, inilah adaptasi terbaik dari keseluruhan film Harry Potter yang pernah dirilis. Sangat terlihat kerja keras Yates beserta krunya dalam upaya menghadirkan yang terbaik bagi para fans setia franchise ini. J.K. Rowling patut berbangga karena karyanya ditangani dengan penuh respek oleh Yates dan krunya. Sebuah awal yang baik untuk mengakhiri kisah yang begitu dicintai orang banyak. Saya sendiri sebagai fanboy (yeah, I'm proud of it!) tentu sangat tidak sabar untuk menunggu kisah pamungkasnya musim panas nanti. Please, don't let me down, Yates!

Long live Harry Potter.

R.I.P. Dobby the Free House Elf

Rating : 9/10

Tuesday, June 17, 2008

Indiana Jones And The Kingdom Of The Crystal Skull (2008)

Genre : Action/Adventure

Pemain : Harrison Ford, Ray Winston, Shia LaBeouf, Cate Blanchett, Karen Allen

Sutradara : Steven Spielberg

Penulis : David Koepp

Produser : Frank Marshall


Distributor : Paramount Pictures

Durasi : 122 menit




Marion Ravenwood : "
So, you still living in a trail of human wreckage or have you retired?"
Indiana Jones : "Why, you're looking for a date?"

Marion Ravenwood : "Anyone but you!"



Tidak terasa, perang film-film summer sudah sebulan jalan. Dan menurut saya, semua film summer yang sudah rilis rata-rata oke dari segi kualitas dan nilai hiburan. Tapi tidak seperti tahun lalu, sekarang saya agak malas untuk menyaksikan film summer saat premier-nya. Don't know why. Meski begitu, saya masih menyempatkan diri untuk menonton di bioskop walaupun kadang cuma sendirian yang ternyata justru lebih asik ketimbang nonton rame-rame (but it depends on my mood too).

Untuk film Indiana Jones yang ke-4 ini, saya cukup berharap banyak terhadap hasil akhirnya. Di luar fakta bahwa saya sama sekali belum pernah menonton ketiga film sebelumnya (pity, huh?), saya cukup yakin bahwa film ini bakal mempunyai kualitas lebih secara ada nama Steven Spielberg dan George Lucas yang mendalangi proyek ini. Dengan mengambil setting sekitar 19 tahun setelah film terakhirnya, Indiana Jones—yang akrab dipanggil Indy, kembali beraksi di layar lebar dengan tetap diperankan oleh Harrison Ford yang meskipun sudah tampak sekali ketuaannya tapi masih terlihat prima dan suka tidak suka ia lah ikon dari franchise ini.

Diceritakan Indy terpaksa harus meninggalkan pekerjaannya di Marshall College karena tekanan pemerintah yang mencurigai aktifitasnya selama ini. Setelah keluar dari kampus, hasrat petualangannya semakin berkobar dan ia memutuskan untuk mengungkap kebenaran legenda The Crystal Skull of Akuator. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang pemuda yang juga berjiwa petualang bernama Mutt Williams (Shia LaBeouf). Akhirnya ia memutuskan untuk ikut mencari keberadaan Crystal Skull. Ternyata selain mereka, ada pihak lain yang menginginkan Crystal Skull tersebut yaitu agen-agen Soviet pimpinan Irina Spalko (Cate Blanchett). Secara tak terduga, Indiana bertemu kembali dengan mantan kekasihnya, Marion Ravenwood (Karen Allen) serta sahabatnya Mac (Ray Winstone) yang kesetiannya patut dipertanyakan. Dari sini, dimulailah aksi memperebutkan Crystal Skull tersebut.

