Monday, January 31, 2011

10 Movies Of 2010 : The Way They Make Me Feel

Salah satu faktor yang membuat saya begitu mencintai film adalah emosi serta sensasi yang saya rasakan selama dan setelah menontonnya. Dengan waktu putar yang rata-rata hanya sekitar 2 jam, sebuah film bisa memberikan pengalaman yang beragam, bahkan tidak jarang mampu mengubah cara pandang saya terhadap berbagai hal. Setiap film memiliki cara bertutur masing-masing dan tentunya memberi efek yang berbeda terhadap saya sebagai penonton, apakah itu membuat saya terbahak sampai mulas dengan kelucuannya atau membuat jiwa saya tercabik (halah!) dengan kegetirannya. Di tahun 2010, saya sudah menonton berbagai jenis film yang memberi kesan tersendiri. Berikut ini adalah 10 film paling saya ingat yang memberikan berbagai kesan di tahun 2010 silam.


Makes Me Shivering Just By The Presence Of Its Main Antagonist
Rumah Dara

Ranah perfilman Indonesia, khususnya dalam genre horor, seolah mendapat transfusi darah segar melalui kemunculan Rumah Dara garapan duo sutradara muda, The Mo Brothers. Di tengah gempuran horor busuk yang mayoritas mengeksploitasi unsur sensualitas sebagai faktor pemikat (maunya si produser), film ini memang terasa begitu segar sekaligus mendobrak kelesuan yang semakin menjadi. Di luar plotnya yang sangat klise serta beberapa adegan yang mirip dengan slasher buatan luar, film yang merupakan pengembangan dari sebuah film pendek berjudul Dara ini berhasil menghadirkan cita rasa lokal yang begitu kentara. Dan yang pasti, kekuatan utama film ini juga terletak pada karakterisasi tokoh antagonisnya, Ibu Dara. Tokoh yang diperankan Shareefa Daanish ini begitu menakutkannya sampai membuat saya bergidik hanya dengan kemunculannya di layar. Tatapan matanya, gaya bicaranya (yang anehnya banyak mendapat kritikan), bahkan aura yang dibawanya begitu membekas sehingga resmi menasbihkannya sebagai tokoh horor ikonik. Cukup sulit dipercaya bahwa karakter penuh horor ini dibawakan oleh si waitress konyol dari sitcom Coffee Bean. Bravo Daanish!


Makes Me Believe That Dreamworks Animation Is The Real Deal
How To Train Your Dragon

Jujur, film-film animasi produksi Dreamworks menurut saya memiliki kualitas yang cenderung biasa. Terhitung hanya Shrek (1 & 2) serta Kung Fu Panda yang cukup membuat saya terkesan dengan muatan yang dikandungnya. Sisanya, walaupun mayoritas menawarkan komedi yang sanggup memancing tawa, namun secara keseluruhan tidak meninggalkan kesan berarti. Saat produksi terbaru mereka yang berjudul How To Train Your Dragon hendak dirilis, antusiasme saya hampir nol. Sekilas, saya merasa tidak ada yang menarik sama sekali dari animasi yang juga dirilis dalam format 3D ini. What a sceptical me! Tapi, berhubung saya sedang keranjingan film dengan kemasan 3D, plus ada nama Dean DeBlois dan Chris Sanders—duo yang pernah sukses menggarap Lilo & Stitch, saya pun menyempatkan diri untuk menonton film ini. Dan apa yang terjadi? Saya sangat menyesal sempat menganggap remeh film ini, karena hasilnya ternyata luar biasa. Animasinya begitu halus dan memanjakan mata dengan penggunaan efek 3D yang maksimal. Namun yang paling utama adalah alur ceritanya yang penuh makna dan berbobot. Kadar humornya pas, seimbang dengan muatan dramanya. Film ini terkesan lebih dewasa dalam bertutur dibanding mayoritas animasi Dreamworks sebelumnya, yang semakin tergambar melalui endingnya yang sempat membuat mata saya berair. Sekarang patut saya akui bahwa eksistensi Dreamworks dalam industri film animasi sangat patut diperhitungkan. Watch out, Pixar!


Makes Me Go "Hoaaaahemmm" And Then "Zzzzzzzz"
Alice In Wonderland

Sebuah reka ulang cerita klasik Alice In Wonderland akan ditangani oleh Tim Burton? Am I dreaming? Hit me! Yeah, betapa girangnya saya saat pertama kali mendengar berita tersebut. Saya memang menyukai teknik penceritaan Burton serta gaya visualnya yang bernuansa gothic dalam film-film garapannya sebelumnya. Alhasil, proyek terbarunya bersama Disney ini sangat saya antisipasi. Dengan semua materi promo yang membuat rasa penasaran ini semakin membuncah, perilisan filmnya di bulan Maret pun saya sambut dengan penuh antusias. Saya percaya bahwa film ini akan begitu menyenangkan untuk disantap. Namun apa daya, sekeras apapun saya mencoba untuk menyukai film ini, pada kenyataannya justru kebosanan dan rasa kantuk yang saya dapatkan. Visualnya saya akui memang luar biasa unik dan imajinatif. Namun keunggulan visual saja tidak mampu menyelamatkan keseluruhan film yang alurnya bisa dibilang membosankan. Ditambah dengan akting para pemainnya yang kurang berkesan (kecuali Helena Bonham Carter yang cukup berhasil menjadi scene stealer), mata ini pun semakin berat untuk terus terbuka. Tertidur di bioskop walau hanya sekejap adalah hal yang sangat saya hindari, dan sayangnya film ini tidak mampu membuat saya menghindarinya. *sigh*


