Genre : Crime/DramaPemain : Oksana Akinshina, Artyom Bogucharsky, Pavel PonomaryovSutradara : Lukas MoodyssonPenulis : Lukas MoodyssonDistributor : Sonet FilmDurasi : 109 menitMPAA : Rated R for strong sexual content, a rape scene, drug use and language
"I'm not your property. Think you can buy me? You can't buy me. You can't buy my heart and soul."-Lilja-
Lilja 4-ever adalah feature film ketiga dari salah seorang sineas handal asal Swedia, Lukas Moodysson. Tidak seperti dua filmnya terdahulu—Show Me Love dan Together yang bernuansa ceria, kali ini Moodysson membuat perubahan drastis dengan menghadirkan cerita yang kelam dan depresif. Konon, skrip yang ditulis Moodysson terinspirasi dari kejadian nyata mengenai seorang gadis remaja asal Lithuania bernama Danguole Rasalaite yang menjadi korban sindikat perdagangan manusia. Kisah tragis ini sempat menjadi headline di Swedia tahun 2000. Meski tidak mengangkat langsung kisah hidup Rasalaite, Moodysson mencoba untuk menggambarkan betapa kejamnya isu human trafficking melalui sudut pandang si korban dalam film ini.Opening scene-nya memperlihatkan seorang gadis dengan wajah penuh luka memar berlari di jalanan dalam keadaan panik. Dengan diiringi lagu Mein Herz brennt dari Rammstein, ketakutan yang dialami gadis tersebut semakin terasa. Kemudian setting berpindah ke tiga bulan sebelumnya, di sebuah negara yang merupakan bagian dari former Soviet Union. Diceritakan bahwa gadis tadi bernama Lilja. Kala itu, kegembiraannya sedang memuncak karena ia akan pindah ke Amerika bersama ibunya yang telah memiliki kekasih baru. Namun impiannya seolah direnggut saat ibunya memutuskan untuk tidak mengajak Lilja. Ibunya menjanjikan bahwa Lilja bisa menyusul nanti. Dari sini, pertanda buruk sudah mulai terlihat. Adegan perpisahan Lilja dengan ibunya adalah salah satu adegan paling memilukan dalam film ini. Tangis histeris Lilja, serta sekilas ekspresi ibunya yang tampak tidak tega tapi dengan egoisnya tetap pergi meninggalkan anaknya. Damn! It's so heartbreaking.
Sepeninggal ibunya, Lilja dititipkan pada bibinya yang cenderung apatis. Ia dipaksa pindah dari tempat tinggalnya ke sebuah flat kumuh. Tanpa pengawasan orang dewasa, ia bebas berpesta bersama teman-temannya disana. Namun kesenangan itu hanya sesaat, karena ia masih merasakan kekosongan di hatinya yang dahulu diisi oleh sosok sang ibu. Sudah dapat diduga, ibunya memang benar-benar berniat untuk selamanya pergi dari kehidupan Lilja. Nasib Lilja tidak bertambah baik saat teman dekatnya tiba-tiba menyebarkan berita bohong tentang dirinya. Hal ini membuatnya menjadi bahan cemoohan di lingkungannya. Satu-satunya orang yang tetap setia menemaninya hanyalah Volodja (Artyom Bogucharsky) , bocah lelaki yang sering ditindas ayahnya sendiri. Berdua, mereka saling menopang satu sama lain demi bisa bertahan di dunia yang sangat tidak bersahabat ini. Kehidupan yang keras sempat membuat Lilja terjerumus dalam lembah prostitusi. Dirinya seolah terselamatkan saat bertemu dengan sosok bak malaikat dalam diri seorang pria bernama Andrei (Pavel Ponomaryov). Perkenalan yang awalnya tidak disengaja akhirnya membuat mereka semakin akrab. Kemudian Andrei pun memberikan harapan indah pada Lilja. Ia menjanjikan kehidupan yang lebih baik bagi Lilja di Swedia. Kesempatan tersebut tentu membuat Lilja senang tak terkira karena akhirnya ia bisa terbebas dari tempat yang telah menorehkan kenangan buruk padanya selama ini. Namun apakah Andrei benar-benar memiliki niatan tulus untuk menolong Lilja? Ataukah itu hanya siasat untuk menjebak Lilja? Dari sini, film semakin menyakitkan untuk ditonton. Dari awal sampai lebih dari setengah film, penonton dipaksa menjadi saksi betapa malangnya nasib Lilja. Sepertiga akhir film adalah puncak ketragisan kisahnya. Dan inilah yang membuat saya semakin muak terhadap orang-orang bejat yang terlibat dalam bisnis terkutuk berjuluk human trafficking.
