Monday, December 12, 2011

[Review] Martha Marcy May Marlene (2011)


Genre : Drama, Thriller | Pemain : Elizabeth Olsen, John Hawkes, Sarah Paulson, Hugh Dancy, Brady Corbet, Louisa Krause | Sutradara : Sean Durkin | Penulis : Sean Durkin | Distributor : Fox Searchlight Pictures | Durasi : 102 menit | MPAA : Rated R for disturbing violent and sexual content, nudity and language
"I know who I am. I am a teacher and a leader, you just never let me be that!"
-Martha-

Dari menit-menit awalnya, Martha Marcy May Marlene (MMMM) sudah mulai memancing rasa penasaran saya dengan kesunyiannya. Sekelompok orang terlihat sedang melakukan aktivitas harian mereka di sebuah lahan pertanian yang tampak sepi dan lengang. Ketika malam tiba, para pria menyantap hidangan yang disajikan di meja makan, sedangkan para wanitanya menunggu di ruangan lain dan baru mulai makan setelah semua pria meninggalkan ruangan. Rangkaian adegan pembuka yang singkat ini entah mengapa menguarkan aroma misterius yang membuat saya bertanya-tanya, siapa sebenarnya orang-orang ini. Apakah mereka ini gambaran dari sebuah keluarga yang masih memegang erat tradisi? Atau hanya semacam komune yang mengasingkan diri dan menetap di daerah pinggiran? Rasa penasaran saya semakin menjadi, ketika di pagi harinya seorang wanita muda dalam kelompok tersebut tiba-tiba melarikan diri, diikuti dengan teriakan seorang pria yang memanggilnya dengan sebutan Marcy May. Sebuah set up yang cukup menjanjikan bagi thriller psikologis seperti ini.

Selanjutnya, cerita beralih pada kehidupan Marcy May (Elizabeth Olsen)—yang ternyata bernama asli Martha—pasca meninggalkan kelompok tersebut. Kini Martha menetap di sebuah rumah pinggir danau, kediaman sang kakak, Lucy (Sarah Paulson), dan suaminya, Ted (Hugh Dancy). Setelah dua tahun menghilang tanpa kabar, kembalinya Martha yang tiba-tiba itu tentu saja membuat Lucy dan Ted terkejut. Rasa senang dan kesal bercampur jadi satu. Apa yang sebenarnya ada di pikiran Martha dua tahun lalu, ketika ia tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa jejak? Dan apa yang membuat ia akhirnya memutuskan untuk kembali? Martha berdalih bahwa ini berkaitan dengan urusan patah hati. Bahwa kekasihnya berkhianat, sehingga Martha memutuskan untuk meninggalkannya. Sungguh klasik. Namun tentunya penonton tahu, bukan itu alasan sebenarnya. Sedikit demi sedikit, misteri pun terkuak. Seiring dengan rasa penasaran saya yang mulai terbayar.

Sean Durkin, sang sutradara sekaligus penulis naskahnya, mengajak penonton untuk ikut memasuki pikiran Martha, yang bagaikan lorong waktu yang membingungkan, mengaburkan batasan antara masa kini dengan masa lalu. Di sinilah letak kehebatan bagian editingnya. Transisi dari masa kini ke masa lalu Martha saat ia hidup bersama dengan kelompok (yang mungkin bisa dibilang sebagai semacam sekte) itu, ditampilkan dengan mulus. Di beberapa bagian tersebut, saya sempat kebingungan dan berujar, "lho kok?" Sampai akhirnya saya menyadari perpindahan tersebut. Damn, I've been tricked! Seolah-olah saya diposisikan dalam pikiran Martha yang kacau, sulit membedakan mana yang nyata, mana yang sebatas kenangan.


Lalu apa sebenarnya yang membuat Martha nyaris hilang akal? Semua terjawab sedikit demi sedikit dan semakin memuncak saat menjelang akhir. Film ini memang sepi, bukan jenis thriller yang penuh adegan kejar-kejaran antara pembunuh bertopeng dengan mangsanya. Namun jangan salah, anda akan merasakan sensasi ketegangan yang berbeda. Tingkah laku Martha yang semakin aneh dan paranoid, hingga pengungkapan masa lalunya yang gelap, membuat jantung ini berdebar-debar. Coba simak dan hayati adegan saat sang pemimpin sekte, Patrick (John Hawkes), menyanyikan Marcy's Song di depan Martha dan para pengikutnya. Adegan ini sukses membuat saya merinding dan terpaku, seperti Martha yang seolah terhipnotis dengan pesona Patrick yang kharismatik, membawanya semakin jauh ke dalam kegelapan yang membuai. John Hawkes tampil memukau di sini. Lembut, namun auranya mengerikan.

