Showing posts with label Iconic Character. Show all posts
Showing posts with label Iconic Character. Show all posts

Tuesday, December 21, 2010

Compiled Reviews : From Magical Journey To Cyberpunk Realm

Betapa luasnya imajinasi manusia sehingga ia bisa menciptakan sebuah dunia alternatif berisi berbagai hal yang realitasnya tidak mungkin ditemui di dunia nyata. Dari mulai dunia ajaib di balik lemari pakaian ciptaan seekor singa agung, sampai dunia dalam virtual game futuristik karya seorang programmer inovatif. Narnia dan Tron—kedua dunia tersebut adalah bukti betapa kaya buah pikiran manusia saat ia berani bermain dengan imajinasinya. Meskipun kedua dunia tersebut hanya direpresentasikan dalam pita seluloid, namun itu sudah cukup bagi saya untuk merasakan keindahan dan keunikan masing-masing. Sebagai bentuk apresiasi, berikut ini review untuk instalmen terbaru Narnia serta sekuel Tron yang sudah banyak diantisipasi para penikmat film.


The Chronicles Of Narnia : The Voyage Of The Dawn Treader (2010)

Genre : Adventure/Family/Fantasy | Pemain : Georgie Henley, Skandar Keynes, Ben Barnes, Will Poulter, Gary Sweet, Anna Popplewell, William Moseley, Tilda Swinton, Liam Neeson, Simon Pegg | Sutradara : Michael Apted | Penulis : Christopher Markus, Stephen McFeely, Michael Petroni, C.S. Lewis (novel) | Distributor : Twentieth Century Fox Film Corp. | Durasi : 113 menit | MPAA : Rated PG for some frightening images and sequences of fantasy action

"You have returned
for a reason. Your adventure begins now."

-Aslan-

The Chronicles of Narnia karya C.S. Lewis adalah salah satu seri literatur klasik yang paling dikenal dan cukup memberi pengaruh bagi karya-karya lain. Adaptasinya pun sudah beberapa kali dibuat ke dalam berbagai media, mulai dari drama radio, drama panggung, film televisi, sampai film layar lebar. Invasi seri ini ke layar lebar dimulai pada tahun 2005, saat The Lion, The Witch, And The Wardrobe yang disutradarai Andrew Adamson (dwilogi Shrek) dirilis di bioskop-bioskop seluruh dunia. Adaptasi ini tergolong sukses baik dari sisi kualitas maupun kuantitas dolar yang didulang. Sebuah awal yang menjanjikan bagi kelangsungan franchise ini.

Menurut saya pribadi, film pertamanya memang berhasil menerjemahkan esensi yang terkandung dalam novelnya dengan cukup baik. Lalu tiga tahun kemudian muncul adaptasi novel keduanya yang dengan sub-judul Prince Caspian. Sekuel ini dikemas lebih gelap namun masih terbilang aman untuk dikonsumsi anak-anak. Sialnya, entah kenapa kali ini seri Narnia seolah kehilangan daya magisnya. Spirit petualangan serta sense of wonder-nya tertutupi kadar action yang tampak lebih dikedepankan. Secara keseluruhan memang masih menghibur, namun tidak memberi impresi lebih.

Perombakan besar dilakukan di seri ketiganya yang melibatkan penggantian posisi sutradara (Andrew Adamson to Michael Apted) serta studio yang mendistribusikannya (Walt Disney to Twentieth Century Fox). Perubahan ini tentunya diharapkan mampu membawa franchise ini ke arah yang lebih baik. Berhasilkah?

Tidak seperti dua pendahulunya, kali ini hanya dua bersaudara Pevensie yang berkesempatan mengunjungi kembali tanah Narnia, yaitu Edmund (Skandar Keynes) dan Lucy (Georgie Henley). Oh ya, tambah satu lagi sepupu mereka, si manja sok pintar Eustace Scrubb (Will Poulter) yang ikut terseret ke dalam petualangan mereka untuk membantu King Caspian (Ben Barnes) guna mencari tujuh lord yang dahulu hilang saat rezim pamannya—Miraz merajalela. Bersama awak kapal Dawn Treader lainnya, mereka berlayar menyeberangi samudera luas serta menjamah pulau-pulau misterius nan magis demi menuntaskan misi tersebut.

Di luar perkiraan, ternyata film ini tidak seburuk yang saya bayangkan. Skeptisisme penilaian awal terhadap kualitas film ini muncul karena pendapat beberapa teman saya serta kritikus-kritikus luar yang mencap film ini lemah (jika tidak mau dibilang buruk). Secara keseluruhan, ternyata saya masih bisa menikmatinya. Spirit petualangan yang saya nantikan kembali muncul di seri terbaru ini. Kali ini, saya bisa merasakan kembali daya magis dari sebuah negeri ajaib bernama Narnia.

Daya magis yang dihembuskan sayangnya tidak sanggup mengangkat kualitas film ini secara keseluruhan. Pencarian tujuh raja yang hilang beserta pedang magisnya di berbagai pelosok Narnia memang cukup menarik. Berbagai lokasi yang ada digambarkan dengan cukup menarik, terutama pulau tempat tinggal para Dufflepud yang indah dan memanjakan mata. Namun misi pencarian ini lama-kelamaan terkesan episodik. Polanya klise dan mudah ditebak sehingga terasa sedikit membosankan.

Dari segi teknis, efek CGI yang digunakan cenderung medioker. Menarik, namun tidak spesial. Sinematografinya juga belum mampu membuat saya berdecak kagum layaknya yang dilakukan Eduardo Serra melalui seri terbaru Harry Potter baru-baru ini (ups! bukan bermaksud membanding-bandingkan ya). Set design-nya digarap dengan apik, namun entah mengapa tampilan Dawn Treader agak terkesan kekanakan (menurut pandangan pribadi saya). Komposisi musik dari David Arnold setidaknya cukup mendukung tiap-tiap adegannya.

Georgie Henley dan Skandar Keynes—dua pemain utama yang konsisten bermain dari mulai seri awalnya cukup mengalami peningkatan akting, terutama Henley yang tampil memikat sebagai si bungsu Lucy. Namun yang paling menarik perhatian justru karakter baru—Eustace Scrubb yang diperankan oleh Will Poulter. Sifat serta tingkahnya yang menyebalkan tidak jarang mengundang tawa. Layar pun semakin hidup saat ia berinteraksi dengan Reepicheep (disuarakan oleh Simon Pegg), tikus ksatria yang begitu loveable dengan gesture dan celotehannya. Tokoh Reepicheep jugalah yang sanggup memainkan emosi penonton (saya lebih tepatnya) menjelang akhir film.

Menurut saya, adegan menjelang akhir film memang bagian yang paling menarik. Semua kekurangan di sepanjang durasi dibayar dengan ending yang memikat. Mengikuti pola dua film sebelumnya, bagian akhir film kembali mempertemukan para tokoh utamanya dengan Aslan sang singa agung. Dengan mengambil setting yang begitu memanjakan mata, adegan ini semakin terasa bermakna. Saat itu pula saya kembali tersadar bahwa Narnia adalah karya yang sarat dengan simbol-simbol religius sekaligus pesan moral. Adegan perpisahan terasa begitu menyentuh. Sebuah alegori yang indah dalam menggambarkan proses perpindahan dari alam fana menuju kekekalan.

Kesimpulannya, Narnia terbaru ini menawarkan kisah petualangan memikat namun masih terasa memiliki banyak kelemahan sebagai satu film utuh. Setidaknya ending-nya dieksekusi dengan menawan dan penuh makna.

Rating : 6/10



Tron : Legacy (2010)


Genre : Action/Adventure/Sci-Fi | Pemain : Jeff Bridges, Garrett Hedlund, Olivia Wilde, Bruce Boxleitner, Beau Garrett, Michael Sheen | Sutradara : Joseph Kosinski | Penulis : Edward Kitsis, Adam Horowitz | Distributor : Walt Disney Studios Motion Pictures | Durasi : 127 menit | MPAA : Rated PG for sequences of sci-fi action violence and brief mild language

"The
Grid. A digital Frontier. I tried to picture clusters of information as they
traveled through the computer. Ships, motorcycles. With the circuits like
freeways. I kept dreaming of a world I thought I'd never see. And then, one
day... I got in."

