Showing posts with label Animation. Show all posts
Showing posts with label Animation. Show all posts

Saturday, June 11, 2011

5 Centimeters Per Second (2007)


Genre : Animation, Drama, Romance | Pengisi Suara : Kenji Mizuhashi, Yoshimi Kondou, Satomi Hanamura, Ayaka Onoue | Sutradara : Makoto Shinkai | Penulis : Makoto Shinkai | Produksi : CoMix Wave, ADV Films | Durasi : 63 menit

"The speed at which the sakura blossom petals fall... Five centimeters per second."
-Akari-

Salah satu alasan mengapa saya begitu menikmati film animasi produksi Studio Ghibli adalah berkat tampilan animasi tradisionalnya yang memukau. Selain faktor ceritanya yang selalu berhasil menyentuh hati, film-film Studio Ghibli memang kerap pandai memanjakan mata tiap penontonnya. Namun disini, saya tidak akan membahas salah satu film animasi rilisan studio tersebut. Ada satu film animasi Jepang (anime) yang baru-baru ini saya tonton dan sukses membuat sepasang mata ini terbelalak dan mulut ini berdecak kagum dengan kemegahan visualnya. Sebutan banyak orang untuk Makoto Shinkai sebagai "the next Hayao Miyazaki" memang bukan tanpa alasan. Apa yang dicapainya melalui 5 Centimeters Per Second ini memang luar biasa.

Film yang memiliki durasi sekitar satu jam ini menawarkan cerita yang sepertinya sudah umum dipakai dalam film-film drama romantis—tentang dua insan manusia yang saling mencintai namun terpisahkan oleh jarak. Maksud dari judul film ini sendiri bisa dibilang merupakan metafora dari kondisi tersebut. Lima senti per detik, konon itulah kecepatan kelopak bunga sakura saat jatuh dari pohonnya. Layaknya bunga sakura, beberapa orang bisa saja memulai awal kehidupan mereka bersama, namun suatu saat mereka bukan tidak mungkin akan terpisahkan, bagai kelopak bunga yang berguguran, lima senti per detik. In our lives, people come and go. Mungkin itulah yang ingin disampaikan Shinkai melalui film besutannya ini.

Dua insan yang saling mencintai itu adalah Takaki Tono (Kenji Mizuhashi) dan Akari Shinohara (Yoshimi Kondou, Ayaka Onoue). Sejak Akari pindah ke SD yang sama dengan Takaki, keduanya mulai menjalin hubungan yang semakin lama semakin erat berkat kesamaan yang mereka miliki. Hubungan mereka mulai diuji saat Akari dan keluarganya harus pindah ke luar kota yang jaraknya cukup jauh. Namun mereka masih sering berkomunikasi melalui surat menyurat (errr...di sini telepon genggam dan internet belum mewabah). Suatu ketika, Takaki juga harus pindah rumah bersama keluarganya ke kota lain yang ternyata jaraknya semakin jauh dengan tempat tinggal Akari. Sebelum kepindahannya, Takaki memutuskan untuk sekali lagi menemui Akari dan menyatakan perasaannya melalui surat yang ia bawa.

Waktu berlalu, cerita pun bergulir saat Takaki sudah hampir lulus SMA. Jarak dan waktu masih memisahkannya dengan Akari. Namun ia masih terus mengingatnya, hingga tak menyadari bahwa ada gadis lain yang menaruh perhatian padanya. Dialah Kanae Sumida (Satomi Hanamura), teman sekelas Takaki yang mulai menyukainya sejak mereka masih duduk di bangku SMP. Kanae yang masih belum berani menyatakan perasaannya hanya mampu menatap Takaki saat sedang latihan memanah, kemudian menunggunya diam-diam di tempat parkir agar bisa pulang bersama. Suatu malam mereka membicarakan kekhawatiran masing-masing akan masa depan. Dari sinilah Kanae semakin menyadari bahwa Takaki selalu melihat jauh ke depan, kepada sesuatu yang tidak pernah ia ketahui selama ini.

