Showing posts with label Hot Babes. Show all posts
Showing posts with label Hot Babes. Show all posts

Tuesday, May 31, 2011

Compiled Reviews : Double French Gorefest

Inside (2007)

Genre : Horror, Thriller | Pemain : Beatrice Dalle, Alysson Paradis, Nathalie Roussel, Francois-Regis Marchasson | Sutradara : Alexandre Bustillo, Julien Maury | Penulis : Alexandre Bustillo | Distributor : La Fabrique de Films | Durasi : 83 menit | MPAA : Rated R for strong bloody violence, gruesome and disturbing content, and language

Masih ingat Rumah Dara? Film slasher lokal yang berhasil membuktikan bahwa sinema horor Indonesia belum sepenuhnya terperosok dalam jurang kehinaan. Meski orisinalitas bukanlah sesuatu yang bisa ditemukan disini, namun hasil akhirnya sudah sangat memuaskan bagi saya. Berbicara soal orisinalitas, saya jadi ingat ada yang pernah berkomentar bahwa beberapa adegan dalam Rumah Dara mencontek habis adegan yang ada dalam sebuah film slasher produksi negara Perancis berjudul A l'interieur atau Inside untuk judul internasionalnya. Suara sumbang itulah yang membuat saya semakin penasaran dengan film garapan duo Alexandre Bustillo dan Julien Maury ini.

Mari pertemukan seorang wanita hamil dengan seorang wanita psikopat dalam sebuah rumah sepi di malam Natal, maka kita akan disuguhkan sebuah tontonan yang seram, menegangkan, serta tentunya banyak ceceran darah dimana-mana (love it!). Sarah (Allyson Paradis), seorang wanita yang tengah hamil tua, harus menerima kenyataan pahit saat ditinggal mati suaminya dalam sebuah kecelakaan mobil. Tak lama setelah kejadian tersebut, tepat saat malam Natal, seorang wanita misterius berpakaian serba hitam tiba-tiba muncul di depan rumahnya. Saat Sarah yakin bahwa wanita tersebut sudah pergi, ternyata si wanita kurang ajar itu diam-diam berhasil menyelinap ke dalam rumahnya. Lalu dimulailah parade bacok-membacok, tembak-menembak, atau apapun itu, yang pasti banyak darah yang tertumpah di setiap adegannya.

Setelah menonton film ini, ternyata memang ada beberapa adegan yang bisa saya temukan juga di film Rumah Dara. Namun, saya rasa The Mo Brothers (sutradara Rumah Dara) bukannya dengan sengaja mencomot adegan-adegan itu, tapi lebih sebagai tribute bagi film-film slasher dari berbagai belahan dunia. I'm just saying. Di luar itu, Inside berhasil membuat saya terpaku untuk terus menyaksikan menit demi menitnya yang penuh dengan lumuran darah. Saya juga sempat beberapa kali dibuat merinding dan bergidik. Salahkan Beatrice Dalle yang sukses memerankan si wanita brengsek dengan aksi-aksi sadisnya yang terkadang sulit diterima akal sehat. Tapi untuk menikmati film ini memang tidak perlu terlalu banyak berpikir, cukup segarkan mata itu dengan adegan-adegan berdarah yang disajikan. Dan adegan menuju ending berhasil membuat mata saya terbelalak. Saya tidak akan pernah lagi memandang gunting dengan cara yang sama.

Rating : 7/10


High Tension (2003)

Genre : Drama, Horror, Thriller | Pemain : Cecile De France, Maiwen Le Besco, Philippe Nahon | Sutradara : Alexandre Aja | Penulis : Alexandre Aja, Gregory Levasseur, Dean R. Koontz | Distributor : EuropaCorp. Distribution | Durasi : 89 menit (edited version) | MPAA : Rated R for graphic bloody killings, terror, sexual content and language (edited version)

Satu lagi film slasher produksi Perancis yang membuat saya penasaran berkenaan dengan muatan kekerasan yang (katanya) sangat berlebihan dan mengganggu. Oke, sepertinya inilah sajian yang saya butuhkan demi menyegarkan kembali otak yang sudah terlalu panas untuk menerima hal-hal yang memusingkan. Dengan berbekal ekspektasi rendah dan sinopsis samar-samar, akhirnya saya memutuskan untuk menyantap film ini. Tengah malam. Dan apa yang terjadi? Saya puas! Tapi hanya setengah. Ada sesuatu dalam film ini yang sangat mengganggu sehingga gagal membuat saya benar-benar terpuaskan. Ini sama saja dengan gagal orgasme. Duh!


Bercerita tentang dua mahasiswi yang berencana untuk berakhir pekan di tempat tinggal salah satu dari mereka. Lokasi kediaman keluarga Alex (Maiwen Le Besco) memang sangat kondusif untuk melepas lelah karena lingkungannya yang sepi, jauh dari keramaian. Temannya, Marie (Cecile De France), cukup merasa nyaman dengan kondisi yang ada, sampai-sampai ia menyempatkan untuk "memuaskan" diri sendiri sebelum tidur. Kenyamanan ini tidak berlangsung lama, karena saat tengah malam tiba, muncul gangguan dalam wujud seorang pria gemuk bersenjata yang tanpa tedeng aling-aling langsung membantai seisi rumah. Kini hanya tersisa Alex yang entah kenapa tidak segera dibunuh, serta Marie yang keberadaannya belum diketahui sang pembunuh. Dengan modal nekat, Marie kemudian berusaha membebaskan Alex yang kini disekap si pria gemuk berwajah angker itu.

Saya akui, 3/4 bagian dari film ini sangat efektif menjaga intensitas ketegangan yang sanggup membuat penonton terpaku. Permainan kucing-kucingan antara Marie dan si pembunuh dipresentasikan dengan brilian sampai membuat saya beberapa kali menahan napas saking tegangnya. Cukup jarang saya dibuat setegang ini hanya karena sebuah film horor. Untuk itu, saya acungi dua jempol untuk Alexandre Aja atas penyutradaraannya yang brilian. Selain itu, Aja juga terlibat dalam penulisan naskahnya. Untuk itu saya tarik lagi kedua jempol saya dan saya ganti dengan dua jari tengah. Mengapa? Karena naskahnya memiliki klimaks dan ending yang mega idiot. Maaf, itu mungkin berlebihan. Tapi tidak dapat disangkal bahwa penyelesaian yang dipilih Aja terasa begitu pretensius jika tidak mau disebut bodoh dan beresiko merusak film secara keseluruhan. Maksudnya ingin membuat twist, jadinya malah jijay abis. Untung ketegangan di 3/4 filmnya sangat berkesan, jadi saya masih bisa sedikit melupakan endingnya yang sok pintar. Andai saja saya orang penting yang berkuasa atas keseluruhan proses produksi film ini, saya bakal pangkas itu klimaks beserta endingnya yang totally useless. *khayalan super aneh yang terlalu tinggi, bahkan lebih tinggi dari Tom Cruise saat memakai high heels 30 senti sekalipun*