Dari beberapa dialog antara Martha dan Lucy, tersirat bahwa hubungan mereka berdua di masa lalu kurang begitu akrab. Ada masalah dalam keluarga mereka, walaupun tidak dijelaskan secara eksplisit. Ini juga sepertinya yang menjadi alasan mengapa Martha bisa terseret masuk ke dalam sekte pimpinan Patrick. Martha adalah pribadi yang rapuh, merasa terasing di lingkungan keluarganya sendiri. Kondisi inilah yang dimanfaatkan Patrick. Ia merangkul jiwa Martha dengan penuh kelembutan, membuatnya merasa diterima. Hingga akhirnya Martha tersadar, lalu melarikan diri, dengan masih membawa torehan luka hasil perbuatan Patrick. Apa yang dialami Martha selama dua tahun belakangan masih begitu membekas, mempengaruhi kondisi mentalnya. Tingkah lakunya yang tidak wajar semenjak ia kembali tinggal bersama kakaknya, memperlihatkan kegagapannya dalam bersosialisasi di lingkungan "orang normal". Melalui tokoh Martha, MMMM menawarkan sebuah studi karakter yang menarik.

Membicarakan MMMM, tentunya tidak akan lengkap tanpa menyinggung penampilan seorang aktris pendatang baru bernama Elizabeth Olsen. Merasa familiar dengan nama keluarganya? Ya, dia adalah adik kandung dari si kembar tenar, Mary-Kate dan Ashley. Tanpa disangka-sangka, Elizabeth memiliki kualitas seorang bintang yang sebelum ini sepertinya tidak begitu nampak. MMMM bisa dibilang merupakan kendaraannya untuk melesat lebih jauh lagi dalam menggapai status sebagai bintang papan atas Hollywood. Ini bukan pujian asal, karena penampilannya di MMMM memang patut mendapat apresiasi tinggi. Perpindahan timeline yang acak memungkinkan kita untuk melihat karakter Martha dalam emosi yang berganti-ganti pula. Dan Elizabeth Olsen memainkan tugasnya dengan gemilang. Ia sukses menghidupkan karakter Martha / Marcy May / Marlene sehingga tampak believable dan menimbulkan simpati. Mimik wajahnya, gesture-nya, oh my! I gotta say, a star is born.

Jadi, apakah MMMM tidak akan sama tanpa kehadiran Elizabeth Olsen sebagai pemeran utamanya? Bisa jadi. Namun di samping itu, debut layar lebar dari Sean Durkin ini sangat patut diapresiasi dan menjadi awal yang cukup menjanjikan bagi karya-karya selanjutnya di masa mendatang.

Rating : 7.5/10

Sunday, December 4, 2011

[Review] Beginners (2011)


Genre : Comedy, Drama, Romance | Pemain : Ewan McGregor, Christopher Plummer, Melanie Laurent, Goran Visnjic, Kai Lennox, Mary Page Keller | Sutradara : Mike Mills | Penulis : Mike Mills | Distributor : Focus Features | Durasi : 105 menit | MPAA : Rated R for language and some sexual content

"I don't wanna be just theoretically gay. I wanna do something about it."
-Hal-

Beginners adalah feature film kedua dari sutradara Mike Mills yang sebelumnya pernah menggarap sebuah film berjudul Thumbsucker yang diangkat dari novel karangan Walter Kim. Untuk karya sophomore-nya ini, cerita yang ia angkat berasal dari naskah buatannya sendiri. Bukan cerita biasa, karena menurut berbagai sumber yang saya baca, ini terinspirasi dari kisah hidup Mills sendiri. Bagaikan sebuah semi-autobiografi, mungkin bisa dibilang bahwa ini adalah karya yang personal bagi sang sutradara. Sebelum mengetahui cerita di balik penulisan naskahnya pun, saya bisa merasakan keintiman kisah dalam film ini setelah selesai menyaksikannya.

