Genre : Horror/ThrillerPemain : Briana Evigan, Leah Pipes, Rumer Willis, Jamie Chung, Audrina Patridge, Carrie FisherSutradara : Stewart HendlerPenulis : Josh Stolberg, Pete GoldfingerDistributor : Summit EntertainmentDurasi : 101 menit
MPAA : Rated R for strong bloody violence, language, some sexuality/nudity and partying
"Theta Pi Must Die"Kalau boleh jujur, salah satu alasan utama saya untuk menonton film ini adalah karena kemasannya yang tampak seperti parade cewek-cewek cantik nan seksi. Well, mungkin terdengar sedikit dangkal, tapi cowok mana sih yang tidak tergoda untuk menyaksikan sekumpulan hot babes dalam balutan pakaian mini...berlari terengah-engah...ketakutan...dengan tubuh bersimbah darah. Whoa..okay, now it sounds creepy. Haha. Tapi memang, film ini tampak ingin "menjual" para pemainnya yang didominasi oleh aktris-aktris muda yang masih fresh. Tengok saja beberapa versi posternya yang memajang pose rame-rame mereka yang dua diantaranya malah mengingatkan saya pada pose dalam poster promo serial tv The L Word dan Desperate Housewives, dengan nuansa dark tentunya. Di luar itu, saya memang menyukai genre film thriller/slasher semacam ini. Sedangkal atau semurahan apapun lusinan film model begini yang pernah saya tonton, toh saya tidak pernah kapok. It's a kind of guilty pleasure? Maybe.Film yang merupakan remake dari The House On Sorority Row ini berfokus pada suatu insiden berdarah yang kemudian berujung pada teror dan pembunuhan berantai. Bermula dari sekelompok cewek anggota persaudaraan Theta Pi yang salah satu diantaranya, Megan (Audrina Patridge), menemukan bahwa pacarnya, Garrett (Matt O'Leary) berselingkuh. Untuk membalas dendam, ia dan teman-teman persaudaraannya merencanakan suatu skenario untuk menjebak Garrett. Megan pura-pura mati keracunan, seolah itu adalah kesalahan Garrett. Sandiwara iseng ini berjalan lancar, sampai akhirnya terjadilah petaka yang tidak diperkirakan sebelumnya. Garrett yang panik berat secara tidak sengaja malah membuat Megan benar-benar terbunuh. Kontan teman-temannya shock. Dalam keadaan serba panik tersebut, Jessica (Leah Pipes) yang paling vokal dan pegang kendali menyarankan untuk membuang jasad Megan dengan dalih agar kejadian ini tidak merusak masa depan mereka. Pada akhirnya semua setuju, kecuali Cassidy (Briana Evigan) yang bersikeras untuk mencari pertolongan dan melapor polisi. Walaupun akhirnya ia harus terpaksa tutup mulut karena "ancaman" teman-teman persaudaraannya.Dari sini, pasti kita sudah dapat menebak kemana arah film ini selanjutnya. Hal pertama yang terlintas dalam benak saya adalah film I Know What You Did Last Summer. Ya, plot film ini sangat mirip dengan plot film yang dibintangi Jennifer Love-Hewitt tersebut. Insiden yang ditimbulkan oleh ketidaksengajaan, rahasia yang lama kelamaan semakin menghantui para pelakunya, lalu pembantaian yang tampak seperti balas dendam atas perbuatan mereka yang dilakukan oleh sosok misterius berkerudung dengan senjata khas. Semua elemen tadi muncul dalam kedua film tersebut. Sebagian mungkin ada yang masih merasa terhibur, tapi saya yakin tidak sedikit juga yang sudah merasa muak. Dengan adegan-adegan pembunuhan serta twist pada klimaks cerita yang lagi-lagi tampak tidak ada bedanya dengan film slasher kebanyakan, maka jangan harap ada sesuatu yang baru yang bisa anda dapatkan dari menonton film ini.Yang cukup menyedihkan, untuk menutupi semua kelemahan dan kemonotonan kisah yang diangkat (terutama dalam genre semacam film ini), para produser serta filmmaker di Hollywood kadang "mengkompensasinya" melalui divisi casting dengan memajang aktor-aktris yang walaupun kurang terkenal tapi memiliki tampilan fisik rupawan. Seperti dalam film ini, tidak jadi soal apakah para pemainnya bisa berakting atau tidak, yang penting mereka memiliki tampang menjual dengan bodi ideal dan tidak takut untuk memamerkannya. Sebuah hiburan yang sangat menyenangkan bagi para penonton pria, tetapi akan terasa begitu dangkal bagi para penikmat film yang menginginkan sebuah suguhan yang jauh lebih berbobot.Seperti yang sudah saya singgung di atas, seburuk apapun film ini yang pasti saya tetap tidak akan kapok untuk menyaksikan film-film sejenis. Layaknya junk-food, walaupun sudah jelas-jelas "sampah", tapi masih banyak orang yang menikmatinya, termasuk saya. Cheers!4/10