Rating : 6/10

Tuesday, April 12, 2011

Black Christmas (1974)


Genre : Horror/Mystery/Thriller | Pemain : Olivia Hussey, Margot Kidder, Keir Dullea, Andrea Martin, Art Hindle, John Saxon, James Edmond, Marian Waldman | Sutradara : Bob Clark | Penulis : Roy Moore | Distributor : Warner Bros. Pictures | Durasi : 98 menit

"A Christmas of another colour brings a killer on the loose"

Pada tahun 1978, sebuah film berjudul Halloween lahir dari tangan seorang John Carpenter—sang maestro horor yang reputasinya di kalangan fans genre tersebut sudah tidak perlu diragukan lagi. Film yang melejitkan nama Michael Myers sebagai salah satu tokoh villain paling ikonik ini banyak disebut sebagai pelopor film slasher yang kemudian menjadi inspirator bagi film-film sejenis. Halloween boleh saja disebut sebagai pelopor, namun jangan lupakan satu judul film yang juga menjadi bagian penting dari sejarah kebangkitan film slasher. Film itu adalah Black Christmas.


Dirilis pada tahun 1974, Black Christmas-lah yang sebenarnya banyak memberi pengaruh terhadap kemunculan film-film berjenis slasher, termasuk Halloween. Namun tidak seperti Halloween yang banyak diperbincangkan, film besutan Bob Clark ini seperti kurang terdengar gaungnya dan terkesan underrated. Well, kurang sorotan bukan berarti jelek kan? Karena menurut saya, Black Christmas adalah salah satu entry terbaik di genre-nya. Dan sialnya, cult classic satu ini ikut terkena imbas dari kemiskinan ide yang sedang melanda Hollywood belakangan ini. Ya, film ini mendapat "kehormatan" dengan dibuatkan remake-nya yang dirilis tahun 2006 lalu. Dan jujur saja, remake ini bagaikan sebuah sajian basi dengan hiasan yang sengaja dibuat menarik (berupa kumpulan cewek cantik di deretan cast-nya). Menggiurkan, namun setelah dicoba sukses menimbulkan sensasi mual-mual.

Lain dengan remake-nya yang menorehkan kesan buruk, versi orisinilnya tampil memikat dan jauh lebih berkesan. Plotnya sederhana saja, mengenai seorang psikopat yang menyelinap masuk ke dalam sebuah sorority house saat malam Natal, melancarkan teror melalui telepon, dan membantai satu-persatu penghuninya. Alurnya berjalan perlahan, sehingga memberi cukup ruang bagi penonton untuk lebih mengenal berbagai karakter yang ada. Olivia Hussey, Kier Dullea, Marian Waldman, dan terutama Margot Kidder sebagai Barb, si cewek bitchy bermulut kotor, membawakan peran masing-masing dengan cukup baik. Secara keseluruhan, semua cast disini tampil solid.

Film slasher yang merupakan sub-genre dari horor, umumnya identik dengan adegan-adegan yang mengumbar darah. Uniknya, Black Christmas justru tergolong minim dalam menampilkan adegan gore. Film ini lebih mengandalkan atmosfer yang efektif menimbulkan suasana mencekam. Di sepanjang film, sosok penjahatnya sendiri tidak ditampilkan secara frontal. Teknik first person point of view digunakan tiap sang penjahat beraksi, memposisikan penonton seolah berada dalam pikirannya. Identitas villain yang ditutup rapat adalah salah satu kelebihan film ini. Ketidakjelasan motif yang melatarbelakangi aksinya justru membuat kesan horor pada karakternya jadi lebih terasa. Aksi terornya melalui telepon dengan menggunakan suara-suara aneh yang berubah-ubah sangatlah disturbing dan cukup membuatnya masuk dalam jajaran salah satu psikopat fiksional paling memorable.

Sebagai salah satu film slasher yang memberi pengaruh terhadap kemunculan film-film serupa di kemudian hari, bagi saya Black Christmas memang tampil mengesankan. Meski dibuat lebih dari 30 tahun yang lalu, film ini masih enak untuk dinikmati bahkan jauh lebih superior dibanding slasher modern yang mayoritas berpola klise serta terlalu mengeksploitasi darah dan seks. Highly recommended for the genre's fans!

Rating : 8/10

Tuesday, December 21, 2010

Compiled Reviews : From Magical Journey To Cyberpunk Realm

Betapa luasnya imajinasi manusia sehingga ia bisa menciptakan sebuah dunia alternatif berisi berbagai hal yang realitasnya tidak mungkin ditemui di dunia nyata. Dari mulai dunia ajaib di balik lemari pakaian ciptaan seekor singa agung, sampai dunia dalam virtual game futuristik karya seorang programmer inovatif. Narnia dan Tron—kedua dunia tersebut adalah bukti betapa kaya buah pikiran manusia saat ia berani bermain dengan imajinasinya. Meskipun kedua dunia tersebut hanya direpresentasikan dalam pita seluloid, namun itu sudah cukup bagi saya untuk merasakan keindahan dan keunikan masing-masing. Sebagai bentuk apresiasi, berikut ini review untuk instalmen terbaru Narnia serta sekuel Tron yang sudah banyak diantisipasi para penikmat film.


The Chronicles Of Narnia : The Voyage Of The Dawn Treader (2010)

Genre : Adventure/Family/Fantasy | Pemain : Georgie Henley, Skandar Keynes, Ben Barnes, Will Poulter, Gary Sweet, Anna Popplewell, William Moseley, Tilda Swinton, Liam Neeson, Simon Pegg | Sutradara : Michael Apted | Penulis : Christopher Markus, Stephen McFeely, Michael Petroni, C.S. Lewis (novel) | Distributor : Twentieth Century Fox Film Corp. | Durasi : 113 menit | MPAA : Rated PG for some frightening images and sequences of fantasy action

"You have returned
for a reason. Your adventure begins now."

-Aslan-

The Chronicles of Narnia karya C.S. Lewis adalah salah satu seri literatur klasik yang paling dikenal dan cukup memberi pengaruh bagi karya-karya lain. Adaptasinya pun sudah beberapa kali dibuat ke dalam berbagai media, mulai dari drama radio, drama panggung, film televisi, sampai film layar lebar. Invasi seri ini ke layar lebar dimulai pada tahun 2005, saat The Lion, The Witch, And The Wardrobe yang disutradarai Andrew Adamson (dwilogi Shrek) dirilis di bioskop-bioskop seluruh dunia. Adaptasi ini tergolong sukses baik dari sisi kualitas maupun kuantitas dolar yang didulang. Sebuah awal yang menjanjikan bagi kelangsungan franchise ini.