Melalui sosok Lilja yang diperankan dengan gemilang oleh Oksana Akinshina, saya dibawa menyelami kepedihan seseorang yang ditinggalkan, dikhianati, dan dijerumuskan. Akinshina membuat sosok Lilja terasa begitu nyata. Sangat menyakitkan melihat senyumnya yang tulus dan ceria direnggut paksa oleh pihak yang begitu egois dan tidak bermoral. Sekali lagi, Moodysson menunjukkan kepiawaiannya dalam hal karakterisasi. Lilja adalah salah satu karakter yang paling melibatkan emosi saya saat menonton sebuah film. Karakternya mengingatkan saya bahwa di luar sana banyak orang yang nasibnya kurang beruntung, sementara terkadang saya sendiri masih sering menggerutu dengan apa yang saya miliki. Lalu melalui karakter Volodja, saya juga diingatkan bahwa dibalik semua tragedi yang menimpa seseorang, akan selalu ada cahaya menemani untuk menerangi jalan serta menegaskan bahwa harapan itu ada. Secara keseluruhan, film ini bukanlah tipe tontonan eskapisme yang bisa dinikmati oleh semua orang. Menurut saya film ini memang bukan untuk dinikmati, melainkan untuk dimaknai. Kandungan di dalamnya mampu membangkitkan rasa kemanusiaan serta membuka mata kita untuk lebih peduli terhadap sesama. Itulah yang membuat film ini sangat layak untuk ditonton. Highly recommended!
Rating : 9/10
Genre : Animation/Comedy/Drama/RomancePengisi Suara : Riisa Naka, Takuya Ishida, Mitsutaka ItakuraSutradara : Mamoru HosodaPenulis : Yasutaka Tsutsui (novel), Satoko Okudera (screenplay)Distributor : Kadokawa Herald PicturesDurasi : 98 menitYuri Hayakawa : "Makoto! Time waits for no one."Apa yang akan anda lakukan jika anda memiliki kemampuan untuk memutar waktu? Berusaha mengubah kejadian buruk di masa lalu agar menjadi lebih baik segera terlintas di benak saya—dan mungkin juga sebagian orang. Lantas, apakah dengan mengubah masa lalu maka otomatis keadaan saat ini akan menjadi lebih baik? Tidak ada jawaban yang pasti, karena saya yakin segala sesuatu akan ada konsekuensinya. Mengubah hal sekecil apapun bisa membawa dampak pada hal lain. Hukum sebab-akibat tentunya tidak bisa diabaikan. Konsep tersebut ditampilkan melalui film yang dalam bahasa aslinya berjudul Toki o Kakeru Shojo ini. Terinspirasi dari novel berjudul sama karangan Yasutaka Tsutsui, film ini mencoba menggabungkan romantika kehidupan remaja dengan elemen fiksi ilmiah.