Di babak terakhir, kita diperlihatkan dengan Takaki dan Akari yang sudah tumbuh dewasa. Apakah mereka bersama atau tidak, hanya bisa anda ketahui dengan menonton sendiri film yang bagi saya sangat menyentuh ini. Cerita yang diangkat mungkin bukan barang baru, namun Shinkai mampu merangkainya menjadi sebuah untaian kisah tiga bagian yang begitu puitis dan menyentuh hati. Setiap orang mungkin memiliki cinta pertama yang tak akan pernah mereka lupakan, dan film ini akan membuat mereka kembali mengingatnya. Kisah yang akan terasa personal bagi sebagian orang ini, dipercantik dengan komposisi musiknya yang indah dan visualnya yang menakjubkan. Ya, komponen paling kuat yang ada dalam anime ini adalah gambar-gambar cantik yang disajikan Shinkai di sepanjang film. Bahasa gambar disini sudah berbicara banyak kepada penontonnya tanpa perlu berkata-kata. Silakan tonton sendiri untuk membuktikan kedahsyatan visualnya.

Rating : 8/10

Saturday, June 4, 2011

Ocean Waves (1993)


Genre : Animation, Drama, Romance | Pengisi Suara : Nobuo Tobita, Toshihiko Seki, Yoko Sakamoto | Sutradara : Tomomi Mochizuki | Penulis : Saeko Himuro (novel) | Produksi : Studio Ghibli | Durasi : 72 menit

"The whole thing was starting to feel like a bad soap opera."
-Taku-

Orang bilang, masa SMA adalah masa-masa yang paling indah. Saya bilang, masa SMA adalah masa-masa yang paling labil. Meski sampai sekarang pun terkadang saya masih merasa bingung dengan apa yang benar-benar saya inginkan dalam hidup alias sedang dalam tahap pencarian jati diri, namun di usia SMA-lah pertanyaan-pertanyaan eksistensial (halah!) ini mulai sering hinggap di benak saya, Tapi di luar itu, saya akui masa SMA itu memang mengasyikkan. Pengalaman tiap orang di masa tersebut tentunya berbeda-beda, namun saya yakin mayoritas individu pasti pernah mengalami rasa ini : ketertarikan terhadap individu lain, atau bahasa umumnya—jatuh cinta. Tema tentang romantika masa SMA inilah yang diangkat melalui sebuah film animasi tv produksi Studio Ghibli yang berjudul Ocean Waves (Umi ga kikoeru).

Tokoh utama kita adalah Taku Morisaki (Nobuo Tobita), seorang mahasiswa yang akan menghadiri reuni SMA di kampung halamannya di prefektur Kochi. Sebelum berangkat, ia melihat sosok perempuan yang sekilas tampak tidak asing baginya. Dalam penerbangan ke kampung halamannya, Taku mengingat kembali kenangan yang ia alami semasa SMA. Dari sinilah cerita kemudian bergerak mundur ke dua tahun sebelumnya, saat Taku pertama kali bertatap muka dengan seorang perempuan yang tidak akan pernah ia lupakan. Namanya Rikako Muto (Yoko Sakamoto), seorang siswi pindahan dari Tokyo.

Yutaka Matsuno—sahabat Taku sejak SMP-lah yang mengenalkannya pada Rikako. Melalui beberapa dialog, cukup terlihat bahwa Yutaka menyukai Rikako. Taku sendiri menyimpan rasa kagum terhadap Rikako yang begitu menonjol di bidang akademis. Namun sikap Rikako yang penyendiri dan terkesan angkuh membuatnya dijauhi anak-anak lain. Kedekatan antara Taku dan Rikako mulai muncul saat sekolah mereka mengadakan liburan ke Hawaii. Suatu ketika, tiba-tiba Rikako menghampiri Taku dan mencoba meminjam uang darinya dengan alasan seluruh uang tunai yang dibawanya hilang. Urusan pinjaman inilah yang akhirnya membuat mereka menjadi lebih dekat, meski sempat diwarnai kesalahpahaman.