-Kevin Flynn-


Saat ini, perfilman Hollywood tampaknya sudah semakin menyadari potensi dari sebuah teknologi bernama 3D. Sebuah film dengan presentasi 3D tentunya menawarkan sensasi menonton yang berbeda dibanding dengan film berformat biasa. Jika dimanfaatkan secara maksimal, hasilnya akan terlihat mengagumkan secara visual, layaknya yang dilakukan James Cameron melalui Avatar tempo hari. Namun, pencapaian Avatar urung diikuti oleh film-film lain yang diberi embel-embel 3D. Mayoritas film 3D akhir-akhir ini hanya mengandalkan hasil konversi yang hasilnya jelas-jelas mengecewakan. Hal ini tidak lain karena sepertinya para produser Hollywood memanfaatkan potensi teknologi ini bukan sebagai penghasil visual yang memukau, melainkan sebagai mesin pengeruk uang semata. Just my thought.

Akhir Desember ini, penonton kembali disuguhkan sajian 3D terbaru yang merupakan sebuah sekuel dari cult classic produksi Disney tahun 1982 berjudul Tron. Dengan tambahan kata Legacy, sekuel ini tampaknya dimaksudkan untuk mengenalkan dunia futuristik Tron kepada generasi masa kini sekaligus melahirkan sebuah franchise raksasa potensial. Dengan buzz yang semakin kencang menjelang perilisannya di bioskop, film ini memang sangat berpotensi meraih pasar mainstream sekaligus fans film orisinilnya. Dari materi promosinya, saya cukup optimis bahwa kreatornya memanfaatkan teknologi 3D sebagai komponen yang integral dengan isi filmnya, bukan hanya gimmick semata.

Dari segi cerita, Legacy sebenarnya tidak menawarkan sesuatu yang istimewa. Pengejaran kesempurnaan yang berujung pada kehancuran, itulah garis besar cerita yang bisa saya tangkap disini. Kevin Flynn (Jeff Bridges), seorang progammer sekaligus pemilik perusahaan Encom yang terkenal dengan game kreasinya—Tron, dinyatakan menghilang. Dua puluh tahun kemudian, Sam (Garrett Hedlund), anak satu-satunya, mendapat sebuah pesan yang menggiringnya masuk ke dalam dunia di balik virtual game ciptaan Kevin, The Grid. Di sana, Sam menemukan kebenaran di balik menghilangnya sang ayah selain harus terjebak dalam pertempuran layaknya gladiator rancangan Clu, kloning ayahnya yang memberontak dan memiliki agenda tersendiri. Bersama ayahnya dan dibantu Quorra (Olivia Wilde)—murid sang ayah, Sam berusaha menghindar dari kejaran Clu dan keluar dari Grid.

Film ini memiliki komponen yang lazim muncul dalam film bergenre cyberpunk, seperti setting near future dalam keadaan distopia (tergambar pada Grid), pembauran antara manusia sungguhan dengan "manusia" artifisial (dianalogikan melalui user dan program), sampai gaya visual yang cenderung gelap dibalut kekontrasan warna neon. Visual inilah yang menjadi kekuatan Legacy. Dari mulai kostum hingga adegan aksi yang melibatkan balapan light cycle serta disc battle, semuanya begitu memukau mata. Tidak salah jika film ini ditampilkan dalam format 3D, walaupun masih belum bisa menandingi kehebatan visual Avatar (menurut saya). Selain itu, jiwa film ini juga terletak pada musik yang melatarinya. Duo Daft Punk benar-benar patut diberi kredit tersendiri atas komposisi musik yang berhasil menghembuskan jiwa pada film yang sebetulnya dingin dalam hal emosi ini. Mata dan telinga saya begitu dimanjakan selama dua jam.

Sebagai sebuah hiburan mendekati akhir tahun, persembahan terbaru Disney ini lumayan menghibur dengan jualan utamanya yang outstanding (yeah, I'm talking about the audio and visual—including the beautiful Olivia Wilde). Meski naskahnya lemah dengan dialog datar yang bahkan aktor sekaliber Jeff Bridges pun tidak sanggup membuatnya menjadi lebih baik, namun secara keseluruhan saya nilai Tron : Legacy sebagai sebuah sajian yang nikmat. Saya rekomendasikan bagi calon penonton yang menginginkan sajian menghibur dengan bobot cerita yang ringan. And I think it's better to watch it in 3D.

Rating : 6/10

Monday, November 22, 2010

Harry Potter And The Deathly Hallows : Part 1 (2010)

Genre : Action/Adventure/Fantasy/Mystery

Pemain : Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson, Ralph Fiennes, Helena Bonham Carter, Bill Nighy, Rhys Ifans, Alan Rickman, Jason Isaacs, Imelda Staunton

Sutradara : David Yates

Penulis : Steve Kloves (screenplay), J.K. Rowling (novel)

Distributor : Warner Bros. Pictures

Durasi : 146 menit

MPAA : Rated PG-13 for some sequences of intense action violence, frightening images and brief sensuality



MAY CONTAIN SPOILER

Harry Potter. Sepintas tampak tidak ada yang istimewa dengan nama tersebut, bahkan akan terasa lucu jika kita iseng menerjemahkan nama belakangnya ke dalam Bahasa Indonesia. Namun kenyataannya, nama itulah yang membuat banyak orang di berbagai belahan dunia tersihir selama lebih dari satu dekade. Melalui kisah petualangannya yang ditulis oleh seorang wanita berkebangsaan Inggris bernama J.K. Rowling, nama Harry Potter berubah menjadi sebuah fenomena yang mengguncang dunia literatur dan sinema. Kisah klasik bertema good vs evil dalam balutan unsur magis yang ada dalam Potter universe ini memang pantas dicintai banyak orang. Selain kisahnya yang kaya dan menghibur, Rowling juga berhasil membentuk ikatan kuat antara pembaca dengan karakter-karakter yang ada dalam novel seri rekaannya ini. Tidak terhitung berapa banyak fans yang dengan setia mengikuti sepak terjang Harry dan kawan-kawan dari awal sampai konfrontasi final melawan Lord Voldemort beserta pasukan Death Eaters-nya. Para pembaca (dan penonton) tidak akan sampai sejauh ini jika tidak ada ikatan emosi antara mereka dengan karakter-karakternya. Inilah kehebatan franchise Harry Potter. Fakta bahwa kisah ini hampir berakhir (untuk versi filmnya) tentu akan menjadi sebuah momen penting bagi para fans setianya. Dan saya adalah salah satunya.

Mengabaikan fakta bahwa banyak orang yang sudah mengetahui akhir kisahnya (cerita berakhir di novel ke-7 yang terbit di tahun 2007 lalu), instalmen terbaru dari versi layar lebarnya saya yakini masih sanggup memancing rasa penasaran. Bukan kepenasaran akan ceritanya tentu saja, melainkan visualisasi yang ditampilkan. Dengan jumlah fans yang tak terhitung banyaknya, tekanan untuk menghasilkan visualisasi yang sesuai dengan ekspektasi mereka tentunya semakin besar. Beban ini kembali ditanggung oleh David Yates, sutradara yang sebelumnya sudah berpengalaman menggarap seri Harry Potter ke-5 dan ke-6. Di tangannya, saya akui bahwa franchise ini semakin matang, di luar konten ceritanya yang memang semakin gelap dan dewasa. Kembalinya Yates untuk menangani seri pamungkasnya semakin membuat saya optimis bahwa instalmen ini sudah berada di tangan yang tepat. Keputusan Warner Bros. untuk membagi film terakhir ini menjadi dua bagian juga semakin membuat saya gembira. Motivasi ekonomi mungkin menjadi salah satu penyebabnya, namun saya tidak terlalu ambil pusing. Dan setelah menyaksikan hasil akhir dari bagian pertama ini, saya menyadari bahwa pembagian tersebut adalah keputusan yang sangat tepat. Sebuah tribute bagi para fans setianya.