Tokoh utama dalam film ini bernama Makoto Konno (Riisa Naka), gadis tomboy yang cenderung urakan dan ceroboh. Kegiatan rutinnya sepulang sekolah diisi dengan bermain baseball bersama dua orang temannya, Chiaki Mamiya (Takuya Ishida) dan Kosuke Tsuda (Mitsutaka Itakura). Suatu hari saat berada dalam lab di sekolah, ia mengalami kejadian aneh. Seolah-olah ia terbang melintasi waktu sebelum akhirnya ia terjerembab di lantai dalam keadaan setengah sadar. Awalnya ia tidak terlalu menganggap serius keanehan tersebut sampai akhirnya terjadi insiden yang mulai membuatnya yakin bahwa ia bisa "melompati" waktu. Setelah insiden tersebut, ia berkonsultasi dengan bibinya, Kazuko Yoshiyama (sang tokoh protagonis dalam novel aslinya—diisisuarakan oleh Sachie Hara). Tanpa benar-benar menceritakan pengalamannya sendiri dalam melompati waktu, bibi Kazuko kemudian menjadi figur seorang penasihat bagi Makoto.
Proses melompati waktu yang awalnya terjadi karena ketidaksengajaan pada akhirnya bisa dikontrol oleh Makoto. Bagaimana caranya? Dengan melakukan lompatan (literally) jauh a la kijang, dan ia pun bisa mundur kembali ke waktu yang diinginkannya. Kemampuan barunya ini ia manfaatkan untuk kepentingan dirinya sendiri yang cenderung sepele, seperti mengulang ujian di sekolah sampai karaoke berjam-jam tanpa membayar lebih. Makoto menganggap kemampuan barunya ini bagaikan sebuah hiburan, tanpa menyadari bahwa ada konsekuensi dibalik itu semua. Keadaan menjadi lebih serius saat Chiaki menyatakan perasaannya pada Makoto. Makoto yang tidak mau persahabatannya rusak karena masalah percintaan lalu melakukan lompatan waktu berkali-kali hanya untuk membatalkan pernyataan Chiaki. Dan Makoto juga menggunakan lompatan waktu untuk menjodohkan Kosuke dengan seorang gadis yang menyukainya. Apakah semua perbuatannya ini dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik? Ataukah justru ia akan menyesal seumur hidup atas perbuatannya tersebut?
Cerita mengenai time travel seperti ini memang sudah sering diangkat ke berbagai media, termasuk film. Namun bukan berarti tema tersebut sudah basi untuk diangkat. Hal ini tergantung pada penggarapannya juga, apakah masih sanggup menyajikan sesuatu yang menarik hingga layak ditonton. Tokikake (singkatan untuk judul aslinya) adalah salah satu contoh bagaimana tema mengenai time travel atau time leapt ini masih bisa dikemas dengan baik dan menarik. Tokikake pada dasarnya adalah coming of age story bergenre drama komedi. Di sini diperlihatkan bagaimana sikap seorang remaja biasa saat diberi kemampuan lebih. Kemampuan yang akan membawa sang pemilik pada konsekuensi mengerikan saat digunakan dengan seenaknya, tapi di sisi lain juga dapat menumbuhkan kedewasaan dalam dirinya. Hubungan persahabatan yang berkembang menjadi rasa cinta dihadirkan dengan manis, getir, sekaligus lucu. Untuk melengkapi itu semua, maka ditambahkan elemen fiksi ilmiah bertajuk time leapt. Elemen ini hadir untuk memberi impact lebih kepada para penontonnya.Film ini diproduksi oleh Madhouse—salah satu studio animasi terkenal di Jepang yang sudah sering menelurkan anime baik untuk format televisi maupun layar lebar, diantaranya karya-karya dari almarhum Satoshi Kon (Tokyo Godfathers, Paprika). Animasi yang ditampilkan disini menurut saya cukup halus dan menawan, tidak kalah dengan animasi produksi Ghibli yang kaya warna—sungguh memanjakan mata. Desain karakternya dibuat khas anime konvensional, dengan tampilan fisik yang kadang tidak proporsional serta ekspresi wajah komikal dalam beberapa adegan—I love it! Desain lingkungannya juga digambarkan dengan baik dan mendetail. Salah satu lokasi yang paling sering disorot adalah sebuah sungai yang menghadap langsung ke flyover. Dengan sudut pengambilan gambar serta komposisi warna yang pas, adegan yang ditampilkan terasa semakin kuat dan memorable.