Yang membuat saya heran, setelah wakru 19 tahun yang dibutuhkan untuk membangkitkan kembali franchise Indiana Jones, kenapa Spielberg dan Lucas memilih naskah se-usang ini? Padahal kabarnya mereka sempat gonta-ganti penulis naskah demi kesempurnaan cerita seri terbaru ini. Sumpah, satu jam pertama benar-benar membuat saya bosan. Walaupun dihadirkan cukup banyak adegan aksi termasuk di awal film, tapi tingkat keseruannya sama sekali tidak membuat saya excited. Dan di pertengahan film mulai diungkap apa sebenarnya Crystal Skull itu. Parahnya, itu malah membuat ketertarikan saya semakin berkurang dan semuanya jadi terkesan konyol. Bagi anda fans serial The X-Files, silakan bersorak, karena sepertinya film ini dibuat sebagai pemanasan untuk menyambut perilisan film The X-Files 2 bulan Juli nanti.

Performa yang paling menonjol tentunya datang dari Harrison Ford. Fisiknya yang semakin menua justru membuatnya semakin berkharisma. Salah satu aktris favorit saya—Cate Blanchett, meskipun tidak menampilkan akting terbaiknya tapi tetap memukau (notice her hair. Anton Chigurh should propose her!). Pemain lainnya menurut saya tidak begitu istimewa. Shia LaBeouf juga tampak lebih enjoy saat bermain di Transformers.

Terakhir, saya cuma ingin iseng mengomentari adegan menuju ending, saat kehancuran sebuah bangunan yang penting dalam cerita film ini. Adegan tersebut mengingatkan saya pada ending The Mummy Returns. Seingat saya, dulu franchise The Mummy sempat disebut sebagai Indiana Jones wannabe. Dan sekarang, wacana tersebut jadi terkesan ironis. Menonton film ini tidak ada bedanya dengan menonton film-film adventure kebanyakan seperti franchise The Mummy, Tomb Raider, ataupun National Treasure. Mungkin ini karena saya belum familiar dengan franchise Indy sehingga tidak ada keterkaitan emosi antara saya dengan kisahnya di film ini. Lain halnya dengan penonton yang sudah mengikuti sepak terjangnya dari awal yang mungkin akan merasakan nostalgia dengan kehadiran seri terbaru ini. Saya masih sedikit berharap, jika Spielberg merencanakan untuk membuat kelanjutannya semoga ia bisa menemukan naskah yang lebih segar dan bisa dinikmati oleh penonton baru sekalipun.

5/10

Friday, March 7, 2008

10.000 BC (2008)

Genre : Action/Adventure/Drama

Pemain : Steven Strait, Camilla Belle, Cliff Curtis, Omar Sharif

Sutradara : Roland Emmerich

Penulis : Harald Kloser, Roland Emmerich

Produser : Michael Wimer, Roland Emmerich


Distributor : Warner Bros.


Durasi : 109 menit



D'Leh : [in the pit, after deciding to not kill the Saber-tooth] "Do not eat me when I save your life!"


Film ini saya tonton tanpa ekspektasi yang berlebihan. Apalagi sih yang diharapkan dari seorang Emmerich selain efek CGI yang mendominasi? Dari trailer-nya hal itu sudah terlihat dan membuat saya cukup excited untuk menonton filmnya. Tapi lama-kelamaan, saya punya firasat kalau film ini bakal punya kualitas semenjana. Dan ternyata itu memang terbukti.

Sesuai judulnya, film ini mengambil setting ribuan abad sebelum masehi, dimana manusia masih hidup berdampingan dengan makhluk-makhluk pra-sejarah semacam mammoth dan kawan-kawannya. Di sebuah pegunungan terpencil hidup suatu suku bernama suku Yagahl. Suatu malam, salah seorang penduduknya membawa seorang gadis kecil dari suku lain yang desanya baru diserang oleh suatu suku yang disebut "setan berkaki empat". Sang "ibu tua" dari suku Yagahl meramalkan bahwa gadis tersebut, yang bernama Evolet, suatu saat akan memegang peranan penting terhadap kelangsungan suku tersebut. Evolet lalu berkenalan dengan seorang anak bernama D'Leh. Merasa cocok satu sama lain, hubungan mereka semakin dekat dan akhirnya saling jatuh cinta.
Saat beranjak dewasa, hubungan mereka diuji ketika daerah tempat tinggal mereka diserang suku yang dulu pernah menghancurkan desa Evolet. Suku tersebut menculik Evolet dan sebagian penduduk lain. Melihat hal ini, D'Leh tidak tinggal diam dan berniat membawa kembali Evolet dengan bantuan teman dekat ayahnya, Tic Tic, juga Ka'Ren dan Baku, bocah yang diam-diam mengikuti mereka.