Di awal film, kita diperkenalkan pada sosok Oliver (Ewan McGregor), seorang pria berusia 38 tahun yang baru saja kehilangan ayahnya. Dengan menggunakan narasi orang pertama, yaitu Oliver, kita dibawa kepada kilas balik kehidupan Oliver sebelum kematian ayahnya. Diceritakan bahwa tidak lama setelah kematian ibunya, Georgia (Mary Page Keller), Oliver dihadapkan pada sebuah fakta yang disembunyikan ayahnya selama ini. Hal (Christopher Plummer), sang ayah, mengaku pada Oliver bahwa beliau adalah seorang gay. Setelah came out of the closet, sang ayah mulai mengeksplor sosok dirinya yang selama ini ia sembunyikan. Beliau mulai aktif mengikuti segala kegiatan yang melibatkan komunitas gay, bahkan mulai mendapatkan seorang kekasih baru dalam sosok pemuda yang usianya jauh lebih muda, Andy (Goran Visnjic). Oliver menerima fakta baru ini dengan bijak dan ikut bergembira bersama sang ayah yang jiwanya bagai terbebaskan pasca kematian sang istri. Sampai suatu hari datang sebuah berita mengejutkan. Sang ayah divonis mengidap kanker paru-paru. Hidupnya tidak lama lagi.

Selain menceritakan kisah Oliver sebelum kematian sang ayah, kilas balik ini juga memperlihatkan hubungan antara Oliver kecil (Keegan Boos) dengan ibunya. Melalui adegan-adegan yang diselipi humor gelap namun menyentuh, kita diajak menyelami hubungan Oliver dengan sang ibu dan menyimpulkan bagaimana hal tersebut membentuk sosok Oliver dewasa. Tanpa menyuapi penontonnya dengan berbagai penjelasan, Mills sanggup memberi gambaran bahwa ada sebuah kekosongan dalam kehidupan rumah tangga Hal dan Georgia hanya melalui interaksi antara Georgia dan Oliver kecil. Lalu ada juga adegan ketika Hal yang kondisi fisiknya semakin lemah berdialog dengan Oliver mengenai alasan kenapa beliau bisa menikahi Georgia, terlepas dari fakta bahwa ia seorang gay. Adegan ini sangatlah menyentuh, mempertanyakan apa itu cinta, sampai hal yang benar-benar kita inginkan dalam hidup ini.


Dua kisah flashback di atas berbaur dengan kisah masa kini mengenai kehidupan Oliver pasca meninggalnya sang ayah. Kisah inilah yang menjadi fokus utama dan ditunjang dengan kuat oleh kilas balik masa lalu Oliver. Diceritakan Oliver bertemu dengan seorang gadis keturunan Perancis, Anna (Melanie Laurent) dalam sebuah pesta kostum. Dengan dandanan a la Freud, Oliver menarik perhatian Anna yang menangkap isyarat kesedihan dalam tatapan matanya. Dimulai dari pertemuan insidental inilah, hubungan Oliver dan Anna semakin berkembang. Hubungan manis ini turut diwarnai konflik yang berkenaan dengan karakter masing-masing mereka, mulai dari rasa takut untuk berkomitmen, sampai sikap skeptis mengenai kelanjutan hubungan yang harmonis. Ya, setiap individu memiliki personal issue-nya masing-masing, tak terkecuali Oliver dan Anna. Tak lupa kehadiran seekor anjing berjenis Jack Russell peninggalan sang ayah yang bernama Arthur, semakin memberi warna dalam hubungan mereka. Berbicara tentang Arthur, sosok anjing kecil ini adalah scene stealer yang sangat ampuh. Dengan gesture serta ekspresi wajahnya yang membuat saya ingin mencubitinya, ditingkahi dengan subtitle sebagai interpretasi Oliver akan tatapan mata si anjing kecil ini yang benar-benar berbicara. So cute!

Dengan lihai, Mike Mills sukses menghadirkan tiga hubungan dalam kehidupan tokoh utamanya—Oliver dengan sang ayah, Oliver kecil dengan sang ibu, serta Oliver dengan kekasih barunya—dalam rangkaian adegan yang saling bercampur, namun tidak terkesan tumpang tindih ataupun membingungkan. Justru semuanya mengalir dengan lancar dan berhasil memberikan emotional impact yang tepat sasaran bagi penontonnya. Seperti yang sudah saya kemukakan di atas, cerita film ini terinspirasi dari kehidupan sang sutradara sendiri. Berkaitan ataupun tidak dengan hal tersebut, yang pasti film ini terasa jujur dan intim dalam bercerita, dengan kepedulian yang mendalam pada tiap karakternya. Ewan McGregor, Melanie Laurent, dan terutama Christopher Plummer yang begitu lepas dan graceful, memberikan performa kelas satu di sini. Chemistry antar tokohnya tercipta secara natural, membuat kita peduli terhadap jalannya hubungan mereka. Ketika mereka bahagia, kita ikut merasakan aura kesenangan yang dipancarkan. Dan ketika mereka diliputi kesedihan, hati inipun ikut hancur. Dengan kata lain, Mike Mills berhasil membuat sebuah karya yang personal bagi dirinya tanpa mengucilkan penonton sebagai pihak yang ikut merasakan. Salut untuk sutradara satu ini.