Menurut saya pribadi, film pertamanya memang berhasil menerjemahkan esensi yang terkandung dalam novelnya dengan cukup baik. Lalu tiga tahun kemudian muncul adaptasi novel keduanya yang dengan sub-judul Prince Caspian. Sekuel ini dikemas lebih gelap namun masih terbilang aman untuk dikonsumsi anak-anak. Sialnya, entah kenapa kali ini seri Narnia seolah kehilangan daya magisnya. Spirit petualangan serta sense of wonder-nya tertutupi kadar action yang tampak lebih dikedepankan. Secara keseluruhan memang masih menghibur, namun tidak memberi impresi lebih.

Perombakan besar dilakukan di seri ketiganya yang melibatkan penggantian posisi sutradara (Andrew Adamson to Michael Apted) serta studio yang mendistribusikannya (Walt Disney to Twentieth Century Fox). Perubahan ini tentunya diharapkan mampu membawa franchise ini ke arah yang lebih baik. Berhasilkah?

Tidak seperti dua pendahulunya, kali ini hanya dua bersaudara Pevensie yang berkesempatan mengunjungi kembali tanah Narnia, yaitu Edmund (Skandar Keynes) dan Lucy (Georgie Henley). Oh ya, tambah satu lagi sepupu mereka, si manja sok pintar Eustace Scrubb (Will Poulter) yang ikut terseret ke dalam petualangan mereka untuk membantu King Caspian (Ben Barnes) guna mencari tujuh lord yang dahulu hilang saat rezim pamannya—Miraz merajalela. Bersama awak kapal Dawn Treader lainnya, mereka berlayar menyeberangi samudera luas serta menjamah pulau-pulau misterius nan magis demi menuntaskan misi tersebut.

Di luar perkiraan, ternyata film ini tidak seburuk yang saya bayangkan. Skeptisisme penilaian awal terhadap kualitas film ini muncul karena pendapat beberapa teman saya serta kritikus-kritikus luar yang mencap film ini lemah (jika tidak mau dibilang buruk). Secara keseluruhan, ternyata saya masih bisa menikmatinya. Spirit petualangan yang saya nantikan kembali muncul di seri terbaru ini. Kali ini, saya bisa merasakan kembali daya magis dari sebuah negeri ajaib bernama Narnia.

Daya magis yang dihembuskan sayangnya tidak sanggup mengangkat kualitas film ini secara keseluruhan. Pencarian tujuh raja yang hilang beserta pedang magisnya di berbagai pelosok Narnia memang cukup menarik. Berbagai lokasi yang ada digambarkan dengan cukup menarik, terutama pulau tempat tinggal para Dufflepud yang indah dan memanjakan mata. Namun misi pencarian ini lama-kelamaan terkesan episodik. Polanya klise dan mudah ditebak sehingga terasa sedikit membosankan.

Dari segi teknis, efek CGI yang digunakan cenderung medioker. Menarik, namun tidak spesial. Sinematografinya juga belum mampu membuat saya berdecak kagum layaknya yang dilakukan Eduardo Serra melalui seri terbaru Harry Potter baru-baru ini (ups! bukan bermaksud membanding-bandingkan ya). Set design-nya digarap dengan apik, namun entah mengapa tampilan Dawn Treader agak terkesan kekanakan (menurut pandangan pribadi saya). Komposisi musik dari David Arnold setidaknya cukup mendukung tiap-tiap adegannya.

Georgie Henley dan Skandar Keynes—dua pemain utama yang konsisten bermain dari mulai seri awalnya cukup mengalami peningkatan akting, terutama Henley yang tampil memikat sebagai si bungsu Lucy. Namun yang paling menarik perhatian justru karakter baru—Eustace Scrubb yang diperankan oleh Will Poulter. Sifat serta tingkahnya yang menyebalkan tidak jarang mengundang tawa. Layar pun semakin hidup saat ia berinteraksi dengan Reepicheep (disuarakan oleh Simon Pegg), tikus ksatria yang begitu loveable dengan gesture dan celotehannya. Tokoh Reepicheep jugalah yang sanggup memainkan emosi penonton (saya lebih tepatnya) menjelang akhir film.

Menurut saya, adegan menjelang akhir film memang bagian yang paling menarik. Semua kekurangan di sepanjang durasi dibayar dengan ending yang memikat. Mengikuti pola dua film sebelumnya, bagian akhir film kembali mempertemukan para tokoh utamanya dengan Aslan sang singa agung. Dengan mengambil setting yang begitu memanjakan mata, adegan ini semakin terasa bermakna. Saat itu pula saya kembali tersadar bahwa Narnia adalah karya yang sarat dengan simbol-simbol religius sekaligus pesan moral. Adegan perpisahan terasa begitu menyentuh. Sebuah alegori yang indah dalam menggambarkan proses perpindahan dari alam fana menuju kekekalan.

Kesimpulannya, Narnia terbaru ini menawarkan kisah petualangan memikat namun masih terasa memiliki banyak kelemahan sebagai satu film utuh. Setidaknya ending-nya dieksekusi dengan menawan dan penuh makna.

Rating : 6/10



Tron : Legacy (2010)


Genre : Action/Adventure/Sci-Fi | Pemain : Jeff Bridges, Garrett Hedlund, Olivia Wilde, Bruce Boxleitner, Beau Garrett, Michael Sheen | Sutradara : Joseph Kosinski | Penulis : Edward Kitsis, Adam Horowitz | Distributor : Walt Disney Studios Motion Pictures | Durasi : 127 menit | MPAA : Rated PG for sequences of sci-fi action violence and brief mild language

"The
Grid. A digital Frontier. I tried to picture clusters of information as they
traveled through the computer. Ships, motorcycles. With the circuits like
freeways. I kept dreaming of a world I thought I'd never see. And then, one
day... I got in."

-Kevin Flynn-


Saat ini, perfilman Hollywood tampaknya sudah semakin menyadari potensi dari sebuah teknologi bernama 3D. Sebuah film dengan presentasi 3D tentunya menawarkan sensasi menonton yang berbeda dibanding dengan film berformat biasa. Jika dimanfaatkan secara maksimal, hasilnya akan terlihat mengagumkan secara visual, layaknya yang dilakukan James Cameron melalui Avatar tempo hari. Namun, pencapaian Avatar urung diikuti oleh film-film lain yang diberi embel-embel 3D. Mayoritas film 3D akhir-akhir ini hanya mengandalkan hasil konversi yang hasilnya jelas-jelas mengecewakan. Hal ini tidak lain karena sepertinya para produser Hollywood memanfaatkan potensi teknologi ini bukan sebagai penghasil visual yang memukau, melainkan sebagai mesin pengeruk uang semata. Just my thought.