Genre : Drama/Horror/ThrillerPemain : Jonathan Mellor, Pablo Rosso, Ariel Casas, Alejandro CasasecaSutradara : Jaume Balaguero, Paco PlazaPenulis : Jaume Balaguero, Manu DiezDistributor : Filmax EntertainmentDurasi : 85 menitMPAA : Rated R for strong bloody violence, disturbing images and pervasive language
Duet sutradara Jaume Balaguero dan Paco Plaza kembali menebar teror di layar lebar melalui sekuel dari film mereka terdahulu, [Rec]. Dengan mengusung format yang mirip film dokumenter lengkap dengan shaky camera style-nya, [Rec] berhasil menghadirkan teror yang sangat nyata dan efektif untuk menakut-nakuti penonton. Film ini semakin meramaikan genre horor yang mengeksploitasi sosok mayat hidup berjuluk zombie. Meskipun film sejenis ini sudah sering dibuat, gaya penuturannya yang unik membuat film ini tetap menarik untuk disimak.Dalam sekuelnya ini, mockumentary style-nya masih dipertahankan. Mengambil setting beberapa saat setelah kejadian di film pertama, tokoh yang dilibatkan kali ini adalah seorang petugas medis beserta tim GEO (semacam SWAT). Mereka ditugaskan untuk mengendalikan situasi di dalam gedung yang telah dikarantina tersebut. Sudah dapat diduga, segera setelah masuk ke dalam gedung, mereka harus berhadapan dengan para penghuni yang telah berubah menjadi makhluk buas pemakan daging manusia. Selain fokus pada misi tim penyelamat tersebut, dihadirkan juga sub-plot tentang sekelompok remaja iseng yang dengan bodohnya ikut memasuki gedung tersebut. Meski tujuan awal mereka berbeda, pada akhirnya tujuan mereka hanyalah satu : keluar dari gedung tersebut dalam keadaan hidup.Untuk yang mengira bahwa film ini akan menyajikan sesuatu yang serupa dengan prekuelnya, maka anda salah. Saya sendiri sangat terkejut dengan plot yang dihadirkan, karena bisa dibilang ini benar-benar sebuah twist dari apa yang tampak di film pertamanya. Ya, sekarang franchise [Rec] bukanlah hanya sebuah film zombie biasa. Saran saya, jangan lihat trailer-nya, karena kabarnya ada sedikit petunjuk yang dapat mengungkap plot film ini. Awalnya saya sempat dibuat jengkel dengan perubahan drastis dari apa yang dihadirkan di film sebelumnya. Tapi semakin film bergulir, saya semakin menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh penulis naskahnya bisa dikatakan cukup pintar. Dengan perubahan tersebut, film ini jadi terasa seperti sesuatu yang baru, fresh dan berbeda, meskipun saya masih merasa bahwa plotnya cenderung agak maksa.Dalam [Rec] pertama, banyak pertanyaan yang timbul mengenai penyebab insiden yang terjadi. Semua pertanyaan tersebut terjawab dalam film ini, dengan pengungkapan yang saya yakin banyak yang tidak menduga sebelumnya. Seolah belum cukup dengan twist-plot yang disajikan, ending film ini juga mengandung twist yang tidak saya perkirakan sebelumnya. Dengan banyaknya twist yang disajikan, apakah lantas membuat film ini unggul dari film sebelumnya? Well, ternyata tidak. Adegan aksi dan unsur kaget-kagetannya masih cukup efektif, tapi kengeriannya masih kalah dibanding film pendahulunya. [Rec] pertama memang cenderung lambat di awal, tapi tensi ketegangannya berhasil dibangun sedemikian rupa sehingga atmosfer tegangnya sangat terasa. Sekuelnya ini langsung tancap gas dengan menghadirkan adegan aksi di menit-menit awalnya, tapi entah kenapa jadinya malah kurang berkesan. Dengan banyaknya sudut pandang kamera yang ada, seharusnya dapat menambah unsur ketegangannya. Tapi yang ada, saya malah seperti memainkan sebuah survival-horror game. Adegannya begitu cepat, secepat saya melupakannya.Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada, film ini cukup saya rekomendasikan untuk ditonton terutama bagi yang sudah menonton film pertamanya. It's a bloody yet fun ride.6/10
Genre : Drama/Comedy/Family/Music/Romance
Pemain : Gaelan Connell, Vanessa Hudgens, Aly Michalka, Lisa Kudrow
Sutradara : Todd Graff
Penulis : Josh A. Cagan, Todd Graff
Distributor : Summit Entertainment
Durasi : 111 menit
MPAA : Rated PG for some thematic elements and mild language
Will Burton : "School today was like Guantanamo with a lunch period."