Di tengah perjalanan, mereka sempat terpisah dan harus menghadapi keganasan alam dan hewan-hewan buas. Lalu D'Leh dan Tic Tic bertemu dengan suatu suku yang menganggap D'Leh adalah orang yang selama ini mereka tunggu berdasarkan suatu ramalan. Dan akhirnya suku tersebut mau membantu D'Leh untuk menyelamatkan Evolet dan penduduk lainnya. Dengan pasukan barunya, D'Leh mengejar para penculik Evolet yang membawa mereka pada sebuah peradaban yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Mereka mendapati sebuah piramid yang menjulang tinggi, tempat kekuasaan seorang "dewa" yang gemar memperbudak rakyatnya. Demi menyelamatkan sukunya, D'Leh berusaha untuk melawan sang "dewa" beserta pasukannya.

Sebagai sebuah epik kolosal, film ini cukup berhasil menampilkan adegan action menarik dengan setting yang megah. Efek CGI-nya juga terbilang cukup mulus, terutama untuk penggambaran makhluk-makhluk pra-sejarahnya. Tapi sayang, plotnya sangat dangkal, so predictable and flat. Ditambah penampilan para pemainnya yang jauh dari kesan bagus, terutama sang pemeran utamanya—Steven Strait yang tidak berkharisma sebagai seorang pemimpin suku. Sangat jauh jika dibandingkan dengan penampilan Gerard Butler di 300.

Ada juga beberapa hal yang janggal dan cukup mengganggu jalan cerita film ini. Misalnya saja setting piramid yang terlalu megah, it's so over the top, IMHO. Terus Camilla Belle yang terlalu cantik sebagai seorang wanita jaman purba, walaupun mukanya dibuat sekotor apapun. Ditambah dengan penamaan karakter-karakternya yang mungkin wajar saja bagi Emmerich, tapi di telinga saya terdengar begitu konyol. Selain itu, ada beberapa dialog yang misplace. Banyak penonton yang tertawa saat sebenarnya tidak ada yang perlu ditertawakan. And suddenly, I feel that this movie turns into a joke.

Terakhir yang ingin saya komentari adalah penampilan main villain-nya. Kalah jauh dengan penampilan Xerxes di 300 yang biarpun "banci dandan" tapi setidaknya masih punya aura jahat. Di film ini, sang villain alias "dewa" benar-benar membuat saya kesal. Bukan karena saking jahatnya atau karena pemerannya sangat brilian sehingga berhasil membuat penonton geregetan dengan aktingnya. Melainkan lebih karena dia tampak tidak punya kualitas apapun untuk disebut sebagai dewa. Tampilannya yang sok misterius bukannya memberi kesan keagungan seorang dewa, malah membuat ia tampak seperti seorang pesakitan. Momen terbaik selama menonton film ini adalah ketika lampu bioskop mulai menyala—tanda bahwa kekonyolan ini sudah berakhir. Thank God!

3/10

Monday, March 3, 2008

Jumper (2008)

Genre : Action/Adventure/Sci-Fi/Thriller

Pemain : Hayden Christensen, Jamie Bell, Samuel L. Jackson, Rachel Bilson

Sutradara : Doug Liman

Penulis : David S. Goyer, Jim Uhls, Simon Kinberg

Produser : Simon Kinberg, Lucas Foster

Distributor : 20th Century Fox

Durasi : 88 menit


Davey : "Why are you walking?"
Griffin : "As a matter of fact, I like walking for a change! Makes me feel normal."