Franchise Harry Potter dikenal memiliki cerita yang kompleks dan semakin kelam dari seri ke seri. Setelah nuansa hangat dan ceria disajikan Chris Columbus dalam dua instalmen awalnya, cerita berubah menjadi lebih kelam dan dewasa di seri ke-3. Selain materi awalnya yang memang seperti itu, penggantian posisi sutradara juga cukup berpengaruh. Sejak film ke-3 itulah, franchise ini semakin konsisten menjaga kekelaman alur cerita serta atmosfer yang dihadirkan. Harry Potter And The Deathly Hallows : Part 1 menurut saya adalah yang paling gelap dan mencekam dibanding film-film sebelumnya. Dari awal film saja, atmosfer kelam sudah mulai terasa (logo Warner Bros. yang pelan-pelan hancur berkarat sangat simbolik).

Dunia sihir sedang memasuki masa-masa kegelapan. Teror yang disebarkan Lord Voldemort (Ralph Fiennes) bersama pasukan Death Eaters-nya semakin meluas. Kementrian Sihir sudah diambil alih, fasisme merajalela. Bagai Hitler dengan Nazi-nya, Voldemort beserta pasukan Death Eaters-nya memegang kendali penuh atas komunitas sihir. Rasa aman dan nyaman sudah menjadi barang langka, terutama bagi para Muggle-born (keturunan manusia non-penyihir). Monumen "Magic Is Might" yang berdiri kokoh di atrium Kementrian Sihir semakin menegaskan betapa mengerikannya rezim baru ini.

Kehadiran sosok Harry Potter (Daniel Radcliffe) bagaikan sebuah cahaya terang di tengah kegelapan yang sedang melanda dunia sihir. Dia adalah anak yang berhasil bertahan hidup dari kutukan maut Voldemort. Dialah Sang Terpilih. Kali ini, rintangan yang harus dihadapi Harry dalam usahanya mengalahkan Voldemort semakin berbahaya. Sepeninggal Albus Dumbledore, Hogwarts bukan lagi tempat paling aman untuk berlindung dari serangan Voldemort dan Death Eaters. Kini, Harry harus menghadapi tantangan nyata di dunia luar, jauh dari kenyamanan Hogwarts dan perlindungan guru-gurunya. Bersama dua sahabat setianya—Ron Weasley (Rupert Grint) dan Hermione Granger (Emma Watson), Harry melanjutkan misi yang diwariskan Dumbledore, yaitu menemukan dan menghancurkan sisa Horcrux (kepingan jiwa) Voldemort yang masih tersebar di berbagai tempat. Dalam menjalankan misi ini, mereka juga menemukan fakta tentang keberadaan tiga benda keramat yang dijuluki The Deathly Hallows. Ketiga benda tersebut jika disatukan konon akan membuat pemiliknya memiliki kekuatan tak terbatas.

Tidak seperti enam instalmen sebelumnya dimana kastil Hogwarts selalu dijadikan setting utama, kali ini sekolah sihir tersebut tidak diperlihatkan sama sekali. Perjalanan trio Harry-Ron-Hermione yang selalu berpindah-pindah lokasi membuat film ini lebih terkesan seperti road movie. Absennya Hogwarts sebagai setting juga membuat film ini memiliki feel yang berbeda dibandingkan film-film sebelumnya. Lebih liar, berbahaya, sekaligus emosional.

Salah satu keuntungan dari dibaginya film terakhir ini menjadi dua bagian yaitu semakin leluasanya cerita untuk bergerak. Perlahan namun pasti, menurut saya pace-nya sudah sangat pas. Steve Kloves berhasil menyusun skrip yang tetap setia dengan sumber aslinya namun juga tidak ragu untuk sedikit berimprovisasi. Adegan Harry menghibur Hermione dengan mengajaknya berdansa diiringi lagu O Children yang dibawakan Nick Cave sungguh suatu kejutan yang sangat manis. Nice job, Kloves!

Ruang gerak yang luas dalam ceritanya juga memberi kesempatan lebih untuk pendalaman karakter, terutama karena disini fokus utamanya memang terletak pada perkembangan hubungan antara tiga tokoh utamanya. Pendalaman karakter yang baik tentu bergantung juga pada penjiwaan tiap aktor-aktrisnya dalam memainkan peran masing-masing. Tanpa ragu saya katakan bahwa Radcliffe, Grint, dan Watson telah mempersembahkan performa terbaik mereka disini. Setelah hampir satu dekade, sangat terlihat bahwa mereka bertiga semakin melebur dengan karakter masing-masing. Yang paling menonjol menurut saya adalah Emma Watson. Ia bersinar di setiap kemunculannya. Opening scene dimana ia diperlihatkan harus menghapus ingatan orangtuanya terasa begitu emosional. It's one of the most heartbreaking scenes I've ever scene. Singkat tapi memorable. Untuk pemeran pendukung lainnya yang banyak diisi oleh aktor veteran Inggris, saya rasa tidak perlu ditanya lagi. Walaupun kebanyakan dari mereka hanya tampil singkat, namun performanya tetap prima. Sungguh ensemble cast yang mengagumkan.

Dari sisi teknis, sinematografi garapan Eduardo Serra sangatlah indah dan memanjakan mata. Keberaniannya dalam menggunakan teknik hand-held camera di beberapa adegan patut diapresiasi. Adegan kejar-kejaran antara trio tokoh utama kita dengan para Snatchers sukses memompa adrenalin. I love that scene! Warna-warna yang ditampilkan cenderung gelap, sesuai dengan mood film. Score karya Alexander Desplat juga semakin memperkaya adegan demi adegannya. Suatu keputusan tepat untuk melibatkan komposer ini dalam proyek sekelas Harry Potter. Film sebusuk New Moon saja jadi terkesan lebih elegan berkat komposisi musik gubahannya.

David Yates memang memberi bobot lebih pada unsur drama dalam instalmen terbaru ini, namun bukan berarti ia melupakan unsur hiburannya. Selipan humor segar di beberapa adegan berhasil mengundang tawa. Lalu action sequences yang ada juga digarap dengan dengan baik—seru sekaligus mencekam di beberapa bagian. Oh ya, jangan lupakan adegan yang menjelaskan tentang legenda The Deathly Hallows. Sequence ini dipresentasikan dalam animasi berupa siluet dengan latar belakang kecoklatan. Indah sekaligus memancarkan daya magis yang begitu kuat.

Menurut saya, inilah adaptasi terbaik dari keseluruhan film Harry Potter yang pernah dirilis. Sangat terlihat kerja keras Yates beserta krunya dalam upaya menghadirkan yang terbaik bagi para fans setia franchise ini. J.K. Rowling patut berbangga karena karyanya ditangani dengan penuh respek oleh Yates dan krunya. Sebuah awal yang baik untuk mengakhiri kisah yang begitu dicintai orang banyak. Saya sendiri sebagai fanboy (yeah, I'm proud of it!) tentu sangat tidak sabar untuk menunggu kisah pamungkasnya musim panas nanti. Please, don't let me down, Yates!

Long live Harry Potter.

R.I.P. Dobby the Free House Elf

Rating : 9/10

Wednesday, October 20, 2010

Heathers (1989)

Genre : Comedy/Crime

Pemain : Winona Ryder, Christian Slater, Shannen Doherty, Lisanne Falk, Kim Walker

Sutradara : Michael Lehmann

Penulis : Daniel Waters

Distributor : New World Pictures

Durasi : 103 menit

MPAA : Rated R for violence, sexual references, and language


"Betty Finn was a true friend and I sold her out for a bunch of Swatch dogs and Diet Coke heads. Killing Heather would be like offing the wicked witch of the west... wait, east. West! God! I sound like a fucking psycho."
-Veronica-

Kalimat di atas adalah satu dari sekian banyak quote menggelitik yang bertebaran di sepanjang durasi film ini. Heathers, sebuah potret kehidupan para remaja dalam balutan dark comedy yang tajam, penuh sindiran, sekaligus cerdas. Judul film ini sendiri diambil dari nama sebuah kelompok (mungkin lebih dikenal dengan sebutan geng) yang terdiri dari tiga siswi populer bernama depan sama—Heather Chandler (Kim Walker), Heather Duke (Shannen Doherty), dan Heather McNamara (Lisanne Falk). Layaknya film-film remaja kebanyakan, clique yang terdiri dari gadis-gadis paling populer di sekolah otomatis memiliki otoritas penuh dalam hal pergaulan. Mereka seolah berada di tempat tertinggi dalam stratifikasi sosial di lingkungan sekolahnya. Dari scene awalnya saja, sudah tergambar seberapa berpengaruhnya eksistensi para Heather ini. Ah, saya jadi teringat lagu Que Sera Sera.