Awalnya, saya kira film ini bakal menjadi the next High School Musical dengan sedikit sentuhan School Of Rock, secara dua bintang utamanya—Aly Michalka dan Vanessa Hudgens adalah "produk" keluaran Disney. Bukan berarti saya membenci High School Musical—bahkan saya cukup enjoy saat menonton sekuel teranyarnya, tapi film model begini sepertinya hanya akan menjadi pengulangan dari film-film sejenis. Plot setipis kertas, jajaran pemain muda dengan fisik rupawan, dan berbagai hal-hal klise yang sering muncul dalam film-film remaja Hollywood sepertinya akan saya temui juga dalam film ini. Namun, seketika saya bagai dihajar oleh para kritikus luar yang mayoritas memberi tanggapan positif terhadap film ini. Hmm, akhirnya saya merasa bahwa film ini cukup worth watching. Memang review kritikus bukanlah segalanya, tapi setidaknya bisa dijadikan referensi. Jarang-jarang kan ada film remaja yang mendapat tanggapan sebagus ini. Dan akhirnya niat saya menonton pun semakin bertambah dengan kemurahan hati salah satu jaringan bioskop lokal yang bersedia mengimpor film ini, bahkan merilisnya di waktu yang hampir bersamaan dengan waktu perilisan di negara asalnya.The story is about a misfit teenager finding his moment in a right place through his passion of music (kira-kira begitu lah). And that misfit teenager is Will Burton (Gaelan Connell), objek penderita bagi teman-teman di sekolahnya yang menganggapnya tidak lebih dari seorang nerd dengan panggilan Dewey. Selain iPod, sarana eskapisme dari realita hidupnya adalah dengan menulis e-mail yang seperti jurnal harian kepada musisi idolanya, David Bowie. Hidupnya seakan menjadi lebih cerah saat ibunya (Lisa Kudrow) memutuskan untuk pindah ke New Jersey karena mendapat pekerjaan baru yang lebih menjanjikan. Tapi seketika Will menyadari bahwa kepindahan itu tidak akan terlalu berpengaruh pada nasibnya, karena yang baru hanyalah lingkungannya, bukan dirinya. Ia akan tetap menjadi Dewey si aneh dari Cincinnati.And then, seperti yang sudah dapat diduga, nasib Will tidaklah seburuk yang ia pikirkan sebelumnya. Hari pertama di Van Buren—SMA barunya, ia berkenalan dengan Sa5m (baca: Sam—the 5 silent, diperankan Vanessa Hudgens) cewek penyendiri yang menjadi rekannya dalam suatu proyek kelas. Tidak lama, ia juga bertemu dengan Charlotte (Aly Michalka), cewek keren extrovert yang tiba-tiba "memaksanya" untuk menjadi sukarelawan di tempat penitipan anak dan memperkenalkan Will pada band bentukannya. Pengetahuan dan insting musik Will yang sangat baik membuat Charlotte mengangkatnya menjadi manajer band. Band tersebut sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi Bandslam—kontes band lokal tahunan dimana pemenangnya akan mendapat kontrak rekaman dari label ternama. DI luar itu, Charlotte mempunyai tujuan lain, yaitu untuk mengalahkan band mantan pacarnya—Ben Wheatley (Scott Porter) yang dulu pernah tergabung dalam satu band dengannya. Lalu, dimulailah usaha Will untuk melatih band yang ia namai "I Can't Go On, I'll Go On" ini sekaligus menghadapi gejolak asmara yang mulai ia rasakan terhadap Sa5m.