Wow! Pertama kali liat melihat trailernya, saya yakin film ini bakal menjadi sebuah tontonan yang seru
. Adegan action-nya tampak menjanjikan. Apalagi ada Samuel L. Jackson yang tampil lumayan sangar. Pokoknya, can't wait to see deh. Tapi, ternyata eh ternyata, setelah saya tonton, film ini ternyata sungguh mengesalkan. So out of my expectation.

David Rice (Hayden Christensen) adalah seorang anak biasa cenderung nerd yang selalu dijahili teman-temannya. Hingga suatu hari, karena kenekatannya ia terperosok masuk ke dalam danau. Dalam keadaan panik, tiba-tiba ia sudah berada di dalam sebuah perpustakaan. Dari insiden ini, ia mulai mengetahui kekuatan teleportasi yang ia miliki. Awalnya ia masih bingung, tapi lama kelamaan ia mulai memahami dan memanfaatkan kekuatan tersebut untuk kepentingan dirinya sendiri.

Kemudian ia memutuskan kabur dari rumah karena tidak tahan dengan perlakuan ayahnya. Untuk bertahan hidup akhirnya ia terpaksa "menyelinap" ke dalam brankas bank. Dengan uang yang ia dapat, semua kebutuhannya bisa terpenuhi. Hingga ia beranjak dewasa, hidupnya sangat berkecukupan.


Hidup David yang serba mudah mulai terancam dengan kehadiran para Paladin, sekelompok orang yang memiliki misi untu
k membasmi para Jumper (julukan bagi orang yang mampu berteleport ke manapun seperti David). Mereka beranggapan bahwa kekuatan untuk berada di berbagai tempat dalam satu waktu hanya pantas dimiliki oleh Tuhan. Konon, perseteruan Paladin dan Jumper sudah berlangsung sejak berabad-abad yang lalu.

Sang pemimpin Paladin, Roland Cox (Samuel L. Jackson) yang telah mengetahui rahasia David berusaha mati-matian memburunya. Kejar-kejaran pun dimulai, dan melibatkan orang-orang yang dekat dengan David, seperti teman masa kecilnya, Millie (Rachel Bilson) dan juga ayahnya yang akhirnya tewas di tangan Paladin (oops! Is it a spoiler?). Dalam pelariannya, David bekerjama dengan Griffin (Jamie Bell), jumper lain yang mulanya enggan membantu David. Dan sebenarnya ia juga memiliki agenda tersembunyi yang tidak diketahui David. David juga akhirnya mengetahui identitas asli ibunya dan alasan mengapa ia meninggalkan David saat masih kecil.

Dari segi action, film ini cukup memuaskan dengan adegan laga yang banyak dan imajinatif. Setting yang melibatkan tempat-tempat eksotis semacam Roma juga cukup memanjakan mata. Tapi semua itu tidak didukung dengan perkembangan cerita yang baik dan menarik—semuanya terasa datar dan membosankan. Seperti memaksakan adanya kehadiran sebuah sekuel kelak. Ditambah akting pemainnya yang so robotic terutama Hayden Christensen yang seolah melanjutkan kegagalannya di 2 seri Star Wars kemarin. Sama sekali tidak membuat penonton, khususnya saya untuk bersimpati terhadap tokohnya. Chemistry antara Christensen dengan Rachel Bilson juga tidak mengena sama sekali. Malah penggambaran hubungan mereka cenderung bodoh dan bikin kesal. Untungnya ada Jamie Bell dan Samuel L. Jackson yang cukup berkarakter, walau kehadiran mereka pun tetap tidak bisa menyelamatkan kualitas film ini secara keseluruhan.
Ya, kesimpulannya jangan terlalu berharap banyak pada film ini kecuali jika anda hanya mencari sajian action-nya. It's kinda cool, but forgettable. And you know what? The ending is totally crap!
4/10