Dibandingkan dengan animasi Ghibli yang lain, film yang dibuat khusus untuk konsumsi tv ini terkesan kurang sorotan. Saya sendiri sebelumnya sama sekali asing dengan judul film ini. Namun setelah saya coba tonton, ternyata ini lebih dari sekedar sebuah tayangan untuk televisi. Meskipun kesan yang ditimbulkan masih di bawah Whisper Of The Heart—animasi Ghibli lain yang juga menyorot problematika masa remaja, namun film ini juga mampu bersuara lantang dengan muatan yang dikandungnya. Ceritanya memang sederhana, namun begitu membekas. Bahkan bukan tidak mungkin jika film ini berhasil menghadirkan kembali nostalgia saat anda berada di bangku sekolah dulu.

Selain ceritanya yang sederhana, kelebihan utama yang dimiliki film ini adalah karakterisasi tokoh-tokohnya. Taku dan Rikako digambarkan sebagai remaja biasa yang dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari, atau bahkan mungkin mereka adalah refleksi dari diri kita sendiri di masa lalu. Permasalahan yang mereka alami juga disampaikan dengan wajar, tidak mengada-ada. Walaupun apa yang dialami mereka tidak sama persis dengan apa yang pernah saya alami, namun saya masih bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Kedekatan inilah yang membuat Ocean Waves terasa begitu spesial. Jangan harapkan drama melodramatis ala Hollywood yang seringkali memanipulasi emosi penontonnya dengan suguhan yang terlalu dibuat-buat. Film ini tampil apa adanya. Itulah kelebihannya.

Ditutup dengan ending yang manis, film yang disutradarai oleh Tomomi Mochizuki ini berhasil menghangatkan hati saya di malam minggu yang sepi ini. Sebuah kisah coming of age yang subtil dan intim. Highly recommended!

Rating : 8/10

Saturday, October 9, 2010

The Girl Who Leapt Through Time (2006)

Genre : Animation/Comedy/Drama/Romance

Pengisi Suara : Riisa Naka, Takuya Ishida, Mitsutaka Itakura

Sutradara : Mamoru Hosoda

Penulis : Yasutaka Tsutsui (novel), Satoko Okudera (screenplay)

Distributor : Kadokawa Herald Pictures

Durasi : 98 menit




Yuri Hayakawa : "Makoto! Time waits for no one."

Apa yang akan anda lakukan jika anda memiliki kemampuan untuk memutar waktu? Berusaha mengubah kejadian buruk di masa lalu agar menjadi lebih baik segera terlintas di benak saya—dan mungkin juga sebagian orang. Lantas, apakah dengan mengubah masa lalu maka otomatis keadaan saat ini akan menjadi lebih baik? Tidak ada jawaban yang pasti, karena saya yakin segala sesuatu akan ada konsekuensinya. Mengubah hal sekecil apapun bisa membawa dampak pada hal lain. Hukum sebab-akibat tentunya tidak bisa diabaikan. Konsep tersebut ditampilkan melalui film yang dalam bahasa aslinya berjudul Toki o Kakeru Shojo ini. Terinspirasi dari novel berjudul sama karangan Yasutaka Tsutsui, film ini mencoba menggabungkan romantika kehidupan remaja dengan elemen fiksi ilmiah.


Tokoh utama dalam film ini bernama Makoto Konno (Riisa Naka), gadis tomboy yang cenderung urakan dan ceroboh. Kegiatan rutinnya sepulang sekolah diisi dengan bermain baseball bersama dua orang t
emannya, Chiaki Mamiya (Takuya Ishida) dan Kosuke Tsuda (Mitsutaka Itakura). Suatu hari saat berada dalam lab di sekolah, ia mengalami kejadian aneh. Seolah-olah ia terbang melintasi waktu sebelum akhirnya ia terjerembab di lantai dalam keadaan setengah sadar. Awalnya ia tidak terlalu menganggap serius keanehan tersebut sampai akhirnya terjadi insiden yang mulai membuatnya yakin bahwa ia bisa "melompati" waktu. Setelah insiden tersebut, ia berkonsultasi dengan bibinya, Kazuko Yoshiyama (sang tokoh protagonis dalam novel aslinya—diisisuarakan oleh Sachie Hara). Tanpa benar-benar menceritakan pengalamannya sendiri dalam melompati waktu, bibi Kazuko kemudian menjadi figur seorang penasihat bagi Makoto.