Komponen lain yang tidak kalah menarik adalah musik latarnya yang ikut andil dalam membangun mood film dari awal sampai akhir. Dari adegan lucu sampai momen yang menguras emosi berhasil disampaikan melalui score gubahan Kiyoshi Yoshida ini. Dengan segala keunggulan teknis serta muatan ceritanya yang menarik, tanpa ragu saya berani menyebut film ini sebagai salah satu anime terbaik yang pernah saya tonton. Apakah masih terlalu prematur untuk mengatakan bahwa Mamoru Hosoda adalah the next Hayao Miyazaki? Tanpa perlu membandingkan pun, saya yakin bahwa sineas satu ini memiliki talenta besar dalam membuat film animasi berkualitas. Patut ditunggu karya-karya beliau selanjutnya. Sebelum itu, biarkan saya kembali menyaksikan serunya aksi Makoto sang "pelompat" waktu. Yeah, it's definitely worth multiple watching.Rating : 8/10
Genre : Comedy/DramaPemain : Lisa Lindgren, Michael Nyqvist, Gustaf Hammarsten, Emma Samuelsson, Sam KesselSutradara : Lukas MoodyssonPenulis : Lukas MoodyssonDistributor : Sonet FilmDurasi : 106 menitMPAA : Rated R for nudity/sexuality and language Birger : "There's strength in being alone - that's just bullshit. Only thing worth anything is being together." Stockholm, Swedia 1975. Pada periode 70-an ini, di Swedia mulai banyak bermunculan komune—sekelompok orang yang memutuskan untuk tinggal bersama dalam suatu tempat dengan saling berbagi properti sampai pendapatan dari usaha yang dikelola bersama. Melalui film ini, Moodysson menyorot kehidupan sekelompok hippies yang tergabung dalam satu komune dengan nama "Together" atau "Tillsammans" dalam bahasa Swedianya. Mereka adalah Goran (Gustaf Hammarsten) bersama kekasihnya, Lena (Anja Lundqvist); Lasse (Ola Norell) dengan mantan istrinya, Anna (Jessica Liedberg) beserta putra tunggal mereka Tet (Axel Zuber); Klas (Shanti Roney); Erik (Olle Sarri); dan terakhir ada pasangan suami istri beserta putranya (saya lupa nama mereka). Dengan watak masing-masing yang berbeda, mereka tidak pernah lepas dari perdebatan tiap harinya. Satu contoh saat mereka berdebat mengenai giliran siapa untuk mencuci piring, dan di satu sisi mereka juga berargumen apakah kegiatan mencuci ini terlalu "burjois" untuk dilakukan. Ya, percakapan seperti ini adalah makanan mereka sehari-hari. Komunitas kacau ini kemudian mendapat kejutan yang berpotensi memecah-belah mereka—kehadiran tiga pendatang baru di rumah mereka. Elisabeth (Lisa Lindgren), kakak kandung Goran memutuskan untuk pindah sementara ke rumah tersebut bersama kedua anaknya, Eva (Emma Samuelsson) dan Stefan (Sam Kessel) diakibatkan perlakuan kasar dari suaminya yang alkoholik, Rolf (Michael Nyqvist). Selain mereka bertiga, penghuni lama tentunya juga harus bisa saling menyesuaikan diri. Idealisme mereka dipertaruhkan. Siapa yang tidak tahan, dia yang harus keluar. Tapi yang paling terkena dampak dari kepindahan ini adalah Eva dan Stefan. Merasa sebagai outsider di lingkungan sekolah, kini mereka semakin merasa terasing dengan berada di tempat baru tersebut. Pertengkaran orang tua serta lingkungan yang tidak kondusif semakin membuat mereka frustasi. Namun lama kelamaan keadaan pun membaik saat seorang anak lelaki tetangga tertarik kepada Eva sehingga ia pun bisa mulai menerima keadaannya. Stefan pun pada akhirnya mulai bisa beradaptasi dengan tempat tinggal barunya sembari sebisa mungkin tetap berhubungan dengan ayahnya. Dalam proses penyatuan