Veronica Sawyer (Winona Ryder)—gadis cerdas dengan selera humor sarkastik, adalah anggota keempat di geng Heathers. Wait, a non-Heather in Heathers? How could that be? Ya, meski tidak dijelaskan bagaimana awal mula Veronica bisa diterima di geng tersebut (yang tampak sudah sempurna sebagai trio), namun jelas bahwa ia memiliki sesuatu yang menarik perhatian para Heather. Tidak seperti Duke dan McNamara yang tampak agak segan terhadap pemimpin mereka—Heather Chandler, Veronica justru cenderung lebih santai saat berada di dekatnya. Sosok Veronica adalah cerminan seorang remaja yang ingin diterima dalam pergaulan dengan bergabung bersama geng populer, tidak peduli bahwa justru sebenarnya ia membenci geng tersebut. Seperti kalimat yang diucapkannya, "Well, it's just like - they're people I work with, and our job is being popular and shit." Jelas tergambar bahwa ia terpaksa bergaul dengan para Heather demi status sosial. Sebagai Veronica, Winona Ryder tampak begitu mempesona di setiap kemunculannya.

Kehadiran sosok Jason "J.D." Dean (Christian Slater)—murid pindahan bergaya cool dan misterius, semakin membuat Veronica tersadar. Kebencian terhadap Heather yang selama ini hanya ia tuangkan dalam diary, mulai diwujudkan dalam tindakan nyata. Namun, keisengan yang ia lakukan bersama J.D. pada akhirnya malah berbuah malapetaka. Sosok J.D. seolah memicu munculnya sisi gelap dalam diri Veronica. Saat bersama J.D., ia seperti kehilangan kendali atas dirinya. Mampukah Veronica terbebas dari pesona gelap J.D. yang bagai magnet bagi dirinya? Tokoh J.D. diperankan dengan sempurna oleh Christian Slater—charming sekaligus psychotic. Cukup mengherankan melihat karirnya sekarang yang tidak berkembang, padahal jelas-jelas ia bisa berakting. Dan chemistry-nya dengan Winona Ryder sungguh mengagumkan. Pasangan mematikan yang mempesona. Love them both!

Heathers mengeksplor sisi gelap kehidupan para remaja di sekolah menengah. Stereotype anak sekolahan, obsesi terhadap popularitas, sampai fenomena bunuh diri di kalangan remaja dijadikan bahan komedi satir dalam film ini. Untuk yang memiliki selera humor sarkastik, dipastikan akan sangat terhibur dengan lontaran kalimat pedas dari tiap karakternya di sepanjang film. Skrip buatan Daniel Waters ini memang cerdas dan luar biasa menghibur dengan segala kesinisannya. Tiap tokohnya diberi kedalaman yang pas, dengan pembubuhan simbolisasi untuk mempertegas sifat karakter masing-masing (misalnya warna bola kriket Heathers). Beberapa adegan terkesan agak berlebihan—terutama pada paruh akhir menjelang ending, namun secara keseluruhan apa yang ingin disampaikan film ini cukup tepat sasaran. Tingkah laku remaja yang semakin brutal dan destruktif serta blow-up media yang membuat hal-hal negatif jadi terlihat keren disampaikan dengan jelas.

Jujur, saya sangat menikmati film ini dari awal sampai akhir. Gaya humornya sangat mengena dan benar-benar menghibur. Ini adalah salah satu film remaja terbaik yang pernah saya tonton. Sedikit mengingatkan pada Mean Girls yang sudah lebih dahulu saya tonton, namun Heathers jelas lebih baik sekaligus memorable. Film ini tidak cukup hanya ditonton sekali karena setelah menonton untuk kedua kalinya, saya menemukan beberapa detail yang sempat terlewat saat pertama kali menonton. Dan yang terpenting, saya semakin jatuh cinta dengan film ini. Ini bukan berlebihan, hanya sekedar ungkapan perasaan saya saja sebagai penonton. Tidak lebih.

Now, can someone bring me a chainsaw?

Rating : 9/10

Sunday, June 20, 2010

Toy Story 3 (2010)

Genre : Animation/Adventure/Comedy/Family/Fantasy

Pengisi Suara : Tom Hanks, Tim Allen, Joan Cusack, John Morris, Ned Beatty

Sutradara : Lee Unkrich

Penulis : Michael Arndt

Distributor : Walt Disney Pictures

Durasi : 103 menit

MPAA : Rated G

"No Toy Gets Left Behind"

Pada tahun 1995, sebuah studio animasi bernama Pixar menggebrak dunia perfilman dengan sebuah film animasi CGI berjudul Toy Story. Selain menjadi pelopor film animasi CGI, film ini juga menjadi awal kesuksesan besar bagi Pixar yang pada tahun 2006 lalu diakuisisi oleh Disney. Toy Story juga menjelma menjadi sebuah franchise yang begitu populer setelah jilid keduanya yang rilis pada 1999 lalu berhasil meraih kesuksesan luar biasa. Di luar itu, kisah dalam Toy Story memang pantas digemari mulai dari anak-anak sampai kalangan dewasa. Mengangkat tema tentang keindahan masa kecil serta disisipi dengan nilai-nilai kehidupan yang tak lekang oleh waktu, membuat kisah dalam franchise ini begitu mengena di hati. Saya sendiri adalah generasi '90-an yang tumbuh bersama film ini. Toy Story adalah bagian dari masa kecil saya yang ikut berjasa membuatnya menjadi penuh imajinasi. Sekarang, setelah saya semakin dewasa, kisah film ini berlanjut kembali. Ada rasa gembira sekaligus sedih karena walaupun saya akan kembali merasakan keindahan masa kecil melalui seri terbaru ini, tetapi saya tahu bahwa ini akan menjadi sebuah pengalaman yang sangat emosional berdasarkan premis cerita yang ditawarkan.

Setelah opening sequence penuh aksi yang ditampilkan dengan sangat seru, adegan berlanjut ke sebuah rekaman video yang memperlihatkan Andy (John Morris) sedang bermain dengan mainan-mainan kesayangannya. Rekaman ini dengan cerdas mewakili flashback yang menggambarkan momen-momen indah yang dilalui Andy bersama mainannya. Diiringi lagu You've Got a Friend In Me, mata saya mulai berkaca-kaca karena adegan ini seolah mengantarkan saya kembali ke masa kecil dulu. Setelah video ini berakhir, penonton dibawa menuju masa kini dimana Andy sudah tumbuh menjadi remaja berusia 17 tahun yang siap untuk memasuki bangku perkuliahan. Sudah bertahun-tahun lamanya Andy tidak menghabiskan waktu bersama mainan-mainannya. Mengingat kini ia harus pergi meninggalkan rumah, maka ibunya menyuruhnya untuk menentukan mana barang yang akan ia bawa serta barang yang akan disimpan di gudang atau dibuang. Disini, nasib para mainan mulai ditentukan. Mereka tahu bahwa hari ini akan tiba, tinggal menunggu waktu saja apakah mereka akan tetap disimpan atau kemungkinan yang paling buruk—dibuang.