Proses melompati waktu yang awalnya terjadi karena ketidaksengajaan pada akhirnya bisa dikontrol oleh Makoto. Bagaimana caranya? Dengan melakukan lompatan (literally) jauh a la kijang, dan ia pun bisa mundur kembali ke waktu yang diinginkannya. Kemampuan barunya ini ia manfaatkan untuk kepentingan dirinya sendiri yang cenderung sepele, seperti mengulang ujian di sekolah sampai karaoke berjam-jam tanpa membayar lebih. Makoto menganggap kemampuan barunya ini bagaikan sebuah hiburan, tanpa menyadari bahwa ada konsekuensi dibalik itu semua. Keadaan menjadi lebih serius saat Chiaki menyatakan perasaannya pada Makoto. Makoto yang tidak mau persahabatannya rusak karena masalah percintaan lalu melakukan lompatan waktu berkali-kali hanya untuk membatalkan pernyataan Chiaki. Dan Makoto juga menggunakan lompatan waktu untuk menjodohkan Kosuke dengan seorang gadis yang menyukainya. Apakah semua perbuatannya ini dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik? Ataukah justru ia akan menyesal seumur hidup atas perbuatannya tersebut?

Cerita mengenai time travel seperti ini memang sudah sering diangkat ke berbagai media, termasuk film. Namun bukan berarti tema tersebut sudah basi untuk diangkat. Hal ini tergantung pada penggarapannya juga, apakah masih sanggup menyajikan sesuatu yang menarik hingga layak ditonton. Tokikake (singkatan untuk judul aslinya) adalah salah satu contoh bagaimana tema mengenai time travel atau time leapt ini masih bisa dikemas dengan baik dan menarik. Tokikake pada dasarnya adalah coming of age story bergenre drama komedi. Di sini diperlihatkan bagaimana sikap seorang remaja biasa saat diberi kemampuan lebih. Kemampuan yang akan membawa sang pemilik pada konsekuensi mengerikan saat digunakan dengan seenaknya, tapi di sisi lain juga dapat menumbuhkan kedewasaan dalam dirinya. Hubungan persahabatan yang berkembang menjadi rasa cinta dihadirkan dengan manis, getir, sekaligus lucu. Untuk melengkapi itu semua, maka ditambahkan elemen fiksi ilmiah bertajuk time leapt. Elemen ini hadir untuk memberi impact lebih kepada para penontonnya.

Film ini diproduksi oleh Madhouse—salah satu studio animasi terkenal di Jepang yang sudah sering menelurkan anime baik untuk format televisi maupun layar lebar, diantaranya karya-karya dari almarhum Satoshi Kon (Tokyo Godfathers, Paprika). Animasi yang ditampilkan disini menurut saya cukup halus dan menawan, tidak kalah dengan animasi produksi Ghibli yang kaya warna—sungguh memanjakan mata. Desain karakternya dibuat khas anime konvensional, dengan tampilan fisik yang kadang tidak proporsional serta ekspresi wajah komikal dalam beberapa adegan—I love it! Desain lingkungannya juga digambarkan dengan baik dan mendetail. Salah satu lokasi yang paling sering disorot adalah sebuah sungai yang menghadap langsung ke flyover. Dengan sudut pengambilan gambar serta komposisi warna yang pas, adegan yang ditampilkan terasa semakin kuat dan memorable.