dua kelompok yang berbeda ini (idealist hippies dengan broken family), akhirnya harus ada beberapa orang yang keluar demi mempertahankan idealismenya. Prinsip penghuni lama untuk menghindari gaya hidup masyarakat modern, seperti menolak adanya televisi atau larangan mengonsumsi daging pada akhirnya mulai longgar. Menurut saya ini bukanlah wujud dari keegoisan satu pihak yang menyebabkan terkekangnya kebebasan berprinsip dari pihak lain, melainkan lebih kepada rasa toleransi dari kedua belah pihak demi terjalinnya kebersamaan yang lebih harmonis. Karena perbedaan itu ada justru agar kita bisa lebih memahami serta mengembangkan sikap toleransi terhadap sesama. Dengan memahami perbedaan yang ada dalam diri orang lain maka akan semakin memperkaya diri kita sebagai seorang individu. Ya, perbedaan itu memang indah. :)
Inti yang bisa saya tangkap dari film ini adalah tentang kebersamaan, yang sudah jelas tersirat melalui judulnya. Isu tersebut tentunya tidak akan lengkap jika tidak menyinggung isu lainnya yang berlawanan, yaitu tentang kesendirian. Keadaan ini digambarkan melalui tokoh Rolf. Sifatnya yang temperamen serta hobinya mabuk-mabukan membuat ia dicampakkan istri dan kedua anaknya. Sepeninggal keluarganya, ia mulai merasakan arti kesendirian. Ia membagi rasa kesepiannya dengan seorang kakek yang merasakan hal yang sama sepeninggal istrinya. Dari percakapan mereka tergambar bahwa kesendirian itu menyakitkan. Bahwa hal yang terpenting adalah kebersamaan. "You could say that we are like porridge. First we're like small oat flakes - small, dry, fragile, alone. But then we're cooked with the other oat flakes and become soft. We join so that one flake can't be told apart from another. We're almost dissolved. Together we become a big porridge that's warm, tasty, and nutritious and yes, quite beautiful, too. So we are no longer small and isolated but we have become warm. soft, and joined together. Part of something bigger than ourselves. Sometimes life feels like an enormous porridge, don't you think? Sorry, I'm standing around dreaming." Wow, metafora yang brilian! Let's say, life is like a bowl of porridge. Did you ever hear that somewhere? Hahaha. Kalimat yang diucapkan Goran tersebut sudah merangkum apa yang ingin disampaikan melalui film ini. Dengan jumlah tokoh yang banyak, tentunya agak sulit untuk memberikan pengembangan yang baik bagi tiap karakternya. Tapi, menurut saya Moodysson cukup berhasil untuk membuat tiap karakternya terlihat menonjol walaupun dengan screentime yang terbatas. Dan semua karakter disini terasa nyata, bukan hanya karakter dua dimensi tanpa nyawa yang hanya bertindak sebagai pelengkap saja. Semua memiliki peran masing-masing, dengan karakterisasi yang unik, Kredit tentunya juga patut diberikan untuk para aktor aktrisnya yang mampu membawakan tiap karakternya dengan baik. Nice ensemble cast! Gambar yang ditampilkan cenderung grainy, hampir sama seperti film Moodysson sebelumnya, Show Me Love. Uniknya, hal ini justru jadi lebih menambah kesan realisme yang hendak disampaikan. Itulah keunggulan karya-karya Moodysson—apa yang ditampilkan di layar terasa nyata, terutama karakterisasi tokoh-tokohnya. Dengan segala keunggulan tersebut, dua film pertamanya secara resmi ikut mengisi daftar panjang film-film favorit saya. Sekarang saya pun semakin penasaran dengan karya berikutnya dari seorang Lukas Moodysson. 8/10