Makes Me Want To Hug Everyone Involved In This Project
Toy Story 3

Tidak terasa, sudah 15 tahun berlalu sejak Pixar menelurkan animasi panjang pertama mereka yang berjudul Toy Story. Film ini banyak disebut sebagai pelopor animasi CGI dengan teknik yang luar biasa di masanya dan berhasil memikat hati banyak orang dari berbagai usia. Karakter Woody dan kawan-kawan mainan lainnya begitu membekas sehingga petualangan mereka di instalmen terbaru Toy Story tentunya disambut antusias oleh berbagai kalangan. Saya sendiri yang bisa dibilang tumbuh bersama Andy dan mainan-mainannya tentu tidak akan melewatkan momen menyenangkan ini. Toy Story 3 bagaikan ajang reuni saya dengan teman-teman yang sudah lama tidak saya temui. Saat pertama kali melihat trailernya, dimana tokoh Andy digambarkan sudah beranjak remaja, saya mulai merasakan bahwa ini akan menjadi sebuah pengalaman sinematik yang begitu emosional. Setelah menyaksikan filmnya secara utuh, memang itulah yang saya rasakan. Makna yang terkandung sangatlah dalam dan menyentuh. Di sepanjang film, emosi saya dibuat naik-turun dan semuanya bermuara di penghujung film. Ini adalah salah satu ending film terbaik sepanjang masa. Sebuah penutup yang sempurna bagi para mainan yang sudah mengisi tempat di hati orang banyak. Congratulations Pixar! This is one of the best things human ever created. *big hug*


Makes Me Amazed With Its Amazing Concept And Execution
Inception

Christopher Nolan adalah salah satu sutradara yang selalu berhasil memuaskan saya dengan film-film besutannya. Setelah meraih kesuksesan luar biasa melalui sekuel sang manusia kelelawar—The Dark Knight, Nolan kembali membuat saya cenat-cenut dengan karya terbarunya, Inception. Detail plot film yang ditutup rapat, buzz dari berbagai media, sampai teaser trailernya yang membuat saya penasaran sampai susah makan dan tidur (lebaaay), menjadikan Inception sebagai salah satu film yang paling saya nantikan di tahun 2010. Bulan Juli lalu, rasa penasaran saya pun terjawab tuntas. Dan wow, saya begitu terkesima dengan apa yang dicapai Nolan melalui film ini. Konsep yang sudah ia pikirkan selama bertahun-tahun berhasil dituangkan ke dalam sebuah sajian sinematik yang membius. Jika mau dipikirkan lebih lanjut, ceritanya terbilang sederhana saja. Namun eksekusi yang disajikan Nolan membuat film ini jauh dari kata sederhana. Sebuah film blockbuster yang tidak hanya menjual aksi dan efek visual semata, namun juga ikut mengajak penontonnya untuk berpikir. Saya tunggu karya anda selanjutnya, Nolan!


Makes Me Wonder Why Miley Cyrus Has F*ckloads Of Worshippers
The Last Song

Sebenarnya saya agak malas untuk membagi apa yang saya rasakan setelah menonton satu lagi film yang diadaptasi dari novel karya Nicholas Sparks berjudul The Last Song ini. Namun apa daya, film ini menimbulkan kembali pertanyaan yang sudah sejak lama bergelayut di benak saya. Apa sih yang membuat seorang Miley Cyrus memiliki begitu banyak penggemar fanatik? Oke, perlu diakui bahwa saya sempat menonton beberapa episode Hannah Montana serta mendengarkan lagu-lagu yang dilantukan oleh Miley. Kesan yang ditimbulkan juga tidak buruk. Tapi saya berpendapat bahwa apa yang ia tampilkan di dunia hiburan tidaklah seluar biasa itu sampai begitu banyak orang (errrr...mungkin lebih tepatnya mayoritas remaja tanggung) yang mengidolakannya. But wait, I'm not one of those haters. I'm just curious. Pertanyaan ini semakin menjadi setelah saya menyaksikan The Last Song. Perannya di Hannah Montana mungkin sedikit punya nilai hibur walaupun intensitas cengirannya kadang menakutkan. Tapi dalam film terbarunya ini, saya benar-benar dibuat kesal dengan performanya yang tampak begitu amatir. Pembawaan karakternya sangat tidak meyakinkan. Film yang pada dasarnya memang biasa ini akhirnya semakin tercemar dengan penampilan sang aktris utama yang tidak berkesan sama sekali. Wahai para penggila Miley Cyrus, tolong jawab pertanyaan saya. #pertanyaanpenting #jangandiabaikan