Akhir Desember ini, penonton kembali disuguhkan sajian 3D terbaru yang merupakan sebuah sekuel dari cult classic produksi Disney tahun 1982 berjudul Tron. Dengan tambahan kata Legacy, sekuel ini tampaknya dimaksudkan untuk mengenalkan dunia futuristik Tron kepada generasi masa kini sekaligus melahirkan sebuah franchise raksasa potensial. Dengan buzz yang semakin kencang menjelang perilisannya di bioskop, film ini memang sangat berpotensi meraih pasar mainstream sekaligus fans film orisinilnya. Dari materi promosinya, saya cukup optimis bahwa kreatornya memanfaatkan teknologi 3D sebagai komponen yang integral dengan isi filmnya, bukan hanya gimmick semata.

Dari segi cerita, Legacy sebenarnya tidak menawarkan sesuatu yang istimewa. Pengejaran kesempurnaan yang berujung pada kehancuran, itulah garis besar cerita yang bisa saya tangkap disini. Kevin Flynn (Jeff Bridges), seorang progammer sekaligus pemilik perusahaan Encom yang terkenal dengan game kreasinya—Tron, dinyatakan menghilang. Dua puluh tahun kemudian, Sam (Garrett Hedlund), anak satu-satunya, mendapat sebuah pesan yang menggiringnya masuk ke dalam dunia di balik virtual game ciptaan Kevin, The Grid. Di sana, Sam menemukan kebenaran di balik menghilangnya sang ayah selain harus terjebak dalam pertempuran layaknya gladiator rancangan Clu, kloning ayahnya yang memberontak dan memiliki agenda tersendiri. Bersama ayahnya dan dibantu Quorra (Olivia Wilde)—murid sang ayah, Sam berusaha menghindar dari kejaran Clu dan keluar dari Grid.

Film ini memiliki komponen yang lazim muncul dalam film bergenre cyberpunk, seperti setting near future dalam keadaan distopia (tergambar pada Grid), pembauran antara manusia sungguhan dengan "manusia" artifisial (dianalogikan melalui user dan program), sampai gaya visual yang cenderung gelap dibalut kekontrasan warna neon. Visual inilah yang menjadi kekuatan Legacy. Dari mulai kostum hingga adegan aksi yang melibatkan balapan light cycle serta disc battle, semuanya begitu memukau mata. Tidak salah jika film ini ditampilkan dalam format 3D, walaupun masih belum bisa menandingi kehebatan visual Avatar (menurut saya). Selain itu, jiwa film ini juga terletak pada musik yang melatarinya. Duo Daft Punk benar-benar patut diberi kredit tersendiri atas komposisi musik yang berhasil menghembuskan jiwa pada film yang sebetulnya dingin dalam hal emosi ini. Mata dan telinga saya begitu dimanjakan selama dua jam.

Sebagai sebuah hiburan mendekati akhir tahun, persembahan terbaru Disney ini lumayan menghibur dengan jualan utamanya yang outstanding (yeah, I'm talking about the audio and visual—including the beautiful Olivia Wilde). Meski naskahnya lemah dengan dialog datar yang bahkan aktor sekaliber Jeff Bridges pun tidak sanggup membuatnya menjadi lebih baik, namun secara keseluruhan saya nilai Tron : Legacy sebagai sebuah sajian yang nikmat. Saya rekomendasikan bagi calon penonton yang menginginkan sajian menghibur dengan bobot cerita yang ringan. And I think it's better to watch it in 3D.

Rating : 6/10

Sunday, October 24, 2010

The Hole (2001)

Genre : Drama/Mystery/Thriller

Pemain : Thora Birch, Keira Knightley, Desmond Harrington, Laurence Fox, Daniel Brocklebank, Embeth Davidtz

Sutradara : Nick Hamm

Penulis : Guy Burt (novel), Ben Court & Caroline Ip (screenplay)

Distributor : Pathe Distribution

Durasi : 102 menit

MPAA : Rated R for pervasive language, some violence, sexuality/nudity and drug use


"When you're convinced of your own absolute superiority, you don't need help from mere mortals like me. You can fuck things up all by yourself."
-Martyn-

Ketertarikan saya terhadap film ini muncul tiba-tiba, karena sebelumnya saya sama sekali asing dengan judul film produksi Inggris ini. Saat itu saya sedang berada di salah satu rental home video paling keren di Jakarta (no joke), dan tanpa sengaja saya melihat cover DVD film berjudul The Hole. Yang membuat saya tertarik, ada wajah Keira Knightley disitu. Penampilan Knightley pra kesuksesan trilogi Pirates of the Caribbean? So tempting! Dan yang semakin menarik atensi saya adalah genre yang ditawarkan film ini—mystery/thriller. Tanpa pikir panjang, saya langsung membawa film ini ke kasir. Ekspektasi saya tidak terlalu besar karena film ini tampak seperti film thriller indie biasa dengan premis cerita sederhana. Yang ingin saya lihat adalah si cantik Keira Knightley yang katanya tampil cukup "berani" disini dalam usianya yang masih 16 tahun. Sounds pervert? Whatever.

Film dibuka dengan adegan seorang gadis berjalan sempoyongan di sepanjang jalanan sepi yang di sekelilingnya penuh pamflet berita orang hilang. Gadis tersebut terlihat tergesa-gesa memasuki suatu kompleks sekolah-asrama. Sesampainya di dalam, ia terjatuh lemas setelah menjerit meminta bantuan. Kemudian diketahui bahwa ia adalah salah satu murid di sekolah tersebut yang diberitakan hilang 18 hari sebelumnya. Seorang psikolog dari kepolisian—Dr. Philippa Horwood (Embeth Davidtz) bertugas menggali informasi dari gadis bernama Liz (Thora Birch) tersebut. Lalu Liz mulai menceritakan kejadian yang dialaminya saat ia diberitakan hilang. Melalui cerita yang dipaparkannya, terkuak bahwa Liz bersama 3 orang lainnya—Frankie (Keira Knightley), Mike (Desmond Harrington), dan Geoff (Laurence Fox) disekap dalam sebuah bunker peninggalan zaman perang di hutan sekitar sekolahnya. Dan pelakunya adalah Martyn (Daniel Brocklebank), teman Liz sendiri.