Komponen lain yang tidak kalah menarik adalah musik latarnya yang ikut andil dalam membangun mood film dari awal sampai akhir. Dari adegan lucu sampai momen yang menguras emosi berhasil disampaikan melalui score gubahan Kiyoshi Yoshida ini. Dengan segala keunggulan teknis serta muatan ceritanya yang menarik, tanpa ragu saya berani menyebut film ini sebagai salah satu anime terbaik yang pernah saya tonton. Apakah masih terlalu prematur untuk mengatakan bahwa Mamoru Hosoda adalah the next Hayao Miyazaki? Tanpa perlu membandingkan pun, saya yakin bahwa sineas satu ini memiliki talenta besar dalam membuat film animasi berkualitas. Patut ditunggu karya-karya beliau selanjutnya. Sebelum itu, biarkan saya kembali menyaksikan serunya aksi Makoto sang "pelompat" waktu. Yeah, it's definitely worth multiple watching.

Rating : 8/10

Sunday, June 20, 2010

Toy Story 3 (2010)

Genre : Animation/Adventure/Comedy/Family/Fantasy

Pengisi Suara : Tom Hanks, Tim Allen, Joan Cusack, John Morris, Ned Beatty

Sutradara : Lee Unkrich

Penulis : Michael Arndt

Distributor : Walt Disney Pictures

Durasi : 103 menit

MPAA : Rated G

"No Toy Gets Left Behind"

Pada tahun 1995, sebuah studio animasi bernama Pixar menggebrak dunia perfilman dengan sebuah film animasi CGI berjudul Toy Story. Selain menjadi pelopor film animasi CGI, film ini juga menjadi awal kesuksesan besar bagi Pixar yang pada tahun 2006 lalu diakuisisi oleh Disney. Toy Story juga menjelma menjadi sebuah franchise yang begitu populer setelah jilid keduanya yang rilis pada 1999 lalu berhasil meraih kesuksesan luar biasa. Di luar itu, kisah dalam Toy Story memang pantas digemari mulai dari anak-anak sampai kalangan dewasa. Mengangkat tema tentang keindahan masa kecil serta disisipi dengan nilai-nilai kehidupan yang tak lekang oleh waktu, membuat kisah dalam franchise ini begitu mengena di hati. Saya sendiri adalah generasi '90-an yang tumbuh bersama film ini. Toy Story adalah bagian dari masa kecil saya yang ikut berjasa membuatnya menjadi penuh imajinasi. Sekarang, setelah saya semakin dewasa, kisah film ini berlanjut kembali. Ada rasa gembira sekaligus sedih karena walaupun saya akan kembali merasakan keindahan masa kecil melalui seri terbaru ini, tetapi saya tahu bahwa ini akan menjadi sebuah pengalaman yang sangat emosional berdasarkan premis cerita yang ditawarkan.

Setelah opening sequence penuh aksi yang ditampilkan dengan sangat seru, adegan berlanjut ke sebuah rekaman video yang memperlihatkan Andy (John Morris) sedang bermain dengan mainan-mainan kesayangannya. Rekaman ini dengan cerdas mewakili flashback yang menggambarkan momen-momen indah yang dilalui Andy bersama mainannya. Diiringi lagu You've Got a Friend In Me, mata saya mulai berkaca-kaca karena adegan ini seolah mengantarkan saya kembali ke masa kecil dulu. Setelah video ini berakhir, penonton dibawa menuju masa kini dimana Andy sudah tumbuh menjadi remaja berusia 17 tahun yang siap untuk memasuki bangku perkuliahan. Sudah bertahun-tahun lamanya Andy tidak menghabiskan waktu bersama mainan-mainannya. Mengingat kini ia harus pergi meninggalkan rumah, maka ibunya menyuruhnya untuk menentukan mana barang yang akan ia bawa serta barang yang akan disimpan di gudang atau dibuang. Disini, nasib para mainan mulai ditentukan. Mereka tahu bahwa hari ini akan tiba, tinggal menunggu waktu saja apakah mereka akan tetap disimpan atau kemungkinan yang paling buruk—dibuang.