Makes Me Go "What The F*ck?!!" Again And Again
Splice

Oh.My.God. Ini adalah sebuah sajian yang aneh, unik, menarik, aneh, dan aneh. Dari opening creditnya saja sudah tergambar akan seperti apa keseluruhan film ini nantinya. Tema tentang rekayasa genetika memang sudah banyak diangkat ke dalam media film. Melalui karya terbarunya ini, Vincenzo Natali meramu unsur fiksi ilmiah tersebut dengan kadar absurditas tinggi. Dari mulai penampakan Ginger—makhluk kreasi awal dua ilmuwan muda yang diperankan Sarah Polley dan Adrien Brody, sampai tampilan serta tingkah polah Dren (Delphine Chaneac)—makhluk hibrida hasil campuran DNA berbagai hewan plus DNA manusia, semuanya tampak begitu absurd. Beberapa adegannya pun sukses membuat saya ternganga sambil melontarkan kalimat "what the f*ck" berkali-kali. Bahkan saya sempat bergidik saking anehnya adegan yang ditampilkan di layar. Dengan segala keanehan tersebut, bukan berarti ini adalah sebuah tontonan yang buruk. Idenya sebenarnya menarik, ditunjang dengan tata teknis yang baik dan permainan akting yang cukup meyakinkan. Secara keseluruhan, ini adalah sebuah film sci-fi yang lumayan. Namun, saya akan tetap mengingat Splice sebagai sebuah film dengan muatan absurditas yang sukses membuat mulut ini ternganga.


Makes Me Forcing My Mouth To Be The Most Productive Swear Words Maker
Skyline

Sinyal kebobrokan film ini sebenarnya sudah mulai terbaca saat mengetahui nama sutradara yang menanganinya, The Brother Strause. Dua bersaudara ini pernah sukses mencermakan dua franchise besar yang masing-masing memiliki fanbase kuat melalui Aliens vs Predator : Requiem. Mungkin saya terdengar begitu sinis karena langsung mencap buruk karya terbaru mereka hanya berdasarkan kegagalan mereka sebelumnya. Namun review negatif yang dilayangkan oleh banyak kritikus film dan juga para penonton pada umumnya cukup membuat saya antipati terhadap kemunculan film berjudul Skyline ini. Dan berkat suatu kejadian yang tidak perlu saya jabarkan lebih jauh, akhirnya saya pun melangkahkan kaki ke dalam gedung bioskop untuk menjadi saksi seberapa buruknya film ini. Dan ternyata, filmnya lebih buruk dibanding apa yang saya bayangkan sebelumnya. Plotnya datar dengan berbagai elemen yang tampak dicomot dari beberapa film lain. Dan ya ampun, semua karakternya sangat dua dimensi dengan kadar annoying tingkat tinggi. Efek visualnya juga tidaklah mengagumkan walaupun patut dimaklumi karena bujet yang digunakan memang minim. Ditutup dengan ending yang maksa, bodoh, dan menyebalkan, akhirnya saya keluar gedung bioskop dengan penuh amarah sambil buru-buru mencari wastafel untuk mencuci mulut (literally).


Makes Me Want To Explore Anything About Street Art
Exit Through The Gift Shop

Ini adalah sebuah dokumenter (walaupun banyak pihak yang mempertanyakan keotentikannya) mengenai seluk beluk pergerakan street art. Melalui kamera milik Thierry Guetta—seorang pemilik distro yang hobi (cenderung terobsesi) merekam apapun di sekitarnya, penonton diajak untuk menyaksikan aksi para street artist dalam mengekspresikan diri melalui graffiti. Berawal dari ketertarikannya untuk mendokumentasikan aktivitas sepupunya yang seorang street artist berjuluk Space Invader, akhirnya Thierry mulai masuk lebih jauh ke dalam dunia "seni bawah tanah" ini. Perjalanan bersama kameranya ini akhirnya mempertemukan Thierry dengan Banksy, seorang graffiti artist yang terkenal dengan karya-karya graffiti stencil-nya yang seringkali memuat kritik sosial maupun politik. Dokumentasi yang ditampilkan disini saya akui sangatlah menghibur dan berhasil membangkitkan ketertarikan saya terhadap street art. Evolusi Thierry Guetta dari seorang filmmaker amatir sampai menjadi seorang street artist fenomenal dengan nickname Mr. Brainwash bisa dibilang cukup mengagumkan. Sebagai informasi, dialah yang mengerjakan cover art album Celebration milik Madonna. Selesai menyaksikan film ini, gatal rasanya tangan saya untuk kembali mengguratkan pensil di atas sketch book yang sudah lama tak tersentuh itu.