Saat misteri hilangnya Liz beserta tiga orang lainnya mulai terkuak, misteri baru timbul saat polisi menginterogasi Martyn, sang tersangka. Versi yang diceritakan Martyn jauh berbeda dengan apa yang disampaikan Liz sebelumnya. Dari sini, cerita mulai bergerak lebih menarik. Versi pertama (dari sudut pandang Liz) tergambar bahwa Liz adalah remaja biasa yang jauh dari kata populer, sahabat karib Martyn, dan tergila-gila pada Mike. Akibat niat jahat Martyn, Liz beserta tiga orang lainnya—Frankie, Geoff, dan juga Mike terkurung dalam sebuah bunker bawah tanah di tengah hutan. Mereka disekap disana tanpa ada seorang pun yang mengetahui keberadaan mereka selain Martyn. Versi kedua (dari sudut pandang Martyn), Liz adalah gadis bitchy, sahabat karib Frankie, dan juga tergila-gila pada Mike. Dalam usahanya merebut hati Mike, Liz berencana menghabiskan akhir pekan dengan berpesta di sebuah bunker terpencil yang dulu pernah ditunjukkan Martyn padanya. Jelas terlihat bahwa Martyn bukanlah orang yang bertanggungjawab atas menghilangnya keempat remaja tersebut.

Cukup menarik untuk menebak-nebak siapa yang menceritakan fakta sebenarnya diantara mereka berdua. Paruh awal film sedikit membosankan karena minim konflik dan cenderung datar. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, film mulai beranjak lebih menarik saat adegan Martyn diinterogasi. Cerita versi Martyn ditimpali pula dengan adegan-adegan yang timbul dari kilasan memori Liz. Saya pun semakin tertarik untuk mengikuti kelanjutan ceritanya. Namun saat memasuki satu jam durasi, saya sudah bisa menebak kemana arah film ini. Saya tetap bertahan untuk terus menonton demi bisa mengetahui akhir kisahnya agar bisa dengan puas berkata : "sudah kuduga". Ya, siapa pemicu masalah sebenarnya serta motif yang melatarinya ternyata memang sesuai dugaan saya. Walaupun cukup predictable dan banyak plot hole disana-sini, namun secara keseluruhan ceritanya masih enak diikuti.

Semua pemainnya bermain dengan kadar cukup, tidak terlalu menonjol. Thora Birch lah yang cukup menarik perhatian saya dengan aksen British-nya yang meyakinkan (menurut telinga saya). Lalu bagaimana dengan Keira Knightley yang tampil berani (baca : pamer dada) disini? Lumayan oke lah, meskipun saya tidak sampai berteriak "ten out of ten!" seperti Desmond Harrington (cuma sedetik sih, jadinya kurang berkesan). Di luar itu, Knightley memang terlihat mempunyai potensi untuk menjadi aktris besar, dan saat ini ia sudah berhasil membuktikannya.

Untuk penyuka film thriller yang lebih menekankan sisi psikologis dibanding adegan gore yang tidak perlu, saya merekomendasikan The Hole sebagai alternatif tontonan. Film ini juga mengeksplor sejauh mana seseorang mampu bertindak demi mendapatkan apa yang ia inginkan. Obsesi memang bisa membutakan—membuat seseorang terjerat dalam hawa nafsunya sendiri sehingga tidak peka lagi terhadap lingkungan sekitar. Tanpa bermaksud memberikan spoiler, menurut saya ending film ini akan membuat sebagian penonton kesal setengah mati. Just my thought.

Rating : 6/10

Wednesday, October 20, 2010

Heathers (1989)

Genre : Comedy/Crime

Pemain : Winona Ryder, Christian Slater, Shannen Doherty, Lisanne Falk, Kim Walker

Sutradara : Michael Lehmann

Penulis : Daniel Waters

Distributor : New World Pictures

Durasi : 103 menit

MPAA : Rated R for violence, sexual references, and language


"Betty Finn was a true friend and I sold her out for a bunch of Swatch dogs and Diet Coke heads. Killing Heather would be like offing the wicked witch of the west... wait, east. West! God! I sound like a fucking psycho."
-Veronica-

Kalimat di atas adalah satu dari sekian banyak quote menggelitik yang bertebaran di sepanjang durasi film ini. Heathers, sebuah potret kehidupan para remaja dalam balutan dark comedy yang tajam, penuh sindiran, sekaligus cerdas. Judul film ini sendiri diambil dari nama sebuah kelompok (mungkin lebih dikenal dengan sebutan geng) yang terdiri dari tiga siswi populer bernama depan sama—Heather Chandler (Kim Walker), Heather Duke (Shannen Doherty), dan Heather McNamara (Lisanne Falk). Layaknya film-film remaja kebanyakan, clique yang terdiri dari gadis-gadis paling populer di sekolah otomatis memiliki otoritas penuh dalam hal pergaulan. Mereka seolah berada di tempat tertinggi dalam stratifikasi sosial di lingkungan sekolahnya. Dari scene awalnya saja, sudah tergambar seberapa berpengaruhnya eksistensi para Heather ini. Ah, saya jadi teringat lagu Que Sera Sera.

Veronica Sawyer (Winona Ryder)—gadis cerdas dengan selera humor sarkastik, adalah anggota keempat di geng Heathers. Wait, a non-Heather in Heathers? How could that be? Ya, meski tidak dijelaskan bagaimana awal mula Veronica bisa diterima di geng tersebut (yang tampak sudah sempurna sebagai trio), namun jelas bahwa ia memiliki sesuatu yang menarik perhatian para Heather. Tidak seperti Duke dan McNamara yang tampak agak segan terhadap pemimpin mereka—Heather Chandler, Veronica justru cenderung lebih santai saat berada di dekatnya. Sosok Veronica adalah cerminan seorang remaja yang ingin diterima dalam pergaulan dengan bergabung bersama geng populer, tidak peduli bahwa justru sebenarnya ia membenci geng tersebut. Seperti kalimat yang diucapkannya, "Well, it's just like - they're people I work with, and our job is being popular and shit." Jelas tergambar bahwa ia terpaksa bergaul dengan para Heather demi status sosial. Sebagai Veronica, Winona Ryder tampak begitu mempesona di setiap kemunculannya.

Kehadiran sosok Jason "J.D." Dean (Christian Slater)—murid pindahan bergaya cool dan misterius, semakin membuat Veronica tersadar. Kebencian terhadap Heather yang selama ini hanya ia tuangkan dalam diary, mulai diwujudkan dalam tindakan nyata. Namun, keisengan yang ia lakukan bersama J.D. pada akhirnya malah berbuah malapetaka. Sosok J.D. seolah memicu munculnya sisi gelap dalam diri Veronica. Saat bersama J.D., ia seperti kehilangan kendali atas dirinya. Mampukah Veronica terbebas dari pesona gelap J.D. yang bagai magnet bagi dirinya? Tokoh J.D. diperankan dengan sempurna oleh Christian Slater—charming sekaligus psychotic. Cukup mengherankan melihat karirnya sekarang yang tidak berkembang, padahal jelas-jelas ia bisa berakting. Dan chemistry-nya dengan Winona Ryder sungguh mengagumkan. Pasangan mematikan yang mempesona. Love them both!