Di sepanjang tahun ini, Beginners tanpa disangka-sangka sukses menjadi sebuah sajian dramedy paling berkesan bagi saya. Kandungan cerita yang heartfelt, humor yang quirky, serta karakter-karakter yang mengundang simpati adalah beberapa elemen yang membentuk kekuatan film ini. Namun di atas itu semua, kemampuan film ini untuk menyentuh saya hingga level yang sulit dideskripsikan dengan rangkaian kata adalah elemen terkuat yang membuat saya begitu kagum dengan film ini. Di setiap tahunnya, kemungkinan akan ada setidaknya satu buah film yang benar-benar terasa klop dan mengena di hati hingga tak akan pernah bosan untuk ditonton berulang kali. Dan tahun ini, Beginners adalah salah satunya.

Just my personal opinion.

Rating : 10/10

Wednesday, November 30, 2011

[Review] Melancholia (2011)



Genre : Drama, Sci-Fi | Pemain : Kirsten Dunst, Charlotte Gainsbourg, Alexander Skarsgard, Kiefer Sutherland, John Hurt, Charlotte Rampling, Stellan Skarsgard | Sutradara : Lars von Trier | Penulis : Lars von Trier | Distributor : Magnolia Pictures | Durasi : 136 menit | MPAA : Rated R for some graphic nudity, sexual content and language

"I just have one thing to say...enjoy it while it lasts."
-Gaby-


Seberapa besar pengaruh adegan pembuka saat anda sedang menonton sebuah film? Kualitas film secara keseluruhan memang tidak mungkin hanya diukur dari menit-menit awalnya saja, namun terkadang sebuah adegan pembuka mampu memberi gambaran sekilas mengenai apa yang akan ditawarkan di menit-menit selanjutnya. Bahkan bukan tidak mungkin jika sebuah adegan pembuka dapat mengatur mood penonton dalam mengapresiasi film yang bersangkutan. Dalam film terbaru besutan salah satu sutradara paling kontroversial, Lars von Trier, yang berjudul Melancholia ini, adegan pembuka adalah salah satu komponen paling kuat dari keseluruhan filmnya. Melalui montase yang dipresentasikan dalam gerak ekstra lambat, serta musik latar yang diambil dari prelude untuk opera Tristan und Isolde gubahan Richard Wagner, Melancholia memperkenalkan dirinya dengan anggun dan mempesona. Delapan menit yang menggoda. Tak diragukan, saya pun dibuat jatuh cinta.

Part 1 - Justine.
Bagian pertama ini mengambil latar waktu di malam pesta pernikahan Justine (Kirsten Dunst) dan Michael (Alexander Skarsgard). Diawali dengan keterlambatan kedua mempelai ke tempat pesta—sebuah rumah megah bagaikan istana milik kakak Justine, Claire (Charlotte Gainsbourg), dan suaminya, John (Kiefer Sutherland)—acara kemudian berlangsung dengan tak semestinya. Ditambah dengan ketegangan antara kedua orangtua Justine (diperankan oleh John Hurt dan Charlotte Rampling), yang tampak sebagai figur orangtua non-ideal, pesta ini semakin memancarkan aura yang tidak menyenangkan. Keadaan ini semakin mempengaruhi kondisi mental Justine hingga meruntuhkan keyakinannya atas keputusan yang telah ia buat untuk menikahi Michael. Seperti judulnya, bagian pertama ini adalah tentang Justine. Seorang anak manusia yang awalnya terlihat bahagia dengan senyum menghiasi wajahnya, namun lama kelamaan kebahagiaan itu hilang tertutup bayangan kelam di wajahnya. Bagaikan bintang Antares yang hilang tertutup sebuah planet asing pembawa malapetaka. Sebuah melankolia.