Woody (Tom Hanks)—figur pemimpin bagi para mainan ini bernasib paling baik karena Andy memutuskan untuk membawanya. Mainan yang lain diputuskan untuk disimpan di loteng, tapi karena suatu kesalahan mereka hampir saja terbawa truk sampah. Nasib baik akhirnya datang, karena mereka kini dibawa ke Sunnyside Daycare, sebuah tempat penitipan anak yang tentunya dipenuhi dengan anak-anak yang bisa mengajak mereka bermain setiap saat. Woody, yang loyalitasnya kepada pemiliknya tidak perlu dipertanyakan berusaha membujuk teman-temannya untuk pulang ke rumah Andy. Namun, mereka sudah terlanjur sakit hati dan beranggapan bahwa tempat baru ini adalah yang terbaik yang bisa mereka harapkan. Bahkan Buzz (Tim Allen), yang selalu mendukung Woody pun memutuskan untuk tinggal. Alasan mereka untuk tinggal diperkuat dengan sambutan hangat dari para mainan yang lebih dulu menghuni Sunnyside. Mereka dipimpin oleh Lotso (Ned Beatty)—boneka beruang dengan aroma strawberry yang begitu ramah menyambut kedatangan para mainan baru. Namun, semakin lama mulai tercium bahwa Lotso memiliki agenda tersembunyi dibalik keramahannya. Pada akhirnya, para mainan kesayangan kita ini berusaha keluar dari Sunnyside dengan bantuan Woody yang berusaha untuk kembali pada Andy sebelum ia pergi meninggalkan rumah.

Menyaksikan film ini merupakan suatu pengalaman yang sangat luar biasa. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, film ini berhasil membawa saya menelusuri kembali masa kecil saya. Selain Woody dan Buzz, para mainan lain seperti Jessie (Joan Cusack), Bullseye, Rex (Wallace Shawn), Ham (John Ratzenberger), Slinky Dog (Blake Clark), Mr. & Mrs. Potato Head (Don Rickles & Estelle Harris) beserta 3 alien kecilnya juga membuat saya merasa begitu gembira. Melihat mereka beraksi di layar seperti bertemu kembali dengan teman-teman yang sudah lama tidak saya jumpai. Kehadiran tokoh-tokoh baru juga semakin memeriahkan suasana. Ken (Michael Keaton) yang digambarkan sebagai penggila fashion sanggup menghibur dengan segala kelakuannya, dan interaksinya dengan Barbie (Jodie Benson) begitu menggemaskan, seperti melihat tingkah konyol teman kita yang sedang dimabuk asmara. Kehadiran Lotso sebagai villain disini juga berhasil mencuri perhatian. Flashback yang menggambarkan masa lalunya ditampilkan dengan begitu sendu sehingga saya pun dibuat simpati dengan nasibnya.

Dengan begitu banyaknya karakter yang ditampilkan, tidak ada satu pun karakter yang terasa disia-siakan. Itulah kehebatan Pixar dengan karakterisasi tokoh-tokoh yang mereka ciptakan. Semuanya memiliki keunikan masing-masing sehingga menjadi begitu memorable. Adegan-adegan yang tersaji pun ditampilkan secara efektif dan mendetail dengan animasi yang semakin halus dibandingkan dengan dua film pendahulunya. Adegan aksi ditampilkan dengan sangat baik, membuat kita ikut merasakan ketegangan yang dialami oleh tokoh-tokohnya. Aksi meloloskan diri dari "penjara" Sunnyside sangat seru dan menegangkan, layaknya Prison Break dalam dunia animasi. Selain itu, humornya pun sangat segar dan menghibur. Buzz berbahasa Spanyol serta transformasi Mr. Potato Head berhasil membuat saya terbahak-bahak. Ini benar-benar sebuah hiburan yang kaya.