Woody (Tom Hanks)—figur pemimpin bagi para mainan ini bernasib paling baik karena Andy memutuskan untuk membawanya. Mainan yang lain diputuskan untuk disimpan di loteng, tapi karena suatu kesalahan mereka hampir saja terbawa truk sampah. Nasib baik akhirnya datang, karena mereka kini dibawa ke Sunnyside Daycare, sebuah tempat penitipan anak yang tentunya dipenuhi dengan anak-anak yang bisa mengajak mereka bermain setiap saat. Woody, yang loyalitasnya kepada pemiliknya tidak perlu dipertanyakan berusaha membujuk teman-temannya untuk pulang ke rumah Andy. Namun, mereka sudah terlanjur sakit hati dan beranggapan bahwa tempat baru ini adalah yang terbaik yang bisa mereka harapkan. Bahkan Buzz (Tim Allen), yang selalu mendukung Woody pun memutuskan untuk tinggal. Alasan mereka untuk tinggal diperkuat dengan sambutan hangat dari para mainan yang lebih dulu menghuni Sunnyside. Mereka dipimpin oleh Lotso (Ned Beatty)—boneka beruang dengan aroma strawberry yang begitu ramah menyambut kedatangan para mainan baru. Namun, semakin lama mulai tercium bahwa Lotso memiliki agenda tersembunyi dibalik keramahannya. Pada akhirnya, para mainan kesayangan kita ini berusaha keluar dari Sunnyside dengan bantuan Woody yang berusaha untuk kembali pada Andy sebelum ia pergi meninggalkan rumah.

Menyaksikan film ini merupakan suatu pengalaman yang sangat luar biasa. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, film ini berhasil membawa saya menelusuri kembali masa kecil saya. Selain Woody dan Buzz, para mainan lain seperti Jessie (Joan Cusack), Bullseye, Rex (Wallace Shawn), Ham (John Ratzenberger), Slinky Dog (Blake Clark), Mr. & Mrs. Potato Head (Don Rickles & Estelle Harris) beserta 3 alien kecilnya juga membuat saya merasa begitu gembira. Melihat mereka beraksi di layar seperti bertemu kembali dengan teman-teman yang sudah lama tidak saya jumpai. Kehadiran tokoh-tokoh baru juga semakin memeriahkan suasana. Ken (Michael Keaton) yang digambarkan sebagai penggila fashion sanggup menghibur dengan segala kelakuannya, dan interaksinya dengan Barbie (Jodie Benson) begitu menggemaskan, seperti melihat tingkah konyol teman kita yang sedang dimabuk asmara. Kehadiran Lotso sebagai villain disini juga berhasil mencuri perhatian. Flashback yang menggambarkan masa lalunya ditampilkan dengan begitu sendu sehingga saya pun dibuat simpati dengan nasibnya.

Dengan begitu banyaknya karakter yang ditampilkan, tidak ada satu pun karakter yang terasa disia-siakan. Itulah kehebatan Pixar dengan karakterisasi tokoh-tokoh yang mereka ciptakan. Semuanya memiliki keunikan masing-masing sehingga menjadi begitu memorable. Adegan-adegan yang tersaji pun ditampilkan secara efektif dan mendetail dengan animasi yang semakin halus dibandingkan dengan dua film pendahulunya. Adegan aksi ditampilkan dengan sangat baik, membuat kita ikut merasakan ketegangan yang dialami oleh tokoh-tokohnya. Aksi meloloskan diri dari "penjara" Sunnyside sangat seru dan menegangkan, layaknya Prison Break dalam dunia animasi. Selain itu, humornya pun sangat segar dan menghibur. Buzz berbahasa Spanyol serta transformasi Mr. Potato Head berhasil membuat saya terbahak-bahak. Ini benar-benar sebuah hiburan yang kaya.

Film ini juga dengan berani menyentuh area yang lebih gelap dibanding film animasi pada umumnya. Tema besar mengenai existential crisis cukup dieksplorasi melalui film ini. Subjek tersebut tidak lantas membuat film ini menjadi begitu berat karena berkat keahlian tim Pixar semuanya dibalut dengan sedemikian rupa sehingga tampil menghibur sekaligus bisa dijadikan bahan renungan. Ikatan persahabatan antara Woody dan kawan-kawannya disini semakin diuji. Dan terlebih, ikatan mereka dengan sang pemilik—Andy pun ikut diuji. Masa kanak-kanak Andy sudah berlalu. Apakah dengan begitu ia akan melupakan semua kenangan masa kecilnya yang ia lalui bersama mainan-mainannya? Hal ini sangatlah menyentuh, karena menggambarkan fase kehidupan yang dilalui setiap manusia, termasuk saya. Semakin bertambahnya usia seseorang, ia akan mengalami masa transisi menuju kedewasaan. Itulah yang sedang dialami oleh tokoh utama kita, Andy. Dan secara otomatis, saya bagai diposisikan sebagai Andy. Saya yang tumbuh dengan menyaksikan 2 instalmen pertamanya bagai memiliki keterikatan emosi dengan para mainan disini, sama halnya dengan Andy. Inilah yang membuat Toy Story 3 terasa begitu emosional.

Film ini diakhiri dengan ending yang begitu menyentuh dan berhasil membuat mata saya berkaca-kaca. Solusi yang dihadirkan disini saya yakini akan memuaskan semua pihak. Perpisahan pasti terjadi, tapi bukan berarti ini akhir dari segalanya. Ini adalah akhir dari sebuah awal yang baru. Sebuah ending yang sempurna bagi para mainan yang telah mengisi masa kecil orang banyak. Terima kasih Pixar, karena telah menciptakan sebuah mahakarya luar biasa yang akan selalu dikenang.

10/10

Wednesday, June 2, 2010

Kick-Ass (2010)

Genre : Action/Crime/Thriller

Pemain
: Aaron Johnson, Christopher Mintz-Plasse, Chloe Grace Moretz, Mark Strong, Nicolas Cage

Sutradara : Matthew Vaughn

Penulis : Jane Goldman & Matthew Vaughn (screenplay) , Mark Millar & John Romita Jr. (comic book)

Distributor : Universal Pictures, Lionsgate

Durasi : 117 menit


MPAA : Rated R for strong brutal violence throughout, pervasive language, sexual content, nudity and some drug use - some involving children

Dave Lizewski : "With no power, comes no responsibility. Except, *that* wasn't true."

Pernahkah anda merasa muak dengan lingkungan sekitar anda yang penuh dengan kebusukan dan kebobrokan moral? Aksi kriminal semakin merajalela, berbanding terbalik dengan kepedulian orang terhadap sesamanya yang kian hari kian menipis. Dan pernahkah terbersit di pikiran anda untuk turun langsung ke jalan guna memberantas para pelaku kejahatan bak seorang superhero? Itulah yang dialami oleh Dave Lizewski (Aaron Johnson)—seorang remaja penggila komik yang sudah mulai gerah dengan perlakuan para preman di sekitarnya dan berniat memberantas mereka. Didasari kegemarannya akan komik-komik superhero, ia lantas menciptakan alter-ego berjuluk Kick-Ass. Dengan bermodalkan kostum ketat sederhana (jika tidak mau dibilang norak) yang ia pesan dari eBay, dimulailah aksi perdananya dalam membasmi para kriminal. Aksi pertamanya tidak berjalan mulus yang malah membuatnya cedera parah dan harus terbaring di rumah sakit. Insiden ini tidak sepenuhnya berdampak buruk karena akhirnya gadis idamannya sejak lama—Katie (Lyndsy Fonseca) mulai tertarik kepadanya, meski dengan alasan yang bisa dibilang cukup memalukan.

Tidak kapok dengan kegagalan aksi perdananya, sekali lagi Dave nekat turun ke jalan. Kali ini ia berhasil. Aksi heroiknya direkam banyak orang hingga videonya muncul di YouTube dan mendapatkan sambutan meriah. Seketika nama Kick-Ass ramai diperbincangkan di berbagai media dan menjadi trending topic di Twitter (maaf, ini cuma karangan saya—newbie yang sedang terkena histeria Twitter). Segera ia membuka akun di MySpace untuk berhubungan dengan para penggemarnya. Dengan popularitasnya yang semakin tinggi, kepercayaan dirinya pun semakin meningkat. Kali ini ia berniat menghadapi gangster yang kerap mengganggu Katie. Dengan polosnya ia mendatangi markas mereka. Dan apa yang terjadi? Ia hampir saja kehilangan nyawanya jika saja tidak muncul sosok mungil berkostum yang dengan lincahnya membasmi para gangster disana. Segera tempat itu berubah menjadi kuburan massal dengan genangan darah dimana-mana. Sosok mungil itu memperkenalkan dirinya sebagai Hit Girl (Chloe Moretz). Dan ia tidak sendiri, di belakangnya ada sosok yang juga memakai kostum layaknya seorang superhero—dia adalah Big Daddy (Nicolas Cage).