Makes Me Confused Yet Lulled With Its Beautiful Storytelling
Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives

Jujur, bagi saya ini adalah sebuah film yang tidak mudah dipahami hanya dalam sekali tonton. Walau sedikit bingung dengan eksekusi yang ditampilkan, namun saya akui bahwa film ini begitu menghipnotis dengan segala keindahannya. Alurnya berjalan dengan santai tetapi tidak membosankan. Gaya penceritaannya yang tenang didukung dengan sinematografi yang menyejukkan mata. Film ini juga minim dialog dan tanpa musik pengiring. Efek suara yang terdengar muncul dari bunyi-bunyian alam seperti suara jangkrik, desiran angin, sampai gemericik air terjun. Semua elemen itu cukup membuat saya terbuai dan dengan senang hati mengikuti perjalanan paman Boonmee di saat-saat terakhir hidupnya ini. Perjalanan ini sungguh unik, penuh aroma mistik, sekaligus menggugah hati. Yang pasti, saya tidak akan ragu untuk mengunjungi kembali paman Boonmee demi lebih memahami makna yang terkandung dalam kisah menawan ini.

Sunday, January 16, 2011

Indonesian Movie Bloggers Community Presents : The 1st Annual IMBlog Choice Awards


Berawal dari obrolan teman-teman movie bloggers melalui media jejaring sosial, akhirnya pada bulan November 2010 terbentuklah Indonesian Movie Bloggers (IMBlog) Community—sebuah komunitas online yang dibentuk sebagai perwujudan dari kecintaan para movie bloggers terhadap film sekaligus sebagai wadah untuk semakin mempererat tali silaturahmi. Layaknya komunitas lain pada umumnya, tentunya IMBlog Community juga memiliki agenda maupun kegiatan yang akan rutin dilaksanakan untuk mempertahankan sekaligus menyebarluaskan eksistensi komunitas ini. Kegiatan utama dan pertama yang akan disosialisasikan yaitu sebuah ajang penghargaan bertajuk IMBlog Choice Awards.

Ajang yang rencananya akan diadakan setiap setahun sekali ini dibagi menjadi 2 bagian, yaitu IMBlog Choice Awards untuk Film Berbahasa Asing dan IMBlog Choice Awards untuk Film Indonesia. Masing-masing penghargaan memuat deretan kategori utama dan kategori unik yang sebelumnya sudah didiskusikan terlebih dahulu oleh anggota IMBlog. Tiap anggota memiliki hak suara untuk memilih nominasi dan juga pemenang dari masing-masing kategori yang kemudian akan disebut sebagai Jawara. Selain itu, ajang penghargaan ini juga akan melibatkan masyarakat luas untuk ikut memilih para pemenang yang kemudian disebut Tersohor. Pemilihan oleh masyarakat luas ini akan dilakukan mulai tanggal 20 Januari 2011 melalui situs Flick Magazine. Diharapkan partisipasinya :)

Film-film yang disaring untuk masuk dalam ajang ini terdiri dari film-film yang dirilis di Indonesia per 1 Januari s/d 31 Desember 2010 lalu, baik melalui jaringan bioskop resmi, festival-festival film, maupun dalam bentuk home video. Ini termasuk film-film asing yang dirilis sepanjang tahun 2009 di negara asalnya namun baru masuk ke Indonesia pada tahun 2010.

Tanpa berpanjang lebar lagi, inilah daftar nominasi IMBlog Choice Awards untuk tahun ini.


KATEGORI FILM INDONESIA

FILM JAWARA
Alangkah Lucunya (Negeri Ini)
Hari Untuk Amanda
Minggu Pagi di Victoria Park
Sang Pencerah
3 Hati 2 Dunia 1 Cinta

SUTRADARA JAWARA
Angga Dwimas Sasongko (Hari Untuk Amanda)
Benni Setiawan (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)
Deddy Mizwar (Alangkah Lucunya (Negeri Ini))
Lola Amaria (Minggu Pagi di Victoria Park)
Hanung Bramantyo (Sang Pencerah)

NASKAH JAWARA
Musfar Yasin (Alangkah Lucunya (Negeri Ini))
Salman Aristo & Ginatri S. Noer (Hari Untuk Amanda)
Titien Wattimena (Minggu Pagi di Victoria Park)
Hanung Bramantyo (Sang Pencerah)
Benni Setiawan (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)

PELAKON UTAMA PRIA JAWARA
Lukman Sardi (Sang Pencerah)
Oka Antara (Hari Untuk Amanda)
Reza Rahardian (Alangkah Lucunya (Negeri Ini))
Reza Rahardian (3 hati 2 Dunia 1 Cinta)
Arifin Putra (Rumah Dara)

PELAKON UTAMA WANITA JAWARA
Acha Septriasa (Menebus Impian)
Fanny Febriana (Hari Untuk Amanda)
Lola Amaria (Minggu Pagi di Victoria Park)
Shareefa Daanish (Rumah Dara)
Titi Sjuman (Minggu Pagi di Victoria Park)