Heathers mengeksplor sisi gelap kehidupan para remaja di sekolah menengah. Stereotype anak sekolahan, obsesi terhadap popularitas, sampai fenomena bunuh diri di kalangan remaja dijadikan bahan komedi satir dalam film ini. Untuk yang memiliki selera humor sarkastik, dipastikan akan sangat terhibur dengan lontaran kalimat pedas dari tiap karakternya di sepanjang film. Skrip buatan Daniel Waters ini memang cerdas dan luar biasa menghibur dengan segala kesinisannya. Tiap tokohnya diberi kedalaman yang pas, dengan pembubuhan simbolisasi untuk mempertegas sifat karakter masing-masing (misalnya warna bola kriket Heathers). Beberapa adegan terkesan agak berlebihan—terutama pada paruh akhir menjelang ending, namun secara keseluruhan apa yang ingin disampaikan film ini cukup tepat sasaran. Tingkah laku remaja yang semakin brutal dan destruktif serta blow-up media yang membuat hal-hal negatif jadi terlihat keren disampaikan dengan jelas.

Jujur, saya sangat menikmati film ini dari awal sampai akhir. Gaya humornya sangat mengena dan benar-benar menghibur. Ini adalah salah satu film remaja terbaik yang pernah saya tonton. Sedikit mengingatkan pada Mean Girls yang sudah lebih dahulu saya tonton, namun Heathers jelas lebih baik sekaligus memorable. Film ini tidak cukup hanya ditonton sekali karena setelah menonton untuk kedua kalinya, saya menemukan beberapa detail yang sempat terlewat saat pertama kali menonton. Dan yang terpenting, saya semakin jatuh cinta dengan film ini. Ini bukan berlebihan, hanya sekedar ungkapan perasaan saya saja sebagai penonton. Tidak lebih.

Now, can someone bring me a chainsaw?

Rating : 9/10

Saturday, April 3, 2010

Sorority Row (2009)

Genre : Horror/Thriller

Pemain : Briana Evigan, Leah Pipes, Rumer Willis, Jamie Chung, Audrina Patridge, Carrie Fisher

Sutradara : Stewart Hendler

Penulis : Josh Stolberg, Pete Goldfinger

Distributor : Summit Entertainment

Durasi : 101 menit

MPAA
: Rated R for strong bloody violence, language, some sexuality/nudity and partying

"Theta Pi Must Die"


Kalau boleh jujur, salah satu alasan utama saya untuk menonton film ini adalah karena kemasannya yang tampak seperti parade cewek-cewek cantik nan seksi. Well, mungkin terdengar sedikit dangkal, tapi cowok mana sih yang tidak tergoda untuk menyaksikan sekumpulan hot babes dalam balutan pakaian mini...berlari terengah-engah...ketakutan...dengan tubuh bersimbah darah. Whoa..okay, now it sounds creepy. Haha. Tapi memang, film ini tampak ingin "menjual" para pemainnya yang didominasi oleh aktris-aktris muda yang masih fresh. Tengok saja beberapa versi posternya yang memajang pose rame-rame mereka yang dua diantaranya malah mengingatkan saya pada pose dalam poster promo serial tv The L Word dan Desperate Housewives, dengan nuansa dark tentunya. Di luar itu, saya memang menyukai genre film thriller/slasher semacam ini. Sedangkal atau semurahan apapun lusinan film model begini yang pernah saya tonton, toh saya tidak pernah kapok. It's a kind of guilty pleasure? Maybe.

Film yang merupakan remake dari The House On Sorority Row ini berfokus pada suatu insiden berdarah yang kemudian berujung pada teror dan pembunuhan berantai. Bermula dari sekelompok cewek anggota persaudaraan Theta Pi yang salah satu diantaranya, Megan (Audrina Patridge), menemukan bahwa pacarnya, Garrett (Matt O'Leary) berselingkuh. Untuk membalas dendam, ia dan teman-teman persaudaraannya merencanakan suatu skenario untuk menjebak Garrett. Megan pura-pura mati keracunan, seolah itu adalah kesalahan Garrett. Sandiwara iseng ini berjalan lancar, sampai akhirnya terjadilah petaka yang tidak diperkirakan sebelumnya. Garrett yang panik berat secara tidak sengaja malah membuat Megan benar-benar terbunuh. Kontan teman-temannya shock. Dalam keadaan serba panik tersebut, Jessica (Leah Pipes) yang paling vokal dan pegang kendali menyarankan untuk membuang jasad Megan dengan dalih agar kejadian ini tidak merusak masa depan mereka. Pada akhirnya semua setuju, kecuali Cassidy (Briana Evigan) yang bersikeras untuk mencari pertolongan dan melapor polisi. Walaupun akhirnya ia harus terpaksa tutup mulut karena "ancaman" teman-teman persaudaraannya.

Dari sini, pasti kita sudah dapat menebak kemana arah film ini selanjutnya. Hal pertama yang terlintas dalam benak saya adalah film I Know What You Did Last Summer. Ya, plot film ini sangat mirip dengan plot film yang dibintangi Jennifer Love-Hewitt tersebut. Insiden yang ditimbulkan oleh ketidaksengajaan, rahasia yang lama kelamaan semakin menghantui para pelakunya, lalu pembantaian yang tampak seperti balas dendam atas perbuatan mereka yang dilakukan oleh sosok misterius berkerudung dengan senjata khas. Semua elemen tadi muncul dalam kedua film tersebut. Sebagian mungkin ada yang masih merasa terhibur, tapi saya yakin tidak sedikit juga yang sudah merasa muak. Dengan adegan-adegan pembunuhan serta twist pada klimaks cerita yang lagi-lagi tampak tidak ada bedanya dengan film slasher kebanyakan, maka jangan harap ada sesuatu yang baru yang bisa anda dapatkan dari menonton film ini.

Yang cukup menyedihkan, untuk menutupi semua kelemahan dan kemonotonan kisah yang diangkat (terutama dalam genre semacam film ini), para produser serta filmmaker di Hollywood kadang "mengkompensasinya" melalui divisi casting dengan memajang aktor-aktris yang walaupun kurang terkenal tapi memiliki tampilan fisik rupawan. Seperti dalam film ini, tidak jadi soal apakah para pemainnya bisa berakting atau tidak, yang penting mereka memiliki tampang menjual dengan bodi ideal dan tidak takut untuk memamerkannya. Sebuah hiburan yang sangat menyenangkan bagi para penonton pria, tetapi akan terasa begitu dangkal bagi para penikmat film yang menginginkan sebuah suguhan yang jauh lebih berbobot.