Dua sosok ini membuat Dave otomatis kehilangan kepercayaan dirinya, karena ia merasa tidak memiliki kualitas apapun sebagai seorang superhero jika dibandingkan dengan mereka yang sangat ahli dalam bela diri dan mempergunakan senjata. Dave mulai merasakan bahwa menjadi seorang pahlawan di kehidupan nyata tidak semudah seperti yang biasa ia baca di buku komik. Namun ia tidak bisa begitu saja mundur dari misi awalnya karena jejaknya sudah tercium oleh ketua sindikat kejahatan—Frank D'Amico (Mark Strong), yang merasa terganggu dengan kehadiran Kick-Ass. Nyawa Dave kini terancam. Untungnya ada Big Daddy dan Hit Girl yang bersedia bekerjasama dengannya untuk menghadapi D'Amico. Nantinya akan terungkap bahwa sebenarnya dua sosok ini memiliki agenda tersembunyi yang ternyata berhubungan dengan masa lalu mereka.

Brutal, itulah kesan yang saya dapat saat menonton film ini. Banyak aksi berdarah yang ditampilkan dan berpotensi mengganggu bagi sebagian orang karena kebrutalan tersebut melibatkan seorang gadis kecil berusia 12 tahun. Ya, sosok Hit Girl/Mindy Macready yang diperankan oleh Chloe Moretz adalah faktor utama yang dapat memicu kontroversi di kalangan penonton dengan aksinya yang sadis dan kata-kata umpatan yang acap kali keluar dari mulutnya. Cukup miris memang melihat seorang gadis kecil berkelakuan seperti itu. Tapi jika dilihat dari konteks cerita, hal ini memang relevan. Karakter lain yang tidak kalah kontroversialnya adalah Big Daddy/Damon Macready, ayah dari Mindy. Anda sepertinya sudah bisa menebak dari awal siapa yang "berjasa" membentuk karakter Mindy menjadi seperti itu. Bisa dibilang, keluarga Macready adalah gambaran ekstrim dari sebuah keluarga disfungsional. Dua karakter ini sempat membuat saya sedikit terganggu, tapi anehnya justru mereka lah yang membuat film ini menjadi semakin hidup.

Oke, bagaimana dengan karakter yang namanya dijadikan sebagai judul film ini? Yeah, Kick-Ass yang merupakan alter-ego dari seorang Dave Lizewski ternyata kalah bersinar dibandingkan dengan Hit Girl yang begitu memukau di setiap kemunculannya. Tetapi bukan berarti karakterisasinya lemah ataupun performa sang aktor—Aaron Johnson yang buruk. Justru Johnson berhasil merepresentasikan tokoh utama kita ini dengan meyakinkan. Karakterisasinya pun cukup menarik karena menggambarkan seorang remaja biasa yang mengalami kejadian luar biasa dengan tekadnya yang kuat dalam menjalani apa yang ia yakini. Beberapa orang, terutama para remaja mungkin sedikit banyak dapat melihat refleksi dirinya dalam karakter Dave Lizewski. Itulah yang membuat karakter ini begitu nyata sehingga berhasil meraih simpati penonton. Tapi sekali lagi, karakter Hit Girl yang di luar batas kewajaran akhirnya lebih mencuri perhatian dibanding karakter Kick-Ass yang lebih membumi.

Banyaknya konten violence yang ditampilkan untungnya dibalut dengan unsur fun. Bagi yang sudah skeptis duluan, mungkin akan menganggap ini sebagai tontonan yang kurang ajar dan merusak moral anak-anak. Tapi jika mau berpikiran terbuka akan terasa bahwa tontonan ini sangatlah menghibur, karena memang sepertinya itulah tujuan dari film ini. Dan perlu dicatat bahwa ini bukanlah film untuk anak-anak. Saya merasa sangat kesal saat berada di dalam bioskop karena ada beberapa anak kecil yang ikut menonton film ini. Mungkin poster promonya memang sangat colorful dengan nuansa komik yang kental sehingga berpotensi menarik perhatian anak-anak. Tapi, jika saja orangtua mereka mau peduli terhadap sistem rating (setahu saya film ini di Indonesia mendapat rating Dewasa), maka anak-anak tidak perlu ikut menjadi saksi betapa banyaknya muatan kekerasan dan unsur dewasa lainnya dalam film ini. Dan tentunya mereka tidak mungkin membuat pernyataan bahwa film ini merusak moral anak-anak.

Dengan banyaknya referensi pop culture serta selipan humor yang menggelitik, film ini terasa begitu segar. Musik latar yang dipenuhi lagu-lagu enerjik juga semakin membuat film ini terasa lebih bertenega. Aksi sadis Hit Girl pun menjadi begitu semarak dan lantas membuat penonton ikut bersorak. Dengan klimaks yang begitu mencengangkan serta ending yang membuat bibir ini tersenyum senang, saya berani mengatakan bahwa sekuel film ini wajib dibuat.

7.5/10

Wednesday, July 1, 2009

Transformers : Revenge Of The Fallen (2009)

Genre : Action/Adventure/Sci-Fi

Pemain : Shia Labeouf, Megan Fox, John Turturro, Ramon Rodriguez

Sutradara : Michael Bay

Penulis : Roberto Orci, Alex Kurtzman, Ehren Kruger

Distributor : Paramount Pictures

Durasi : 150 menit

MPAA : Rated PG-13 for intense sequences of sci-fi action violence, language, some crude and sexual material, and brief drug material


"Revenge is coming."

Sebelum membahas film ini, saya ingin sedikit menyinggung prekuelnya yang sukses luar biasa (it's a blah, actually). Sebenarnya apa sih yang membuat proyek Transformers bisa begitu sukses—baik dari segi perolehan dolar maupun respon positif dari mayoritas penontonnya? Jika pertanyaan tersebut ditujukan pada saya, maka jawabannya akan sangat sederhana—film ini sungguh menghibur. Apakah faktor hiburan saja bisa membuat jutaan orang berbondong-bondong pergi ke bioskop untuk menyaksikan sebuah film? Ini bukanlah suatu hal yang mustahil karena setahu saya kebanyakan orang menjadikan aktivitas menonton film sebagai sebuah hiburan tersendiri. Bagi saya sendiri, menonton film adalah salah satu sarana eskapisme yang cukup ampuh. Meskipun dalam perkembangannya—saya dan mungkin sebagian orang menganggap film lebih dari sekedar hiburan. Nah, dalam kasus Transformers, film ini tampaknya memang murni dibuat sebagai sebuah hiburan. Cerita yang sangat ringan, ditambah karakter-karakter yang cukup loveable, serta kadar action yang tinggi dibalut dengan special effect yang wah adalah beberapa poin yang coba ditawarkan Michael Bay melalui film ini. Didukung dengan promosi yang gencar—meskipun awalnya sempat menimbulkan kontroversi di kalangan fans mengenai perombakan tampilan robot-robotnya, nyatanya film ini berhasil menuai untung besar dalam peredarannya sekaligus menjungkirbalikan pandangan sinis sebagian orang yang pada akhirnya ikut tercengang dengan apa yang berhasil dicapai oleh seorang Michael Bay—sang spesialis ledakan yang hobi mendramatisir adegan. Seperti kata-kata dalam theme song-nya, Transformers memang more than meets the eye.