PELAKON PENDUKUNG PRIA JAWARA
Asrul Dahlan (Alangkah Lucunya (Negeri Ini))
Rasyid Karim (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)
Slamet Rahardjo (Sang Pencerah)
Tio Pakusadewo (Alangkah Lucunya (Negeri Ini))
Reza Rahardian (Hari Untuk Amanda)

PELAKON PENDUKUNG WANITA JAWARA
Henidar Amroe (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta)
Kimmy Jayanti (I Know What You Did On Facebook)
Ayu Diah Pasha (Menebus Impian)
Imelda Therine (Rumah Dara)
Ella Hamid (Minggu Pagi di Victoria Park)

PENDATANG BARU JAWARA
Ihsan Taroreh (Sang Pencerah)
Pepeng Naif (Dawai 2 Asmara)
Kimmy Jayanti (I Know What You Did on Facebook)
Giring Nidji (Sang Pencerah)
Ananda Omesh (Aku Atau Dia)

PELAKON ANAK-ANAK JAWARA
Bulan Ayu (Demi Dewi)
Yehuda Rembindi (Tanah Air Beta)
Rangga Adhitya (Alangkah Lucunya (Negeri Ini))
Sakurta Ginting (Alangkah Lucunya (Negeri Ini))
Griffit Patricia (Tanah Air Beta)

PELAKON SENIOR JAWARA
Ulli Artha (Bebek Belur)
Rima Melati (Bebek Belur)
Deddy Mizwar (Alangkah Lucunya (Negeri Ini))
Slamet Rahardjo (Sang Pencerah)
Widyawati (Satu Jam Saja)

POSTER JAWARA
I Know What You Did on Facebook
Madame X
Rumah Dara
Sang Pencerah
Darah Garuda

FILM KACRUT
18+
Diperkosa Setan
Selimut Berdarah
Cin, Tetangga Gue Kuntilanak!
London Virginia

SUTRADARA KACRUT
Findo Purnomo HW (Lihat Boleh, Pegang Jangan)
Petruska Karangan (Diperkosa Setan)
Nayato Fio Nuola (18+)
Ferry Ipey Assad (Selimut Berdarah)
Cheverly Amalia (London Virginia)

PELAKON PRIA KACRUT
Eko Noah (Obama Anak Menteng)
Hardy Hantono (Pengantin Topeng)
Teguh Julianto (Diperkosa Setan)
Dimaz Andrean (Selimut Berdarah)
Andreano Phillip (Rayuan Arwah Penasaran)

PELAKON WANITA KACRUT
Andy Soraya (Arisan Berondong)
Cynthiara Alona (Diperkosa Setan)
Cynthiara Alona (Cin, Tetangga Gue Kuntilanak!)
Pinkan Mambo (Selimut Berdarah)
Cheverly Amalia (London Virginia)

POSTER KACRUT
Pengakuan Seorang Pelacur
Bidadari Jakarta
Cin, Tetangga Gue Kuntilanak!
Dendam Pocong Mupeng
London Virginia


KATEGORI FILM BERBAHASA ASING

FILM JAWARA
Inception
The Social Network
The Ghost Writer
Toy Story 3
Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives

SUTRADARA JAWARA
Christopher Nolan (Inception)
David Fincher (The Social Network)
Roman Polanski (The Ghost Writer)
Apichatpong Weerasethakul (Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives)
Jason Reitman (Up In The Air)

SKENARIO JAWARA
Christopher Nolan (Inception)
Aaron Sorkin (The Social Network)
Jason Reitman & Sheldon Turner (Up In The Air)
Roman Polanski & Robert Harris (The Ghost Writer)
Chris Sparling (Buried)

PELAKON UTAMA PRIA JAWARA
Jesse Eisenberg (The Social Network)
Leonardo DiCaprio (Shutter Island)
George Clooney (Up In The Air)
Ewan McGregor (The Ghost Writer)
Ryan Reynolds (Buried)

PELAKON UTAMA WANITA JAWARA
Carey Mulligan (An Education)
Noomi Rapace (The Girl With The Dragon Tattoo)
Catherine Keener (Please Give)
Yoon Jeon Hee (Poetry)
Sandra Bullock (The Blind Side)

PELAKON PENDUKUNG PRIA JAWARA
Andrew Garfield (The Social Network)
Stanley Tucci (The Lovely Bones)
Joseph Gordon-Levitt (Inception)
Justin Timberlake (The Social Network)
Tom Hardy (Inception)

PELAKON PENDUKUNG WANITA JAWARA
Anna Kendrick (Up In The Air)
Helena Bonham Carter (Alice In Wonderland)
Marion Cotillard (Inception)
Chloë Grace Moretz (Kick-Ass)
Olivia Williams (The Ghost Writer)

KUMPULAN PELAKON JAWARA
Inception
The Social Network
The Expendables
RED
Brooklyn’s Finest

PELAKON BARU JAWARA
Carey Mulligan (An Education)
Andrew Garfield (The Social Network)
Chloë Grace Moretz (Kick-Ass)
Anna Kendrick (Up In The Air)
Tom Hardy (Inception)