Dengan mengusung tema yang sudah sangat familiar, secara mengejutan film ini mampu tampil fresh dan sangat menyenangkan untuk ditonton. Jangan tertipu dengan strategi marketing yang seolah menggambarkan bahwa ini adalah another High School Musical clone, because it's definitely not. Di sini tidak ada sekumpulan remaja yang menyanyi dan menari saat mereka jatuh cinta atau saat ada masalah menghadang layaknya di film-film Bollywood. Segera setelah menyaksikan film ini saya merasa bahwa High School Musical trilogy sangatlah lebay dan tampak terlalu menyepelekan persoalan. Ya, sebenarnya dalam film ini juga ada beberapa hal yang sepertinya too good to be true in real life, tapi secara keseluruhan tidak terasa mengganggu dan masih terkesan wajar.Salah satu kelebihan yang dimiliki film ini adalah karakterisasi dan akting para pemainnya yang baik (not exceptional, but quite descent). Semuanya tampak wajar dengan porsi peran yang pas. Gaelan Connell—newcomer yang memerankan Will berhasil membawakan perannya sebagai seorang nerd dengan pas, tidak berlebihan sekaligus berkharisma. Dengan tampilan fisiknya yang memang cukup mendukung perannya, aktingnya yang natural cukup menarik perhatian. Aly Michalka sebagai ex-cheerleader yang berubah haluan menjadi frontrunner band juga tampil menawan (she's hot!). Vanessa Hudgens? She's very cute here. Bukan cute lebay ala Gabriella Montez, tapi memang real cute yang tidak dibuat-buat. Dengan intonasi suara datar dan style yang cenderung gelap, ia cukup berhasil melepas imej bright student with sunny smile yang melekat pada dirinya selama ini. Dengan pesonanya, adegan finale di atas panggung jadi makin bersinar. Satu lagi penampilan yang mengejutkan datang dari Lisa Kudrow. Perannya sebagai single mother yang khawatir dengan perkembangan anaknya yang terasa begitu cepat dibawakannya dengan meyakinkan, tanpa memperlihatkan histeria berlebihan.Untuk ukuran film remaja, dialog yang ditampilkan cukup berbobot bahkan bisa dibilang cerdas, tanpa perlu mengumbar kata umpatan maupun humor vulgar. Yang pasti film ini cukup aman untuk dikonsumsi oleh anak kecil sekalipun (no wonder lah, secara nama Walden Media ada di belakang proyek ini). Humor yang ditawarkan tidak berlebihan, menggelitik sekaligus menggemaskan. Masih terbayang bagaimana Will yang benar-benar buta soal cewek diajari Charlotte trik-trik mencium cewek, dan puncak kelucuan adalah saat ia mencoba mempraktekannya pada Sa5m. Sumpah, adegan ini sangat sangat lucu—simply adorable. Film ini juga sedikit mengingatkan saya pada Nick & Norah's Infinite Playlist, terutama saat Will dan Sa5m menghabiskan waktu bersama sambil mengunjungi empat-tempat favorit mereka. Yang paling seru adalah saat mereka berhasil menyelinap masuk ke CBGB—klub musik legendaris yang bisa dikatakan sebagai tempat lahirnya komunitas punk di Amerika. Selain momen-momen menyenangkan tersebut, film ini tidak lupa menghadirkan momen-momen emosional yang cukup mengena.Jangan lupa bahwa film ini juga tentang musik, malah lebih tepatnya musik adalah salah satu jualan utama film ini. Tipe film seperti ini tentunya harus memuat musik yang appealing bukan? Dan untungnya jualan utamanya tersebut ditampilkan dengan sangat segar dan mengasyikkan untuk disimak. Semua pemainnya tampak sangat nyaman saat menampilkan kemahiran mereka dalam bermusik yang membuat penonton merasa ikut senang saat menyaksikannya. Adegan finale-nya sangat School Of Rock, tapi tidak menjadi masalah berarti dan masih dapat dimaklumi. Setelah selesai menonton, saya merasa wajib untuk memiliki soundtrack-nya yang diisi David Bowie, Velvet Underground, sampai Wilco, dan tak lupa dari jajaran cast-nya juga seperti Aly Michalka, Vanessa Hudgens sampai band fiktif (atau asli?) I Can't Go On, I'll Go On.Dengan semua aspek positif yang dimiliki, sebenarnya film ini berpotensi menjadi sleeper hit di akhir summer. Sayangnya, promosi yang buruk serta hype film-film lain yang lebih besar seperti G.I. Joe dan District 9 cukup menenggelamkan eksistensi film ini yang seolah dilirik pun tidak, terbukti dengan raihan dollar yang sangat minim di minggu pertama perilisannya. Walaupun tergolong underrated di kalangan penonton umum, tidak dapat dipungkiri bahwa film ini adalah sebuah kejutan manis di penghujung summer yang seharusnya bisa mendapatkan sambutan yang lebih baik.7.5/10