Film ini juga dengan berani menyentuh area yang lebih gelap dibanding film animasi pada umumnya. Tema besar mengenai existential crisis cukup dieksplorasi melalui film ini. Subjek tersebut tidak lantas membuat film ini menjadi begitu berat karena berkat keahlian tim Pixar semuanya dibalut dengan sedemikian rupa sehingga tampil menghibur sekaligus bisa dijadikan bahan renungan. Ikatan persahabatan antara Woody dan kawan-kawannya disini semakin diuji. Dan terlebih, ikatan mereka dengan sang pemilik—Andy pun ikut diuji. Masa kanak-kanak Andy sudah berlalu. Apakah dengan begitu ia akan melupakan semua kenangan masa kecilnya yang ia lalui bersama mainan-mainannya? Hal ini sangatlah menyentuh, karena menggambarkan fase kehidupan yang dilalui setiap manusia, termasuk saya. Semakin bertambahnya usia seseorang, ia akan mengalami masa transisi menuju kedewasaan. Itulah yang sedang dialami oleh tokoh utama kita, Andy. Dan secara otomatis, saya bagai diposisikan sebagai Andy. Saya yang tumbuh dengan menyaksikan 2 instalmen pertamanya bagai memiliki keterikatan emosi dengan para mainan disini, sama halnya dengan Andy. Inilah yang membuat Toy Story 3 terasa begitu emosional.

Film ini diakhiri dengan ending yang begitu menyentuh dan berhasil membuat mata saya berkaca-kaca. Solusi yang dihadirkan disini saya yakini akan memuaskan semua pihak. Perpisahan pasti terjadi, tapi bukan berarti ini akhir dari segalanya. Ini adalah akhir dari sebuah awal yang baru. Sebuah ending yang sempurna bagi para mainan yang telah mengisi masa kecil orang banyak. Terima kasih Pixar, karena telah menciptakan sebuah mahakarya luar biasa yang akan selalu dikenang.

10/10

Thursday, August 21, 2008

Wall-E (2008)

Genre: Animation/Adventure/Comedy/Drama/Family/Romance/Sci-Fi

Pengisi Suara : Ben Burtt, Elisa Knight, Jeff Garlin, Fred Willard, John Ratzenberger, Kathy Najimy, Sigourney Weaver

Sutradara : Andrew Stanton

Penulis : Andrew Stanton, Jim Reardon, Pete Docter

Produser : Jim Morris, Lindsey Collins, John Lasseter

Distributor : Walt Disney Pictures

Durasi : 98 menit

"After 700 years of doing what he was built for - he'll discover what he's meant for."


Sejak kemunculan Toy Story sampai saat ini, film animasi buatan Pixar selalu
menarik perhatian saya. Yang membuat saya salut, mereka selalu bisa merubah sebuah ide sederhana bahkan yang awalnya terdengar konyol (tikus bisa masak? hello...?) menjadi suatu tontonan yang luar biasa. Dan ternyata rata-rata film produksi Pixar selalu sukses baik secara finansial maupun kualitas. Itulah yang membuat saya tertarik untuk menonton film ini. Sebenarnya, saya tidak berharap terlalu banyak karena belum lama ini saya baru menyaksikan kehebatan animasi terbaru Dreamworks, Kung Fu Panda, yang sangat menghibur. Saya sempat sangsi kalau film ini bisa menyajikan sebuah hiburan yang melebihi performa rival-nya tersebut. Tapi saya selalu berpikir, "ini film Pixar loh, apa sih yang nggak mungkin?"

Seperti biasa, film animasi Pixar selalu dibuka dengan film animasi pendek yang ceritanya tidak berhubungan dengan film bersangkutan. Film pembuka kali ini berjudul Presto. Saya tidak akan membahas lebih lanjut, tapi yang pasti film pendek ini benar-benar lucu dan menghibur. Bisa diibaratkan sebagai appetizer yang merangsang saya untuk melahap hidangan utamanya.

Lalu dibukalah film ini dengan pemandangan yang sangat mencengangkan. Seluruh permukaan bumi tertutup oleh sampah yang menggunung (adegan ini cukup membuat saya merinding, akan seperti inikah nasib bumi kita ke depan?). Kemudian muncul sebuah robot yang sedang membersihkan sampah-sampah tersebut, membentuknya menjadi kotak-kotak, dan menumpuknya sehingga tampak lebih tertata (beside the fact that they still trash). Dialah Wall-E, robot yang diperintah untuk membersihkan bumi dari sampah yang sudah overload sehingga tidak layak lagi untuk dihuni manusia.