FILM DOKUMENTER JAWARA
Waiting For Superman
When You’re Strange
Babies
Oceans
Exit Through The Gift Shop

FILM ANIMASI JAWARA
Toy Story 3
How To Train Your Dragon
Fantastic Mr. Fox
Despicable Me
Rapunzel

LAGU TEMA JAWARA
“The Weary Kind” (Crazy Heart)
“I See The Light” (Rapunzel)
“There’s A Place For Us” (The Chronicles of Narnia: Voyage of The Dawn Treader)
“Cinema Italiano” (Nine)
“Alice” (Alice In Wonderland)

MUSIK PENGIRING JAWARA
Hanz Zimmer (Inception)
Trent Reznor & Atticus Ross (The Social Network)
Daft Punk (TRON: Legacy)
Randy Newman (Toy Story 3)
Andrea Guerra (Nine)

OPENING JAWARA
The Social Network
Buried
Inception
Kick-Ass
Toy Story 3

ENDING JAWARA
Inception
Toy Story 3
Buried
The Ghost Writer
Shutter Island

POSTER JAWARA
Inception
Buried
Let Me In
The Social Network
TRON: Legacy

TAGLINE JAWARA
“You don’t get 500 million friends without making a few enemies” (The Social Network)
“Your mind is the scene of the crime” (Inception)
“An epic of epic epicness” (Scott Pilgrim vs The World)
“170,000 miles of desert, 90 minutes of oxygen, no way out” (Buried)
“Read between the lies” (The Ghost Writer)

TRAILER JAWARA
Inception
The Social Network
TRON: Legacy
Black Swan
The Tree Of Life

HARUSNYA JADI JAWARA
Daftar film yang tidak dirilis di Indonesia dari Januari sampai Desember diadakannya voting nominasi dan sangat kami inginkan untuk bisa diputar di bioskop, festival, dan/atau DVD.

TIDAK BAKAL JADI JAWARA
Daftar film terburuk yang diputar di bioskop komersil, festival, dan/atau festival selama periode Januari sampai Desember diadakannya voting nominasi.

Let's vote and have fun!

Sumber : Member Guide IMBlog Community dan blog teman-teman movie bloggers.

Tuesday, December 21, 2010

Compiled Reviews : From Magical Journey To Cyberpunk Realm

Betapa luasnya imajinasi manusia sehingga ia bisa menciptakan sebuah dunia alternatif berisi berbagai hal yang realitasnya tidak mungkin ditemui di dunia nyata. Dari mulai dunia ajaib di balik lemari pakaian ciptaan seekor singa agung, sampai dunia dalam virtual game futuristik karya seorang programmer inovatif. Narnia dan Tron—kedua dunia tersebut adalah bukti betapa kaya buah pikiran manusia saat ia berani bermain dengan imajinasinya. Meskipun kedua dunia tersebut hanya direpresentasikan dalam pita seluloid, namun itu sudah cukup bagi saya untuk merasakan keindahan dan keunikan masing-masing. Sebagai bentuk apresiasi, berikut ini review untuk instalmen terbaru Narnia serta sekuel Tron yang sudah banyak diantisipasi para penikmat film.


The Chronicles Of Narnia : The Voyage Of The Dawn Treader (2010)

Genre : Adventure/Family/Fantasy | Pemain : Georgie Henley, Skandar Keynes, Ben Barnes, Will Poulter, Gary Sweet, Anna Popplewell, William Moseley, Tilda Swinton, Liam Neeson, Simon Pegg | Sutradara : Michael Apted | Penulis : Christopher Markus, Stephen McFeely, Michael Petroni, C.S. Lewis (novel) | Distributor : Twentieth Century Fox Film Corp. | Durasi : 113 menit | MPAA : Rated PG for some frightening images and sequences of fantasy action

"You have returned
for a reason. Your adventure begins now."

-Aslan-

The Chronicles of Narnia karya C.S. Lewis adalah salah satu seri literatur klasik yang paling dikenal dan cukup memberi pengaruh bagi karya-karya lain. Adaptasinya pun sudah beberapa kali dibuat ke dalam berbagai media, mulai dari drama radio, drama panggung, film televisi, sampai film layar lebar. Invasi seri ini ke layar lebar dimulai pada tahun 2005, saat The Lion, The Witch, And The Wardrobe yang disutradarai Andrew Adamson (dwilogi Shrek) dirilis di bioskop-bioskop seluruh dunia. Adaptasi ini tergolong sukses baik dari sisi kualitas maupun kuantitas dolar yang didulang. Sebuah awal yang menjanjikan bagi kelangsungan franchise ini.