Dengan segala kesuksesan yang diraih, kemunculan sebuah sekuel tampaknya merupakan suatu kewajiban yang sulit untuk dicegah. Saya sendiri—yang sangat menikmati film pertamanya, tentu sangat menantikan kehadiran sekuelnya yang saya yakini akan lebih megah dan tentunya memuaskan. Sejak pertama melihat teaser trailer-nya, bayangan akan serunya hasil akhir film ini sudah tertanam di benak saya. Tapi apa yang terjadi? Semakin dekat ke waktu perilisannya, justru antusiasme saya terhadap film calon blockbuster ini semakin menurun. Apalagi setelah melihat final trailer-nya yang membuat saya serasa mengalami deja vu. Aksi baku hantam para robot serta pameran ledakan yang dahsyat benar-benar mengingatkan saya pada film Transformers yang dirilis tahun 2007 lalu. Oh God, will it be a rip-off from its own predecessor? Tapi karena saya ingin berusaha untuk menghargai hasil kerja keras Bay bersama kru-nya, akhirnya saya tonton juga film ini.

Mengenai jalan ceritanya, film ini masih berkisah seputar perseteruan antara para robot dari kubu Decepticon dengan kubu Autobot. Singkat cerita, saat ini pasukan Autobots bekerjasama dengan manusia membentuk sebuah organisasi rahasia bernama NEST (Networked Elements : Supporters and Transformers) yang bertujuan khusus untuk membasmi kaum Decepticon yang masih berusaha mengambil alih bumi. Untuk memperkuat pertahanan mereka, Optimus Prime—sang pemimpin Autobot memanggil rekan-rekan dari planet asalnya untuk turun ke bumi guna mengantisipasi serangan dari kubu Decepticon yang pasukannya juga semakin bertambah. Keadaan semakin ruwet dengan bangkitnya kembali Megatron—sang pemimpin Decepticon yang juga berniat untuk membangkitkan The Fallen, robot dedengkot yang memicu awal mula peperangan abadi antara kaum Autobot dan Decepticon.

Peperangan antar robot ini tidak akan lengkap tanpa kehadiran karakter-karakter manusia. Tokoh sentral di film pertama, Sam Witwicky—yang diceritakan sudah memasuki masa kuliah, masih memegang peranan penting di sekuelnya ini. Sebenarnya, karakter Sam tidak banyak mengalami perubahan dari film pertamanya, tapi untungnya penampilan LaBeouf masih cukup menghibur—terutama saat adegan Sam mendapat "penglihatan" gara-gara All Spark yang masih disimpannya (sumpah, bikin ngakak). Karakter manusia yang kehadirannya tidak kalah penting—terutama buat kaum pria, tentunya adalah sosok Mikaela Banes yang tetap diperankan si seksi Megan Fox. Entah cuma perasaan saya atau memang di film ini si Fox nambah hot aja? Hmmm... so delicious, hehe. Selain dia, kehadiran seorang bombshell baru bernama Isabel Lucas juga cukup membuat saya penasaran. Tapi, setelah melihat langsung di layar, ternyata penampilannya tidak terlalu berkesan, at least for me. Sangat terlihat kalau si Lucas ini berusaha mengeluarkan sex appeal-nya di sepanjang adegan, yang sayangnya masih kalah dengan magma yang ditimbulkan oleh Fox. Akhirnya kemunculan dia jadi terasa kurang penting. Yang berhasil menjadi scene stealer justru karakter Leo Spitz, teman sekamar Sam yang diperankan Ramon Rodriguez. Adegan kesetrum itu loh, biarpun slapstick tapi berhasil membuat semua penonton di bioskop terbahak. Kehadiran kembali John Turturro sebagai Agent Simons—yang kali sudah "turun pangkat", juga berhasil menghidupkan suasana dan anehnya memiliki chemistry yang unik saat berada dalam satu layar dengan Ramon Rodriguez.

Oke lah, untuk urusan cast, film ini masih lumayan. Bahkan orangtua Sam—terutama ibunya yang sangat annoying masih bisa menghibur. Tapi sebenarnya yang ditawarkan film ini bukan itu kan? Dari judulnya saja, jelas-jelas film ini menjual aksi robot-robot yang bisa bertransformasi—yang terbukti ternyata bukan hanya bisa berubah menjadi alat transportasi atau alat elektronik seperti di film pertama. Dengan semakin melubernya robot-robot di film ini, menurut anda kemungkinan apa yang dapat terjadi? Ya benar, semakin banyak aksi dan ledakan yang sangat disukai Michael Bay dan mungkin mayoritas penonton yang turut memberi andil dalam kesuksesan film pertamanya di pasaran. Untuk urusan jualan utamanya ini, saya akui Bay memang jagonya. Kehadiran robot yang lebih beragam serta aksi dengan ledakan yang lebih heboh. Tapi apakah hal tersebut berhasil mengangkat kualitas film ini, atau setidaknya membuat film ini jadi lebih menghibur dibanding film pertamanya? Entah apa pendapat orang, tapi menurut saya jelas tidak. Padahal sebelum nonton, saya sudah mengatur mindset saya agar menganggap bahwa film ini hanyalah sebuah hiburan mengasyikan yang tidak perlu ditelaah lebih jauh. Tapi semakin film berjalan, saya malah semakin bosan dengan aksi ledak-ledakan yang dipamerkan Michael Bay. Sungguh melelahkan melihat adegan-adegan tersebut. Believe it or not, saya bahkan sempat beberapa kali tertidur saat adegan perang di Mesir, padahal sound-nya benar-benar bising. Yang membuat saya bosan adalah karena menurut saya film pertamanya sudah menyajikan segalanya, sehingga tidak ada lagi yang bisa ditampilkan di sekuelnya kecuali pengulangan yang sengaja dibuat lebih meriah. Dan untuk yang mengikuti film-film Michael Bay, ciri khasnya juga masih muncul disini—seperti scene matahari atau orang-orang berjalan beriringan dengan teknik slow motion dan diiringi musik yang sengaja dibuat dramatis. Huft, entah apa lagi yang bisa saya bahas dari film ini, yang pasti menurut saya dari semua summer movie yang sudah beredar, inilah film yang paling lemah dan membosankan. Kebalikan dari prekuelnya, film ini ternyata less than meets the eye.

5/10

Monday, July 28, 2008

The Dark Knight (2008)

Genre : Action/Crime/Thriller

Pemain : Christian Bale, Heath Ledger, Aaron Eckhart, Michael Caine, Gary Oldman, Morgan Freeman, Maggie Gyllenhaal

Sutradara : Christopher Nolan

Penulis : Christopher Nolan, Jonathan Nolan, David S. Goyer

Produser : Ch
ristopher Nolan, Charles Roven, Emma Thomas

Distributor : Warner Bros.

Durasi : 152 menit

The Joker : "Why so serious?"


Dengan kehadiran Batman Begins yang seolah memberi nyawa baru pada saga sang manusia kelelawar ini, membuat saya lupa akan ke-corny-an Batman & Robin. Di tangan Christopher Nolan, sosok Batman jadi lebih bisa diterima sebagai sosok superhero yang manusiawi. Pemilihan Christian Bale sebagai Bruce Wayne juga sangat cocok menurut saya. Jajaran supporting cast yang berkualitas seperti Michael Caine, Morgan Freeman, sampai Gary Oldman, juga patut diapresiasi. Cerita yang lebih gelap dan lebih real dibanding seri Batman sebelumnya, semakin menegaskan bahwa ini adalah franchise baru Batman yang lebih dewasa. Dengan pijakan awal yang sudah sangat mantap, masa depan franchise ini dijamin tidak bakal sesuram alur ceritanya.

Masih melanjutkan sepak terjang Bruce Wayne dengan alter-egonya— Batman dalam menumpas kejahatan di kota Gotham, film ini menjanjikan alur cerita yang lebih seru. Dibuka dengan adegan perampokan sebuah bank yang penuh tipu muslihat. Di akhir scene perampokan ini, penonton diperkenalkan pertama kali pada sosok The Joker (yang diperankan dengan gemilang oleh alm. Heath Ledger). Pertama kali melihat tampangnya, saya sudah merasakan kalau sosok Joker kali ini memang pantas disebut psycho. Hilang sudah imej komikal yang melekat dalam karakter Joker versi Jack Nicholson dulu. Ditambah dengan tingkah lakunya yang ajaib, lengkap sudah sosok villain yang ideal untuk membuat Batman kerepotan. Selain kehadiran Joker, para kriminal dan gangster yang sudah lama bersarang di Gotham juga semakin membuat sang manusia kelelawar ini gerah.