Seperti yang sudah saya singgung di atas, seburuk apapun film ini yang pasti saya tetap tidak akan kapok untuk menyaksikan film-film sejenis. Layaknya junk-food, walaupun sudah jelas-jelas "sampah", tapi masih banyak orang yang menikmatinya, termasuk saya. Cheers!

4/10

Wednesday, July 1, 2009

Transformers : Revenge Of The Fallen (2009)

Genre : Action/Adventure/Sci-Fi

Pemain : Shia Labeouf, Megan Fox, John Turturro, Ramon Rodriguez

Sutradara : Michael Bay

Penulis : Roberto Orci, Alex Kurtzman, Ehren Kruger

Distributor : Paramount Pictures

Durasi : 150 menit

MPAA : Rated PG-13 for intense sequences of sci-fi action violence, language, some crude and sexual material, and brief drug material


"Revenge is coming."

Sebelum membahas film ini, saya ingin sedikit menyinggung prekuelnya yang sukses luar biasa (it's a blah, actually). Sebenarnya apa sih yang membuat proyek Transformers bisa begitu sukses—baik dari segi perolehan dolar maupun respon positif dari mayoritas penontonnya? Jika pertanyaan tersebut ditujukan pada saya, maka jawabannya akan sangat sederhana—film ini sungguh menghibur. Apakah faktor hiburan saja bisa membuat jutaan orang berbondong-bondong pergi ke bioskop untuk menyaksikan sebuah film? Ini bukanlah suatu hal yang mustahil karena setahu saya kebanyakan orang menjadikan aktivitas menonton film sebagai sebuah hiburan tersendiri. Bagi saya sendiri, menonton film adalah salah satu sarana eskapisme yang cukup ampuh. Meskipun dalam perkembangannya—saya dan mungkin sebagian orang menganggap film lebih dari sekedar hiburan. Nah, dalam kasus Transformers, film ini tampaknya memang murni dibuat sebagai sebuah hiburan. Cerita yang sangat ringan, ditambah karakter-karakter yang cukup loveable, serta kadar action yang tinggi dibalut dengan special effect yang wah adalah beberapa poin yang coba ditawarkan Michael Bay melalui film ini. Didukung dengan promosi yang gencar—meskipun awalnya sempat menimbulkan kontroversi di kalangan fans mengenai perombakan tampilan robot-robotnya, nyatanya film ini berhasil menuai untung besar dalam peredarannya sekaligus menjungkirbalikan pandangan sinis sebagian orang yang pada akhirnya ikut tercengang dengan apa yang berhasil dicapai oleh seorang Michael Bay—sang spesialis ledakan yang hobi mendramatisir adegan. Seperti kata-kata dalam theme song-nya, Transformers memang more than meets the eye.


Dengan segala kesuksesan yang diraih, kemunculan sebuah sekuel tampaknya merupakan suatu kewajiban yang sulit untuk dicegah. Saya sendiri—yang sangat menikmati film pertamanya, tentu sangat menantikan kehadiran sekuelnya yang saya yakini akan lebih megah dan tentunya memuaskan. Sejak pertama melihat teaser trailer-nya, bayangan akan serunya hasil akhir film ini sudah tertanam di benak saya. Tapi apa yang terjadi? Semakin dekat ke waktu perilisannya, justru antusiasme saya terhadap film calon blockbuster ini semakin menurun. Apalagi setelah melihat final trailer-nya yang membuat saya serasa mengalami deja vu. Aksi baku hantam para robot serta pameran ledakan yang dahsyat benar-benar mengingatkan saya pada film Transformers yang dirilis tahun 2007 lalu. Oh God, will it be a rip-off from its own predecessor? Tapi karena saya ingin berusaha untuk menghargai hasil kerja keras Bay bersama kru-nya, akhirnya saya tonton juga film ini.

Mengenai jalan ceritanya, film ini masih berkisah seputar perseteruan antara para robot dari kubu Decepticon dengan kubu Autobot. Singkat cerita, saat ini pasukan Autobots bekerjasama dengan manusia membentuk sebuah organisasi rahasia bernama NEST (Networked Elements : Supporters and Transformers) yang bertujuan khusus untuk membasmi kaum Decepticon yang masih berusaha mengambil alih bumi. Untuk memperkuat pertahanan mereka, Optimus Prime—sang pemimpin Autobot memanggil rekan-rekan dari planet asalnya untuk turun ke bumi guna mengantisipasi serangan dari kubu Decepticon yang pasukannya juga semakin bertambah. Keadaan semakin ruwet dengan bangkitnya kembali Megatron—sang pemimpin Decepticon yang juga berniat untuk membangkitkan The Fallen, robot dedengkot yang memicu awal mula peperangan abadi antara kaum Autobot dan Decepticon.

Peperangan antar robot ini tidak akan lengkap tanpa kehadiran karakter-karakter manusia. Tokoh sentral di film pertama, Sam Witwicky—yang diceritakan sudah memasuki masa kuliah, masih memegang peranan penting di sekuelnya ini. Sebenarnya, karakter Sam tidak banyak mengalami perubahan dari film pertamanya, tapi untungnya penampilan LaBeouf masih cukup menghibur—terutama saat adegan Sam mendapat "penglihatan" gara-gara All Spark yang masih disimpannya (sumpah, bikin ngakak). Karakter manusia yang kehadirannya tidak kalah penting—terutama buat kaum pria, tentunya adalah sosok Mikaela Banes yang tetap diperankan si seksi Megan Fox. Entah cuma perasaan saya atau memang di film ini si Fox nambah hot aja? Hmmm... so delicious, hehe. Selain dia, kehadiran seorang bombshell baru bernama Isabel Lucas juga cukup membuat saya penasaran. Tapi, setelah melihat langsung di layar, ternyata penampilannya tidak terlalu berkesan, at least for me. Sangat terlihat kalau si Lucas ini berusaha mengeluarkan sex appeal-nya di sepanjang adegan, yang sayangnya masih kalah dengan magma yang ditimbulkan oleh Fox. Akhirnya kemunculan dia jadi terasa kurang penting. Yang berhasil menjadi scene stealer justru karakter Leo Spitz, teman sekamar Sam yang diperankan Ramon Rodriguez. Adegan kesetrum itu loh, biarpun slapstick tapi berhasil membuat semua penonton di bioskop terbahak. Kehadiran kembali John Turturro sebagai Agent Simons—yang kali sudah "turun pangkat", juga berhasil menghidupkan suasana dan anehnya memiliki chemistry yang unik saat berada dalam satu layar dengan Ramon Rodriguez.