Menurut saya pribadi, film pertamanya memang berhasil menerjemahkan esensi yang terkandung dalam novelnya dengan cukup baik. Lalu tiga tahun kemudian muncul adaptasi novel keduanya yang dengan sub-judul Prince Caspian. Sekuel ini dikemas lebih gelap namun masih terbilang aman untuk dikonsumsi anak-anak. Sialnya, entah kenapa kali ini seri Narnia seolah kehilangan daya magisnya. Spirit petualangan serta sense of wonder-nya tertutupi kadar action yang tampak lebih dikedepankan. Secara keseluruhan memang masih menghibur, namun tidak memberi impresi lebih.

Perombakan besar dilakukan di seri ketiganya yang melibatkan penggantian posisi sutradara (Andrew Adamson to Michael Apted) serta studio yang mendistribusikannya (Walt Disney to Twentieth Century Fox). Perubahan ini tentunya diharapkan mampu membawa franchise ini ke arah yang lebih baik. Berhasilkah?

Tidak seperti dua pendahulunya, kali ini hanya dua bersaudara Pevensie yang berkesempatan mengunjungi kembali tanah Narnia, yaitu Edmund (Skandar Keynes) dan Lucy (Georgie Henley). Oh ya, tambah satu lagi sepupu mereka, si manja sok pintar Eustace Scrubb (Will Poulter) yang ikut terseret ke dalam petualangan mereka untuk membantu King Caspian (Ben Barnes) guna mencari tujuh lord yang dahulu hilang saat rezim pamannya—Miraz merajalela. Bersama awak kapal Dawn Treader lainnya, mereka berlayar menyeberangi samudera luas serta menjamah pulau-pulau misterius nan magis demi menuntaskan misi tersebut.

Di luar perkiraan, ternyata film ini tidak seburuk yang saya bayangkan. Skeptisisme penilaian awal terhadap kualitas film ini muncul karena pendapat beberapa teman saya serta kritikus-kritikus luar yang mencap film ini lemah (jika tidak mau dibilang buruk). Secara keseluruhan, ternyata saya masih bisa menikmatinya. Spirit petualangan yang saya nantikan kembali muncul di seri terbaru ini. Kali ini, saya bisa merasakan kembali daya magis dari sebuah negeri ajaib bernama Narnia.

Daya magis yang dihembuskan sayangnya tidak sanggup mengangkat kualitas film ini secara keseluruhan. Pencarian tujuh raja yang hilang beserta pedang magisnya di berbagai pelosok Narnia memang cukup menarik. Berbagai lokasi yang ada digambarkan dengan cukup menarik, terutama pulau tempat tinggal para Dufflepud yang indah dan memanjakan mata. Namun misi pencarian ini lama-kelamaan terkesan episodik. Polanya klise dan mudah ditebak sehingga terasa sedikit membosankan.

Dari segi teknis, efek CGI yang digunakan cenderung medioker. Menarik, namun tidak spesial. Sinematografinya juga belum mampu membuat saya berdecak kagum layaknya yang dilakukan Eduardo Serra melalui seri terbaru Harry Potter baru-baru ini (ups! bukan bermaksud membanding-bandingkan ya). Set design-nya digarap dengan apik, namun entah mengapa tampilan Dawn Treader agak terkesan kekanakan (menurut pandangan pribadi saya). Komposisi musik dari David Arnold setidaknya cukup mendukung tiap-tiap adegannya.

Georgie Henley dan Skandar Keynes—dua pemain utama yang konsisten bermain dari mulai seri awalnya cukup mengalami peningkatan akting, terutama Henley yang tampil memikat sebagai si bungsu Lucy. Namun yang paling menarik perhatian justru karakter baru—Eustace Scrubb yang diperankan oleh Will Poulter. Sifat serta tingkahnya yang menyebalkan tidak jarang mengundang tawa. Layar pun semakin hidup saat ia berinteraksi dengan Reepicheep (disuarakan oleh Simon Pegg), tikus ksatria yang begitu loveable dengan gesture dan celotehannya. Tokoh Reepicheep jugalah yang sanggup memainkan emosi penonton (saya lebih tepatnya) menjelang akhir film.

Menurut saya, adegan menjelang akhir film memang bagian yang paling menarik. Semua kekurangan di sepanjang durasi dibayar dengan ending yang memikat. Mengikuti pola dua film sebelumnya, bagian akhir film kembali mempertemukan para tokoh utamanya dengan Aslan sang singa agung. Dengan mengambil setting yang begitu memanjakan mata, adegan ini semakin terasa bermakna. Saat itu pula saya kembali tersadar bahwa Narnia adalah karya yang sarat dengan simbol-simbol religius sekaligus pesan moral. Adegan perpisahan terasa begitu menyentuh. Sebuah alegori yang indah dalam menggambarkan proses perpindahan dari alam fana menuju kekekalan.

Kesimpulannya, Narnia terbaru ini menawarkan kisah petualangan memikat namun masih terasa memiliki banyak kelemahan sebagai satu film utuh. Setidaknya ending-nya dieksekusi dengan menawan dan penuh makna.