Part 2 - Claire
Kondisi Justine semakin lama semakin parah. Kerja mental dan fisiknya terganggu. Untuk melakukan aktivitas sederhana saja ia kesulitan. Karena khawatir, akhirnya Claire menampung adik satu-satunya itu di rumahnya. Namun kekhawatiran Claire bukan hanya berpusat pada kondisi Justine semata. Ada satu hal lain yang mulai mengganggunya, yaitu sebuah planet yang diberi nama Melancholia. Planet tersebut dikabarkan kian bergerak mendekati Bumi. Pergerakan yang menghancurkan, diistilahkan dengan "dance of death". Melihat kekhawatiran Claire, John yang seorang astronomer berusaha meyakinkan istrinya tersebut bahwa Melancholia dan Bumi hanya akan saling "berpapasan", tidak akan ada tabrakan seperti yang dikhawatirkan sebelumnya. Kendati begitu, kekhawatiran Claire tetap berlanjut. Ia yang mulanya terlihat tegar, akhirnya mulai goyah diguncang rasa cemas dan ketakutan akan datangnya hari dimana kedua planet saling bertubrukan. Dalam keadaan penuh tekanan ini, anehnya justru Justine yang terlihat lebih tegar. Ia menyikapi kemungkinan terjadinya kiamat itu dengan tenang. Akhir dari sebuah melankolia?


Dengan membagi film ini ke dalam dua bagian, von Trier seolah ingin menunjukan sebuah kontras dari kondisi dua wanita yang dijadikan judul per bagiannya. Di bagian pertama, sang adik yang mulai terserang depresi parah mengkondisikan dirinya sebagai yang lemah, sedangkan sang kakak yang terlihat tegar dan mengambil alih keadaan bertindak sebagai yang kuat. Di bagian kedua, sang adik yang kondisi mental dan fisiknya terlihat parah justru berubah menjadi yang kuat ketika keadaan di luar semakin menekan. Berbanding terbalik dengan sang kakak yang berubah menjadi lemah saat tekanan semakin berat. Ini adalah sebuah studi karakter yang menarik. Walaupun saya tidak begitu mafhum benar dengan kondisi seseorang yang terkena depresi berat, namun apa yang digambarkan von Trier melalui filmnya ini—berdasarkan pengalaman hidupnya sendiri kala teserang depresi—berhasil meyakinkan saya akan kondisi tersebut. Dan keyakinan tersebut tentunya tidak akan begitu saja terbentuk tanpa peran para pemainnya dalam menghidupkan tiap karakter yang ada. Kehebatan akting Kirsten Dunst di sini ternyata memang bukan hype semata. Juri-juri Cannes memberinya predikat aktris terbaik bukan tanpa sebab. Dia bukan lagi gadis pujaan si friendly neighbourhood berkostum laba-laba. Dunst telah bertransformasi menjadi aktris yang semakin dewasa dan siap dengan peran-peran menantang berikutnya. Lalu jangan lupakan satu aktris lain yang sebelumnya juga pernah bekejasama dengan Lars von Trier dalam filmnya yang menghebohkan (kapan sih dia tidak membuat heboh?), Antichrist. Dialah Charlotte Gainsbourg. Kemampuan aktingnya di sini tidak kalah dengan Dunst. Penghayatannya mengagumkan, terutama di bagian kedua, menjelang akhir film. Akting kuat dari mereka berdua juga ditopang oleh barisan pemain pendukung lain yang semuanya bermain dengan baik.

Seperti yang sudah saya singgung di paragraf awal, opening film ini sangat kuat. Sebuah highlight yang membuat mood untuk menonton film ini semakin naik. Dari awal saja sudah terlihat bahwa film ini akan diisi oleh gambar-gambar cantik nan magis. Dan itu terbukti dengan sinematografi yang efektif dan menawan di sepanjang film. Selain adegan pembuka, adegan di menit-menit menjelang film berakhir pun tidak kalah cantik. Mata ini seolah terpaku ke layar, tak kuasa berpaling dari keindahan yang tersaji. Jika opening-nya mampu membuat saya tertarik untuk mengikuti terus kelanjutan ceritanya, maka ending-nya sukses membuat saya terus mengingat film ini sebagai sebuah sajian kelam namun memukau.

Sebelum ini, karya dari Lars von Trier yang pernah saya tonton hanyalah Dancer In The Dark yang saya akui luar biasa, terutama untuk kemampuannya dalam melibatkan emosi penonton. Melancholia tidak sehebat itu efeknya bagi saya, namun ini tetaplah brilian. Banyak yang mengatakan bahwa film ini adalah karya von Trier yang paling "ramah", mengingat resume film-filmnya selama ini yang terkenal banyak menampilkan materi yang disturbing. Dan menurut saya ini bukan film yang bisa dinikmati semua orang mengingat muatan cerita serta karakter-karakternya yang memang dibuat kental nuansa depresifnya, sehingga kemungkinan akan membuat beberapa orang merasa tidak nyaman saat menontonnya. Walaupun begitu, saya tetap merekomendasikan film ini bagi anda semua para penikmat film. You will be mesmerized all the way through.

Rating : 8/10