Oke lah, untuk urusan cast, film ini masih lumayan. Bahkan orangtua Sam—terutama ibunya yang sangat annoying masih bisa menghibur. Tapi sebenarnya yang ditawarkan film ini bukan itu kan? Dari judulnya saja, jelas-jelas film ini menjual aksi robot-robot yang bisa bertransformasi—yang terbukti ternyata bukan hanya bisa berubah menjadi alat transportasi atau alat elektronik seperti di film pertama. Dengan semakin melubernya robot-robot di film ini, menurut anda kemungkinan apa yang dapat terjadi? Ya benar, semakin banyak aksi dan ledakan yang sangat disukai Michael Bay dan mungkin mayoritas penonton yang turut memberi andil dalam kesuksesan film pertamanya di pasaran. Untuk urusan jualan utamanya ini, saya akui Bay memang jagonya. Kehadiran robot yang lebih beragam serta aksi dengan ledakan yang lebih heboh. Tapi apakah hal tersebut berhasil mengangkat kualitas film ini, atau setidaknya membuat film ini jadi lebih menghibur dibanding film pertamanya? Entah apa pendapat orang, tapi menurut saya jelas tidak. Padahal sebelum nonton, saya sudah mengatur mindset saya agar menganggap bahwa film ini hanyalah sebuah hiburan mengasyikan yang tidak perlu ditelaah lebih jauh. Tapi semakin film berjalan, saya malah semakin bosan dengan aksi ledak-ledakan yang dipamerkan Michael Bay. Sungguh melelahkan melihat adegan-adegan tersebut. Believe it or not, saya bahkan sempat beberapa kali tertidur saat adegan perang di Mesir, padahal sound-nya benar-benar bising. Yang membuat saya bosan adalah karena menurut saya film pertamanya sudah menyajikan segalanya, sehingga tidak ada lagi yang bisa ditampilkan di sekuelnya kecuali pengulangan yang sengaja dibuat lebih meriah. Dan untuk yang mengikuti film-film Michael Bay, ciri khasnya juga masih muncul disini—seperti scene matahari atau orang-orang berjalan beriringan dengan teknik slow motion dan diiringi musik yang sengaja dibuat dramatis. Huft, entah apa lagi yang bisa saya bahas dari film ini, yang pasti menurut saya dari semua summer movie yang sudah beredar, inilah film yang paling lemah dan membosankan. Kebalikan dari prekuelnya, film ini ternyata less than meets the eye.

5/10

Friday, July 18, 2008

Step Up 2 The Streets (2008)

Genre : Drama/Music/Romance

Pemain : Briana Evigan, Robert Hoffman, Cassie Ventura, Adam G. Sevani

Sutradara : Jon Chu

Penulis : Toni Ann Johnson, Karen Barna

Produser : Patrick Wachsberger, Erik Feig, Adam Shankman, Jennifer Gibgot

Distributor : Summit Entertainment

Durasi : 98 menit



Moose : "Yeah, we're her crew
! We're getting ready to battle at the streets."
Felicia : "What street? Sesame Street?"


Dalam menonton sebuah film, biasanya saya mengharapkan alur cerita yang menarik untuk disimak. Tapi terkadang, alur cerita yang standard tanpa perkembangan yang menarik tidak begitu saya
permasalahkan selama film yang saya tonton punya faktor kuat yang layak disimak. Dan film ini ternyata masuk kategori tersebut.

Tokoh utama di film ini adalah Andie West (Briana Evigan), seorang remaja yang tergabung dalam kru penari jalanan 410 di Baltimore, Maryland. Ulah kru 410 yang sering membuat keributan di tempat umum membuat resah banyak pihak, termasuk Sarah (Sonja Sohn), orang yang selama ini bertanggungjawab mengurus Andie sejak ibunya meninggal. Dengan perilaku Andie bersama kru 410 yang dianggapnya sudah kelewatan, Sarah berniat mengirim Andie ke Texas untuk tinggal bersama bibinya. Tentu Andie menolak karena ia sudah menganggap kru 410 sebagai keluarganya sendiri.

Kesempatan untuk tetap tinggal di Baltimore akhirnya datang saat Andie bertemu kembali dengan Tyler Gage (Channing Tatum, tokoh utama di Step Up pertama), yang merupakan figur kakak bagi Andie. Ia menyarankan Andie untuk menyalurkan bakatnya di Maryland School of the Arts (MSA), tempat yang dulu berjasa merubah jalan hidup Tyler. Meski sempat menolak, akhirnya Andie menyetujui ide ini. Dengan bantuan Tyler, Andie berhasil meyakinkan Sarah agar ia diberi kesempatan untuk berubah dengan bersekolah di MSA.

Setelah mengikuti audisi, akhirnya Andie diterima di MSA. Hal ini ternyata tidak membuat hidup Andie semakin mudah. Justru ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang bertolak belakang dengan dunia yang selama ini ia jalani. Ia juga harus bisa menyesuaikan jadwalnya di MSA agar ia bisa tetap kumpul dengan kru 410, yang saat ini sedang giat-giatnya berlatih untuk menghadapi The Streets, sebuah ajang dance underground yang mempertemukan para street dancers di Baltimore untuk berkompetisi.

Jadwal tambahan di MSA membuat Andie sering terlambat latihan dan berdampak dengan didepaknya ia dari kru. Di tengah keputusasaannya, muncul Chase Collins (Robert Hoffman), yang menyarankan Andie untuk membentuk kru baru. Chase yang merupakan adik dari kepala sekolah MSA, sudah lama mengagumi bakat Andie sejak bertemu di sebuah dance club—The Dragon. Dengan bantuan Chase, Andie berhasil merekrut siswa-siswa di MSA yang ternyata berbakat nge-dance. Pihak MSA yang melarang siswa-siswanya untuk mengikuti kompetisi ilegal membuat Andie bersama kru barunya harus berlatih secara sembunyi-sembunyi. Ditambah dengan sikap kru 410 yang seolah melarang Andie dan kru-nya mengikuti ajang The Streets, membuat perjuangan mereka semakin berat. Akankah mereka berhasil tampil di The Streets?

Dengan segala keklise-annya, surprisingly saya cukup terhibur dengan film ini. Gerakan tari yang lebih spektakuler dibanding film sebelumnya, otomatis jadi daya pikat utama dari film ini. Chemistry antara Briana Evigan dan Robert Hoffman juga enak dilihat, terutama saat mereka menunjukkan kebolehan masing-masing saat menari. Semua pemain pendukungnya yang memang jago nge-dance juga jadi poin plus film ini. Selain itu, musik yang didominasi oleh lagu-lagu yang sedang nge-hits juga menambah keasyikan film ini. Kesimpulannya, film ini berhasil lolos dari keterpurukan berkat jualan utamanya yang sangat menonjol. Memang terkesan segmented, tapi tampaknya saat ini masih banyak orang yang suka dengan jenis film yang mengutamakan nilai hiburan pop seperti ini, terutama anak muda yang merupakan pangsa pasar terbesar dari tontonan sejenis.

6/10