Selain beraksi dalam sosok Batman, ia juga mesti menjalani kehidupan "normal"nya sebagai Bruce Wayne. Hubungannya dengan teman masa kecilnya, Rachel Dawes (Maggie Gyllenhaal), mulai renggang. Rachel kini menjalin hubungan dengan Harvey Dent (Aaron Eckhart), seorang jaksa wilayah baru di Gotham. Melihat potensi yang dimiliki Harvey, Bruce (dalam sosok Batman) mengajaknya untuk bekerjasama dalam menumpas segala bentuk kejahatan di Gotham. Selain itu, Batman juga masih mendapat dukungan dari rekan-rekan lamanya, seperti Lt. James Gordon (Gary Oldman), Lucius Fox (Morgan Freeman), dan tak ketinggalan juga pelayan setianya Alfred (Michael Caine).

Wow! Setelah selesai menonton film ini, saya benar-benar kehilangan kata-kata. It's absolutely amazing! Jauh melebihi ekspektasi saya. Bukan hanya berhak mendapat predikat sebagai film superhero terbaik yang pernah dibuat, film ini juga secara resmi menjadi salah satu film terbaik yang pernah saya tonton. Dan kalau selama ini saya termasuk orang yang skeptis, bahwa sebuah film superhero (esp. from comic book) tidak akan pernah mungkin masuk nominasi Best Picture di ajang Academy Awards, maka anggapan tersebut sudah sirna sudah karena film ini memiliki kualifikasi untuk diperhitungkan di ajang tersebut. Dari mulai naskah yang semakin apik, penampilan ensemble cast-nya yang solid, sampai pada hal-hal teknisnya yang digarap dengan serius, menjadikan film ini sebagai m
asterpiece sekaligus pencapaian yang sangat tinggi dari seorang Christopher Nolan. Sutradara yang kerap membuat film-film bernuansa serius dan gelap ini berhasil menyajikan tontonan yang tidak hanya menghibur tapi juga berkualitas.

Dan yang patut diberi kredit tersendiri dalam film ini adalah penampilan dari Heath Ledger sebagai The Joker. Ledger yang harus meregang nyawa sebelum perilisan film ini, memberikan penampilan terakhirnya yang sangat jenius dan memorable. Dari mulai mimik wajah sampai gesture dan cara bicaranya benar-benar menghidupkan tokoh Joker. Saya cukup yakin kalau aktingnya disini akan mendapatkan banyak apresiasi dalam bentuk berbagai penghargaan, tidak terkecuali satu buah piala Oscar.

Overall, it's definitely a must see masterpiece. And it's one of my favourite movies of all time.

10/10

Tuesday, June 17, 2008

Indiana Jones And The Kingdom Of The Crystal Skull (2008)

Genre : Action/Adventure

Pemain : Harrison Ford, Ray Winston, Shia LaBeouf, Cate Blanchett, Karen Allen

Sutradara : Steven Spielberg

Penulis : David Koepp

Produser : Frank Marshall


Distributor : Paramount Pictures

Durasi : 122 menit




Marion Ravenwood : "
So, you still living in a trail of human wreckage or have you retired?"
Indiana Jones : "Why, you're looking for a date?"

Marion Ravenwood : "Anyone but you!"



Tidak terasa, perang film-film summer sudah sebulan jalan. Dan menurut saya, semua film summer yang sudah rilis rata-rata oke dari segi kualitas dan nilai hiburan. Tapi tidak seperti tahun lalu, sekarang saya agak malas untuk menyaksikan film summer saat premier-nya. Don't know why. Meski begitu, saya masih menyempatkan diri untuk menonton di bioskop walaupun kadang cuma sendirian yang ternyata justru lebih asik ketimbang nonton rame-rame (but it depends on my mood too).

Untuk film Indiana Jones yang ke-4 ini, saya cukup berharap banyak terhadap hasil akhirnya. Di luar fakta bahwa saya sama sekali belum pernah menonton ketiga film sebelumnya (pity, huh?), saya cukup yakin bahwa film ini bakal mempunyai kualitas lebih secara ada nama Steven Spielberg dan George Lucas yang mendalangi proyek ini. Dengan mengambil setting sekitar 19 tahun setelah film terakhirnya, Indiana Jones—yang akrab dipanggil Indy, kembali beraksi di layar lebar dengan tetap diperankan oleh Harrison Ford yang meskipun sudah tampak sekali ketuaannya tapi masih terlihat prima dan suka tidak suka ia lah ikon dari franchise ini.

Diceritakan Indy terpaksa harus meninggalkan pekerjaannya di Marshall College karena tekanan pemerintah yang mencurigai aktifitasnya selama ini. Setelah keluar dari kampus, hasrat petualangannya semakin berkobar dan ia memutuskan untuk mengungkap kebenaran legenda The Crystal Skull of Akuator. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang pemuda yang juga berjiwa petualang bernama Mutt Williams (Shia LaBeouf). Akhirnya ia memutuskan untuk ikut mencari keberadaan Crystal Skull. Ternyata selain mereka, ada pihak lain yang menginginkan Crystal Skull tersebut yaitu agen-agen Soviet pimpinan Irina Spalko (Cate Blanchett). Secara tak terduga, Indiana bertemu kembali dengan mantan kekasihnya, Marion Ravenwood (Karen Allen) serta sahabatnya Mac (Ray Winstone) yang kesetiannya patut dipertanyakan. Dari sini, dimulailah aksi memperebutkan Crystal Skull tersebut.

Yang membuat saya heran, setelah wakru 19 tahun yang dibutuhkan untuk membangkitkan kembali franchise Indiana Jones, kenapa Spielberg dan Lucas memilih naskah se-usang ini? Padahal kabarnya mereka sempat gonta-ganti penulis naskah demi kesempurnaan cerita seri terbaru ini. Sumpah, satu jam pertama benar-benar membuat saya bosan. Walaupun dihadirkan cukup banyak adegan aksi termasuk di awal film, tapi tingkat keseruannya sama sekali tidak membuat saya excited. Dan di pertengahan film mulai diungkap apa sebenarnya Crystal Skull itu. Parahnya, itu malah membuat ketertarikan saya semakin berkurang dan semuanya jadi terkesan konyol. Bagi anda fans serial The X-Files, silakan bersorak, karena sepertinya film ini dibuat sebagai pemanasan untuk menyambut perilisan film The X-Files 2 bulan Juli nanti.

Performa yang paling menonjol tentunya datang dari Harrison Ford. Fisiknya yang semakin menua justru membuatnya semakin berkharisma. Salah satu aktris favorit saya—Cate Blanchett, meskipun tidak menampilkan akting terbaiknya tapi tetap memukau (notice her hair. Anton Chigurh should propose her!). Pemain lainnya menurut saya tidak begitu istimewa. Shia LaBeouf juga tampak lebih enjoy saat bermain di Transformers.

Terakhir, saya cuma ingin iseng mengomentari adegan menuju ending, saat kehancuran sebuah bangunan yang penting dalam cerita film ini. Adegan tersebut mengingatkan saya pada ending The Mummy Returns. Seingat saya, dulu franchise The Mummy sempat disebut sebagai Indiana Jones wannabe. Dan sekarang, wacana tersebut jadi terkesan ironis. Menonton film ini tidak ada bedanya dengan menonton film-film adventure kebanyakan seperti franchise The Mummy, Tomb Raider, ataupun National Treasure. Mungkin ini karena saya belum familiar dengan franchise Indy sehingga tidak ada keterkaitan emosi antara saya dengan kisahnya di film ini. Lain halnya dengan penonton yang sudah mengikuti sepak terjangnya dari awal yang mungkin akan merasakan nostalgia dengan kehadiran seri terbaru ini. Saya masih sedikit berharap, jika Spielberg merencanakan untuk membuat kelanjutannya semoga ia bisa menemukan naskah yang lebih segar dan bisa dinikmati oleh penonton baru sekalipun.

5/10