Rating : 6/10



Tron : Legacy (2010)


Genre : Action/Adventure/Sci-Fi | Pemain : Jeff Bridges, Garrett Hedlund, Olivia Wilde, Bruce Boxleitner, Beau Garrett, Michael Sheen | Sutradara : Joseph Kosinski | Penulis : Edward Kitsis, Adam Horowitz | Distributor : Walt Disney Studios Motion Pictures | Durasi : 127 menit | MPAA : Rated PG for sequences of sci-fi action violence and brief mild language

"The
Grid. A digital Frontier. I tried to picture clusters of information as they
traveled through the computer. Ships, motorcycles. With the circuits like
freeways. I kept dreaming of a world I thought I'd never see. And then, one
day... I got in."

-Kevin Flynn-


Saat ini, perfilman Hollywood tampaknya sudah semakin menyadari potensi dari sebuah teknologi bernama 3D. Sebuah film dengan presentasi 3D tentunya menawarkan sensasi menonton yang berbeda dibanding dengan film berformat biasa. Jika dimanfaatkan secara maksimal, hasilnya akan terlihat mengagumkan secara visual, layaknya yang dilakukan James Cameron melalui Avatar tempo hari. Namun, pencapaian Avatar urung diikuti oleh film-film lain yang diberi embel-embel 3D. Mayoritas film 3D akhir-akhir ini hanya mengandalkan hasil konversi yang hasilnya jelas-jelas mengecewakan. Hal ini tidak lain karena sepertinya para produser Hollywood memanfaatkan potensi teknologi ini bukan sebagai penghasil visual yang memukau, melainkan sebagai mesin pengeruk uang semata. Just my thought.

Akhir Desember ini, penonton kembali disuguhkan sajian 3D terbaru yang merupakan sebuah sekuel dari cult classic produksi Disney tahun 1982 berjudul Tron. Dengan tambahan kata Legacy, sekuel ini tampaknya dimaksudkan untuk mengenalkan dunia futuristik Tron kepada generasi masa kini sekaligus melahirkan sebuah franchise raksasa potensial. Dengan buzz yang semakin kencang menjelang perilisannya di bioskop, film ini memang sangat berpotensi meraih pasar mainstream sekaligus fans film orisinilnya. Dari materi promosinya, saya cukup optimis bahwa kreatornya memanfaatkan teknologi 3D sebagai komponen yang integral dengan isi filmnya, bukan hanya gimmick semata.

Dari segi cerita, Legacy sebenarnya tidak menawarkan sesuatu yang istimewa. Pengejaran kesempurnaan yang berujung pada kehancuran, itulah garis besar cerita yang bisa saya tangkap disini. Kevin Flynn (Jeff Bridges), seorang progammer sekaligus pemilik perusahaan Encom yang terkenal dengan game kreasinya—Tron, dinyatakan menghilang. Dua puluh tahun kemudian, Sam (Garrett Hedlund), anak satu-satunya, mendapat sebuah pesan yang menggiringnya masuk ke dalam dunia di balik virtual game ciptaan Kevin, The Grid. Di sana, Sam menemukan kebenaran di balik menghilangnya sang ayah selain harus terjebak dalam pertempuran layaknya gladiator rancangan Clu, kloning ayahnya yang memberontak dan memiliki agenda tersendiri. Bersama ayahnya dan dibantu Quorra (Olivia Wilde)—murid sang ayah, Sam berusaha menghindar dari kejaran Clu dan keluar dari Grid.

Film ini memiliki komponen yang lazim muncul dalam film bergenre cyberpunk, seperti setting near future dalam keadaan distopia (tergambar pada Grid), pembauran antara manusia sungguhan dengan "manusia" artifisial (dianalogikan melalui user dan program), sampai gaya visual yang cenderung gelap dibalut kekontrasan warna neon. Visual inilah yang menjadi kekuatan Legacy. Dari mulai kostum hingga adegan aksi yang melibatkan balapan light cycle serta disc battle, semuanya begitu memukau mata. Tidak salah jika film ini ditampilkan dalam format 3D, walaupun masih belum bisa menandingi kehebatan visual Avatar (menurut saya). Selain itu, jiwa film ini juga terletak pada musik yang melatarinya. Duo Daft Punk benar-benar patut diberi kredit tersendiri atas komposisi musik yang berhasil menghembuskan jiwa pada film yang sebetulnya dingin dalam hal emosi ini. Mata dan telinga saya begitu dimanjakan selama dua jam.

Sebagai sebuah hiburan mendekati akhir tahun, persembahan terbaru Disney ini lumayan menghibur dengan jualan utamanya yang outstanding (yeah, I'm talking about the audio and visual—including the beautiful Olivia Wilde). Meski naskahnya lemah dengan dialog datar yang bahkan aktor sekaliber Jeff Bridges pun tidak sanggup membuatnya menjadi lebih baik, namun secara keseluruhan saya nilai Tron : Legacy sebagai sebuah sajian yang nikmat. Saya rekomendasikan bagi calon penonton yang menginginkan sajian menghibur dengan bobot cerita yang ringan. And I think it's better to watch it in 3D.

Rating : 6/10