Wall-E adalah satu-satunya robot yang masih bekerja ketika robot-robot lain sudah berhenti beroperasi dan seluruh manusia dievakuasi ke sebuah pesawat luar angkasa. Ternyata, Wall-E memiliki perasaan layaknya seorang manusia. Hari-harinya yang sepi ia lalui dengan membersihkan dan mendaur ulang sampah. Beberapa "sampah" yang menurutnya menarik ia kumpulkan untuk dikoleksi. Teman satu-satunya adalah seekor kecoak yang selalu setia menemani kemanapun ia pergi.

Suatu hari, saat sedang menjalani rutinitasnya, tiba-tiba muncul sebuah kapsul luar angkasa. Dari dalamnya muncul sebuah robot bernama EVE. Penampilan EVE yang menarik membuat Wall-E jatuh cinta. Dengan kepolosannya, Wall-E berusaha menarik perhatian EVE yang menanggapinya dengan cuek. Tapi lama kelamaan mereka pun semakin akrab, dan ketika tiba saatnya EVE untuk kembali ke luar angkasa karena tugasnya sudah selesai, Wall-E mengikutinya dengan "menumpang" pesawat yang membawa EVE.

Sesampainya di sebuah pesawat luar angkasa raksasa, Wall-E melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Teknologi canggih serta pelayanan penuh para robot membuat manusia yang menghuni pesawat tersebut berubah menjadi makhluk pemalas dengan kondisi yang mengenaskan (baca : super gemuk). Bahkan mereka tidak tahu bumi itu seperti apa. Dengan sepucuk tanaman yang dibawa EVE dari bumi, kesempatan umat manusia untuk kembali ke bumi semakin terbuka. Tapi ternyata, ada pihak yang tidak menginginkan manusia kembali ke bumi. Dengan bantuan sang kapten pesawat beserta para robot lainnya, Wall-E dan EVE berusaha agar manusia bisa kembali ke bumi dan mengembalikan keadaan bumi seperti semula.

Di luar dugaan, Wall-E jauh melebihi ekspektasi saya. Inilah sebuah masterpiece terbaru dari Disney-Pixar dan merupakan karya terbaik dari kolaborasi mereka sejauh ini. Pesan tentang kepedulian lingkungan sangat jelas tergambar tanpa terkesan menggurui. Pemandangan bumi yang cukup mengerikan (sampah yang menjulang tinggi bak gedung pencakar langit, plus langit yang selalu terlihat gelap karena lapisan atmosfer sudah tertutupi "sampah-sampah" luar angkasa) dapat membuat kita sadar bahwa bumi kita sedang mengalami krisis yang sangat serius. Bukan tidak mungkin penggambaran di film ini suatu saat dapat terjadi. Ketergantungan manusia terhadap teknologi juga tergambar jelas dan yang pasti membuat saya tertohok. Meskipun belum separah itu, tapi saat ini gejala tersebut sudah mulai terlihat.

Kelebihan lain dari film ini terletak pada karakterisasinya. Walaupun tokoh utama kita ini tidak bisa berbicara (bunyi-bunyian ala robot tidak dihitung), hanya dari sorot mata dan
gesture-nya ia sudah berbicara banyak. Terutama saat Wall-E sedang jatuh cinta. Siapa sih yang tidak tersenyum, bahkan tertawa geli melihat kelakuan Wall-E saat berhadapan dengan EVE. Dan betapa bahagianya kita saat Wall-E akhirnya bisa akrab dengan EVE. Pixar benar-benar berhasil menciptakan satu lagi karakter yang mampu memancing emosi penonton dan pastinya memorable. Tidak berlebihan jika Wall-E disebut sebagai kandidat terkuat peraih Best Animated Feature di ajang Academy Awards tahun depan. Bahkan menurut saya film ini layak diperhitungkan untuk masuk nominasi Best Picture. Di luar itu, film ini adalah sebuah karya seni yang tak ternilai tanpa meninggalkan esensinya sebagai sebuah tontonan yang menghibur.

10/10